Jumat, 01 Juli 2011

Kolonialisme Amerika - Kekuatan Geostrategi Masa Sekarang

Kolonialisme Amerika - Kekuatan Geostrategi Masa Sekarang




Kolonialisme Amerika: Geostrategi Hari Sekarang




Beralih dari sejarah masa lampau ke realitas hari ini, Inggris tidak lagi mengendalikan dunia. Sekarang adalah tata dunia baru yang dikendalikan dan diperintah oleh Amerika Serikat. Bagi Amerika Serikat untuk mendominasi dunia mereka telah secara historis menghadapi 2 musuh; Inggris dan Rusia. Amerika Serikat meskipun punya hubungan akur yang terlihat dengan tuan kolonialnya; namun punya sejarah panjang permusuhan dengan Russia yang tadinya dikenal sebagai USSR selama periode perang dingin hingga hari ini.

Setelah memperoleh kemerdekaan Amerika Serikat harus bertarung dan berjuang dengan masalah internalnya seperti perang sipil, kegalauan dan koalisi politik selama 1789-1848, perang dengan Inggris selama 1812, rasisme dan rekonstruksi selama periode 1865-1890, dan selanjutnya berlipat-lipat masalah lainnya. Selama masa ini Amerika Serikat punya pandangan ke dalam dan berusaha mengatur suatu bangsa yang terdiri dari banyak negara bagian dengan mengambil kebijakan netral terhadap uusan-urusan dunia khususnya perkara-perkara militer. Namun selama periode 1890-1918 dengan perubahan masif dalam kebijakan industri Amerika Serikat memulai kenaikannya dalam kekuatan internasional. Dalam periode ini dengan populasi substansial dan pertumbuhan industri secara domestik dan seabrek proyek militer ke luar negeri termasuk Perang Spanyol-Amerika, yang mulai ketika Amerika Serikat menyalahkan tenggelamnya USS Maine di Spanyol. Juga diperjuangkan adalah kepentingan-kepentingan AS dalam memperoleh Cuba, suatu bangsa pulau yang sedang bertarung untuk kemerdekaan dari penjajahan Spanyol. Selama Perang Dunia I Presiden Woodrow Wilson mendeklarasi masuknya A.S. ke dalam perang di April 1917 yang membantu kemenangan pasukan Sekutu setelah kebijakan netralitas setahun penuh.

Namun krisis pasar saham di 1929 punya berbagai konsekuensi parah atas pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan memaksa AS untuk menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam sejarah umat manusia yang disebut ‘great depression – depresi besar’ 1930. Perekonomiannya mulai merosot dan stagnasi menjadi fenomena regular. Tapi Perang Dunia II menyediakan Amerika Serikat suatu arena sempurna untuk meluncurkan pemulihan ekonomi masif yang dipimpin oleh kompleks industri militer. Meskipun Amerika Serikat di awalnya tidak berpartisipasi dalam perang ia biasa menjual persenjataan ke Pasukan Sekutu di Eropa dan Cina. Ini secara masif meningkatkan produktivitas perekonomian AS. Ia menjadi benteng sempurna untuk memproduksi senjata untuk perang sementara seluruh dunia khususnya Eropa sedang hanyut dalam Perang Dunia II.



Segera setelah kemenangan pasukan sekutu dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat menjadi pemain global paling dominan dalam berbagai lini termasuk perekonomian, teknologi, militer dan aspek-aspek lain. Amerika Serikat sejak itu mengambil posisi superpower di dunia dengan baik Russia maupun Inggris berkompetisi untuk posisi yang sama. Melihat pada sejarah Amerika Serikat sebagai adidaya paling penting selama 1945-1990 ke satu-satunya adidaya dari 1991 hingga sekarang, fakta-fakta berikut ini bisa disimpulkan:

§  Amerika Serikat membutuhkan minyak dari Timur Tengah untuk mendukung ekonominya yang semakin berkembang dan kebutuhan-kebutuhan militer. Krisis minyak 1973 menunjukkan seberapa rentan Amerika Serikat dan berbagai ekonomi Barat sebenarnya jika terjadi gangguan dalam suplai minyak. Oleh karena itu, Amerika Serikat telah membangun basis di Teluk Persia dan beberapa negara di Timur Tengah termasuk Arab Saudi dan Kuwait selama 1990-an dan di Irak di periode akhir ini. Bagi Amerika Serikat sumberdaya-sumberdaya dari Timur Tengah dikirim melalui kanal Suez melalui Mediterania. Oleh karenanya untuk suplai minyak stabil, Amerika Serikat telah bertarung melawan kehadiran Inggris dan Rusia di kawasan itu selama puluhan tahun dari Perang Dunia II dan akhirnya menang di 1990-an selama perang teluk pertama setelah jatuhnya komunisme di 1990. Tujuan-tujuan Amerika Serikat di kawasan itu di era pasca perang diringkas dengan tepat oleh Jimmy Carter dalam pidatonya State of the Union di 1980 dalam apa yang telah dikenal sebagai doktrin Carter: “Biarkan posisi kita menjadi benar-benar sempurna, ‘Suatu usaha oleh kekuatan luar manapun untuk mendapatkan kendali atas kawasan Teluk Persia akan dinilai sebagai suatu serangan atas kepentingan-kepentingan vital Amerika Serikat’ dan ‘dihilangkan dengan cara apapun yang diperlukan, termasuk kekuatan militer”. Amerika Serikat yang hanya punya 2% cadangan-minyak-terbukti dunia akan tetapi mengkonsumsi lebih dari 27% minyak dunia, mengimpor maksimum dari jumlah itu. Faktanya Amerika Serikat menyumber 23% minyak impor dari Timur Tengah. Hari ini Amerika Serikat menghadapi lebih banyak kompetisi dari China dan Rusia atas akses ke minyak Timur Tengah. Dia sekarang semakin berkompetisi dengan India, Jepang, juga Uni Eropa untuk porsi singa kawasan-kawasan emas hitam. Area Mediterania ini dan Teluk Persia oleh karenanya mewakili salah satu tempat Strategis paling penting bagi Amerika Serikat, yang sekarang berbalik menjadi kawasan multi-polar dari kawasan unipolar.

§  Amerika bertarung puluhan tahun perang melawan USSR dalam rangka mengatasi ancaman-ancaman berkembang dari USSR di blok timur Eropa juga kawasan Laut Hitam. Laut Hitam adalah sumber sumberdaya alam penting di mana USSR memiliki dominasi tak tersaingi selama periode perang dingin. Namun, dengan jatuhnya USSR, Amerika Serikat telah secara aktif berusaha mengambil kendali atas kawasan itu yang dikenal sebagai halaman belakang Rusia dengan bekerja menekan batas-batas Eropa ke arah timur dengan cepat, menghancurkan kemampuan Rusia untuk mempengaruhi kawasan itu. Para sekutu pro-Barat berlanjut bergerak ke timur selama 2 dekade terakhir, melalui ekspansi NATO dan Uni Eropa, hingga mereka menekan keras melawan batas-batas Russia. Dengan runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat bekerja untuk menghapus arsitektur yang didirikan oleh USSR, ia bekerja untuk membatasi Rusia dengan membawa semua bekas republik Soviet 14 di bawah cakupan pengaruhnya. Selain itu selama 2 dekade terakhir dia berusaha menghubungkan secara ekonomi para bekas republik Soviet itu dengan Barat melalui IMF dan Bank Dunia. Namun, sejak Vladimir Putin menjadi Presiden, Rusia berkembang dengan pesat tanpa mengikuti contoh demokrasi liberal Barat. Oleh karena itu Russia telah memilih untuk secara praktek menantang setiap gerak Amerika Serikat, apakah dengan menanam bendera di dasar laut di bawah pucuk es Arctic, mengetes persenjataan masif bom ledak udara atau memperkarakan adanya sistem pertahanan peringatan-dini Amerika Serikat di Eropa Timur. Rusia telah mulai menemukan kembali dirinya sendiri sebagai suatu kekuatan regional, setelah memenangkan kembali Kazakhstan dan Uzbekistan dari cengkeraman Amerika dan berusaha untuk membalik revolusi warna – color revolutions. Amerika Serikat setelah hampir 20 tahun tidak memiliki lawan sekarang menghadapi prospek suram tantangan dari suatu bangsa dengan cadangan gas alam terbesar dan cadangan minyak substansial. Oleh karenanya negara-negara yang dikenal sebagai CIS di kawasan Laut Kaspia telah menjadi tempat penting lain bagi Amerika Serikat untuk memelihara tujuan strategisnya untuk membendung pengaruh Rusia yang berkembang di kawasan itu dan menyediakan kemanan bagi teman-teman ideologisnya di Eropa. Selain dari perseteruan historis, baik Amerika Serikat maupun Rusia mempunyai kepentingan umum baru di kawasan itu. Ini karena, selama 2 dekade terakhir, pengaruh Islam yang berkembang dan seruan kepada Negara Khilafah Islam oleh partai politik tanpa-kekerasan, popular, dan sangat aktif Hizb-ut-Tahrir telah mengubah aspirasi Kaum Muslimin di kawasan itu. Memanglah partai itu sangatlah popular hingga rezim diktatorial brutal Uzbekistan yang gagal menyediakan layanan dasar dengan mengikuti kebijakan IMF dan Bank Dunia telah membantai lebih dari 6.000 orang di Propinsi Andijan menggunakan 12.500 personel angkatan bersenjata dengan tembakan terbuka di 2005 terhadap para demonstran damai. Setelah kejadian itu pemerintah melarang semua media lokal dan internasional, menutup kantor-kantor asing termasuk kedutaan-kedutaan besar. Faktanya hingga 2010, lebih dari 10.000 para pendukung dan pemimpin Hizbut-Tahrir ada di dalam penjara secara paksa di Uzbekistan termasuk para wanita usia 73 tahun dan anak laki-laki 13 tahun dengan hukuman mereka berkisar dari 7-20 tahun. Oleh karena itu, salah satu pengamat Independent dari Inggris berhubungan ke Kedutaan Inggris di Uzbekistan mengatakan, ‘Barat hanya punya satu pilihan dalam diktator dan brutal Islam Karimov, jika tidak adalah Hizb ut Tahrir dengan Negara Khilafah Islam di kawasan itu.’ Hal yang sama juga berlaku untuk negara-negara CIS lainnya.
Para pembuat kebijakan AS menyatakan strategi mereka untuk China awalnya di dalam Defence Planning Guidance (DPG) – Petunjuk Perencanaan Pertahanan untuk tahun fiskal 1994-1999, pernyataan formal pertama tujuan-tujuan strategi AS di era pasca-Soviet menyatakan dengan jelas "kita [harus] berupaya untuk mencegah kekuatan tak bersahabat manapun dari mendominasi suatu kawasan yang berbagai sumberdayanya akan, di bawah kendali terkonsolidasi, membuatnya berkecukupan untuk menghasilkan kekuatan global.
14 Para bekas republik Soviet itu di Asia Tengah seperti Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan, Turkistan, Chechnya, Kyrgyzstan, bagian-bagian Mongolia dan di kawasan Eropa Timur seperti Romania, Bulgaria, Macedonia, Eretria, Ukraine, Georgia, Albania dll faktanya merupakan bagian Khilafah Utsmani ketika Islam memasuki kawasan ini. 

§  Akhirnya, di kawasan Asia Amerika Serikat punya kepentingan baru dalam membendung China, satu-satunya perekonomian di dunia yang akan mengambil alih Amerika Serikat dalam puluhan tahun yang akan datang. Selain itu naiknya India di level regional dan pasar penuh populasinya, dan ancaman keamanan dari seruan yang berkembang bagi Negara Islam di Pakistan, Bangladesh dan Indonesia telah membuat Asia Selatan sebagai fokus kebijakan luar negeri Barat terpenting selanjutnya menurut Sekretaris Negara Hillary Clinton. Memanglah Cina dengan pertumbuhan ekonomi pesatnya telah mulai mengambil kendali di kawasan ASEAN dan mendorong terus terhadap subbenua itu khususnya melalui Myanmar, Pakistan, dan Bangladesh. Amerika Serikat mengembangkan suatu kebijakan untuk mengekang Cina di dalam garis batasnya memastikan tidak ada yang berbagi kawasan dengannya daripada suatu kompetisi total dengan China awalnya ada di dalam Defence Planning Guidance (DPG) – Petunjuk Perencanaan Pertahanan untuk tahun fiskal 1994-1999. Ini adalah pernyataan formal pertama tujuan-tujuan strategis di era pasca-Soviet menyatakan dengan jelas “kita [harus] berusaha untuk mencegah kekuatan berbahaya manapun dari mendominasi suatu kawasan yang sumberdayanya akan, di bawah kekuatan konsolidasian, cukup untuk menghasilkan kekuatan global.” Oleh karenanya kebijakan mengekang China diucapkan oleh Condoleezza Rice selama melayani sebagai penasihat kebijakan-luar-negeri untuk George W Bush, mantan gubernur negara bagian Texas selama kampanye presidensial 2000. Dalam artikel Foreign Affairs dia menyatakan “Cina adalah satu kekuatan besar dengan kepentingan-kepentingan vital tak jelas, khususnya mengenai Taiwan. Cina juga tidak suka peran Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik.” Untuk alasan-alasan itu, dia mengatakan, “China bukanlah suatu kekuatan ‘status quo’ tapi kekuatan yang ingin mengubah keseimbangan kekuatan Asia untuk kepentingannya sendiri. Itu saja membuatnya suatu kompetitor strategis, bukan ‘partner strategis’ yang oleh pemerintahan Clinton pernah disebut begitu. Amerika Serikat harus memperdalam kooperasinya dengan Jepang dan Korea Selatan dan memelihara komitmennya terhadap kehadiran militer yang kuat di kawasan itu”. Washington juga harus “memperhatikan seksama pada peran India dalam keseimbangan regional, dan membawa negara itu ke dalam sistem aliansi anti-China.” Oleh karena itu India menghadirkan suatu kesempatan unik untuk mengekang Cina juga menghadapi popularitas seruan kepada Negara Islam yang berkembang. Presiden Amerika Serikat Obama di 4 Juni 2010 telah mengatakan bahwa, “suatu pilar kritikal dari strategi keamanan nasional melibatkan memperdalam kerjasama dengan pusat-pusat pengaruh abad-21 – dan itu termasuk India.” Selain itu dia mengatakan “India adalah vital untuk masa depan yang kita cari.”
Setelah menduduki kantor kembali di 2008, sekretaris AS Hillary Clinton menunjuk bahwa “Asia Selatan adalah perhatian besar selanjutnya dalam hal tujuan-tujuan kebijakan luar negeri kita.”
Mengenai ancaman yang berkembang oleh Islam politik di Laut India yang dikelilingi oleh Pakistan, Bangladesh, India dan Indonesia yang merupakan rumah bagi lebih dari 60% populasi Muslim, akhir-akhir ini telah menyebabkan ketakutan baru pada para pembuat kebijakan Amerika Serikat untuk berurusan di kawasan itu. Pada April 2009 Sekretaris Negara Amerika Serikat Hillary Clinton mengatakan: “Pakistan mengandung ancaman kematian bagi keamanan dan perlindungan negara kita dan dunia …. kita tidak bisa meremehkan keseriusan ancaman eksistensial yang ditampilkan pada negara Pakistan sekarang dalam hitungan jam Islamabad yang dibuat oleh kelompok terorganisir lepas para teroris dan lainnya yang mencari penggulingan negara Pakistan, suatu negara bersenjata-nuklir.”

Di Washington Post Maret 2009, David Kilcullen, yang menasihati CENTCOM komandan Jenderal, David H Patreus tentang perang Amerika mengatakan, “Pakistan memiliki 173 juta orang, 100 senjata nuklir, suatu angkatan bersenjata yang lebih besar daripada angkatan bersenjata AS … Kita sekarang mencapai titik di mana dalam 1 hingga 6 bulan kita bisa melihat runtuhnya negara Pakistan … suatu pengambilalihan ekstrimis – yang akan mengkerdilkan semua yang kita lihat dalam perang terhadap teror hari ini.” Untuk berurusan dengan ancaman keamanan ini dari dasarnya maka Obama berkomentar bahwa, “Amerika Serikat menghargai kerjasama kita tidak karena di mana India berada di peta, tapi karena apa yang kita bagi dan ke mana kita bisa pergi bersama.”

Oleh karena itu, dari studi mendalam atas 2 adidaya kolonial paling penting dunia, beberapa tempat dunia bisa dipilih sebagai pusat pengaruh vital untuk muncul sebagai superpower global. Kendali atas pusat-pusat pengaruh vital itu sungguh penting dalam permainan besar peradaban. Melihat pada kepentingan eko-politik dan strategik tempat-tempat berikut ini memegang kunci untuk mengendalikan dunia:
1.       Kawasan Mediterania, Timur Tengah, dan Teluk Persia.
2.       Benua penuh sumberdaya Afrika
3.       Asia Selatan dan Tenggara yang dihubungkan oleh selat Malaka.
4.       Area Kaspia - Caspian dan kawasan Laut Hitam.
 
 Kolonialisme Amerika - Kekuatan Geostrategi Masa Sekarang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda