Sabtu, 23 Juli 2016

Meremehkan ajaran Islam


 

…. Contoh lainnya adalah, bahwa wanita menurut pandangan orang-orang yang meremehkan ajaran Islam boleh menjabat sebagai imam (kepala negara), walaupun Rasulullah Saw. telah bersabda:
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (pemerintahan) mereka kepada wanita.” (HR.Bukhari, Ahmad, Nasa’i dan Tirmidzi)

Alasannya mereka, bahwa hadist tersebut diucapkan dalam kesempatan tertentu, sehingga tidak boleh dijadikan umum. Hal itu –menurut mereka- dilakukan untuk memberikan kepada Barat suatu gambaran bahwa Islam menghormati kaum wanita, sesuai dengan pemahaman kafiir Barat.
Contoh lain lagi adalah, mereka membolehkan transaksi dengan cara riba. Alasan bathilnya, bahwa riba itu merupakan transaksi internasional yang amat mendesak, yang tidak bisa ditinggalkan.

Kelemahan mental yang mereka tonjolkan itu hakikatnya merupakan kelemahan mereka, bukan kelemahan Islam. Sikap dzalim yang ada dibalik tafrîth sama dengan sikap yang ada di balik ifrâth, yaitu kebodohan terhadap agama dan kebodohan atas manusia. Dua jenis manusia ini sama-sama merusak agama. Keduanya dikuasai oleh hawa nafsu. Ingin mencari keridhaan nafsunya yang menggebu-gebu, dan mencari-cari keridhaan manusia, yang jauh dari ridha Allah.

Konsisten dengan perintah Allah, kita tidak boleh zalim, meremehkan sebagian kewajiban Islam, dan menyimpang. Firman Allah Swt.:
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu.” (TQS. al-Baqarah [2]: 143)

Allah telah menetapkan umat ini sebagai saksi yang adil bagi umat manusia, sebagaimana pada masa Rasulullah Saw. Dengan fungsinya itu berarti umat ini menjadi umat terbaik dan paling mulia. Kedudukan umat ini di hadapan manusia bagaikan puncak gunung yang menempati posisi yang paling tinggi.

Akidah tidak mungkin tegak di atas kompromi. Kompromi (dalam perkara ini) merupakan kesesatan yang sebenarnya. Sebab, perkaranya adalah antara cahaya dan kegelapan, antara petunjuk dan kesesatan. Telah dipahami dan ditetapkan sebelumnya bahwa tidak ada musyarri’ selain Allah, dan sesungguhnya tidak ada ganti (alternatif lain) bagi hukum-hukum Allah. Dan Allah sebaik-baik yang menghukumi.

Di balik pemikiran yang dilontarkan Barat tiada lain bermaksud ingin memusnahkan apapun yang menjadi bahaya bagi eksistensi dan imperialismenya.

“Maka karena itu, serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka.” (TQS. asy-Syura [42]: 15)
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api Neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberikan pertolongan.” (TQS. Huud [11]: 112-113)

Sesungguhnya, jiwa kita mengemban kebaikan agama ini, dan sangat menginginkan sekali untuk menjadikan ideologi Islam ini berkuasa. Dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya akan dibuka akal dan hati, untuk menolong agama ini. Sesungguhnya kebaikan yang kita inginkan untuk diri kita, kami sukai pula bagi selain kita, dan kami memohon kepada Allah agar menempatkan nasihat kami ini seperti hujan yang akan menghidupkan jiwa-jiwa. Dan hanya kepada Allah-lah segala tujuan.
Bacaan:
Sheikh Ahmad Mahmoud, The Da’wah To Islam, www.khilafah.com
Diolah oleh:
Annas I. Wibowo
4 Juni 2016


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda