Kamis, 01 April 2010

Kebijakan Politik Luar Negri Barat - Buku


Buku Bagus Untuk Dibaca:


Buku : Mendukung Para Diktator dan Tirani

Metode umum Kebijakan Luar Negeri Barat

Buku : Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran

Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik Luar Negeri Barat

Download Lengkap Buku Metode Umum Kebijakan Luar Negeri Barat [PDF]

Peran Barat dengan Irak selama era Saddam

Lima tahun sebelum kebusukan Saddam Hussein peng-gas-an Kurds tahun 1988, satu rapat kunci diadakan di Baghdad yang akan memainkan peran penting dalam membentuk hubungan dekat antara Saddam Hussein dan Washington. Itu terjadi ketika pertama Saddam diduga telah menggunakan senjata kimia. Rapat di akhir Desember 1983 memuluskan jalan bagi pembangunan kembali hubungan-hubungan resmi antara Irak dan Amerika Serikat, yang sebelumnya parah sejak perang Arab-Israel 1967.

Dengan peningkatan perang Iran-Irak, Presiden Ronald Reagan mengirim diplomatnya untuk Timur Tengah, seorang mantan sekretaris pertahanan di bawah Presiden Ford, ke Baghdad dengan surat tertulis-tangan ke Presiden Saddam Hussein dan sebuah pesan bahwa Washington bersedia kapanpun untuk melanjutkan hubungan-hubungan diplomatik. Sang diplomat tidak lain adalah Donald Rumsfeld.

Kunjungan Rumsfeld 19-20 Desember 1983 ke Baghdad membuatnya menjadi seorang pejabat AS berpangkat-tertinggi yang mengunjungi Irak dalam 6 tahun. Dia bertemu Saddam dan keduanya mendiskusikan “topik mengenai kepentingan mutual” menurut Kementerian Luar Negeri Irak. “[Saddam] menjadikannya jelas bahwa Irak tidak tertarik membuat kerusakan di dunia,” Rumsfeld di kemudian waktu mengatakan itu kepada The New York Times. “Itu adalah suatu yang tiba-tiba sebagai bermanfaat untuk memiliki hubungan, dengan pertimbangan bahwa kita tertarik dalam menyelesaikan masalah-masalah Timteng.” Hanya 12 hari setelah rapat, pada 1 Januari 1984, Washington Post melaporkan bahwa United States, “dalam pergeseran dalam kebijakan, telah menginformasikan pada negara-negara bersahabat Teluk Persia bahwa kekalahan Irak dalam perang usia-3-tahun dengan Iran akan menjadi suatu yang 'bertentangan dengan kepentingan-kepentingan U.S.' dan telah membuat beberapa langkah untuk mencegah hasil itu.”

Pada Maret 1984, ketika perang Iran-Irak tumbuh semakin brutal setiap harinya, Rumsfeld kembali ke Baghdad untuk pertemuan dengan mantan Menteri Luar Negri Irak Tariq Aziz. Pada hari kunjungannya, 24 Maret, UPI melaporkan dari PBB: “Gas senyawa sulfida beracun (Mustard gas) dengan gas syaraf telah digunakan pada para tentara Iran dalam 43-bulan Perang Teluk Persia antara Iran dan Irak, satu tim ahli UN telah menyimpulkan ... Sementara itu, di ibukota Irak Baghdad, diplomat presidensial Amerika Serikat Donald Rumsfeld mengadakan perbincangan dengan Menteri Luar Negeri Tarek Aziz [sic] tentang perang Teluk sebelum pergi ke tujuan yang tidak dijelaskan.”

Sehari sebelumnya, agensi berita Iran menuduh bahwa Irak melancarkan serangan senjata-senjata kimia lainnya terhadap medan perang sebelah selatan, melukai 600 tentara Iran. “Senjata-senjata kimia dalam bentuk bom-bom udara telah digunakan dalam area yang diinspeksi oleh para ahli Iran,” kata laporan U.N. “Jenis-jenis senjata kimia yang digunakan adalah bis-[2-chlorethyl]-sulfide, juga dikenal sebagai gas mustard, dan ethyl N, dimethyl phosphoroamido cyanidate, suatu senyawa kimia yang disebut sebagai Tabun.”

Sebelum keluarnya laporan PBB, Departemen Negara AS pada 5 Maret 1984 telah menerbitkan pernyataan yang mengatakan, “bukti yang tersedia mengindikasikan bahwa Irak telah menggunakan senjata-senjata kimia mematikan.” Mengomentari laporan UN, Duta Besar Amerika Serikat Jean Kirkpatrick dikutip oleh The New York Times mengatakan, “Kita berpikir bahwa penggunaan senjata-senjata kimia adalah perkara yang sangat serius. Kita telah memperjelas itu secara umum dan khusus.” Dibandingkan dengan retorika yang muncul dari pemerintah Amerika dan Inggris sebelum perang Irak 2003, berdasarkan berbagai spekulasi mengenai apa yang mungkin dimiliki oleh Saddam, reaksi Kirkpatrick sama sekali bukan seruan untuk aksi. Yang paling jelas adalah bahwa Donald Rumsfeld ada di Irak ketika laporan PBB diterbitkan dan tidak mengatakan apapun tentang tuduhan penggunaan senjata kimia, meskipun 'bukti' Departemen Negara adalah sebaliknya. The New York Times melaporkan dari Baghdad pada 19 Maret 1984, “Para diplomat Amerika mengungkapkan diri mereka sendiri puas dengan hubungan-hubungan antara Irak dan Amerika Serikat dan menyarankan bahwa ikatan-ikatan diplomatik formal telah kembali seperti semula dalam keseluruhan kecuali nama.”

Satu setengah bulan kemudian, pada Mei 1984, donald Rumsfeld mengundurkan diri. Pada Nopember tahun itu, hubungan diplomatik penuh antara Irak dan Amerika Serikat sepenuhnya kembali. Dua tahun kemudian, dalam sebuah artikel tentang aspirasi Rumsfeld untuk mencalonkan diri untuk nominasi Presidensial Partai Republik, majalah the Chicago Tribune mendaftar capaian-capaian Rumsfeld salah satunya adalah “membuka kembali hubungan AS dengan Irak”. The Tribune gagal menyebutkan bantuan ini datang ketika, menurut Departemen Negara US, Irak secara aktif menggunakan senjata-senjata kimia. Selama periode Rumsfeld sebagai diplomat Timur Tengah Reagan, Irak membabi buta membeli alat berat dari perusahaan-perusahaan Amerika; penjualan yang dilegitimasi oleh Gedung Putih. Kegilaan belanja itu dimulai seketika setelah Irak disingkirkan dari daftar tersangka sponsor terorisme pada 1982. Menurut artikel Los Angeles Times 13 Pebruari 1991, “Yang pertama dalam daftar belanja Hussein adalah helikopter-helikopter dan para pelatih dengan hanya sedikit perhatian. Namun demikian, sedetik pemesanan 10 helikopter mesin-kembar Bell 'Huey', seperti yang digunakan mengangkut pasukan tentara di Vietnam, mendorong oposisi kongresional pada Agustus 1983 ... Bagaimanapun, penjualan itu disetujui.”

Pada 1984, menurut the LA Times, the State Department, atas nama “peningkatan penetrasi Amerika dalam pasar pesawat sipil yang teramat kompetitif” mendorong penjualan 45 helikopter Bell 214ST ke Irak. Helikopter-helikopter itu, bernilai $200 juta, sejak awal didesain untuk keperluan militer. The New York Times kemudian melaporkan bahwa Saddam “mentransfer banyak, jika tidak semua [helikopter itu] kepada militernya”. Pada 1988, pasukan Saddam menyerang penduduk sipil Kurdish dengan gas beracun dari berbagai helikopter dan pesawat Irak. Sumber-sumber intelijen A.S. Memberitahu the LA Times pada 1991, mereka “percaya bahwa helikopter-helikopter buatan Amerika termasuk yang menjatuhkan bom mematikan itu.”

Dalam respon terhadap peng-gas-an, sanksi-sanksi penyisiran secara serentak dikeluarkan oleh Senat AS yang akan menolak akses Irak pada sebagian besar teknologi AS. Gedung Putih membuang aturan itu. Para pejabat senior di kemudian hari memberitahu para reporter bahwa mereka tidak menekan hukuman terhadap Irak saat itu karena mereka ingin meningkatkan kemampuan Irak untuk berperang dengan Iran. Riset ekstensif sama sekali tidak menemukan pernyataan publik oleh Donald Rumsfeld secuilpun perhatian tentang penggunaan atau pemilikan senjata-senjata kimia hingga pada minggu dimana Irak menginvasi Kuwait pada Agustus 1990, ketika dia muncul di ABC News Special.

Delapan tahun kemudian, Donald Rumsfeld menandatangani 'surat terbuka' untuk Presiden Clinton, memintanya untuk menghapus “ancaman oleh Saddam”. Itu mendesak Clinton untuk , “menyediakan kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menyelamatkan kita sendiri dan dunia dari keliaran Saddam dan Senjata Pemusnah Masal yang ditolaknya untuk ditanggalkan.” Pada 1984, Donald Rumsfeld berada dalam posisi untuk menarik perhatian dunia pada bahaya Saddam. Dia sedang di Baghdad ketika PBB menyimpulkan bahwa senjata-senjata kimia kimia telah digunakan terhadap Iran. Dia dipersenjatai dengan komunikasi baru dari State Department bahwa terdapat 'bukti tersedia' Irak menggunakan senjata-senjata kimia, tapi rumsfeld tidak mengatakan apapun.

Sebelum invasi ke Irak tahun 2003, Washington berbicara mengenai bahaya Saddam dan konsekuensi-konsekuensi dari kegagalan untuk beraksi. Meski fakta bahwa pemerintah gagal menyediakan bahkan sesobek bukti konkrit bahwa Irak memiliki hubungan-hubungan dengan Al Qaeda atau telah meneruskan produksi senjata-senjata kimia atau biologi, Rumsfeld bersikeras bahwa, “ketiadaan bukti bukanlah bukti ketiadaan.” Namun terdapat bukti ketiadaan suara Donald Rumsfeld di saat ketika pertama kali muncul tuduhan bahaya Iraq pada keamanan internasional – dan dalam kasus ini, bukti ketiadaan adalah memang bukti.

Peran Inggris dalam kebangkitan Saddam pra-Perang Teluk telah ditutupi oleh pemerintah UK. Dalam penyimpangan dari aturan-aturan PBB, pemerintahan Margaret Thatcher di 1980-an, dan kemudian Major Government di 1990-an, secara rahasia menyetujui penjualan senjata kepada Saddam Hussein. Itu digunakan dalam perang Iran-Irak, melawan penduduk desa Kurdish dan untuk membantu program nuklir Saddam. Laporan itu, oleh High Court Judge – Hakim Pengadilan Tinggi – Sir Richard Scott mengungkap suatu jaringan konspirasi, intrik dan penghasilan keuntungan bergerak ke jantung pemerintah. Pemerintah Konservatif Major selamat dari debat House of Commons mengenai Scott dengan satu suara; dengan beberapa anggota Partai Konservatif (Tories) memberi voting bertentangan dengan Partai Buruh. Asal mula skandal itu menunjukkan bahwa pada tahun 1980-an di bawah ekspor senjata yang digerakkan oleh Thatcher, anak laki-lakinya Mark menjadi salesman keliling tidak resmi bagi perusahaan-perusahaan senjata British. Mark Thatcher diestimasi memperoleh untuk dirinya sendiri sekitar $160 juta komisi dalam prosesnya, termasuk hingga $40 juta dari satu kesepakatan dengan Saudi Arabia.

Ketika penjualan ke mayoritas rezim diktatorial tidak menyebabkan masalah-masalah diplomatik khusus [satu-satunya protes muncul dari partai politik kiri jauh], penjualan ke Iran dan Iraq adalah persoalan lain. Pasar berpotensi besar ini dihambat oleh batasan-batasan United Nations atas penjualan ke kedua negara itu, lalu dalam tengah kecamuk perang di mana 1 juta orang mati. Kerugian potensial pasar Iraq tampak terasa; antara 1970 dan 1990 Britain mensuplai rezim Saddam dengan berbagai macam peralatan, dari mobil VIP bersenjata hingga tank sekunder dan peralatan komunikasi canggih. Sekarang diketahui bahwa perusahaan-perusahaan British memasok senjata-senjata ke kedua sisi pada 1980-an melalui cara sederhana mengirimnya ke negara-negara penghubung, yang kemudian mengekspornya-kembali. Perusahaan Inggris BMARC, yang mana mantan menteri dari Partai Konservatif (Tory) Jonathan Aitken pernah menjadi direkturnya, memasok ratusan senjata ringan angkatan laut ke Singapura, suatu negara yang tidak terkenal besaran angkatan lautnya. Senjata-senjata itu dapat akhirnya mencapai Iran. Pos-pos pentahapan favorit untuk senjata-senjata batas-Irak adalah Oman dan Jordan. Dalam tahun 1986 bea cukai Swedia menemukan kartel Eropa, termasuk perusahaan-perusahaan Inggris, mensuplai berbagai peledak melalui Jordan.

Meski begitu beberapa pihak berargumen, sebagaimana dilakukan Presiden Clinton dalam pidato pada Konferensi Partai Buruh, bahwa Barat telah berbuat kesalahan – bahwa ia telah membesarkan para diktator tapi ini harus menjadi katalis untuk membersihkan situasi dengan menggusur para diktator seperti Saddam. Logika terbalik ini mungkin telah memukau partai Buruh yang mempelajari situasi politik internasional saat ini. Bukannya belajar dari 'kesalahan' masa lalu dalam pasca kejadian serangan teroris 9-11 terhadap New York dan Washington, Barat dalam yang disebut 'perang terhadap terorisme' masih memiliki para sekutunya yaitu mereka diktator yang paling mengerikan.

Buku : Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran

Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik Luar Negeri Barat

Supporting Dictatorship and Tyranny

Traditional tools in Western Foreign Policy

Download Lengkap Buku Metode Umum Kebijakan Luar Negeri Barat [PDF]

oleh Hizb ut-Tahrir Inggris

Tentang Hizbut Tahrir

Hizb ut-Tahrir Britain

Suite 301

28 Old Brompton Road

London SW7 3SS

http://www.hizb.org.uk

info@hizb.org.uk

Supporting Dictatorship and Tyranny [PDF]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI DIKIRIM KE EMAIL SAYA → Kirim ke alamat email saya:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda

film video Islami

3 keping DVD berisi file-file film-film / video-video Islami:

1. Film Perjuangan Dakwah Rasul SAW. (Disertai penjelasan Perjuangan Rasul Saw. dan Metodenya Dalam Menegakkan Islam) (durasi 63 menit)

2. Film Fakta Sebenarnya Tragedi WTC (9/11) (58 menit)

3. Film Rintihan Umat Islam – Nestapa Umat Islam Zaman Ini dan Perjuangan Umat (43 menit)

4. Film Perjuangan Menyelamatkan Umat – Menyelamatkan Umat Zaman Ini (79 menit)

5. Film Kejayaan Peradaban Islam Era Khilafah 632-1453M (60 menit)

6. Film Kejayaan Peradaban Islam Era Khilafah – Menguasai Tiga Benua 1453-1924M (64 menit)

7. Video Mencari Dalang Teror (100 menit)

8. Film Noda Berdarah Komunisme (54 menit)

9. Film Di Balik Asap Perang Dunia (50 menit)

10. Film Sejarah Adanya Ideologi Liberal (62 menit)

11. Film Sejarah Islam Di Nusantara 1 644-1652M (57 menit)

12. Film Sejarah Islam Di Nusantara 2 1652-2006M (58 menit)

13. Video Membongkar Ekonomi Kapitalisme (167 menit)

14. Video Indahnya Keluarga Bersyariah (50 menit)

15. Film Mencerdaskan Akal Sesuai al-Quran (52 menit)

16. SMPlayer Portable – Video Files Player (15MB)

17. BONUS : Film Seri UMAR bin Khattab (Omar Ibn Khattab) lengkap 30 episode – subtitle / teks bahasa indonesia – keping DVD file format MP4 (22 jam 43 menit)

18. BONUS : Video Penaklukan Konstantinopel (17 menit)

19. BONUS : Film Dokumenter Suriah (43 menit)

20. BONUS : Film Mengenal Allah Melalui Ciptaan-Nya (36 menit)

Total 19 film / video Files 10.1GB

(untuk ditonton memakai komputer)

Tak perlu repot download

Harga : Rp50.000 (bebas ongkos kirim)

Pengiriman ke seluruh Indonesia (Pos indonesia)

Kirim SMS ke: 0852.1451.0995

Kirim SMS ke: 0852.1451.0995