Kamis, 03 Januari 2008

IV.1. Tambang Batu Bara dan Lingkungan Hidup

BAB IV

BATU BARA DAN LINGKUNGAN HIDUP


Tambang batu bara terutama tambang terbuka memerlukan lahan yang luas. Hal tersebut tentu menimbulkan permasalahan lingkungan hidup eperti erosi tanah, polusi debu, suara, air, serta dampak terhadap keanekaragaman hayati setempat. Perencanaan dan pengelolaan lingkungan yang baik akan meminimalisir dampak yang terjadi.

  1. Gangguan lahan

Dalam praktek yang sesuai aturan, kajian tentang lingkungan hidup daerah disekitarnya dilakukan beberapa tahun sebelum suatu tambang batu bara dibuka untuk mengidentifikasi kepekaan dan masalah-masalah yang mungkin akan terjadi. Kajian tersebut mempelajari dampak pertambangan terhadap permukaan dan air tanah, tanah, dan tata guna lahan setempat, tumbuhan alam serta populasi fauna

  1. Amblesan Tambang

Kondisi ini terjadi dimana permukaan tanah ambles sebagai akibat dari ditambangnya batu bara yang ada di dalamnya.

  1. Pencemaran Air

Acid mine drainage atau drainase tambang asam (AMD) adalah air yang terbentuk dari reaksi kimia antara air dan batuan yang mengandung mineral belerang. Biasanya yang dihasilkan mengandung asam dan sering berasal dari daerah dimana bijih atau kegiatan tambang batu bara telah membuka batuan yang mengandung pirit.

AMD terbentuk pada saat pirit bereaksi terhada udara dan air untuk membentuk asam belerang dan besi terlarutkan. Limpasan asam tersebut melarutkan logam-logam berat seperti tembaga, timbal dan merkuri ke dalam air tanah dan air permukaan.

AMD merupakan permasalahan yang muncul pada tambang batu bara permukaan.

  1. Polusi Debu dan Suara

Selama melangsungkan kegiatan eksploitasi, dampak polusi udara dan suara terhadap para pekerja dan masyarakat setempat dapat ditekan melalui teknik perencanaan tambang modern dan peralatan khusus. Selama kegiatan penambangan, debu dapat ditimbulkan oleh truk-truk yang berjalan di atas jalan yang tidak beraspal, pemecahan batu bara, dan pengeboran.

  1. Penggunaan Gas Metana dari Tambang Batu Bara

Metana (CH4) adalah gas yang terbentuk dari proses pembentukan batu bara. Gas tersebut keluar dari lapisan batu bara dan di sekitar strata yang terganggu selama kegiatan penambangan. Gas metana adalah gas rumah kaca yang potensial, diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 18% dari seluruh pengaruh pemanasan global yang timbul dari kegiatan manusia (CO2 diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 50%). Batu bara bukan satu-satunya sumber daya yang mengeluarkan gas metana – produksi beras di sawah basah dan kegiatan lainnya merupakan emiten utama – metana dari lapisan batu bara dapat digunakan daripada dilepaskan ke atmosfir dengan manfaat lingkungan hidup yang penting.

Coal mine methane (CMM – metana tambang batubara) adalah metana yang disemburkan oleh lapisan batu bara selama penambangan batu bara. Coalbed methane (CBM – Metana Lapisan Batu Bara) adalah gas metana yang terperangkap pada lapisan batu bara yang tidak atau tidak akan ditambang. Gas metana sangat mudah meledak dan harus dikeringkan selama kegiatan penambangan untuk menjaga keamanan kondisi kerja. Pada tambang bawah tanah yang aktif, sistem ventilasi berskala besar memindahkan udara dalam kuantitas yang besar melalui tambang untuk menajaga tambang agar tetap aman namun juga mengemisi gas metana dalam konsentrasi yang sangat kecil ke atmosfir. Beberapa tambang aktif dan tua menghasilkan gas metana melalui sistem degasifikasi, juga dikenal sebagai sistem drainase gas yang menggunakan sumur-sumur untuk mendapatkan gas metana.

Selain meningkatkan keselamatan pada tambang batu bara, penggunaan CMM meningkatklan kinerja lingkungan hidup dari suatu kegiatan penambangan batu bara dan dapat memiliki manfaat komersial. Gas metana tambang batu bara memiliki berbagai kegunaan, termasuk produksi listrik di tapak dan di luar tapak, penggunaan dalam proses industri dan sebagai bahan bakar untuk menghidupkan ketel.


Metana lapisan batu bara dapat diambil dengan melakukan pengeboran ke dalam dan memecahkan secara mekanis lapisan batu bara yang belum diolah. Sementara CBM digunakan, batu baranya sendiri belum ditambang.

Figure IV.1.

Sumber emisi metana


Tabel IV.1.1

Kandungan per Unit dari Produksi Batubara, dengan teknik pertambangan

(per 1.000 ton produksi batubara)

  1. Rehabilitasi

Tambang batu bara hanya menggunakan lahan untuk sementara waktu, sehingga sangat penting untuk melakukan rehabilitasi lahan segera setelah kegiatan praktek penambangan dihentikan. Dalam proses yang terbaik, rencana rehabilitasi atau reklamasi dirancang dan disetujui untuk setiap penambangan batu bara, sejak awal hingga akhir kegiatan penambangan. Rehabilitasi lahan merupakan satu kesatuan dari kegiatan pertambangan dan biaya rehabilitasi lahan dibebankan pada biaya operasi penambang.


Lahan yang telah direklamasi dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti pertanian, kehutanan, habitat margasatwa, dan rekreasi.


1 World Bank Group, July 1998

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda