Sabtu, 13 Agustus 2016

Kesadaran menegakkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan merupakan kewajiban


 
  

Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa larangan dan perintah-Nya. Seorang Muslim diperintahkan untuk memastikan bahwa seluruh perbuatannya bersumber dari wahyu Allah Swt., dan tidak bersumber pada hawa nafsu, atau ajaran-ajaran selain Islam.



“Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya?, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?” (QS. Al-Qalam: 37-38)



“Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)?” (QS. Al-Qalam: 39)

Umat Islam dilarang mengambil metode atau manhaj kebangkitan umat dari orang-orang kafir, seperti menggunakan jalan demokrasi, maupun metode ala orang sosialis.

Rasulullah Saw. pernah membuat garis di depan para sahabatnya dengan satu garis lurus di atas pasir, sementara di kanan kiri itu Beliau menggariskan garis-garis yang banyak. Lalu Beliau bersabda, “Ini adalah jalanku yang lurus, sementara ini adalah jalan-jalan yang di setiap pintunya ada setan yang mengajak ke jalan itu.” Kemudian Nabi Saw. membaca QS. al-An’am [6]: 153.



“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)

Selain itu, Allah Swt. telah mengancam siapa saja yang menyalahi perintah Rasulullah Saw. dengan ancaman musibah dan adzab yang pedih.



“maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur [24]: 63)

Tidak ada satupun tahapan metode menegakkan negara dari Rasulullah Saw. kecuali dijelaskan dalam sīrah (perjalanan dakwah) Beliau. Kaum Muslimin tentu harus mempelajari dan mendalami metode ini serta menerapkannya tanpa penyimpangan sedikitpun.

Sirah Nabawiyyah selama berasal dari riwayat yang shahih maka terhitung sebagai dalil syara’ dan bisa digunakan sebagai hujjah (argumen). Ia tak ubahnya seperti hadits Nabi Saw. yang lain, karena di dalamnya juga mengandung perkataan, perbuatan, dan persetujuan Rasulullah Saw. (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, juz 1 hlm 352).


Memulai
 
Perjuangan Rasulullah Muhammad Saw. dalam mengubah dunia dimulai di Makkah, dan berbuah setelah hijrah ke Madinah. Keberhasilan ini tidak mungkin terjadi bila Rasul tidak menempuh fase pengkaderan dan pembinaan di Makkah yang memang memakan waktu cukup lama, yaitu 13 tahun. Waktu sepanjang itu diperlukan untuk menanamkan fikrah Islam di tengah masyarakat.

Dalam mengawali langkah dakwahnya, Rasulullah Saw. mendatangi orang-orang terdekat Beliau dan melakukan kontak dengan orang-orang Makkah untuk mengajari mereka al-Qur’an. Rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam (Dar al-Arqam) di sebelah barat bukit Shafa oleh Beliau dijadikan sebagai pusat pembinaan (Al-‘Allamah Shafiyyu ar-Rahman al-Mubarakfuri, ar-Rahiq al-Makhtum: Bahts[un] fi as-Sirah an-Nabawiyyah ‘ala Shahibiha Afdhala as-Shalata wa as-Salam, Dar Ihya’ at-Turats, Beirut, t.t. hal. 80). Pembinaan awal yang masih tersembunyi ini berlangsung selama 3 tahun.

Sejak diangkat menjadi Nabi dan Rasul di tahun 622 M, Nabi Muhammad adalah sel pertama partai. Dari sel pertama ini, Baginda Saw. membentuk sel-sel berikutnya. Istri Beliau Khadijah, sahabat Beliau Abu Bakar, maulanya Zaid bin Haritsah, dan sepupu Beliau ‘Ali bin Abi Thalib direkrut dan dibina, hingga menjadi sel-sel berikutnya. Setelahnya Abu Bakar merekrut ‘Utsman bin Madz’un, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah bin ‘Ubaidillah, ‘Ustman bin ‘Affan, dan generasi awal Islam yang lainnya. 

Pembinaan akidah dan syariah dilakukan hingga terbentuk para kader berkepribadian Islam. Rasulullah Saw. membina mereka untuk meningkatkan taraf berpikir dan merefleksikan ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan Allah Swt. Beliau menanamkan keyakinan yang kokoh kepada mereka sehingga bekas-bekas paham kekufuran dan konsep-konsep kejahiliyahan lenyap dalam diri mereka dan digantikan dengan Islam. Ketika ayat-ayat tentang aqidah turun, sedangkan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum belum banyak turun, maka kaum Muslim –saat itu– bertanggung jawab terhadap Islam seluruhnya, yaitu sampai pada batas-batas yang telah dijelaskan nash-nash syara’ yang telah turun.

Seorang Muslim memiliki kesadaran bahwa menegakkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan merupakan kewajiban bagi dirinya dan berdiam diri terhadap ‘aqidah dan sistem kufur adalah kemaksiatan. Seorang Muslim menjadikan ‘aqidah Islam sebagai pandangan hidupnya dan syariah Islam sebagai tolok ukur perbuatannya, menggunakan pandangan Islam ketika melihat suatu pemikiran, kejadian, ataupun perbuatan.

Setiap pelajaran Islam merupakan pelajaran yang bersifat amaliyah (praktis) dan berpengaruh, dengan tujuan untuk diterapkan dalam kehidupan dan dikembangkan di tengah-tengah umat.

Merekapun memiliki pola jiwa yang Islami (nafsiyah Islamiyah), sehingga akan menjadikan kecenderungannya senantiasa mengikuti Islam, serta menentukan langkah-langkahnya atas dasar Islam. Mereka ridha kepada sesuatu yang diridhai Allah dan Rasul-Nya, marah dan benci kepada hal-hal yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka. Mereka mendapatkan “celupan” Islam, menyatu dengan Islam.

Dengan begitu mereka mampu menjadi orang-orang yang pantas dan layak mengemban dakwah Islam dan mampu memikul beban dakwah. Melalui aktivitas ini para kader ditempa dengan pemahaman Islam hingga berubah secara fundamental menjadi kader yang mujahid (pejuang), muta’abbid (ahli ibadah), mufakkir (pemikir), dan siyasi (politisi). Misalnya, Beliau telah menjadikan Umar bin al-Khaththab dari seseorang yang pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup hingga menjadi seseorang yang rela mengorbankan jiwa dan hartanya demi tegaknya Islam. Umar ra. menjadi seseorang sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw., “Tidak ada satu setanpun yang berjumpa denganmu pada suatu lorong jalan melainkan dia akan mencari lorong lain yang tidak kamu lalui.” (Shahih Bukhari no.3051)

“dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam pernah berdo’a:
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ
"Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu di antara kedua orang yang paling Engkau cintai, Abu Jahal atau Umar bin Khaththab." Ibnu Umar berkata: "Dan ternyata yang lebih Allah cintai di antara keduanya adalah Umar bin Khaththab." (Sunan Tirmidzi no.3614)
….


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda