Kamis, 12 Mei 2016

Misionaris Berkedok Ilmu Pengetahuan


 

PERANG MISIONARIS

Eropa memerangi dunia Islam dengan perang misionaris yang diatasnamakan ilmu pengetahuan. Untuk kesuksesan proyek ini mereka menyiapkan anggaran yang sangat besar. Dengan kata lain, mereka melancarkan perang kolonialisme dengan melalui jalan misionaris dengan diatasnamakan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Strategi ini dimaksudkan untuk mengokohkan jaringan pusat-pusat spionase politik dan penjajahan tsaqafah/ khazanah ilmu Islam yang sudah mulai memusat di wilayah-wilayah Negara Khilafah (propinsi-propinsi yang menjadi memiliki otonomi kekuasaan). Operasi ini terus dilancarkan hingga pasukan pengintai kolonial Barat berhasil menduduki posisi kuat di garda depan. Dengan demikian, medan menjadi lapang bagi penjajah, pintu dunia Islam menjadi terbuka untuk serangan Barat, dan perguruan-perguruan misionaris tersebar luas di Negara Khilafah Islam. Sebagian besar perguruan tinggi milik Inggris, Perancis, dan Amerika.

Pengaruh Perancis dan Inggris menyusup melalui pintu ini. Seiring dengan perjalanan waktu, sejumlah perguruan tinggi menjadi inspirator dan penggerak massa untuk gerakan-gerakan kesukuan/ ashobiyah. Perguruan-perguruan ini menjadi penentu kebijakan yang menggariskan arah tujuan hidup para pelajar muslim, atau menggiring gerakan kesukuan Arab dan Turki pada dua tujuan yang fundamental, yaitu:
(i) memisahkan Arab dari Khilafah 'Utsmani sebagai upaya membunuh Negara Khilafah Islam dengan menyebut Khilafah 'Utsmani dengan nama Turki yang tujuannya untuk membangkitkan fanatisme kesukuan/ ashobiyah,
(ii) menjauhkan kaum muslimin dari ikatan yang hakiki, yaitu ikatam Islam.

Oleh karena itu, pembentukan visi ini akan terus diarahkan pada fanatisme kesukuan, baik di Turki, Arab, Persi, maupun daerah-daerah Islam lainnya. Fanatisme inilah yang memecah belah kesatuan umat dan menjadikan mereka buta terhadap ideologi Islam. Sejumlah perguruan memerankan aneka macam peran dan pengaruhnya menyentuh dunia Islam.

Di antara dampak-dampaknya bisa kita lihat pada kelemahan dan kemunduran umat. Karena misionaris merupakan batu pertama yang diletakkan oleh kolonialis untuk menutup celah yang terdapat di antara kita dan kebangkitan dan untuk mengubah hubungan dan keadaan antara kita dan mabda' (ideologi) kita, yaitu Islam.

Adapun faktor yang memotivasi orang-orang Eropa membentuk perguruan-perguruan misionaris di dunia Islam adalah pengalaman mereka di Perang Salib. Pengalaman-pengalaman itu memberi pelajaran bahwa kaum muslimin sangat keras dan tangguh di medan perang.

Barat menitikberatkan sandaran operasinya pada orang Kristen yang banyak tinggal di dunia Islam. Di Negara Khilafah Islam jumlah pemeluk Nasrani memang banyak, khususnya di Syam. Orang-orang Kristen di sini kebanyakan memegang teguh agamanya. Karena itu, tidak heran jika Barat mengkategorikan mereka sebagai saudara seagama. Bahkan, Barat menduga bahwa mereka akan bisa diajak untuk menipu daya kaum muslimin dan menjalin konspirasi dengan mereka untuk dijadikan mata-mata Barat terhadap kaum muslimin. Dengan alasan ini, maka mereka mudah diprovokasi untuk mengobarkan perang dengan alasan keagamaan.

Kedua, Barat mengandalkan jumlah populasi mereka yang banyak dan besarnya kekuatan mereka, di mana di waktu yang sama kaum muslimin terpecah-belah dan terbelakang. Kelemahan yang mulai menggerogoti kaum muslimin membuat Barat menduga bahwa jika mereka menghantam kaum muslimin dengan satu kali pukulan saja, niscaya mereka dapat menundukkan umat Islam selamanya dan akhirnya memudahkan mereka untuk melenyapkan umat dan agamanya.

Akan tetapi, optimisme Barat menemui kegagalan dan dugaannya tidak benar. Berapa banyak peristiwa besar yang menggoncang umat di tengah kancah peperangan, kaum Nasrani warga negara Khilafah justru berdiri di samping mereka. Mereka tidak terpengaruh dengan slogan-slogan. Mereka justru berperang saling bahu-membahu dengan kaum muslimin untuk menghadapi musuh. Kenapa? Karena mereka hidup di Negara Khilafah Islam dan di wilayah yang diterapkan sistem Islam kepada mereka. Mereka punya hak sebagaimana yang dimiliki kaum muslimin dan punya tanggung jawab sebagaimana yang dipikul kaum muslimin. Mereka juga hidup bersama-sama di masyarakat daulah Khilafah karena Islam mencakup dan menanggung semua hak mereka. Seorang Nasrani juga melakukan aktivitas yang perpihak pada para khalifah dan penguasa jajarannya. Dia melakukan aktivitas dalam Negara Khilafah Islam.

Ibnu Hazim mengatakan, "Di antara kewajiban menjaga ahli dzimmah kita (kafir warga negara Khilafah) jika para agresor menyerang negara kita dan mereka mengarahkan serangan pada tetangga-tetangga kita (kafir dzimmi), maka hendaknya kita mati membela mereka. Dan setiap pelanggaran dalam hal itu, termasuk penyia-nyiaan hak-hak ahlu dzimmah."

Al-Qurafiy berkata, "Sesungguhnya di antara kewajiban tiap muslim terhadap kafir dzimmi adalah berbuat lembut pada kaum lemah mereka, menutup kebutuhan kefakiran mereka, memberi makan orang yang kelaparan dari kaum mereka, memberi pakaian kepada yang tidak memiliki pakaian di antara mereka, mengajak mereka bicara dengan kata-kata yang lembut, menanggung penderitaan tetangga dari mereka semampunya, bersikap lembut pada mereka, tidak menakut-nakuti juga tidak mengagungkan, ikhlas memberi nasihat mereka dalam semua urusan, menolak orang yang hendak menyerang dan mengganggu mereka, dan menjaga harta, keluarga, kehormatan, dan seluruh hak dan kepentingan mereka. Hendaknya tiap muslim bekerja sama dengan mereka dalam setiap perbuatan yang baik dengan akhlak yang mulia pula."

Semua ini menjadikan kaum Nasrani secara alami bahu-membahu dengan kaum muslimin untuk mempertahankan negara Khilafah…..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda