Rabu, 17 Agustus 2016

Nabi SAW menyampaikan Islam mengumpulkan masyarakat


 
  

Partai ideologi Islam harus memiliki “masterplan” atau fikrah, yakni rincian berbagai ide, konsep dan gagasan –berdasarkan dalil-dalil Islam yang rinci– yang akan ditawarkan sebagai solusi dari berbagai permasalahan kehidupan. Dengan begitu, ketika kelompok dakwah/partai politik tersebut berhasil menegakkan kekuasaan Islam, maka konsep tersebut langsung bisa dilaksanakan (applicable).

Setelah Rasulullah Saw. membina para Sahabat selama 3 tahun, Allah Swt. memerintahkan Beliau untuk keluar secara terang-terangan (Al-Hafidh Ibn Jarir at-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Dar al-Fikr, Beirut, t.t. Juz III, hal. 402) sekaligus partai yang solid dan kuat itu menentang pemikiran-pemikiran non-Islam serta para elit politiknya yang memberlakukan sistem aturan kufur kepada masyarakat Makkah.

Hamzah bin ‘Abdul Muthallib masuk Islam, dan tiga hari kemudian ‘Umar bin al-Khatthab juga memeluk Islam. Ini terjadi pada bulan Dzulhijjah, tahun ke-5 bi’tsah. (Al-‘Allamah Shafiyyu ar-Rahman al-Mubarakfuri, ar-Rahiq al-Makhtum: Bahts[un] fi as-Sirah an-Nabawiyyah ‘ala Shahibiha Afdhala as-Shalata wa as-Salam, Dar Ihya’ at-Turats, Beirut, t.t. hal. 89-90). Jika proses ini berjalan baik maka opini di tengah-tengah masyarakat akan didominasi oleh opini Islam. Aktivitas membina kader dakwah juga terus dilakukan untuk terus memantapkan pengemban dakwah yang ada, juga untuk memperbanyak kuantitas mereka. Dengan itu, proses memahamkan masyarakat dengan Islam bisa semakin intensif.

Nabi Saw. pernah menyampaikan Islam dengan cara mengumpulkan masyarakat di Bukit Shafa di mana Beliau langsung terang-terangan menampakkan risalahnya, menyampaikan kepada mereka bahwa sesungguhnya Beliau adalah seorang Nabi yang diutus, dan Beliau meminta agar mereka mengimaninya; juga pernah dengan mengundang makan bersama. Ini merupakan bentuk pembinaan umum (tatsqif jama’i).

Imam al-Bukhari telah mengeluarkan riwayat dari Ibn Abbas ra. ia berkata:
لَمَّا نَزَلَتْ: ﴿وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ﴾، صَعِدَ النَّبِيُّ عليه الصلاة والسلام عَلَى الصَّفَا، فَجَعَلَ يُنَادِي: «يَا بَنِي فِهْرٍ، يَا بَنِي عَدِيٍّ» – لِبُطُونِ قُرَيْشٍ – حَتَّى اجْتَمَعُوا فَجَعَلَ الرَّجُلُ إِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَخْرُجَ أَرْسَلَ رَسُولًا لِيَنْظُرَ مَا هُوَ، فَجَاءَ أَبُو لَهَبٍ وَقُرَيْشٌ، فَقَالَ: «أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟» قَالُوا: نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا، قَالَ: «فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ» فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ: تَبًّا لَكَ سَائِرَ اليَوْمِ، أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا؟ فَنَزَلَتْ: ﴿تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَب﴾.
“Ketika turun ayat (artinya) “Dan berilah peringatan kepada kerabat terdekatmu” (TQS. Asy-Syu’araa’: 214), Nabi Saw. naik ke bukit Shafa, dan Beliau mulai menyeru: “Wahai Bani Fihrin, wahai Bani Adi –untuk satu marga Quraisy- sehingga mereka berkumpul, dan jika seorang laki-laki tidak bisa keluar dia mengirim utusan untuk melihat apa itu. Lalu datanglah Abu Lahab dan Quraisy, maka Beliau bersabda: “Bagaimana pendapatmu seandainya aku beritahukan bahwa pasukan ada di lembah ingin menyerang kalian, apakah kalian membenarkanku?” Mereka berkata: “Benar, kami tidak punya pengalaman denganmu kecuali engkau jujur.” Beliau bersabda: “Aku memberi peringatan kepada kalian di depan azab yang pedih.” Maka Abu Lahab berkata: “Celakalah kamu sepanjang hari, apakah untuk ini engkau mengumpulkan kami?” Maka turunlah ayat (artinya): “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” (TQS. al-Masad [111]: 2)

Imam Muslim telah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata:
لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: ﴿وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ﴾، وَرَهْطَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ، خَرَجَ رَسُولُ اللهِ عليه الصلاة والسلام حَتَّى صَعِدَ الصَّفَا، فَهَتَفَ: «يَا صَبَاحَاهْ»، فَقَالُوا: مَنْ هَذَا الَّذِي يَهْتِفُ؟ قَالُوا: مُحَمَّدٌ، فَاجْتَمَعُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ: «يَا بَنِي فُلَانٍ، يَا بَنِي فُلَانٍ، يَا بَنِي فُلَانٍ، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ»، فَاجْتَمَعُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ: «أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا تَخْرُجُ بِسَفْحِ هَذَا الْجَبَلِ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟» قَالُوا: مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبًا، قَالَ: «فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ»، قَالَ: فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ: تَبًّا لَكَ أَمَا جَمَعْتَنَا إِلَّا لِهَذَا، ثُمَّ قَامَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ السُّورَةُ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَقَدْ تَبَّ، كَذَا قَرَأَ الْأَعْمَشُ إِلَى آخِرِ السُّورَةِ.
“Ketika turun ayat (artinya): “Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat” dan tokoh-tokohmu di antara mereka yang ikhlas. Rasulullah Saw. keluar hingga Beliau naik ke bukit Shafa dan berteriak: “Wahai pagi”. Mereka berkata: “Siapa yang berteriak itu?” Mereka mengatakan: “Muhammad.” Lalu mereka berkumpul kepada Beliau. Maka Beliau bersabda: “Ya bani fulan, ya bani Fulan, ya bani Fulan, ya bani Abdu Manaf, ya bani Abdul Muthallib.” Mereka pun berkumpul kepada Beliau. Lalu Beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian seandainya aku beritahukan bahwa sepasukan berkuda keluar di balik gunung ini apakah kalian membenarkan aku?” Mereka menjawab: “Kami tidak punya pengalaman denganmu kecuali engkau benar.” Beliau bersabda: “Maka aku memberi peringatan kepada kalian di depan azab yang sangat pedih.” Ibn Abbas berkata: “Maka Abu Lahab berkata: “Celakalah kamu, apakah engkau mengumpulkan kami untuk ini?” Kemudian turun surat ini “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” (TQS. al-Masad [111]: 2) Demikianlah al-A’masy membaca surat ini hingga akhir surat.

Ahmad bin Yahya bin Jabir bin Dawud al-Baladzuri (w. 279 H) meriwayatkan dalam kitabnya “Jamal bin Ansâb al-Asyrâf” ia berkata: “Muhammad bin Sa’ad dan al-Walid bin Shalih telah menceritakan kepadaku dari Muhammad bin Umar al-Waqidi dari Ibn Abiy Sabrah dari Umar bin Abdullah dari Ja’far bin Abdullah bin Abi al-Hakam, ia berkata:
لَمَّا نَزَلَتْ عَلَى النَّبِيِّ عليه الصلاة والسلام ﴿وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ﴾، اشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَضَاقَ بِهِ ذَرْعًا فَلَمَّا أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام ، بَعَثَ إِلَى بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ. فَحَضَرُوا وَمَعَهُمْ عِدَّةٌ مِنْ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، وَجَمِيعُهُمْ خَمْسَةٌ وَأَرْبَعُونَ رَجُلافَجَمَعَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ عليه الصلاة والسلام ثَانِيَةً، فَقَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ أَحْمَدُهُ، وَأَسْتَعِينُهُ وَأُومِنُ بِهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ». ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ الرَّائِدَ لا يَكْذِبُ أَهْلَهُ. وَاللَّهِ لَوْ كَذَبْتُ النَّاسَ جَمِيعًا، مَا كَذَبْتُكُمْ. وَلَوْ غَرَرْتُ النَّاسَ، مَا غررتكم وَاللَّهِ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ، إِنِّي لَرَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ خَاصَّةً وَإِلَى النَّاسِ كَافَّةً. وَاللَّهِ، لَتَمُوتُنَّ كَمَا تَنَامُونَ، وَلَتُبْعَثُنَّ كَمَا تَسْتَيْقِظُونَ، وَلَتُحَاسَبُنَّ بِمَا تَعْمَلُونَ، وَلَتُجْزَوُنَّ بِالإِحْسَانِ إِحْسَانًا وَبِالسُّوءِ سوءا. وَإِنَّهَا لَلْجَنَّةُ أَبَدًا، وَالنَّارُ أَبَدًا. وَأَنْتُمْ لأَوَّلُ مَنْ أُنْذِرُ». فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ: مَا أَحَبَّ إِلَيْنَا مُعَاوَنَتَكَ وَمُرَافَدَتَكَ، وَأَقْبَلَنَا لِنَصِيحَتِكَ، وَأَشَدَّ تَصْدِيقَنَا لِحَدِيثِكَ. وَهَؤُلاءِ بَنُو أَبِيكَ مُجْتَمِعُونَ. وَإِنَّمَا أَنَا أَحَدُهُمْ، غَيْرَ أَنِّي وَاللَّهِ أَسْرَعُهُمْ إِلَى مَا تحب. فامض لما أمرت به. فو الله، لا أَزَالُ أَحُوطُكَ وَأَمْنَعُكَ، غَيْرَ أَنِّي لا أَجِدُ نَفْسِي تُطَوِّعُ لِي فِرَاقَ دِينِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ حَتَّى أَمُوتَ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ. وَتَكَلَّمَ الْقَوْمُ كَلامًا لَيِّنًا، غَيْرَ أَبِي لَهَبٍ فَإِنَّهُ قَالَ: يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، هَذِهِ وَاللَّهِ السَّوْءَةُ، خُذُوا عَلَى يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يأخذ على يده غيركم. فإن اسلمتوه حِينَئِذٍ، ذُلِلْتُمْ. وَإِنْ مَنَعْتُمُوهُ قُتِلْتُمْ فَقَالَ أَبُو طالب: «والله، لنمنعه مَا بَقِينَا».

“Ketika turun kepada Nabi Saw. ayat (artinya) “Dan berilah peringatan kepada kerabat terdekatmu,” hal itu menjadi hal yang berat dan membuat dada Beliau terasa sempit… ketika pagi hari Rasulullah Saw. mengutus kepada Bani Abdul Muthallib. Lalu mereka hadir dan bersama mereka sejumlah orang dari Bani Abdu Manaf, semuanya empat puluh lima orang … lalu Rasulullah mengumpulkan mereka kedua kalinya. Dan Beliau bersabda: “Segala puji hanya bagi Allah aku memuji-Nya. Aku meminta pertolongan-Nya dan aku beriman kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya”. Kemudian Beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang pemimpn tidak membohongi warganya. Dan demi Allah seandainya aku berdusta kepada seluruh manusia, aku tidak akan berdusta kepada kalian. Seandainya aku menipu manusia niscaya aku tidak akan menipu kalian. Demi Allah yang tiada tuhan melainkan Dia, sesungguhnya aku adalah Rasulullah kepada kalian secara khusus dan kepada manusia seluruhnya. Demi Allah tidaklah kalian mati seperti kalian tidur, dan sungguh kalian akan dibangkitkan seperti kalian dibangunkan, dan sungguh kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kalian perbuat, dan sungguh kalian diberi balasan atas kebaikan dengan kebaikan dan keburukan dibalas keburukan. Dan sungguh adalah Surga itu kekal dan Neraka itu kekal. Dan kalian sungguh adalah orang pertama-tama yang aku peringatkan.” Lalu Abu Thalib berkata: “Alangkah senang bagi kami membantu dan menyertaimu dan kami menyambut nasihatmu dan sangat membenarkan pembicaraanmu. Dan mereka anak bapak moyangmu berkumpul. Melainkan aku adalah salah seorang dari mereka. Hanya saja aku, demi Allah, yang paling cepat kepada apa yang engkau sukai. Jalankan apa yang diperintahkan kepadamu. Demi Allah aku akan terus menjaga dan melindungimu. Hanya saja aku tidak menemukan diriku suka untuk meninggalkan agama Abdul Muthallib hingga aku mati di atas apa sebagaimana dia.” Kaum itu berbicara lembut. Kecuali Abu Lahab, ia berkata: “Wahai bani Abdul Muthallib, ini demi Allah adalah keburukan. Tindaklah dia sebelum dia ditindak oleh selain kalian. Jika kalian menyerahkan dia saat itu, kalian dihinakan. Dan jika kalian melindunginya maka kalian diperangi.” Abu Thalib berkata: “Demi Allah sungguh kami akan melindunginya selama kami ada.”


“Dan katakanlah: "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan." (QS. Al-Hijr: 89)
….


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda