Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Agustus 2017

Felix Siauw Bicara De-Islamisasi Generasi Muda



Ada sebuah laporan yang viral di sosial media akhir-akhir ini, dikeluarkan oleh Wahid Institute yang mengklaim sebuah organisasi yang "Seeding Peaceful Islam”, kalimat lain dari ”Islam liberal”. Laporan ini diberi judul "Riset Potensi Radikalisme di Kalangan Aktivis Rohani Islam Sekolah-Sekolah Negeri".

Walaupun judulnya adalah ”Potensi Radikalisme”, tapi tetap saja sudah disematkan radikalisme itu pada Islam, karena tidak pernah studi semisal ini dilakukan pada pemeluk agama selain Islam. Terlepas dari niatan pembuatnya, ada beberapa yang kita bisa ambil dari riset ini.

Riset dilakukan dengan menyebarkan angket pada 1.626 rohis peserta perkemahan ”Membangun Generasi Emas Ramah dan Bermartabat” pada 2-6 Mei 2016 di Cibubur, yang dilaksanakan oleh Direktorat Pendidikan Islam Depag. Adapun peserta adalah pengurus atau anggota Rohis di SMU/SMK Adapun indikasi ”Radikalisme KeIslaman" menurut riset ini adalah:
1. Islam harus diimplementasikan secara penuh dan literal sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Hadits tanpa kompromi. Biasanya terkait dengan isu-isu relasi sosial, ketaatan, dan hukuman pidana.
2. Biasanya bersikap reaktif baik melalui bahasa, ide, atau kekerasan fisik terhadap masalah-masalah yang dianggap menyimpang, materalistik dan sekularistik yang merusak keyakinan ummat Islam.

Dari sini saja kita sudah dapat melihat, bahwa Wahid Institute mendefiniskan aksi Bela Islam 411, dan 212 sebagai bagian dari radikalisme, termasuk jelas-jelas tuntuntan penerapan syariah dan khilafah, bahkan yang anti sekulerisme dan materialisme masuk juga dalam delik "radikal”.

Hasil risetnya, bagi Rohis ada 5 penceramah favorit mereka, yaitu Yusuf Mansur (15 persen), Oki Setiana Dewi (14 persen), Ustadz Maulana (10 persen), Mamah Dedeh (8 persen) dan Felix Siauw (6 persen). Adapun informasi keagamaan atau kajian di medsos yang mereka sukai adalah Instagram (38 persen).

Yang lebih menarik lagi, simpulan riset ini bahwa 33 persen responden mengartikan jihad adalah berperang dan mengangkat senjata melawan orang kafir, dan 78 persen mendukung ide kekhilafahan. Sebagai tambahannya 89 persen meyakini bahwa lelaki dan wanita yang bukan mahram dilarang berduaan, dan 66 persen menolak mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain.

Wajar kemudian Menteri Agama baru-baru ini mengatakan bahwa Rohis harus diawasi, berkenaan pemahaman radikal yang kini mulai mengemuka. Sebab bagi penguasa hari ini, radikal itu adalah Islam, maka de-radikalisasi adalah de-Islamisasi.

Bagaimana cara untuk melakukan de-radikalisasi sekaligus de-Islamisasi ini? Penguasa melakukan dengan dua cara. Yakni monsterisasi dan stigmatisasi negatif Islam dan tokoh-tokohnya, lalu mengangkat ide dan tokoh-tokoh sekuleris dan materialis sebagai ganti yang ditawarkan untuk generasi muda kita. Buang Islam, dan tawarkan yang lainnya.

Maka tidak aneh ketika kita melihat kasus Afi Nihaya yang diangkat setinggi-tingginya oleh penguasa, seolah sebagai remaja ideal, dengan pemahaman khas liberalis, mengusung pluralisme, dengan tetap mempertahankan simbol-simbol agama seperti kerudung, sekuleris shalihah, begitu kira-kira.

Remaja idola boneka ini lalu dipoles dengan berbagai macam pencitraan, diundang ke berbagai channel televisi, bahkan kementerian dan juga berjumpa dengan Presiden. Apa daya Allah punya rencana yang lebih baik, Afi Nihaya terbuka di publik melakukan plagiasi berkali-kali dalam karyanya, berujung pada stres dan depresi, menggagalkan semua klaim ”remaja idola" yang tidak radikal.

Alhamdulillah, semakin kuat arus deradikalisasi pada kaum Muslim, menandakan bahwa sebenarnya penguasa sudah paham betul bahwa kesadaran kaum Muslim untuk kembali pada agamanya sangat tinggi, dan mereka tahu bahwa mereka terlambat, maka stigmatisasi dan monsterisasi pada ide Islam dan tokoh-tokohnya pun akan semakin sengit, tanpa ada malu.

Itulah tanda kemenangan yang dekat, yang Allah janjikan kepada kita. Yang perlu kita lakukan hanya bertahan satu hari lagi lebih lama, satu hari lagi lebih lama, dan satu hari lagi lebih lama. Cukup hingga Allah memenangkan agama yang kita cintai ini.

Felix Y. Siauw
Member @YukNgajiID

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 200
---

Sabtu, 01 Juli 2017

Felix Siauw: Bukan Lagi Mimpi


dakwah ideologi Islam

Saya masih ingat olok-olokan kawan-kawan saya dulu sewaktu saya masih berkuliah, ”Ah, ngimpi lo Lix, nggak mungkin khilafah bakal tegak, itu cuma ide khayalan, cuma wacana dan retorika,” ada juga yang bilang "It's too good to be true, utopia,” ada juga yang tak berkata apapun hanya wajahnya memandang jijik dan tak hormat.

Padahal mereka adalah orang-orang yang sama yang memberikan senyum terbaiknya, ucapan yang termanisnya saat mendengar bahwa saya menerima Islam menjadi agama saya yang baru. Hanya saja ketika mereka mengetahui saya termasuk yang tertarik pada salah satu konsep istimewa dalam Islam, konsep khilafah dan pengaturan Islam dalam kehidupan, mendadak sikapnya begitu.

Tak jarang pula dosen-dosen turun tangan ingin mencabut ide khilafah ini dari dalam kepala saya, tapi dengan ide sekulerisme, nasionalisme, demokrasi yang sudah dari awal sebelum berada dalam Islam, saya juga merasa ada yang salah dalam ide-ide ini. Mereka katakan bahwa khilafah itu artinya mengganti dasar negara, mengganti konstitusi dan mengganti kesepakatan nenek moyang kita.

Kata mereka ”Itu cuma mimpi!" hanya karena mereka belum bisa melihatnya dengan mata.

Padahal di dalam Islam, banyak hal yang tak dapat dilihat dengan mata, bahkan dasar keimanan itu adalah meyakini yang ghaib. Dan dalam banyak kisah, kita disodorkan pada hal yang mustahil di hadapan manusia, tapi nyata bila Allah berkehendak. Maka berkali-kali Allah sampaikan dalam Alquran ”Sesungguhnya Allah Mahaberkuasa atas segala sesuatu". Dan ayat-ayat semisal ”Bila Allah berkehendak atas sesuatu maka Dia hanya mengatakan 'jadi' maka 'jadilah'."

Rasa kesal itu lalu saya curahkan lewat tulisan, sebentuk buku berjudul ”Muhammad Al-Fatih 1453” menjadi curcol saya atas olok-olokan saudara-saudara saya yang meragukan khilafah. Saya mengambil sudut pandang sesuatu yang mustahil bagi manusia yang tak mungkin direalisasikan, yaitu penaklukan Konstantinopel, tapi sudah dijanjikan Allah SWT. Di sini ada kontradiksi, mimpi bagi manusia, tapi impian yang diprediksi Rasulullah dan dijamin oleh Allah. Ternyata, walau harus mengambil masa 825 tahun sejak diucapkan baginda Rasul, toh Konstantinopel tetap dibebaskan oleh Muhammad Al-Fatih.

Sama seperti peristiwa Isra-Mi'raj yang mengguncang jazirah, yang menggoyahkan keimanan sebagian dari Muslim pada saat itu. Sesuatu yang mustahil dalam akal dan mata manusia, tapi yang menceritakan adalah Rasulullah SAW, di situ kaum Muslim diuji, apakah ingin percaya pada fakta di depan mata, ataukah kata yang disampaikan Rasulullah SAW pada mereka.

Apa bedanya khilafah dengan peristiwa Isra-Mi'raj? Dengan penaklukan Konstantinopel? Mereka sama-sama janji Allah, sama-sama terucap dari lisan Rasulullah SAW. Tidak ada perbedaan sama sekali. Mimpi bagi manusia yang hanya menggunakan mata, adalah impian yang sudah dijanjikan oleh Allah dan Rasul bagi orang-orang yang yakin.

Hari ini, walau saya sudah terbiasa dengan olok-olokan dan cemoohan, saya tetap miris dan sedih hati. Sebagian mereka yang mengaku Muslim dan organisasi Islam, kini mulai menunjukkan keangkuhan, kekasaran, kepanikan, dan gerakan fisik untuk menghadang ide yang mereka dulu katakan hanya wacana, kemustahilan dan mimpi.

Sebegitu hebatnya hadangan untuk sebuah mimpi, sebegitu kerasnya permusuhan yang dikobarkan hanya untuk sebuah utopia, begitu banyaknya rintangan yang disediakan untuk sebuah kemustahilan. Di saat yang sama mereka bergandeng mesra, bertatap dalam cinta, dengan kaum kafir dan bermain dengan kekufuran.

Sabar, ini adalah ujian. Dan sebagaimana janji Allah dalam tiap-tiap perintah-Nya, siapapun yang teguh dalam tiap-tiap jalan ketaatan sudah pasti akan menemukan kemenangan. Sebab kita bukan kaum yang mengharap kepada manusia, akan tetapi kita adalah kaum yang sudah dijanjikan kemenangannya bahkan sebelum kita berjuang.

Dan adalah Allah yang memberikan impian ini bagi kita, langsung dalam Al-Qur’an surah An-Nuur ayat 55. Semoga Allah segera merealisasikannya, sebab bagi saya, apa yang kita hadapi saat ini menunjukkan, bagi mereka yang tak suka, mereka sudah mulai yakin, khilafah bukan lagi mimpi.

Felix Y. Siauw
Member @YukNgajiID

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 195
---

Jumat, 23 Juni 2017

Felix Siauw: Sampai Ke Akar-Akarnya



Dulu, saat saya masih belasan tahun, ibu saya senantiasa mengingatkan saat saya diminta untuk melakukan tugas rutin pekanan, membersihkan rumput taman dari gulma pengganggu. ”Lix, kalau nyabut gulma yang bersih, sampai ke akar-akarnya, kalau hanya atasnya percuma, nanti 2-3 hari tumbuh lagi."

Mencabut gulma pengganggu memang tidak semudah mencabut daunnya saja, sebab perlu tenaga lebih, teknik mencabut yang baik, dan tentu waktu yang lebih lama, tapi hasilnya tentu jauh lebih menghemat energi, ketimbang hanya mencabut bagian atasnya saja.

Hanya saja, tak semua mau sabar untuk mengerjakannya, bahkan lebih banyak lagi yang tidak awas, bahwasanya gulma sebenarnya itu adalah akarnya, bukan saja daunnya, sebab gulma pengganggu akan menyerap unsur hara yang harusnya diperuntukkan bagi tanaman utama, tumbuh besar dan akhirnya dengan daunnya dia menghalangi sinar matahari yang Seharusnya bagi tanaman utama.

Kekufuran itu persis seperti gulma pengganggu, keberadaannya menghisap dan menjadi benalu, merusak dan mematikan, karenanya harus disingkirkan dan dikendalikan, itulah namanya nahi munkar.

Hanya saja, tidak semua memahami akar kekufuran itu ada di mana, hingga bisa menghancurkan maksiat dari dasarnya, hingga runtuhlah bangunan-bangunan yang dibangun di atasnya, agar kita bisa membangun kebenaran dan kebaikan di sana, di atas puing-puing kekufuran yang sudah dihancurkan.

Sebagaimana gulma pengganggu tadi, yang tampak memang hanya daunnya tapi permasalahan sebenarnya ada pada akarnya. Sederhananya, ada sebab ada akibat. Pada gulma, daun yang terlihat hanya akibat masalah, dan akarnya adalah sebab masalahnya, sebabnya yang harus dicabut, maka tercabut pula akibat masalahnya.

Adanya problematika kaum Muslim terancam dipimpin oleh orang kafir, ini juga akibat, bukan sebab. apa yang menjadi sebabnya? Yaitu tidak diterapkannya hukum Islam, karena itu orang kafir boleh dicalonkan, boleh didukung, boleh memimpin dan menguasai.

Artinya, bila kali ini pun sang penista agama tidak jadi penguasa karena kalah dalam Pilkada, bukan berarti masalahnya selesai, karena belum dicabut sampai ke akarnya, sebabnya masih ada. Bila sang penista agama besok kalah, besok-besok bisa ada lagi kafir yang mencalonkan jadi gubernur, atau bahkan presiden, lalu sampai kapan kita akan selesai dari akibat masalah?

Tapi bila sistem kapitalisme sekuler ini dicampakkan, lalu umat menerapkan sistem Islam, maka barulah masalahnya selesai, karena dalam sistem Islam, orang kafir jangankan boleh dipilih, mencalonkan saja tidak bisa. End of problem.

Kita masih lebih suka fokus pada akibat masalah, seperti bagaimana caranya supaya semua Muslim memilih pasangan Muslim, atau bagaimana caranya agar tidak golput. Tapi kita lupa, bahwa semua ini terjadi karena sistemnya memperbolehkan, karena sistemnya bukan sistem Islam.

Hanya, memahamkan sebab masalah ini memang perlu waktu, perlu kesabaran dan energi ekstra. Memahamkan bahwa Allah mewajibkan 2 hal bagi kita, yaitu pemimpin Muslim dan sistem Islam sebagai satu paket, juga bukan pekerjaan mudah. Tapi karenanya kita akan diganjar dengan balasan terbaik, yaitu ridha dan ampunan Allah saat berjumpa kelak.

Tugas kita masih jauh dari selesai, yaitu mendekatkan umat pada solusi yang hakiki, penerapan aturan Allah dalam kehidupan secara total, yang pasti akan memberikan kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh umat. Sebab hari-hari ini, kebanyakan kita masih melihat lebih kepada akibatnya bukan pada sebabnya.

Apa yang bisa menjadi jembatan untuk memahamkan pada umat tentang sebab dan akibat dari masalah? Tidak lain dan tidak bukan, tentunya pemahaman tentang akidah yang benar. Karena Islam itu mencerahkahkan dan memberi pengertian, termasuk bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan benar, yaitu dengan mencabut sampai ke akar-akarnya. []

Felix Y. Siauw
Member @YukNgajiID
---

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 191

Senin, 19 Juni 2017

Felix Siauw: Dakwah Rasulullah


ilustrasi dakwah ideologi Islam

Pernahkah kita bertanya, mengapa seorang Muhammad yang sangat dicintai oleh kaumnya, tinggi nasabnya, indah perangainya, jujur lisannya dan semua mengenalnya sebagai al-amin (yang terpercaya), lantas bisa sangat dibenci oleh kaumnya sendiri setelah Beliau membawa Islam?

Apa yang sebenarnya Beliau dakwahkan sehingga perlakuan yang Beliau terima dari kaumnya sangat bertolak belakang dengan sebelum Beliau diutus menjadi Nabi dan Rasul?

Seandainya Rasulullah hanya mengajarkan berpakaian sorban dan jubah saja, apakah Beliau dibenci? Tentu tidak. Seandainya Rasulullah hanya membawa ajaran tentang janggut dan akhlak saja, apakah Beliau akan dibenci? Tentu tidak. Lalu apa yang membuat Beliau begitu dibenci?

Jawabannya sederhana, sebab Rasulullah membawa pemikiran Islam, yang pemikiran itu berbeda secara diameteral dengan apa yang diyakini oleh kaum kafir Quraisy pada saat itu. Pertarungannya adalah pertarungan pemikiran.

Pertarungannya antara pemikiran bathil yang diemban kafir Quraisy pada masa itu yang sudah melembaga dan lama, dengan Islam yang Rasulullah bawa, yang menghancurkan sendi-sendi yang paling prinsip yang selama ini dipraktekkan kaum Quraisy.

Rasul misalnya mengkritik sesembahan palsu yang saat itu diyakini, bahkan disembah di dalam Ka'bah. Tidak hanya itu, Rasulullah juga banyak memberikan koreksi terhadap struktur sosial, tentang strata masyarakat, tentang muamalah yang hanya berpihak pada yang kaya, tentang penguasa yang zalim, juga perbaikan posisi wanita.

Hal-hal inilah yang akhirnya membuat kafir Quraisy naik pitam lalu memutuskan melakukan tindakan fisik, seperti penganiayaan dan pemboikotan melengkapi propaganda yang tadinya mereka lakukan, sebab mereka merasa terancam.

Mereka terancam akan pengikut Nabi Muhammad yang semakin banyak, yang pada gilirannya akan mengubah tatanan masyarakat, yang bila itu terjadi, artinya mereka yang sudah nyaman dalam kemaksiatan dan menjadi raja dalam ketidakadilan, akan hilang pula posisinya.

Maka mereka melakukan apa saja agar Rasulullah dan para sahabatnya menghentikan dakwahnya. Sebab keberhasilan Islam sama saja kejatuhan mereka. Nilai-nilai yang selama itu ada dalam masyarakat yang menguntungkan baginya hendak diubah oleh Islam, tentu mereka tak suka.

Dan dari Al-Qur’an kita belajar, bahwa kisah Rasulullah melawan kezaliman yang melembaga itu bukan kisah yang pertam-tama, tapi kisah rutin yang terjadi pada Nabi dan Rasul yang Allah utus untuk umat manusia.

Begitulah para Nabi dan Rasul diutus untuk menghentikan kezaliman. Dan kezaliman terbesar itu adalah mengufuri Allah, enggan beriman kepada-Nya. Juga mengentikan ketidakadilan, lalu membawa manusia pada penghambaan total pada Allah dengan terikat pada syariah-Nya.

Kita lihat bagi Namrudz, ada Ibrahim yang Allah utus untuk menghentikan kezalimannya. Saat muncul Firaun, maka Allah utus Musa untuk menghentikan kesombongannya. Bagi Raja Romawi yang pongah, Allah utus Isa Almasih untuk meruntuhkan keangkuhannya.

Setiap kezaliman dan kesombongan pasti akan dihentikan, pertanyaanya jika sekarang Nabi sudah tidak lagi Allah utus, maka siapakah yang mengemban amanah dakwah ini?

Alhamdulillah, inilah beda kita dengan yang lainnya. Islam adalah satu-satunya agama yang masih Allah persilakan untuk memiliki mukjizat dari-Nya, yaitu Al-Qur’an. Maka kita adalah pewaris-pewaris Nabi, dan yang Rasul wariskan adalah dakwah di jalan Islam.

Berarti bila kita benar-benar mengikuti Rasulullah, bukankah seharusnya kita mengemban sesuatu yang menjadikan Quraisy itu murka? Pemikiran Islam yang menyeluruh? Dan bila ada yang tidak suka, bukankah memang inilah namanya perjuangan?

Yang sudah kita tahu pasti, kebenaran akan dimenangkan, dan setiap kezaliman akan ditumbangkan. []

Felix Y. Siauw: Member @YukNgajiID
---

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 186

Sabtu, 06 Mei 2017

Negara Republik Sistem Kerusakan



Sistem Republik tegak di atas dasar sekularisme, dengan ilusi pemerintahan rakyat, dan kedaulatan di dalamnya menjadi milik rakyat. Jadi rakyat lah yang menentukan dengan hukum apa mereka diperintah. Rakyat memiliki hak pemerintahan dan legislasi. Jadi rakyat memiliki hak mendatangkan hukum dan undang-undang apa saja yang diinginkan. Rakyat berhak mendatangkan penguasa siapapun sekaligus berhak mencopotnya. Rakyat berhak membuat konstitusi dan undang-undang meski konstitusi dan undang-undang itu kufur.

Di dalam sistem khilafah, seorang Khalifah bertanggung jawab atas urusan umat dan ia akan dikoreksi oleh umat. Akan tetapi umat tidak memiliki hak untuk mencopot khalifah. Yang memiliki hak mencopot khalifah adalah syara’. Yaitu jika khalifah menyalahi hukum syara’ yang mengharuskan ia dicopot. Pihak yang memutuskan pencopotan khalifah itu adalah Mahkamah Mazhalim. Mahkamah ini tidak ada di dalam sistem kapitalisme dan Republik

Sistem Republik, baik presidensiil maupun parlementer, masa jabatan pemimpin dibatasi selama jangka waktu tertentu. Selama masa jabatan itu, penguasa membuat banyak kerusakan dan tidak seorangpun bisa mencopotnya. Akan tetapi di dalam Islam dan di dalam sistem khilafah, masa jabatan khalifah tidak dibatasi dengan masa jabatan tertentu. Masa jabatan khalifah dibatasi dengan sejauh mana ia menerapkan syariah. Jika ia menyalahi syariah, meski baru sehari, seminggu, atau sebulan, ia bisa dicopot dengan keputusan dari Mahkamah Mazhalim. Setelah itu ia tidak boleh bertahan di kekuasaan meski sehari pun.
Dengan demikian tidak boleh dikatakan bahwa sistem Islam adalah sistem Republik. Juga tidak boleh dikatakan Republik Islam, karena adanya pertentangan besar di antara sistem Islam dengan sistem Republik pada asas, pilar-pilar, bentuk, dan rinciannya.

Sesungguhnya Hizbut Tahrir berjuang untuk membebaskan umat Islam dari ide-ide batil yang dipasarkan oleh kaum kafir penjajah di negeri-negeri Islam seperti ide kapitalisme, sistem republik dan sekulerisme yang bau busuknya menusuk hidup masyarakat dan yang menyebabkan, membangkitkan berbagai masalah atas penduduk negeri ini dan umat manusia pada umumnya. 
Hizbut Tahrir berjuang untuk menerapkan sistem Islam yang telah diturunkan oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia, yang memuaskan akal dan menenteramkan jiwa. Hal itu melalui penerapan ideologi Islam -yang mampu mengembalikan umat kepada kemuliaan seperti sediakala- yang diembannya dan ide-ide Islami yang terpancar darinya, yang berkaitan dengan seluruh urusan kehidupan seperti sistem pemerintahan, sistem ekonomi, tata pergaulan, politik dalam negeri dan luar negeri, kesehatan dan pendidikan.

Tentu saja manusia diciptakan oleh Allah SWT itu bukan sekadar kenyang seperti ayam tetapi untuk beribadah kepadanya. Sehingga dalam setiap perbuatannya harus selalu dalam koridor syariah alias halal dan haram sehingga mendapat pahala dari Allah SWT. Sebagai kaum Muslim yang anti penjajahan asing sudah seharusnya menolak sistem republik maupun sosialisme. Memperbaiki sistem kufur justru malah melanggengkan penjajahan!

sistem republik menjadikan rakyat sebagai Tuhan bagi dirinya sendiri. sistem republik sudah memiliki kecacatan sejak lahir: secara konsep dan implementasi sudah salah dari awal!
Pada hakikatnya sistem republik adalah pesta pemilik modal untuk mengangkat orang-orangnya dan diperuntukan bagi kepentingan para pemilik modal serta sudah pasti akan mengalahkan kepentingan rakyat. sistem republik tidak identik dengan keadilan, kesejahteraan, kesetaraan, serta berbagai stabilitas dari berbagai sisi yang dijanjikannya.

Fakta pemilu yang kesekian kali digelar hanya menjadikan nasib rakyat sebagai komoditas untuk suara, ataupun sebatas janji-janji perubahan yang hanya meggantung di bibir para elit. Pemilu juga menjadi pengokoh makin tegaknya sistem republik yang terbukti tidak mampu membawa kesejahteraan bahkan memperkokoh berlangsungnya kolonialisme/imperialisme di Indonesia.

pilar sistem republik, yaitu ide tentang kedaulatan "rakyat" yang menjadi inti sistem republik, adanya kebebasan dan pluralisme, dan suara mayoritas sebagai penentu keputusan secara diametral sangat bertolak belakang dengan aqidah Islam. Sistem republik digunakan untuk menjauhkan kaum Muslim dari sistem Islam yang bersumber dari Allah Swt. Sebab, sistem republik menyerahkan kedaulatan ke tangan manusia. Sementara dalam Islam kedaulatan ada di Tangan Allah Swt.
Untuk menyebarkan sistem republik itu, negara-negara kapitalis melakukan berbagai penipuan dan kebohongan, ide sistem republik pun dikemas sedemikian rupa sehingga tampak bagus dan memberikan harapan kepada kaum Muslim.
Aktivitas politik muslim seharusnya diarahkan pada pembentukan kader Islam ideologis, membangun kesadaran masyarakat, dan dukungan kelompok dan tokoh-tokoh terkemuka yang memiliki kekuatan di masyarakat untuk terwujudnya perubahan fundamental dengan tegaknya syariah dan khilafah.

Prinsip kebebasan yang merupakan hal mendasar dalam sistem republik akhirnya membuat pandangan terhadap Islam pun harus ditundukkan dalam perspektif kebebasan manusia; manusia bebas memberikan pandangan apapun terhadap apapun, bahkan agama sekalipun. Kedaulatan di tangan manusia memberikan ruang bagi akal untuk menetapkan penilaian dan aturan. Apa yang baik bagi manusia menurut pandangan manusia, harus didukung oleh agama. Cara pandang sistem republik telah jelas menolak kebenaran dan kemuliaan wahyu Allah Swt.
Dalam sistem republik pun menguat usulan untuk tidak mengatur urusan pornografi dan pornoaksi, melegalkan aborsi tanpa alasan apapun, melokalisasi prostitusi, membiarkan hubungan sejenis seperti homoseksual dan lesbian, dll.

Jika sistem republik tidak mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat, bagaimana dengan negara-negara maju yang telah menerapkan sistem republik? Apakah mereka berhasil menjadikan masyarakatnya makmur karena menerapkan sistem republik atau ada faktor lainnya?
Faktanya, beberapa negara mengandalkan kemajuannya itu dari ekploitasi (neoimperialisme) atas negara lain, baik dari sisi sumberdaya alam, finansial, SDM maupun tempat pembuangan limbah. Sebagian besar energi yang menjalankan roda industri di Eropa, Amerika Serikat, atau Jepang didatangkan dari Timur Tengah. Demikian juga bahan tambang, kayu, sebagian besar produk pertanian, bahkan pasir! Singapura mengeruk pasir dari Riau untuk reklamasi pantainya. Konon, jumlah pasir yang telah dikeruk itu cukup untuk menambal seluruh pantai utara pulau Jawa selebar 60 meter.
Pemberian utang adalah sebuah proses agar negara peminjam tetap miskin, tergantung dan terjerat utang yang makin bertumpuk-tumpuk dari waktu ke waktu. 
Pada akhir pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1966, utang luar negeri Indonesia 2,437 miliar dolar AS. Itu hanya utang pemerintah. Jumlah ini meningkat 27 kali lipat pada akhir pemerintahan Presiden Soeharto Mei 1998, dengan nilai 67,329 miliar dolar. Pada akhir tahun 2003 utang itu menjadi 77,930 miliar dolar AS. 
Swasta baru mulai mengutang pada tahun 1981. Pada tahun 1998 jumlah utang swasta sudah mencapai 83,557 miliar dolar. Menjelang akhir tahun 2008 sudah mencapai US$ 2.335,8 miliar dengan tingkat bunga sekitar 5%, jumlah riba bunganya saja yang harus dibayarkan berkisar 116,7 miliar dolar (asumsi 1$=Rp 12.000, riba bunga setara dengan Rp1400 triliun). 
Seandainya kita mengasumsikan tiap hari seorang penduduk Indonesia untuk makan tiap hari mengeluarkan biaya Rp15 ribu rupiah sekali makan dan 3 kali makan dalam sehari (Rp45,000), maka untuk bunganya saja dari utang kita dalam setahun sangat mencukupi untuk makan penduduk Indonesia sebanyak 71 juta jiwa selama setahun!
Ketika dihadapkan pada skala global ini, tampak bahwa negara-negara maju itu hanya peduli jika itu berkaitan dengan kepentingannya. Sebuah reportase dari Children-Right Watch (Komisi Pengawasan Hak Anak-anak), misalnya, melaporkan bahwa di Mexico dan Columbia, puluhan anak-anak diculik setiap harinya untuk diambil organ tubuhnya. Organ tubuh itu seperti hati, mata, bahkan jantung, diambil untuk memenuhi kebutuhan transplantasi organ bagi anak-anak di Amerika Serikat.
Sistem republik yang kelihatannya berhasil di negara maju, sejatinya menyimpan bom waktu (problem sosial, dll) yang akan meledak pada masa depan di negeri mereka sendiri. Pasalnya, mereka tampak makmur bukan karena menerapkan sistem republik, namun porsi besar faktor penunjang kemakmuran mereka adalah karena neo-imperialisme atas negara lainnya. 
Saat inipun dampak negatifnya sudah sangat banyak dirasakan di negara-negara berkembang.


Minggu, 30 April 2017

Negara Republik Penyimpangan Dari Islam



Sistem republik -lahir dari ideologi kapitalisme dan akidah sekularisme- sebenarnya tidak akan mewujudkan keadilan dan keamanan, membebaskan dari kezaliman. Yang terjadi adalah corporate state, artinya yang punya dana dan modal besarlah yang berkuasa mempengaruhi hukum Negara. Ini yang terjadi di negara kapitalisme manapun, di mana sebenarnya kapitalis yang mengatur negara dengan hukum-hukum yang merugikan orang banyak dan menyuburkan kerusakan.

Perbedaan antara sistem republik dengan konsep Islam adalah bahwa kedaulatan dalam sistem republik di tangan Rakyat, maka rakyatlah yang membuat hukum. Di sinilah muncul hawa nafsu yang antara satu dengan lainnya saling bertentangan. Sedang Kedaulatan dalam sistem Islam adalah di tangan syara’ (hukum Allah SWT), maka manusia hanya mempunyai kekuasaan untuk menerapkan, sementara hukum mengacu pada aturan al Kholiq.

sistem republik bermasalah bukan hanya dari praktiknya akan tetapi dari prinsipnya karena kelahiran sistem republik yang antroposentrik (berpusat pada manusia). Sistem republik lahir dari epistemologi sekuler yang sangat bertentangan dengan Islam, lahir di eropa sebagai wujud trauma terhadap kepemimpinan otoriter. Sehingga tidaklah heran jika semangat sistem republik adalah freedom, kebebasan. Sistem republik menempatkan kebebasan manusia adalah segala-galanya, tentunya prinsip kebebasan seperti ini sangat bertentangan dengan Islam.

sudah terlalu lama negeri ini bersistem republik dan menghabiskan biaya yang terlalu mahal. Jika ada yang mengatakan harus bersabar dalam menjalani proses "transisi" bersistem republik, maka penantian seperti itu terlalu naif,

sistem republik sama sekali tidak bisa menjamin bahwa masyarakat suatu negara yang menjalankannya akan bahagia, makmur, damai, dan adil. Pemerintahan manapun, yang dianggap paling demokratis, tak akan mampu memenuhi tujuan-tujuan ideal sistem republik. Dalam praktiknya sistem republik selalu mengecewakan dan jauh dari harapan. Seperti usaha-usaha sebelumnya untuk mencapai pemerintahan yang demokratis, negara-negara sistem republik modern juga terus menderita banyak kerusakan.

sistem republik merupakan alat penjajahan barat pada dunia Islam. Seiring dengan arus deras demokratisasi, muncullah konsep good governance yang hakikatnya liberalisasi struktur politik pemerintahan suatu negara. Peran negara dilumpuhkan karena digantikan pasar (kapitalis).

Sistem Islamlah satu-satunya sistem yang baik, karena telah dituntunkan Rasulullah SAW. Sistem Islam selama ini belum cukup tersosialisasikan di tengah umat. Sistem Islam memiliki konsep kepemimpinan amanah dengan pola tersendiri yang berbeda dengan sistem republik. Sistem Islam dibangun oleh landasan keimanan kepada Allah SWT, bahwa hak menetapkan hukum sebagai solusi ada di tangan Allah. Sebagaimana ayat Al Qur-an ”Sesungguhnya menetapkan hukum itu adalah hak Allah.” (TQS. Al An-Aam:57)

Sistem republik tidak akan meningkatkan kesejahteraan rakyat jika tidak banyak melakukan neo-penjajahan terhadap negara lain. Buktinya sejak terbukanya sistem republik pasca reformasi kemiskinan terus meningkat, pengangguran bertambah, HDI masih terpuruk di urutan 108, hutang negara membengkak, privatisasi merajalela. Inilah fakta betapa negara republik jajahan tidak meningkatkan kesejahteraan rakyat, Pemilu legislatif dan presiden tidak akan berpengaruh terhadap rakyat,

Supaya kaum Muslim menerima sistem republik di negeri-negeri mereka, kaum kafir sengaja memasarkannya dengan asumsi bahwa sistem republik adalah aktivitas musyawarah dan pemilihan orang yang lebih afdhal. Hal itu supaya menyesatkan kaum Muslim, sehingga mereka menduga bahwa sistem republik berasal dari Islam. Hakikat sistem republik bukan semata aktivitas pemilihan dan pengambilan pendapat. Akan tetapi, sistem republik adalah pemosisian manusia untuk menetapkan hukum, mengabaikan hak prerogatif Allah SWT.
Asas yang juga menjadi idealisme sistem republik adalah bahwa penetapan hukum menjadi milik mayoritas. Asas ini bertentangan dengan Islam dan menjadikan sistem republik sebagai sistem kufur.

Rezim penguasa Barat secara mudah menutup mata terhadap kesengsaraan yang dihadapi para wanita Afghanistan dengan dikenalkannya sistem republik liberal di negerinya. 8 tahun setelah invasi Barat terhadap Afghanistan, jutaan wanita Afghanistan hidup dalam kemiskinan, bertambahnya kekerasan, dan kehidupan yang menyengsarakan. Pelacuran pun berjamuran sebagai respon terhadap kemiskinan demi mencari sepotong roti untuk meneruskan hidup.
Wanita Afghanistan dan muslimah di seluruh dunia Islam sangat sadar akan bencana yang berasal dari diterapkannya sistem republik di negeri-negeri mereka. Mereka melihat bahwa sistem republik pun tidak menjamin keamanan, dan kebutuhan dasar. Mereka menyadari bahwa memasukkan retorika ‘persamaan jender’ dalam konstitusi negara, tampilnya wakil wanita di parlemen, ternyata tidak berujung kepada perubahan nasib keseharian para wanita. Mereka mengakui bahwa hanya pelaksanaan Islam secara komprehensif sajalah –bukan sebagian– yang akan menjamin hak-hak mereka sebagai wanita. Maka bisa dipahami kenapa jutaan muslimah di seluruh dunia sangat berharap akan kembalinya sistem Khilafah sebagai sistem alternatif terhadap status quo yang kini menghimpit kehidupan mereka sekarang. Sistem khilafah inilah yang akan meninggikan harkat dan martabat wanita di masyarakat, menghapus budaya penindasan wanita, dan menjamin kesejahteraan dan keselamatan dari ketakutan dan kekerasan.

Selama sistemnya bukan sistem Islam, maka sebaik apapun orang yang memimpin, dia tetap saja seorang penerap hukum-hukum, aturan-aturan, serta sistem bukan-Islam. Maka harapan untuk terlaksananya syariah Islam hanya isapan jempol. Ibarat mobil, kapal dan pesawat, masing-masing memiliki kriteria pengemudi yang berbeda karena sistem angkutan tersebut berbeda. Demikian pula halnya dengan sistem republik, orang yang dipilih adalah orang yang mau menjalankan sistem serta aturan-aturan tidak-Islam tersebut. Jadi jangan harap seorang presiden meski dianggap baik, dia mau dan bisa menerapkan Islam dalam bingkai Sistem republik.

Sistem pemerintahan Islam adalah sistem kesatuan bukan sistem serikat. Di samping itu, hukum Islam adalah sama di seluruh wilayah negara. Tidak ada hukum khusus untuk wilayah tertentu. Ini artinya bahwa sistem federasi (serikat) dengan sebutan apapun adalah haram secara pasti. Anggapan bahwa sistem Republik adalah bagian dari Islam merupakan penyesatan secara sengaja yang dilakukan oleh Barat, para penguasa antek mereka dan para "ulama" pembela penguasa zalim. Hal itu disertai kesadaran bahwa sistem Republik adalah hasil peradaban (akidah dan hukum) Barat yang kafir.
Mereka memenuhi negeri-negeri kaum Muslim dengan genangan darah dan air mata. Mereka pun merampas kekayaan bangsa-bangsa dengan menggunakan sebutan kerjasama dan investasi. Yaman pasca hancurnya Khilafah Utsmaniyah dan pasca revolusi bersenjata terhadap khalifah, menjadi diperintah dengan keburukan ini. Maka Yaman di bawah pemerintahan sistem bukan-Islam justru banyak mengalami kemunduran. Yaman dan penduduknya pun terjerembab ke posisi yang rendah. Sepanjang sejarah, Yaman tidak pernah terjatuh pada keterpurukan seperti yang terjadi di bawah sistem Republik.
Sistem republik telah melecehkan sistem Islam. Akhirnya segala kerusakan dan keburukan inipun masuk ke tengah-tengah kita. Karena itu, harus dilihat secara rinci antara sistem republik dengan sistem Islam supaya Anda bisa menyadari dengan jelas kekontrasan dan pertentangan antara sistem sekuler dan sistem pemerintahan Khilafah Islam.


Senin, 20 Februari 2017

Kerusakan Sistem Republik



Dalam Islam, penguasa dipilih oleh rakyat tidak lain adalah untuk menerapkan dan menjalankan hukum syara’, bukan hukum positif buatan manusia seperti dalam sistem republik.
Sistem republik bertentangan dengan Islam. Juga nyatalah bahwa sistem republik itu merupakan perampasan atas hak Allah, jalan sesat, menjadi biang kerusakan, dan pangkal ketidakberuntungan umat. Karena itu, sistem republik yang merupakan sistem dan hukum jahiliyah itu harus dicampakkan.

Di dalam sistem Islam tidak ada yang namanya kekuasaan legislatif, sebagaimana dalam sistem republik yang sedang diterapkan (secara formal) di sebagian besar dunia Islam. Tetapi sumber legislasi dalam sistem Islam adalah nash-nash al-Quran dan as-Sunnah, dan penggalian (istinbath)-nya dilakukan oleh para mujtahid.

Sistem Pendidikan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem yang melandasinya, potret buram sistem pendidikan saat ini adalah buah dari sistem demokrasi
hanya pendidikan dalam sistem Islam saja yang mampu mencetak intelektual yang memiliki derajat mulia dengan keimanan dan keilmuan. Sistem pendidikan yang dilandasi aqidah Islam akan mampu mencetak pribadi utuh yang menyatu dalam pribadinya sebagai ahli ilmu, ahli ibadah, mujtahid, pengemban dakwah sekaligus pemimpin umat. kualitas pendidikan yang luar biasa ini sangat murah bahkan gratis karena negara Islam bertanggung jawab penuh.

Kebebasan berpendapat (freedom of speech). Dalam sistem republik setiap individu berhak mengembangkan pendapat atau ide apapun dan bagaimanapun bentuknya tanpa tolok ukur halal-haram. Semuanya atas nama kebebasan berpendapat, riba, salah satunya bunga bank, yang jelas-jelas diharamkan Allah SWT, dilegalkan dalam sistem republik,
sistem republik itu dijalankan atas dasar doktrin sekularisme yang memisahkan agama dari pengaturan negara dan kekuasaan.

Pasca pemilu, kepentingan elit lebih diutamakan daripada kepentingan rakyat. Wakil rakyat tidak mewakili rakyat akan tetapi mewakili diri sendiri dan golongannya (partai) dan para kapitalis.
Dalam praktek sistem republik di manapun, kekuasaan tetap saja dipegang oleh kaum elit yaitu para kapitalis, elit partai, dan kelas politik. Hal itu sangat kentara. Penguasa dan politisi di negara sistem republik manapun selalu berasal dari dinasti kelas berkuasa secara politik dan ekonomi dan kelompoknya.

Prinsip kebebasan sistem republik. Kebebasan kepemilikan melahirkan sistem ekonomi kapitalisme liberalisme yang membolehkan individu menguasai dan memiliki apa saja termasuk harta milik umum. Kebebasan berpendapat melahirkan keliaran dalam berpendapat sehingga menistakan agama, mencela Rasul SAW, dan menyebarkan kecabulan dan berbagai kerusakan. Kebebasan beragama membuat agama tidak lagi menjadi prinsip, orang dengan mudah bisa menodai kesucian agama, mengaku nabi, dsb.

Sistem republik dijadikan alat penjajahan atas dunia terutama negeri kaum muslimin. Melalui pembuatan undang-undang, imperialis bisa memasukkan bahkan memaksakan UU yang menjamin ketundukan kepada imperialis, mengalirkan kekayaan kepada mereka dan memformat masyarakat menurut corak yang dikehendaki penjajah.

Sistem republik pun dijadikan jalan untuk memaksakan UU yang menjamin aliran kekayaan ke asing, dan penguasaan berbagai kekayaan dan sumber daya alam oleh para kapitalis asing. UU Sumber Daya Air, UU Penanaman Modal, UU Minerba, UU Migas, UU SJSN dan BPJS, dan sejumlah UU lainnya yang menguntungkan neoimperialis sudah diketahui secara luas pembuatannya disetir dan dipengaruhi oleh asing. Melalui mekanisme sistem republik pula penguasaan atas kekayaan alam oleh asing bisa dilegalkan dan dijamin.

Dalam sistem republik, UU dibuat oleh parlemen yang sangat dipengaruhi oleh kepentingan neoimperialisme. Jadilah UU yang dihasilkan dalam sistem republik lebih banyak berpihak kepada pihak yang kuat secara politik dan finansial. Melalui UU dan peraturan yang dibuat secara demokratis, kelas politik dan ekonomi yang berkuasa bisa terus melipatgandakan kekayaannya termasuk dari penguasaan atas kekayaan alam; melindungi kekayaannya dari pungutan pajak dan malah mendapat berbagai insentif.

Sistem republik pula yang menjadi biang korupsi dan kolusi. Hal itu karena perlu biaya besar untuk membiayai proses politik untuk menjadi penguasa dan anggota legislatif serta menggerakkan mesin partai. Maka tidak aneh jika lembaga anti korupsi kebanjiran kasus setiap menjelang pemilu. Menurut Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, laporan pengaduan masyarakat terkait dugaan korupsi menjelang Pemilu 2014 ke KPK meningkat. Dari sejumlah laporan yang masuk, umumnya dilakukan oleh para penyelenggara negara untuk biaya politik dari uang APBN maupun APBD. Laporan naik menjelang 2014. Trennya ternyata para pejabat itu mencari biaya pemilu dengan korupsi keuangan negara atau suap, misalnya di bagian perizinan. (news.viva.co.id, 22/4).

Sistem republik terbukti hanya menciptakan pemerintahan sableng. Artinya, dua tahun pertama untuk kembalikan modal. Satu tahun untuk mengabdi. Dan dua tahun sisanya untuk persiapan maju dalam pilkada berikutnya,

Salah satu sumber malapetaka bagi umat ini karena diterapkannya sistem kufur republik sepaket paham nasionalisme. Siapapun yang melaksanakan sistem kufur yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam ini, pasti akan berbuah pada bencana dan penderitaan.

Sistem republik yang diterapkan Indonesia saat ini dinilai telah gagal mengakomodir keinginan umat Islam, terutama akibat paham kebebasan yang seringkali melecehkan syariat Islam.
Kebebasan yang ditawarkan sistem republik lebih banyak mengacu pada pertentangan terhadap Islam.
Sistem republik seringkali menimbulkan perpecahan karena berbagai kepentingan. Selalu terjadi kegagalan dalam pelaksanaan sistem republik, sehingga pencapaian tujuan tidak sesuai dengan keinginan mayoritas ummat yang ada di negeri ini.

Sistem republik hanya mengatasnamakan Rakyat, tetapi sesungguhnya menyengsarakan dan mengkhianati Rakyat

Kita kembali tegaskan inilah potret negara sistem republik. Semua carut marut yang kita hadapi sekarang pangkalnya adalah sistem republik. Sistem republik, bukan hanya sistem kufur, namun juga telah melahirkan berbagai macam persoalan. Sistem republik, telah melahirkan sistem politik transaksional, yang menumbuhsuburkan korupsi dan kolusi.
Liberalisme (kebebasan) yang menjadi nilai penting dari sistem republik telah benar-benar merusak. Kebebasan bertingkah laku, memarakkan kemaksiatan dan kejahatan seksual. Kebebasan pemilikan telah melahirkan sistem ekonomi kapitalisme yang rakus. Ekonomi yang memiskin rakyat dan memberikan jalan pada negara-negara imperialis untuk merampok kekayaan alam kita. Perlu kembali kita garis bawahi, semua ini merupakan penyakit bawaan dari sistem republik. Bukan penyimpangan dari sistem republik.
Karena itu yang kita yang harus lakukan bukan meluruskan atau memperbaiki sistem republik yang cacat permanen. Karena sistem ini telah sakit sejak lahir, mengandung dan memproduksi virus berbahaya dari tubuhnya sendiri. Yang harus kita lakukan adalah mencampakkan sistem republik ke tong sampah peradaban.

Karena itu siapa yang butuh dengan sistem rusak? Siapapun yang berpikir sehat, apalagi didasarkan kepada aqidah Islam, akan menyimpulkan, kita tidak boleh setuju menyerahkan hukum dan pengaturan pemerintahan kepada selain sistem Islam! Yang kita butuhkan adalah sistem Khilafah yang akan menerapkan syariah Islam kaaffah. Dengan itu kita akan mendapatkan keridhoan Allah SWT, kemuliaan di dunia maupun di akhirat.


Rabu, 28 September 2016

Membongkar tipudaya petinggi dzalim


  

Petinggi yang zalim –berdampak atas orang banyak dengan kezalimannya– tak layak diikuti dan harus dipahamkan kepada umat penyimpangannya:


“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina; yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah; yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa; yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya; karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak.” (QS. Al-Qalam: 10-14)


“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,” (QS. Al-Qalam: 44)

Karena itu, merupakan keharusan untuk menjelaskan dan membongkar makar, tipudaya dan strategi mereka. Dengan begitu, umat selamat dari makar mereka dan tidak bisa dijadikan alat oleh mereka. Ini merupakan bagian dari perjuangan politik (kifâh as-siyasî) yang harus dilakukan.

Meski dakwah politik itu berat dan sungguh tidak mudah, di balik itu dakwah politik mempunyai keutamaan yang justru tidak sedikit. Mereka yang melaksanakannya insyaAllah akan mendapat pahala yang agung (tsawab[un] ‘azhim) karena dianggap melakukan jihad yang paling utama (afdhal al-jihad). Kalaupun sampai mati dalam menjalankan dakwah politik, itu bukan mati konyol atau mati sia-sia, melainkan mati syahid yang sangat mulia di sisi Allah Swt. InsyaAllah.

Al-Hafizh Abu Zakariya bin Syarf an-Nawawi dalam Riyaadh ash-Shaalihiin menyebutkan:
Hadits dari Abu Sa’id al-Khudri ra., Nabi -shallallaahu ‘alayhi wa sallam-, pernah bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَة عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah perkataan yang haq kepada penguasa yang zhalim.” (HR. Imam at-Tirmidzi dalam Bab. al-Fitan No.2175 dan Abu Dawud)

Hadits dari Abu Abdullah Thariq bin Syihab al-Bajali bahwa seorang pria bertanya kepada Nabi -shallallaahu ‘alayhi wa sallam-: “Jihad apa yang paling utama?” Nabi -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- menjawab:
كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Perkataan yang haq di hadapan penguasa yang zhalim.” (Imam an-Nasa’i meriwayatkannya dalam Bab Fadhl Man Takallama bil Haq ’Inda Imaam Jaa’ir; Imam al-Mundziri menyatakan dalam at-Targhiib bahwa sanad hadits ini shahih (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidz, al-Hafizh al-Mubarakfuri, juz. VI/ hlm. 396)

Menjelaskan hadits ini, Dr. Mushthafa al-Bugha menuturkan: “Sesungguhnya perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar di hadapan penguasa yang zhalim termasuk seutama-utamanya jihad, karena perbuatan tersebut menunjukkan sempurnanya keyakinan pelakunya, di mana ia menyampaikannya di hadapan penguasa yang zhalim nan otoriter dan ia tak takut terhadap kejahatan dan penindasannya, bahkan ia menjual dirinya untuk Allah (berkorban demi memperjuangkan agama Allah), … dan dalam perkara ini terdapat bahaya yang lebih besar ketimbang bahaya peperangan di medan perang.” (Nuzhat al-Muttaqiin Syarh Riyaadh ash-Shaalihiin, Dr. Mushthafa al-Bugha dkk., juz. I/ hlm. 216-217)

Dalam riwayat lainnya dari Imam at-Tirmidzi, dari Abu Sa’id al-Khudri:
إِنّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Sesungguhnya di antara seagung-agungnya jihad adalah menyampaikan kalimat yang adil di hadapan penguasa yang zhalim.” (HR. At-Tirmidzi)

Al-Hafizh Abu al-A’la al-Mubarakfuri (w. 1353 H) menjelaskan bahwa: “(كلمة عدل) yakni kalimat yang benar sebagaimana dalam riwayat lainnya dan maksudnya adalah kalimat yang mengandung faidah menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar baik berupa lafazh di lisan atau yang semakna dengannya seperti tulisan dan yang semisalnya.” (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi, al-Hafizh al-Mubarakfuri, juz.VI/ hlm.396)
 

Kamis, 08 September 2016

PENTINGNYA AKTIVITAS DAKWAH ISLAM



Dakwah adalah aktivitas mengajak dan menghimbau. Apabila kita menyeru seseorang kepada Islam berarti kita membuatnya pada apa yang kita dakwahkan. Dakwah Islam tidak hanya terbatas pada perkataan saja, tetapi mencakup apa saja yang dapat membuat orang cenderung atau tertarik terhadap perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu, dakwah bisa berupa lisanul hal (bahasa perbuatan) dan lisanul maqol (perkataan).

Seorang muslim adalah contoh hidup atas apa yang didakwahkan dengan lisannya, dan menjadi refleksi gambaran Islam yang sebenarnya. Allah SWT berfirman (artinya):
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengenakan amal yang shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshillat: 33).

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu...” (QS. Asy-Syuura: 15)

Ajakan kepada Allah adalah wajib, dan tergolong ibadah, karena dengan dakwah seorang da'i mendekatkan diri pada Rabbnya. Seorang da'i mengetahui bahwa kedudukannya amat tinggi dan Allah meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat.

Seruan kepada Allah merupakan tugas para nabi. Dan dengan berdakwah itulah mereka menegakkan agama Allah. Allah SWT berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An-Nahl: 36)

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi” (QS. Al-Ahzab: 45-46)

Rasulullah Saw. telah menyampaikan Islam, menasehati umat dan menjadi saksi bagi umat manusia terhadap apa yang disampaikannya kepada mereka di dunia. Sampai-sampai Rasulullah Saw. sendiri bersaksi dan memohon pada Allah untuk menjadi saksi bagi Rasulullah bahwasanya beliau telah menyampaikan dakwahnya kepada umat manusia. Cuplikan khutbah Rasulullah Saw. pada saat haji Wada' menunjukkan hal ini: “Bukankah telah aku sampaikan, Ya Allah, saksikanlah”

Jadi dakwah itu adalah warisan Rasulullah kepada ummatnya. Dengan dakwah kita bisa memelihara warisan tersebut sekaligus memelihara ajaran Islam agar tetap ada di tengah-tengah kita. Kita tidak pernah dapat membayangkan bagaimana pengaruh ajaran islam jika kita tidak menjalankan aktivitas dakwah. Sama bahwa kita tidak dapat membayangkan sejauh mana kesucian Islam dan jiwa para pengikutnya tanpa aktivitas dakwah yang mampu membersihkan debu-debu pemikiran yang menyimpang. Tak terbayangkan pula bagaimana caranya meninggikan syi'ar Islam tanpa aktivitas dakwah. Seperti halnya kita tidak dapat membayangkan tersebarnya kekuatan Islam tanpa ada dakwah. Kalau bukan karena dakwah kepada Islam, tidak akan mungkin agama ini kuat dan tidak akan mungkin tersebar luas dan terpelihara serta tidak akan tegak hujjah Allah atas makhluk-makhluk-Nya.

Dengan dakwah kepada Islam, ajaran Islam dapat kembali pada kemuliaannya dan wujudnya di muka bumi akan tetap ada hingga akhir zaman hingga seluruh umat manusia dapat merasakan kehadirannya. Maka jadilah agama itu seluruhnya untuk Allah SWT. Dan dengan dakwah kepada Islam menanglah hujjah orang-orang muslim dan patahlah hujjah orang-orang kafir. Allah SWT berfirman (artinya):
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Nisa:165)

Berdasarkan hal ini aktivitas dakwah merupakan perkara yang sangat penting bagi kaum muslimin. Generasi pertama kaum muslimin telah menjalankannya, termasuk orang pertama di antara mereka, yaitu Rasulullah Saw. memiliki kemauan keras terhadap dakwah dan agama. Kalau bukan karena dakwah bagaimana mungkin Islam sampai kepada kita dan bagamana mungkin ajaran Islam dianut oleh jutaan orang. Iman Rasulullah Saw. tidak akan menular kepada kita jika tidak ada dakwah.

Dakwah Rasulullah Saw. adalah mewujudkan Islam dalam setiap aspek kehidupan, dan membina kaum muslimin generasi pertama menjadi pengemban dakwah terbaik sesudah Rasulullah Saw. Dakwah mereka pada akhirnya mampu menjadikan Islam sampai kepada generasi kaum muslimin sesudah mereka dan begitu seterusnya berlanjut hingga hari ini. Oleh karena itu dakwah harus terus berlangsung hingga hari ini. Oleh karena itu dakwah harus berlangsung hingga hari kiamat.

Dakwah dalam kaitannya dengan Islam bagaikan alur sungai dengan air. Air dapat menghilangkan dahaga manusia dengan memberikannya minum, berfungsi untuk menyirami dan memberikan kebaikan bagi umat manusia. Namun demikian air memerlukan orang yang memindahkan. Maka demikian pula halnya dengan Islam. Gambaran yang baik bagi kehidupan ini yaitu ajaran Islam juga memerlukan orang yang memindahkannya, yang dapat memindahkan kebaikan ini agar manusia dapat terpuaskan dahaganya terhadap ilmu dan memberi petunjuk bagi orang yang mau mengikuti. Dari sini tampak hubungan erat antara Islam dan dakwah.

Dakwah termasuk tiang pancang utama dalam Islam dan tergolong perkara yang sangat penting dalam Islam. Usia dakwah sama tuanya dengan usia Islam, dan akan tetap menyertai ajaran Islam sejak lahirnya sampai hari kiamat.

Dengan demikian peranan dakwah Islam amat penting dalam kehidupan kaum muslimin, wajib diprioritaskan dan wajib dicurahkan waktu maupun tenaga.

Amar ma`ruf nahi munkar merupakan salah satu pengembanan dakwah

Dalam masalah ini Imam Nawawi -semoga Allah merahmati beliau- dalam kitabnya syarah Shahih Muslim dalam sub judul amar maruf nahi munkar berkata: “Ketahuilah bahwa amar ma'ruf nahi munkar telah menyebar luas sejak dahulu dan sekarang ini yang tersisa darinya hanya sedikit sekali”.

Pembahasan tentang amar ma'ruf nahi munkar termasuk pembahasan yang penting dan urgen karena merupakan tonggak dari segala urusan. Apabila kerusakan telah menyebar luas maka azab Allah akan menimpa orang-orang yang berbuat kerusakan dan juga menimpa orang-orang yang berbuat baik. Jika orang yang berbuat dzalim tidak dicegah maka Allah akan meratakan siksa bagi semuanya. Allah Swt. berfirman (artinya):
“...maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An-Nur: 63).

Kebutuhan terhadap amar ma'ruf nahi munkar sangat mendesak, karena dengan amar ma'ruf nahi munkar kehidupan akan aman dan tentram. Dan yang dapat melakukan itu semua hanyalah dakwah. Nabi Saw. telah menjelaskan sejauh mana kebutuhan umat ini terhadap amar ma'ruf nahi munkar dalam sebuah haditsnya dengan memberikan perumpamaan (artinya):
“Perumpamaan orang-orang yang mencegah perbuatan maksiat dengan orang-orang yang melanggarnya laksana kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bawah. Apabila orang-orang yang berada di bawah memerlukan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata: Andai saja kami lubangi (kapal) pada bagian kami! Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atasnya (padahal mereka sendiri tidak menghendakinya), maka binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan maka akan selamatlah semuanya. (HR. Bukhari).

Hadits ini menjelaskan bahwa amar ma`ruf nahi munkar sama nilainya dengan kehidupan masyarakat dan keselamatannya. Meremehkan pelaksanaan amar maruf nahi munkar akan menenggelamkan kapal itu beserta seluruh penumpangnya ke dasar laut. Al-Qur’an telah menyebut dakwah dengan lafadz amar ma'ruf nahi munkar seperti firman Allah SWT (artinya):
"kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah' (QS. Ali-lmran: 110)

Rasulullah SAW bersabda: "Demi Allah yang diriku ada dalam kekuasaan-Nya, hendaklah kalian mengerjakan amar ma'ruf nahi munkar, (sebab) jika hal itu tidak dilakukan maka Allah akan mengirimkan azab terhadap kalian, kemudian kalian berdoa (agar azab itu diangkat) tetapi (hal itu) tidak diperkenan-Nya" (HR. Tirmidzi)

Sabda Rasulullah SAW lainnya: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangan; jika tidak mampu rubahlah dengan lisan; jika tidak mampu rubahlah dengan hati, dan ini selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Penyampaian bagian dari dakwah

Al-Qur'an juga menyebut dakwah dengan menggunakan lafadz “asysyahaadatu 'ala an-nas” (kesaksian atas manusia). Allah SWT berfirman (artinya): “Dan demikian [pula] Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas [perbuatan] manusia dan agar Rasul [Muhammad] menjadi saksi atas [perbuatan] kamu” (QS. Al-Baqarah: 143).

Rasulullah Saw. bersabda: “Orang-orang mukmin itu adalah saksi-saksi Allah di muka bumi” (HR. Ibnu Majah).

Saling menasehati dalam kebenaran bagian dari dakwah

Selain Al-Qur'an menyebut dakwah dengan menggunakan istilah Tabligh seperti firman Allah SWT: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia”. (QS. Al-Maidah:67)

Sabda Rasulullah Saw.: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat" (HR. Bukhari).

Juga Al-Qur`an dan hadits menyebut dakwah dengan menggunakan lafadz saling menasehati dalam kebenaran.

Diutusnya Rasul itu untuk memberi kabar gembira dan peringatan serta menjelaskan kebenaran. Saling nasehat-menasehati untuk mengingatkan manusia kepada Allah. Allah SWT berfirman: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-'Ashr:1-3).

Rasulullah Saw. bersabda: “Ketahuilah bahwa agama itu nasihah. Ditanyakan (oleh salah seorang sahabat): ‘Untuk siapa wahai Rasulullah?’. Rasulullah menjawab: `Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul, bagi para pemimpin dan bagi kaum muslimin secara keseluruhan.” (muttafaq alaihi)

Dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya, dia berkata: “Rasulullah Saw. apabila menunjuk seorang amir (komandan) untuk peperangan atau misi-misi militer, maka Rasul (selalu) menasehati mereka secara khusus agar bertakwa kepada Allah dan berbuat baik kepada orang-orang muslim kemudian Rasulullah SAW bersabda Berperanglah atas nama Allah dan di jalan Allah Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah dan jika kalian bertemu musuh dari kalangan orang-orang musyrik ajaklah mereka kepada tiga perkara. Mana saja dari tiga perkara itu yang mereka setujui maka terima dan cukuplah (sudah). Ajaklah mereka kepada Islam, jika mereka menyambutnya maka terima dan cukuplah sudah…” (HR. Muslim).

Dari Rasulullah Saw. sesungguhnya beliau bersabda: “Semoga Allah menyinari dengan cahaya-Nya kepada seorang hamba yang mendengarkan perkataanku kemudian dihapalkannya, disimpannya lalu diamalkannya. Mungkin seseorang yang membawa fiqh [hukum] itu bukanlah orang yang faqih, dan mungkin juga orang membawa fiqh itu diberikannya kepada orang yang lebih faqih darinya" (HR. Tirmidzi).

Ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi Saw. ditaburi dengan kalimat-kalimat dakwah hingga ke sela-selanya. Sasaran dakwah mencakup umat manusia secara keseluruhan, dan dijalankan oleh seluruh kaum muslimin sesuai dengan kemampuannya masing-masing, baik itu individu, kelompok/jamaah, termasuk juga penguasa. Mereka seluruhnya diperintahkan untuk menjalankan aktivitas amar ma'ruf nahi munkar.

Kewajiban amar ma`ruf nahi munkar yang berkaitan dengan individu seperti firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. At-Taubah:71).

Imam Qurthubi dalam tafsirnya berkata: Allah Ta`alaa menjadikan amar ma'ruf nahi' munkar pembeda orang-orang mukmin dan orang-orang munafik. Allah menunjukkan bahwa sifat khas dari orang-orang mukmin (yang tidak dijumpai pada umat lain) adalah amar ma’ruf nahi munkar. Dan puncaknya adalah mengajak kepada Islam. (Tafsir Qurthubi, jilid IV:47)

Kewajiban amar ma’ruf nahi munkar yang berkaitan dengan jama`ah dan partai sekaligus menjelaskan jenis aktivitasnya, seperti firman Allah SWT: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Sedangkan yang berkaitan dengan penguasa seperti firman Allah SWT: “Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah dari perbuatan munkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al-Hajj:41)

Aktivitas amar ma'ruf nahi munkar termasuk fardhu kifayah. Seorang muslim yang berusaha menegakkannya akan memperoleh pahala dan ganjaran dari Allah SWT, sebaliknya tidak dimaafkan orang yang melalaikan amar ma'ruf nahi munkar sampai target aktivitas itu dapat diraih.

Apabila iman itu tergolong ma'ruf yang pertama dan menjadi pokok dari segala yang ma'ruf, maka lawannya adalah kufur, yang termasuk kemunkaran yang pertama dan pokok dari segala jenis kemunkaran. Apabila ketaatan itu tergolong perkara yang ma'ruf, maka lawannya adalah maksiat, yang termasuk dalam perkara maksiat. Jika berhukum dengan apa yang diturunkan Allah itu tergolong inti ketaatan -yang dengan itu terpeliharalah iman dan ketaatan yang lain- maka lawannya adalah berhukum kepada selain yang diturunkan oleh Allah. Dan hal itu termasuk inti dari kemaksiatan, yaitu mengikuti dan mentaati hawa nafsu.

Dengan demikian wajib atas seluruh kaum muslimin untuk bersatu dalam menegakkan kewajiban ini dan hendaknya seorang muslim yang mengutamakan perkara agamanya mengetahui bahwa ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacanya dan hadits-hadits Nabi yang dipelajarinya bukan hanya ditujukan kepadanya sendiri saja melainkan ditujukan untuk semua. Apabila Allah memerintahkan seorang muslim untuk beriman, itu berarti perintah bagi dia dan juga selainnya. Dan jika Allah memerintahkan untuk beribadah maka perintah itu tidak hanya untuknya, melainkan untuk semuanya. Begitu pula jika Allah memerintahkan berhukum pada apa yang diturunkan Allah, itu berarti perintah tadi bukan hanya untuknya saja melainkan untuk semuanya.
Oleh: Ahmad Mahmud
Sumber: Majalah al-Wa’ie edisi 1

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam