Minggu, 10 Maret 2013

Membersihkan Hati Memperjuangkan Islam

Membersihkan Hati Memperjuangkan Islam


“Sesungguhnya di dalam jasad ada gumpalan daging.  Apabila ia baik, maka menjadi baik seluruh amalnya. Apabila jelek, maka seluruh amalnya menjadi buruk.  Ketahuilah ia adalah hati”

Hadist di atas memberi informasi kepada kita betapa sentralnya peranan hati, sampai-sampai seluruh amal manusia berupa kejahatan maupun kebaikan ditentukan oleh jenis hatinya.  Jika hati kotor, maka hasilnyapun pasti amalan kotor.  Jika hati bersih tentu akan menghasilkan suatu karya yang bersih.  Ibaratnya sebuah gelas yang dapat menampung air susu, maka jika isinya dituang keluarlah air susu, di lain pihak, jika gelas itu diisi air selokan, apabila dituang gelas itu maka keluarlah air selokan.

Tak jarang kita jumpai seseorang yang pada mulanya sangat getol dalam memperjuangkan Islam, akan tetapi karena hatinya masih belum bersih betul, justru akhirnya berbalik haluan. Bukan Islam yang diperjuangkan sehingga Islam berkuasa dan terap, tetapi Islam dipakainya sebagai alat untuk memperjuangkan nasibnya sendiri.  Bukan berjuang untuk Islam, tapi memperalat Islam untuk mengangkat dirinya sendiri.  Astaghfirulloh hal ‘adhim.

Itulah sebabnya Allah SWT tidak menerima amal seseorang yang niatnya keliru. Niat itupun sudah bisa menghasilkan pahala. Perbuatan amal baik atau ketakwaan yang terlaksana juga mendapatkan balasan pahalanya. Niat berkait langsung dengan ketaqwaan seseorang.  Daging-daging unta dan darahnya itu sakali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya.  Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.  Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.(Qs. Al Hajj : 37).

Betapa mulianya niat, apabila kita telah berniat untuk melakukan suatu kebaikan, maka Allah SWT akan segera mencatatnya sebagai amal kebaikan. Apalagi bila niat itu diaplikasikan ke dalam suatu amalan, maka akan berlipat ganda pahalanya. Namun tidak demikian halnya bila kita berniat untuk berbuat keburukan, Allah tidak langsung mencatatnya sebagai amal buruk. Tapi Allah SWT menangguhkannya selama hal buruk tersebut tidak dikerjakan.

Namun hal ini bukan berarti seorang hanya mencukupkan diri pada niatnya saja. Sebab itu berarti dia berniat untuk tidak perlu melaksanakan amalan nyata. Sekedar ingat tanpa sholat juga tidak bisa. Islam tetap sebagai keutuhan lahir batin, sehingga tidak cukup di batin saja. Islam juga tidak cukup di lahir saja karena niat adalah amalan hati yang menjadi landasan perbuatan.

Memang ada hubungan antara ibadah dan keadaan hati, seseorang yang hatinya bersih akan mudah menjalankan ibadah. Sebaliknya orang yang banyak melakukan maksiat, maka ibadahnya minim dan bahkan mungkin ditinggalkan sama sekali.

Kita memang diharuskan sibuk dalam beramal, berkarya dan berjuang.  Kita harus selalu sibuk memikirkan bagaimana memajukan Islam, sesuai dengan metode Rasulullah SAW dalam memperjuangkan Islam. Sebagaimana saat ini keadaannya Islam tidak diterapkan dalam kehidupan seperti periode Mekah sebelum Hijrah, maka kita sekarangpun harus memperjuangkan terapnya Islam sesuai tuntunan Nabi menegakkan Islam. Tidak hanya sibuk mengetahui tapi bagaimana kita juga berbuat, dan apabila mampu terlibat dalam semua amal nyata. Yaitu, memahami bagaimana Islam ditegakkan oleh Rasulullah dan beramal mengikuti tuntunan Rasul SAW. tersebut yaitu dakwah politik tanpa kekerasan hingga bisa terwujud terapnya Islam dalam semua aspek kehidupan dan di semua tingkatan baik individu, masyarakat maupun negara yang kesemuanya Islam. Dan sistem pemerintahan demokrasi harus dilenyapkan detik ini juga karena demokrasi adalah sistem kufur mempertuhankan hawa nafsu membuat-buat syariat, memposisikan manusia dalam posisi Yang Maha Kuasa sehingga manusia sendiri berhak memilih dan membuat hukum apapun. Haram mengamalkan demokrasi apapun niatnya. Haram pula meramalkan nasib apapun niatnya. Haram pula mengikuti upacara keagamaan kufur apapun niatnya. Haram pula mengikuti ritual musyrik, apapun alasan dan dalihnya. Semua amalan sampah busuk itu jika diyakini boleh maka menjatuhkan pelakunya ke dalam kemusyrikan atau kekufuran.

Kepribadian Islam akan bisa dicapai dengan terus menuntut ilmu mempelajari Islam yang kaaffah sempurna keseluruhan dan terus berusaha mengamalkan Islam yang masih kita bisa dalam kondisi belum tegaknya Islam dengan Khilafah. Yaitu, amalan tingkat individu dan kelompok dalam semua aspek. Sehingga kita dan umat terhindar dari berpola pikir sekular dan terhindar dari berpola sikap sekular. Umat menjadi baik dengan mengambil Islam sebagai undang-undang pribadi serta kelompok dan berjuang hingga Islam diamalkan sempurna dalam naungan Khilafah Islamiyah ala minhajin nubuwah. Negara Islam yang berakidah Islam dan berkepribadian Islam.

Satu hal lagi yang tak boleh ditinggalkan, yaitu kesibukan untuk beribadah kepada Allah. Karena akibat dari penyia-nyiaan masalah ini sangat besar, sebab hak-hak Allah dilalaikan. Jika seseorang sudah melalaikan Allah, maka Allah pun akan melalaikannya dalam segala urusan. Kalau begini lalu apa yang kita perjuangkan ?

Untuk itu, masalah ibadah yang erat kaitannya dengan benteng pertahanan hati harus menjadi perhatian yang serius. Jika ini diabaikan, hanya kerugian yang didapatkan. Terlanjur berbuat namum hasilnya nol besar, atau bahkan negatif.

Mari kita kembalikan hati hanya kepada Allah SWT. Hanya Dia yang layak dituju, sebagaimana kita baca setiap hari dalam surat Al Fatihah.

Semoga sikap istiqomah kita dalam beribadah dan berkepribadian Islam mendorong kita menuju ke arah sana, masuk ke dalam kelompok hamba-hamba yang berserah diri kepadaNya dalam semua hal termasuk dalam menerima dan memperjuangkan sistem Islam. Insya Allah.

Membersihkan Hati Memperjuangkan Islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda