Minggu, 21 Agustus 2016

Sejarah gangguan terhadap dakwah ideologi Islam

 

“Ketika menjelang wafatnya Abu Tholib, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam mendatanginya dan ternyata sudah ada Abu Jahal bin Hisyam dan 'Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam berkata, kepada Abu Tholib: "Wahai pamanku katakanlah laa ilaaha illallah, suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah." Maka berkata, Abu Jahal dan 'Abdullah bin Abu Umayyah: "Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama 'Abdul Muthalib?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terus menawarkan kalimat syahadat kepada Abu Tholib dan bersamaan itu pula kedua orang itu mengulang pertanyaannya yang berujung Abu Tholib pada akhir ucapannya tetap mengikuti agama 'Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah.” (Shahih Bukhari no.1272)



“Dan mereka berkata: "Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” (QS. Al-Qashash: 57)






“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami; mereka itu tempatnya ialah Neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7-8)

Fitnah dan ujian pernah dilakukan terhadap Baginda Nabi Saw. oleh Abu Lahab dan istrinya; Abu Jahal dan istrinya; Uqbah bin Abi Mu'aith, Ubay bin Khalaf, Umayyah bin Khalaf. Salah seorang dari mereka pernah melempar Nabi Saw. dengan isi perut hewan sembelihan saat Beliau sedang shalat.

“dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melakukan shalat, kemudian Abu Jahl datang dan berkata; bukankah aku telah melarangmu melakukan hal ini? bukankah aku telah melarangmu melakukan hal ini? bukankah aku telah melarangmu melakukan hal ini? Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pergi dan Beliau membentaknya, lantas Abu Jahl katakan; "Engkau tahu bahwa tidak ada yang mempunyai komunitas bicara lebih banyak daripadaku." Maka Allah menurunkan ayat (artinya): “Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah." (QS. Al-'Alaq: 17-18),” Ibnu Abbas berkata; demi Allah apabila ia memanggil golongannya niscaya ia akan disiksa malaikat Zabaniyah Allah.” (HR. Tirmidzi no.3272)

“dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, mengenai kutipan ayat (artinya): "Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah" (QS. Al-‘Alaq: 18), ia berkata: “Abu Jahl berkata: “Apabila aku melihat Muhammad sedang melakukan shalat niscaya akan aku injak lehernya. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Seandainya ia melakukannya niscaya para Malaikat akan menyambarnya dengan jelas." (Sunan Tirmidzi no.3271)

“dari 'Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu berkata: "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang sujud (di dekat Ka’bah), di sekeliling Beliau ada orang-orang Musyrikin Quraisy lalu datang 'Uqbah bin Abi Mu'ayth datang dengan membawa jeroan (isi perut) hewan sembelihan lalu meletakkannya pada punggung Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan Beliau tidak mengangkat kepala Beliau hingga akhirnya datang Fathimah Alaihissalam membuangnya dari punggung Beliau dan berseru memanggil orang yang telah melakukan perbuatan itu. Kemudian Beliau berdo'a: "Ya Allah, aku serahkan (urusan) para pembesar Quraisy kepada-Mu. Ya Allah aku serahkan (urusan) Abu Jahal bin Hisyam, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, 'Uqbah bin Abu Mu'aith, Umayyah bin Khalaf atau Ubay bin Khalaf kepada-Mu." Dan sungguh aku melihat mereka terbantai dalam perang Badar...” (Shahih Bukhari no.2948)

Semua itu dialami Baginda Rasulullah Saw., betapapun mulianya kedudukan Beliau dan betapapun agungnya kepribadian Beliau di tengah-tengah masyarakat.
Karena itu, wajar jika para Sahabat Beliau, apalagi orang-orang lemah di antara mereka, juga mendapat banyak gangguan atau siksaan, yang tak kalah kejam dan mengerikan.

Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu: … “Abu Jahal berkata; "Wahai Abu Shafwan (Umayyah bin Khalaf), siapakah orang yang bersamamu ini?" Umayyah berkata; "Dia adalah Sa'ad (Sa'ad bin Mu'adz)" Abu Jahal berkata kepada Umayyah: "Mengapa kamu biarkan dia thawaf dengan aman. Sungguh kalian telah membantu orang yang keluar dari agamanya dan kalian juga telah berjanji untuk menolong dan membantu. Sungguh demi Allah, kalau kamu bukan bersama Abu Shafwan, kamu tidak akan bisa kembali kepada keluargamu dengan selamat." Maka Sa'ad berkata kepadanya dengan meninggikan suaranya; "Demi Allah, seandainya engkau menghalangiku thawaf pasti aku akan menghalangimu mengambil jalan ke Madinah dengan cara yang lebih keras." Umayyah berkata kepada Sa'ad: "Jangan kamu tinggikan suaramu di hadapan Abu Al Hakam (Abu Jahal) karena dia adalah pembesarnya penduduk lembah ini (Makkah)." Sa'ad berkata; "Biarkanlah kami, wahai Umayyah. Demi Allah, sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (bahwa): sesungguhnya mereka (kaum Muslimin) akan memerangi kamu." Umayyah bertanya; "Di Makkah?" Sa'ad menjawab: "Aku tidak tahu." Hal ini membuat Umayyah sangat kaget. … “(akhirnya) Allah membunuhnya di medan perang Badar.” (Shahih Bukhari no.3656) Abu Jahal dan Ummayah terbunuh di perang Badar.
….


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda