Jumat, 14 Desember 2012

Bahaya Ide HAM Bagi Generasi

para ibu fasik demonstrasi
di Bekasi menentang Syariah Islam

Bahaya Ide HAM Bagi Generasi


Kondisi generasi muda di negeri ini sangat buruk. Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak/Komnas Anak, sepanjang enam bulan pertama tahun 2012 ada 139 kasus tawuran pelajar, 12 di antaranya menyebabkan kematian. Remaja kita saat ini adalah generasi pemuja berhala kebebasan. Kebebasan perilaku telah menjadi gaya hidup. Remaja kita larut dalam pelukan kapitalisme-liberalisme yang menjanjikan mimpi-mimpi kenikmatan duniawi. Aksi geng motor, tawuran, seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi,  pelaku pelacuran remaja, narkoba, HIV/AIDS, gaya hidup konsumtif dan individualis menjadi identik dengan remaja negeri ini. Sangat sedikit kita temukan remaja yang berkepribadian mulia sebagaimana diharapkan Umat Islam.

Selama ini berbagai pihak kesulitan mengatasi permasalahan semacam ini. Karena yang diupayakan adalah solusi yang tidak komprehensif, cenderung saling kontradiktif dan pragmatis. Masalah tawuran, misalnya, diatasi dengan mendorong orangtua lebih perhatian pada anak, menguatkan ikatan cinta, dan semisalnya. Namun, lingkungan dan media massa secara legal menghancurkan apa yang dibangun orangtua yang saleh ini. Sebagian orangtua lainnya kesulitan mendidik karena minim pemahaman. Sebagian lagi ada para ibu yang tidak mendampingi pendidikan anak-anaknya karena sibuk mengembangkan usaha atau mengejar karir, kadang alasannya ‘demi anak’ juga.

Demikian pula ketika disuarakan perubahan kurikulum. Pendidikan karakter, misalnya. Karakter yang bersumber dari mana jika bukan Islam dan syariatnya? Siapa teladannya jika bukan Rasul dan para sahabatnya? Di mana-mana yang mereka lihat adalah perilaku curang, kekerasan, hedonis, pelacuran dan pornografi. Bagaimana bisa terbangun karakter mulia bagi seluruh generasi? Upaya-upaya semacam ini hanya pragmatis, tidak bertahan lama, dan hanya menghentikan sementara masalah yang ada karena tidak menyentuh akar masalah.

Akar dari persoalan-persoalan masyarakat semacam itu adalah kapitalisme dan sekularisme yang mendasari seluruh aspek kehidupan bangsa ini! Sistem sekularisme kapitalisme yang diadopsi sebagai ideologi negara ini telah melahirkan kebebasan berkeyakinan, berperilaku, berpendapat dan menguasai harta. Inilah yang mendasari penerapan konsep hak asasi manusia (HAM). Akibatnya, semua orang termasuk remaja merasa berhak berbuat apapun. Perbuatan-perbuatan asusila dan kriminal jadi dianggap biasa. Bahaya HAM juga tampak di AS di mana ada 2 negara bagian setujui pernikahan gay dan 2 lainnya setujui legalisasi ganja untuk merokok (kompas.com, 7/11/2012).

Sekularisme yang mewarnai sistem pendidikan menjadikan pendidikan agama hanya formalitas belaka, tidak ada prinsip untuk menjadikan tuntunan agama dipahami dan diamalkan oleh anak didik sehingga membentuk kepribadiannya. Karena itu, sistem pendidikan telah gagal menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas, yang memiliki iman dan takwa yang kuat dalam kehidupan.

Perhatian terhadap pendidikan keluarga Islam bertolak belakang dengan kebijakan-kebijakan pendidikan dan prinsip-prinsip ekonomi yang dibangun di negeri ini. Orientasi yang ditanamkan kepada siswa adalah orientasi materialistik. Bagaimana menyumbangkan potensi diri guna menghasilkan materi semata. Kampanye kesetaraan jender pun marak. Perempuan didorong untuk meninggalkan rumahnya untuk berpartisipasi materi. Berikutnya muncul masalah dalam rumah tangga dan pendidikan anak.

Inilah yang kita lihat sebagai masalah kompleks yang tidak menyelesaikan persoalan generasi. Masalahnya sistemik, bermuara pada kebijakan pemerintah yang tidak berdasar Islam. Padahal Islam menyediakan solusi tuntas segala macam perkara. Paradigma negara yang bertanggung jawab penuh terhadap seluruh urusan rakyat saat ini tidak ada. Semua urusan rakyat dikerjasamakan dengan swasta. Ketika melihat ada 'potensi pajak', maka semua ide, lembaga dan aktivitas apa pun akan difasilitasi di tengah masyarakat. Apa sulitnya melarang semua tayangan porno, vulgar dan kekerasan? Mengapa tidak melarang media yang mengkampanyekan liberalisme, gaya hidup bebas dan hedonis? Itu hanya karena alasan HAM dan materi.

Dalam pandangan Islam, negara adalah penanggung jawab semua pemenuhan kebutuhan rakyat. Dengan semua kebijakan sesuai Islam, negara berparadigma melayani semua urusan rakyat dan tidak berkompromi terhadap hal-hal yang buruk bagi masyarakat dengan alasan apa pun. Negara yang beriman dan bertakwa memerankan diri sebagai pelindung/perisai agar umat terlindungi dari ide-ide yang merusak.

Lalu apa yang bisa dilakukan bagi pembinaan generasi, sekaligus menjadi kekuatan luar biasa untuk melakukan perubahan mendasar? Umat yang terdidik baik dan terbina kepribadiannya bisa menjadi orangtua bagi lahirnya generasi berkualitas. Mereka juga bisa mewujudkan sikap hidup mencegah kemunkaran dan mengajak pada kebaikan terhadap lingkungan yang rusak. Bila sistem saat ini telah nyata melahirkan potret buram generasi, maka harus ada perubahan sistem. Sistem ideal itu adalah Khilafah Islamiyah. Untuk melakukan itu, kita bisa bersama-sama ikut dalam pembinaan Islam. Bersama-sama menyadarkan umat akan kekeliruan sistem saat ini, juga menunjukkan berbagai bahaya yang deras menyerang masyarakat beserta solusinya.

Annas I. Wibowo, SE
Simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia
Daerah Bontang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda