Sabtu, 14 Mei 2016

Kelompok Studi Penyebaran Misionaris


 

Seperti demikianlah fakta sejarah yang benar-benar terjadi. Sesungguhnya kerusuhan di Suriah yang diciptakan Barat sengaja untuk memojokkan Khilafah 'Utsmani. Kerusuhan ini dimaksudkan untuk membuat pintu masuk bagi Barat. Dan, akhirnya Barat benar-benar berhasil masuk dan memaksa Khilafah supaya tunduk pada kemauan politik mereka dengan cara membuat aturan khusus untuk Suriah.

Aturan khusus itu mengatur pembagian Suriah yang dibelah menjadi dua, memberi keistimewaan-keistimewaan khusus pada Libanon, memisahkan Libanon dari seluruh bagian wilayah Syam, memberinya kebebasan dan otonomi penuh, membiarkannya menikmati kehidupan dengan aturan lokal yang mandiri, dan pemerintahan dipimpin oleh seorang penguasa beragama Nasrani dengan dibantu oleh dewan administratur dalam pengendalian penduduk.

Semenjak itu, negara-negara asing berhak mengatur urusan Libanon dan selanjutnya menjadikannya markas gerakan mereka. Libanon menjadi pangkal jembatan yang menghubungkan negara-negara asing (Barat) untuk melemparkan jurus-jurusnya ke jantung Khilafah 'Utsmani yang Negara Islam.

Di tengah-tengah serangkaian kejadian ini, kaum misionaris menciptakan fenomena baru yang sebelumnya tidak ada. Mereka tidak puas hanya dengan gerakan melalui sekolah-sekolah dan aksi-aksi misionaris, penerbitan, dan berbagai praktek klinik. Mereka mulai menyiapkan langkah lebih maju dengan mendirikan kelompok-kelompok studi. Pada tahun 1842 M dibentuklah satu lembaga yang bertugas mendirikan kelompok kajian ilmiah di bawah delegasi Amerika. Kelompok ini bekerja sesuai dengan program-program para delegasi tersebut. Langkah-langkah lembaga ini tidak lepas dari alur yang dibuatnya.

Selama lima tahun hingga pada tahun 1847 lembaga ini memantapkan posisinya dengan mendirikan kelompok studi yang diberi nama Jam'iyyatu al-Funuun wa al-'Uluum (kelompok studi sastra dan macam-macam ilmu). Anggotanya adalah Nashif al-Yazji dan Buthras al-Bustaniy. Keduanya dari Nasrani Libanon yang direkrut dengan alasan sifat kenasranian Arab. Anggota lain adalah Ili Smith dan Cornelis Van Dick dari Amerika, serta Kolonel Churchill dari Inggris.

Pada mulanya tujuan dari kelompok studi ini masih samar. Akan tetapi, dalam perkembangan berikutnya tujuan lembaga studi ini sedikit demi sedikit mulai tampak, yaitu dengan adanya gerakan penyebaran ilmu-ilmu di antara tokoh-tokoh masyarakat sebagaimana juga penyebaran ilmu-ilmu di sekolah-sekolah untuk kalangan masyarakat bawah (kecil). Baik yang masuk kategori para pembesar maupun kalangan umum, semuanya dibawa untuk dididik dengan tsaqafah/ pemikiran Barat dan diarahkan dengan pengarahan khusus yang sesuai dengan garis-garis besar haluan misionaris.

Meski para penggerak kelompok studi ini bekerja keras dan mengerahkan kemampuan juang pemaksaan yang berlebih-lebihan, selama kurang lebih dua tahun, mereka belum mampu merekrut anggota kelompok kecuali hanya 50 anggota pekerja yang berasal dari seluruh Syam. Mereka semua orang Nasrani dan sebagian besar dari penduduk Beirut. Dari kaum muslimin atau kaum Druze atau masyarakat umum, tidak satupun yang masuk kelompok studi ini. Mereka sudah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memperluas dan mengaktifkan kelompok ini, akan tetapi tidak membuahkan hasil, dan setelah lima tahun berjalan dari pendiriannya, kelompok studi ini mati tanpa meninggalkan apa-apa selain satu pengaruh, yaitu keinginan kuat kaum misionaris untuk tetap mendirikan kelompok-kelompok studi.

Karena itu, pada tahun 1850 M didirikanlah kelompok studi lain yang dinamakan al-Jam'iyyatu al-Syarqiyyah (kelompok studi ketimuran) yang didirikan oleh kaum yesuit di bawah pimpinan seorang bapak yesuit berkebangsaan Perancis, Henri Dubronier. Semua anggotanya dari kaum Nasrani. Pijakan jalannya mengikuti langkah dan metode kelompok pertama, yaitu Jam'iyyatu al-'Uluum wa al-Funuun. Akan tetapi, kelompok ini pun akhirnya tidak mampu hidup lama dan tidak lama menyusul kematian kelompok studi yang pertama. Kemudian didirikan beberapa kelompok studi yang kesemuanya juga akhirnya tenggelam.

Namun, pada tahun 1857 M dibentuklah kelompok studi baru dengan uslub yang baru pula. Dalam kelompok ini tidak satupun warga asing yang menjadi anggotanya. Seluruh pendirinya diambil dari bangsa Arab. Dengan demikian dimungkinkan membuka koridor yang akan menyelaraskan dan menyatukan anggota-anggotanya antara yang berasal dari kelompok muslim dan kelompok Druze. Mereka semua direkrut dan diberi platform Arab. Kelompok studi itu diberi nama al-Jam'iyyatu al-'Ilmiyyah al-Suuriyyah (kelompok studi ilmiah Suriah). Dengan kelebihan aktivitasnya, penampakannya dengan platform Arab, dan tidak adanya anggotanya dari orang Barat, maka kelompok ini mampu mempengaruhi warga Suriah, sehingga banyak penduduk yang bergabung kepadanya. Jumlahnya sampai mencapai 150 jiwa. Di antara anggota pengurusnya yang lebih menonjolkan ke-Arab-an adalah Muhammad Arselan dari kaum Druze dan Husin Behm dari kaum muslimin. Demikian juga kelompok Nasrani Arab ikut bergabung dengan kelompok studi ini, di antara mereka yang terkenal adalah Ibrahim al-Yazji dan Ibnu Buthras al-Bustaniy.

Kelompok studi ini mampu bertahan hidup lebih lama daripada kelompok-kelompok studi lainnya. Di antara program-programnya adalah menyelaraskan dan menyeimbangkan kelompok-kelompok tersebut dan membangkitkan rasa nasionalisme Arab dalam jiwa mereka. Akan tetapi, tujuan sebenarnya yang terselubung adalah penjajahan misionaris dengan atas nama ilmu terhadap Negara Khilafah Islam. Tujuan itu tampak jelas dengan adanya pengiriman tsaqafah (khazanah pemikiran) dan hadharah (kebudayaan) Barat ke dunia Islam……

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda