Minggu, 02 Desember 2012

PERANG SEMESTA MELAWAN AIDS

PERANG SEMESTA MELAWAN AIDS


Satu Desember biasa diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Anda tentu pernah  mendengar penyakit yang bernama AIDS  ini, juga virusnya yang bernama HIV. Penyakit dan virus ini memang sangat terkenal. Bagaimana tidak, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini terkenal sebagai pembunuh, semua maklum bahwa orang yang sudah mengidap HIV tak pernah bisa disembuhkan bahkan panjang usianya bisa dipastikan tidak lama lagi. Belum lagi cara penularannya yang cukup unik yakni melalui hubungan seks.

Pertama kali virus mengerikan ini ditemukan tahun 1978 di San Fransisco Amerika Serikat pada kalangan homoseksual. 3 tahun kemudian telah menyebar di 150 negara, termasuk Indonesia. Setiap menit terdapat 4 orang di seluruh dunia dengan usia 15-24 tahun terinfesi HIV, ini adalah penularan yang sangat cepat. Tahun 2006, tercatat sekitar hampir 40 juta penderita di seluruh dunia, lebih dari 90% adalah remaja. Jika setiap menit 4 orang terinfeksi, bisa anda bayangkan berapa jumlah ODHA (orang dengan HIV/AIDS) sekarang. Rata-rata 4 orang permenit pun bisa jadi sudah meningkat tiap menitnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia kasus AIDS ini pertama kali ditemukan pada turis asing di Bali tahun 1981. Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan, sudah 26.400 orang mengidap AIDS dan 66.600 orang terinfeksi HIV positif (BKKBN, 2011). Namun, sebagaimana kita ketahui bahwa kasus ini seperti fenomena gunung es. Yang terdata hanya 10 % dari penderita sebenarnya di lapangan.

Gubernur Kaltim Farid Wadjdy menyebutkan, sebanyak 2.288 warga di provinsi Kaltim menderita HIV/AIDS, jumlah ini berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim. Jumlah tersebut merupakan data kumulatif sejak 1993 hingga 2012. Dari jumlah itu, 662 orang di antaranya telah menjadi penderita AIDS, dan 401 orang lainnya meninggal dunia (antara news.com, 2012). Jumlah ini menujukkan peningkatan jumlah penderita yang sangat cepat. Pasalnya, 3 tahun sebelumnya, Oktober 2008 penderita HIV baru berjumlah 839 orang dan 53 orang meninggal karena AIDS (Kompas.Com, 2008). Sementara itu, Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Bontang kini mencapai 67 orang (antara news kaltim, februari 2012)

Solusi Tak Menyentuh Akar Masalah

Sudah bermacam-macam upaya yang dilakukan oleh banyak pihak untuk mengatasi masalah HIV/AIDS. Beberapa individu menaruh perhatian besar terhadap epidemi ini, mereka berupaya untuk memberikan kontribusinya sebesar mungkin untuk menanggulangi penyakit tersebut. Tak hanya individu, beberapa orgnisasi pun turut ambil bagian dalam menyelamatkan masyarakat dari penyakit mematikan ini. Negara pun demikian, bahkan lembaga-lembaga internasional cukup sibuk dan serius memperhatikan masalah ini. Mereka memberikan pandangan serta program-program sebagai solusi atas hal ini. Tapi realitanya belum memberikan hasil yang menggembirakan. Bahkan jumlah pengidap HIV kian bertambah tiap tahunnya.

Tak sedikit waktu, tenaga, dan fikiran yang telah terkuras disebabkan oleh virus ini. Bahkan dana yang sangat besar pun digelontorkan. Seperti diberitakan kebutuhan dana nasional untuk rencana aksi penanggulangan HIV/AIDS pada tahun 2010 - 2014 diperkirakan mencapai Rp10,3 triliun atau setara dengan 1,1 miliar Dollar Amerika. Dana sebesar itu diperkirakan belum bisa sepenuhnya memberantas kasus HIV/AIDS di tanah air yang terus meningkat (KRjogja.com, 08 Pebruari 2011).

Kampanye penanggulangan AIDS oleh pemerintah kita kenal dengan istilah ABCDE+M. yaitu Abstinence (putus hubungan total dengan HIV), Be Care with Couple (setia dengan pasangan), Condom (pemakaian kondom), Don’t Inject (jangan memakai jarum suntik), Education (penyuluhan, seminar) dan Masturbation.

Nyatanya, sederet judul berita mengerikan masih mewarnai dunia pemberitaan kita. Cobalah anda perhatikan judul berita ini, “Indonesia Negara Urutan Tiga Penularan HIV/AIDS Tertinggi” (KRjogja.com, 08 Pebruari 2011), “Indonesia Menjadi Negara Pendorong Epidemi HIV/AIDS” (Galamedia, 22 November 2011),Penularan HIV/AIDS 'Ganas' di Indonesia” (inilah.com, 20 November 2011), Penularan HIV Indonesia Tercepat di Asia Tenggara” (Pos Kota, 20 November 2011), “Indonesia Epidemi HIV/AIDS Yang Terkonsentrasi” (Berita Sore, 07 Agustus 2012), “Potensi Penularan HIV-AIDS di Indonesia Meluas (ke masyarakat umum) Berita Satu, 23 Oktober 2012), “KPAID: Hampir Tak Ada Daerah Bebas HIV/AIDS di Indonesia” (Surya Online, 30 Nopember 2009).

Ini membuktikan bahwa program penanggulangan HIV/AIDS selama ini belum sampai pada solusi yang bisa benar-benar menuntaskan masalah ini, karenanya kita masih terus terancam penyakit ganas ini.

Jika kita mau jujur, solusi ABCDE+M justru mempercepat penyebaran HIV/AIDS. Sudah kita maklumi bersama bahwa ketika kita ingin menyelesaikan sebuah masalah, maka kita harus membuang akar masalahnya. Sementara itu, solusi yang selama ini diberikan kepada masyarakat hanya sebatas ingin menghilangkan akibat tanpa mau membuang sebab.

Penyebab utama penyebaran HIV/AIDS adalah seks bebas, namun ternyata negara sama sekali tak berdaya menyelesaikan masalah seks bebas ini. Oleh karena itu, amat wajar jika penyebaran AIDS tak pernah berhenti melaju. Bisa disimpulkan bahwa selama masalah seks bebas belum bisa diatasi, selama itu juga AIDS tak akan pernah teratasi. Maka benarlah Allah berfirman : Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk (Q.S. 17:32).

Islam Solusi Tuntas
    
     Sebagai sebuah agama yang sempurna, Islam mempunyai solusi atas semua masalah yang dihadapi manusia, temasuk AIDS. Solusi pertama adalah pencegahan (preventif). Diantaranya Islam melarang berdua-duaan (pacaran) sebagai pintu gerbang menuju zina, Islam mengharamkan perzinaan, Islam mengharamkan prilaku seks menyimpang, Islam melarang masyarakat menyebarkan pornografi-pornoaksi, Islam mewajibkan saling mengingatkan, Islam memfasilitasi seks melalui hubungan legal (baca: nikah).

     Dengan solusi preventif ini, sangat sulit AIDS akan menyebar di masyarakat. Wajarlah jika penyakit ini tak dikenal selama Islam memimpin dunia lebih dari 14 abad lamanya. Wajar pula penyakit ini muncul ketika Islam sudah tidak memainkan peranan sebagai pengendali dunia.

     Selain solusi preventif, Islam juga mempunyai solusi kuratif. Orang yang terlanjur terinfeksi HIV, maka akan ditangani oleh negara. Bagi orang yang tertular karena zina, maka akan dikenai sanksi zina. Bagi orang yang tertular karena homoseks akan dikenai sanksi pembunuhan. Sedangkan orang yang terinfeksi karena efek spiral misalnya melalui transfusi darah, ASI, kelahiran; maka dikarantina. Selama masa karantina, kebutuhan mereka dipenuhi, diberi pengobatan gratis, berinteraksi di bawah pengawasan orang-orang tertentu, direhabilitasi mental, ketaqwaan dan kesabaran.

     Selain itu, Islam mewajibkan negara mensupport, memfasilitasi, menggerakkan, dan mendanai para peneliti, ahli kesehatan, ilmuan untuk bersungguh-sungguh secepatnya menemukan obat.
    
     Semua semua solusi in hanya bisa diterapkan dalam sistem Islam yang dengan izin Allah akan kembali memainkan peranan di dunia. Allah berfirman: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (Q.S An-Nur: 55).

Biodata penulis:
Nama : Aida (aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia daerah Bontang, pemerhati masalah keummatan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda