Kamis, 08 September 2016

PENTINGNYA AKTIVITAS DAKWAH ISLAM



Dakwah adalah aktivitas mengajak dan menghimbau. Apabila kita menyeru seseorang kepada Islam berarti kita membuatnya pada apa yang kita dakwahkan. Dakwah Islam tidak hanya terbatas pada perkataan saja, tetapi mencakup apa saja yang dapat membuat orang cenderung atau tertarik terhadap perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu, dakwah bisa berupa lisanul hal (bahasa perbuatan) dan lisanul maqol (perkataan).

Seorang muslim adalah contoh hidup atas apa yang didakwahkan dengan lisannya, dan menjadi refleksi gambaran Islam yang sebenarnya. Allah SWT berfirman (artinya):
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengenakan amal yang shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshillat: 33).

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu...” (QS. Asy-Syuura: 15)

Ajakan kepada Allah adalah wajib, dan tergolong ibadah, karena dengan dakwah seorang da'i mendekatkan diri pada Rabbnya. Seorang da'i mengetahui bahwa kedudukannya amat tinggi dan Allah meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat.

Seruan kepada Allah merupakan tugas para nabi. Dan dengan berdakwah itulah mereka menegakkan agama Allah. Allah SWT berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An-Nahl: 36)

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi” (QS. Al-Ahzab: 45-46)

Rasulullah Saw. telah menyampaikan Islam, menasehati umat dan menjadi saksi bagi umat manusia terhadap apa yang disampaikannya kepada mereka di dunia. Sampai-sampai Rasulullah Saw. sendiri bersaksi dan memohon pada Allah untuk menjadi saksi bagi Rasulullah bahwasanya beliau telah menyampaikan dakwahnya kepada umat manusia. Cuplikan khutbah Rasulullah Saw. pada saat haji Wada' menunjukkan hal ini: “Bukankah telah aku sampaikan, Ya Allah, saksikanlah

Jadi dakwah itu adalah warisan Rasulullah kepada ummatnya. Dengan dakwah kita bisa memelihara warisan tersebut sekaligus memelihara ajaran Islam agar tetap ada di tengah-tengah kita. Kita tidak pernah dapat membayangkan bagaimana pengaruh ajaran islam jika kita tidak menjalankan aktivitas dakwah. Sama bahwa kita tidak dapat membayangkan sejauh mana kesucian Islam dan jiwa para pengikutnya tanpa aktivitas dakwah yang mampu membersihkan debu-debu pemikiran yang menyimpang. Tak terbayangkan pula bagaimana caranya meninggikan syi'ar Islam tanpa aktivitas dakwah. Seperti halnya kita tidak dapat membayangkan tersebarnya kekuatan Islam tanpa ada dakwah. Kalau bukan karena dakwah kepada Islam, tidak akan mungkin agama ini kuat dan tidak akan mungkin tersebar luas dan terpelihara serta tidak akan tegak hujjah Allah atas makhluk-makhluk-Nya.

Dengan dakwah kepada Islam, ajaran Islam dapat kembali pada kemuliaannya dan wujudnya di muka bumi akan tetap ada hingga akhir zaman hingga seluruh umat manusia dapat merasakan kehadirannya. Maka jadilah agama itu seluruhnya untuk Allah SWT. Dan dengan dakwah kepada Islam menanglah hujjah orang-orang muslim dan patahlah hujjah orang-orang kafir. Allah SWT berfirman (artinya):
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Nisa:165)

Berdasarkan hal ini aktivitas dakwah merupakan perkara yang sangat penting bagi kaum muslimin. Generasi pertama kaum muslimin telah menjalankannya, termasuk orang pertama di antara mereka, yaitu Rasulullah Saw. memiliki kemauan keras terhadap dakwah dan agama. Kalau bukan karena dakwah bagaimana mungkin Islam sampai kepada kita dan bagamana mungkin ajaran Islam dianut oleh jutaan orang. Iman Rasulullah Saw. tidak akan menular kepada kita jika tidak ada dakwah.

Dakwah Rasulullah Saw. adalah mewujudkan Islam dalam setiap aspek kehidupan, dan membina kaum muslimin generasi pertama menjadi pengemban dakwah terbaik sesudah Rasulullah Saw. Dakwah mereka pada akhirnya mampu menjadikan Islam sampai kepada generasi kaum muslimin sesudah mereka dan begitu seterusnya berlanjut hingga hari ini. Oleh karena itu dakwah harus terus berlangsung hingga hari ini. Oleh karena itu dakwah harus berlangsung hingga hari kiamat.

Dakwah dalam kaitannya dengan Islam bagaikan alur sungai dengan air. Air dapat menghilangkan dahaga manusia dengan memberikannya minum, berfungsi untuk menyirami dan memberikan kebaikan bagi umat manusia. Namun demikian air memerlukan orang yang memindahkan. Maka demikian pula halnya dengan Islam. Gambaran yang baik bagi kehidupan ini yaitu ajaran Islam juga memerlukan orang yang memindahkannya, yang dapat memindahkan kebaikan ini agar manusia dapat terpuaskan dahaganya terhadap ilmu dan memberi petunjuk bagi orang yang mau mengikuti. Dari sini tampak hubungan erat antara Islam dan dakwah.

Dakwah termasuk tiang pancang utama dalam Islam dan tergolong perkara yang sangat penting dalam Islam. Usia dakwah sama tuanya dengan usia Islam, dan akan tetap menyertai ajaran Islam sejak lahirnya sampai hari kiamat.

Dengan demikian peranan dakwah Islam amat penting dalam kehidupan kaum muslimin, wajib diprioritaskan dan wajib dicurahkan waktu maupun tenaga.

Amar ma`ruf nahi munkar merupakan salah satu pengembanan dakwah

Dalam masalah ini Imam Nawawi -semoga Allah merahmati beliau- dalam kitabnya syarah Shahih Muslim dalam sub judul amar maruf nahi munkar berkata: “Ketahuilah bahwa amar ma'ruf nahi munkar telah menyebar luas sejak dahulu dan sekarang ini yang tersisa darinya hanya sedikit sekali”.

Pembahasan tentang amar ma'ruf nahi munkar termasuk pembahasan yang penting dan urgen karena merupakan tonggak dari segala urusan. Apabila kerusakan telah menyebar luas maka azab Allah akan menimpa orang-orang yang berbuat kerusakan dan juga menimpa orang-orang yang berbuat baik. Jika orang yang berbuat dzalim tidak dicegah maka Allah akan meratakan siksa bagi semuanya. Allah Swt. berfirman (artinya):
“...maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An-Nur: 63).

Kebutuhan terhadap amar ma'ruf nahi munkar sangat mendesak, karena dengan amar ma'ruf nahi munkar kehidupan akan aman dan tentram. Dan yang dapat melakukan itu semua hanyalah dakwah. Nabi Saw. telah menjelaskan sejauh mana kebutuhan umat ini terhadap amar ma'ruf nahi munkar dalam sebuah haditsnya dengan memberikan perumpamaan (artinya):
“Perumpamaan orang-orang yang mencegah perbuatan maksiat dengan orang-orang yang melanggarnya laksana kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bawah. Apabila orang-orang yang berada di bawah memerlukan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata: Andai saja kami lubangi (kapal) pada bagian kami! Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atasnya (padahal mereka sendiri tidak menghendakinya), maka binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan maka akan selamatlah semuanya. (HR. Bukhari).

Hadits ini menjelaskan bahwa amar ma`ruf nahi munkar sama nilainya dengan kehidupan masyarakat dan keselamatannya. Meremehkan pelaksanaan amar maruf nahi munkar akan menenggelamkan kapal itu beserta seluruh penumpangnya ke dasar laut. Al-Qur’an telah menyebut dakwah dengan lafadz amar ma'ruf nahi munkar seperti firman Allah SWT (artinya):
"kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah' (QS. Ali-lmran: 110)

Rasulullah SAW bersabda: "Demi Allah yang diriku ada dalam kekuasaan-Nya, hendaklah kalian mengerjakan amar ma'ruf nahi munkar, (sebab) jika hal itu tidak dilakukan maka Allah akan mengirimkan azab terhadap kalian, kemudian kalian berdoa (agar azab itu diangkat) tetapi (hal itu) tidak diperkenan-Nya" (HR. Tirmidzi)

Sabda Rasulullah SAW lainnya: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangan; jika tidak mampu rubahlah dengan lisan; jika tidak mampu rubahlah dengan hati, dan ini selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Penyampaian bagian dari dakwah

Al-Qur'an juga menyebut dakwah dengan menggunakan lafadz “asysyahaadatu 'ala an-nas” (kesaksian atas manusia). Allah SWT berfirman (artinya): “Dan demikian [pula] Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas [perbuatan] manusia dan agar Rasul [Muhammad] menjadi saksi atas [perbuatan] kamu” (QS. Al-Baqarah: 143).

Rasulullah Saw. bersabda: “Orang-orang mukmin itu adalah saksi-saksi Allah di muka bumi” (HR. Ibnu Majah).

Saling menasehati dalam kebenaran bagian dari dakwah

Selain Al-Qur'an menyebut dakwah dengan menggunakan istilah Tabligh seperti firman Allah SWT: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia”. (QS. Al-Maidah:67)

Sabda Rasulullah Saw.: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat" (HR. Bukhari).

Juga Al-Qur`an dan hadits menyebut dakwah dengan menggunakan lafadz saling menasehati dalam kebenaran.

Diutusnya Rasul itu untuk memberi kabar gembira dan peringatan serta menjelaskan kebenaran. Saling nasehat-menasehati untuk mengingatkan manusia kepada Allah. Allah SWT berfirman: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-'Ashr:1-3).

Rasulullah Saw. bersabda: “Ketahuilah bahwa agama itu nasihah. Ditanyakan (oleh salah seorang sahabat): ‘Untuk siapa wahai Rasulullah?’. Rasulullah menjawab: `Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul, bagi para pemimpin dan bagi kaum muslimin secara keseluruhan.” (muttafaq alaihi)

Dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya, dia berkata: “Rasulullah Saw. apabila menunjuk seorang amir (komandan) untuk peperangan atau misi-misi militer, maka Rasul (selalu) menasehati mereka secara khusus agar bertakwa kepada Allah dan berbuat baik kepada orang-orang muslim kemudian Rasulullah SAW bersabda Berperanglah atas nama Allah dan di jalan Allah Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah dan jika kalian bertemu musuh dari kalangan orang-orang musyrik ajaklah mereka kepada tiga perkara. Mana saja dari tiga perkara itu yang mereka setujui maka terima dan cukuplah (sudah). Ajaklah mereka kepada Islam, jika mereka menyambutnya maka terima dan cukuplah sudah…” (HR. Muslim).

Dari Rasulullah Saw. sesungguhnya beliau bersabda: “Semoga Allah menyinari dengan cahaya-Nya kepada seorang hamba yang mendengarkan perkataanku kemudian dihapalkannya, disimpannya lalu diamalkannya. Mungkin seseorang yang membawa fiqh [hukum] itu bukanlah orang yang faqih, dan mungkin juga orang membawa fiqh itu diberikannya kepada orang yang lebih faqih darinya" (HR. Tirmidzi).

Ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi Saw. ditaburi dengan kalimat-kalimat dakwah hingga ke sela-selanya. Sasaran dakwah mencakup umat manusia secara keseluruhan, dan dijalankan oleh seluruh kaum muslimin sesuai dengan kemampuannya masing-masing, baik itu individu, kelompok/jamaah, termasuk juga penguasa. Mereka seluruhnya diperintahkan untuk menjalankan aktivitas amar ma'ruf nahi munkar.

Kewajiban amar ma`ruf nahi munkar yang berkaitan dengan individu seperti firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. At-Taubah:71).

Imam Qurthubi dalam tafsirnya berkata: Allah Ta`alaa menjadikan amar ma'ruf nahi' munkar pembeda orang-orang mukmin dan orang-orang munafik. Allah menunjukkan bahwa sifat khas dari orang-orang mukmin (yang tidak dijumpai pada umat lain) adalah amar ma’ruf nahi munkar. Dan puncaknya adalah mengajak kepada Islam. (Tafsir Qurthubi, jilid IV:47)

Kewajiban amar ma’ruf nahi munkar yang berkaitan dengan jama`ah dan partai sekaligus menjelaskan jenis aktivitasnya, seperti firman Allah SWT: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Sedangkan yang berkaitan dengan penguasa seperti firman Allah SWT: “Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah dari perbuatan munkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al-Hajj:41)

Aktivitas amar ma'ruf nahi munkar termasuk fardhu kifayah. Seorang muslim yang berusaha menegakkannya akan memperoleh pahala dan ganjaran dari Allah SWT, sebaliknya tidak dimaafkan orang yang melalaikan amar ma'ruf nahi munkar sampai target aktivitas itu dapat diraih.

Apabila iman itu tergolong ma'ruf yang pertama dan menjadi pokok dari segala yang ma'ruf, maka lawannya adalah kufur, yang termasuk kemunkaran yang pertama dan pokok dari segala jenis kemunkaran. Apabila ketaatan itu tergolong perkara yang ma'ruf, maka lawannya adalah maksiat, yang termasuk dalam perkara maksiat. Jika berhukum dengan apa yang diturunkan Allah itu tergolong inti ketaatan -yang dengan itu terpeliharalah iman dan ketaatan yang lain- maka lawannya adalah berhukum kepada selain yang diturunkan oleh Allah. Dan hal itu termasuk inti dari kemaksiatan, yaitu mengikuti dan mentaati hawa nafsu.

Dengan demikian wajib atas seluruh kaum muslimin untuk bersatu dalam menegakkan kewajiban ini dan hendaknya seorang muslim yang mengutamakan perkara agamanya mengetahui bahwa ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacanya dan hadits-hadits Nabi yang dipelajarinya bukan hanya ditujukan kepadanya sendiri saja melainkan ditujukan untuk semua. Apabila Allah memerintahkan seorang muslim untuk beriman, itu berarti perintah bagi dia dan juga selainnya. Dan jika Allah memerintahkan untuk beribadah maka perintah itu tidak hanya untuknya, melainkan untuk semuanya. Begitu pula jika Allah memerintahkan berhukum pada apa yang diturunkan Allah, itu berarti perintah tadi bukan hanya untuknya saja melainkan untuk semuanya.
Oleh: Ahmad Mahmud
Sumber: Majalah al-Wa’ie edisi 1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda