Selasa, 14 Februari 2012

Mata Uang Emas Dan Perak Mengatasi Ketidakstabilan Harga

Mata Uang Emas Dan Perak Mengatasi Ketidakstabilan Harga



Argumen 3: Masalah Ketidakstabilan Harga

Argumen 3: Standar Emas mengakibatkan ketidakstabilan harga lebih besar dalam jangka pendek, menghambat keputusan-keputusan bisnis. Emas adalah komoditas yang harganya terlalu bergejolak, terus-menerus bergeser sesuai penawaran dan permintaan.

Bantahan: Argumen ketidakstabilan harga jangka pendek semata-mata berkait pada rasio koefisien yang relatif tinggi selama periode Standar Emas. Namun koefisien variasi adalah statistik yang sangat tidak stabil ketika rata-rata (mean) suatu set data hampir nol sebagaimana inflasi jangka panjang yang relatif rendah dan stabil selama periode Standar Emas. Jauh dari membuat pasar menjadi tidak stabil, gejolak harga jangka pendek di sekitar rata-rata yang rendah sesungguhnya menunjukkan bahwa pasar memberi sinyal efektif bagi produsen dan konsumen untuk secara aktif terlibat dalam aktivitas ekonomi selama periode Standar Emas.

Di mana pasar terbuka beroperasi, harga-harga barang dan jasa ditentukan oleh perubahan permintaan dan penawaran. Uang atau mata uang digunakan untuk menyebut harga barang dan jasa di mana nilai suatu mata uang ditentukan oleh kuantitas barang dan jasa yang bisa dibeli dengan sejumlah uang.

Kenaikan atau penurunan suplai uang itu sendiri bisa menyebabkan kenaikan atau penurunan umum dalam harga barang dan jasa tanpa melibatkan kondisi penawaran dan permintaan di dalam masing-masing pasar.

Michael David Bordo [2] mengatakan bahwa pengadopsian Standar Emas mengakibatkan ketidakstabilan harga dalam jangka pendek dan bahwa ini menghambat aktivitas ekonomi. Di waktu yang sama dan mungkin secara paradoks Standar Emas dikatakan oleh yang lain menyebabkan deflasi.

Namun, ketika diinvestigasi secara empiris kedua pernyataan itu bisa didebat.

Meski dunia hari ini didominasi oleh mata uang Fiat, poin pertama untuk dibuat adalah bahwa selama lebih dari 250 tahun terakhir, penerapan Standar Emas telah menjadi norma umum, bukannya suatu pengecualian.

Sejak awal mula Revolusi Industri hingga awal Perang Dunia I – lebih dari 150 tahun – Standar Emas diterapkan di berbagai perekonomian utama dunia.

Tabel1: UK Consumer Prices, Average Annual Change in Inflation since 1750 (%)
Sumber: UK Office of National Statistics

Melihat Inggris, di mana Revolusi Industri mulai dan menjadi kekuatan dominan dunia di abad ke-18 dan ke-19, Tabel 1 di atas menampilkan inflasi di Inggris sejak 1750 sebagaimana dipublikasikan akhir-akhir ini oleh Office of National Statistics [3]. Di 50 tahun pertama itu, inflasi rata-rata konstan 2% per tahun. Diikuti periode deflasi antara 1801 dan 1851 ketika inflasi rata-rata -1,2% per tahun, di 50 tahun berikutnya harga-harga naik ke 0,3% per tahun diikuti oleh pertumbuhan 0,5% per tahun hingga 1914 ketika Standar Emas ditinggalkan dalam rangka membiayai perang. Rata-rata inflasi harga tahunan sekitar 1% selama periode 1750-1914 menunjukkan Standar Emas yang klasik itu memproduksi kestabilan harga jangka panjang.

Bukti inflasi di Inggris jelas-jelas berkebalikan dengan argumen bahwa Standar Emas menyebabkan deflasi. Antara 1800-1914, harga-harga Inggris hampir sama kecenderungannya untuk turun maupun naik, dan inflasi tahunan rata-rata hampir nol. Ini seringkali disebabkan oleh peningkatan suplai barang dan jasa dan bukan oleh turunnya permintaan, berarti deflasi yang dihasilkan bersifat aman.

Harga-harga cenderung naik ketika banyak negara meninggalkan Standar Emas, selama Perang Dunia Pertama. Seiring negara-negara berusaha untuk mengembalikan Standar Emas ke keseimbangan pra-perang di 1925, harga-harga diperlukan untuk jatuh – menghasilkan deflasi yang ditimbulkan oleh kebijakan. Ekspektasi turunnya harga-harga ini membantu berkontribusi pada lingkungan dengan harga dan upah nominal yang relatif fleksibel. Dari 1925-1929, turunnya harga-harga dan naiknya output membuat deflasi ini menjadi konsekuensi dari pembangunan yang menguntungkan, yang merefleksikan peningkatan kemampuan perekonomian untuk menyediakan barang dan jasa. Sejak Perang Dunia II, telah terjadi beberapa episode deflasi di seluruh dunia, dengan Inggris mengalami rata-rata inflasi 7% sejak itu. Antara 1999-2005 redanya harga-harga aset yang melambung akibat krisis di sistem perbankan Jepang mendorong deflasi di Jepang, di mana harga-harga konsumen turun rata-rata 0,5% per tahun.

Argumen ketidakstabilan harga jangka pendek semata-mata berkait pada rasio koefisien yang relatif tinggi selama periode Standar Emas (seperti dikutip oleh Bordo). Namun koefisien variasi adalah statistik yang sangat tidak stabil ketika rata-rata (mean) suatu set data hampir nol sebagaimana inflasi jangka panjang yang relatif rendah dan stabil selama periode Standar Emas. Jadi koefisien variasi yang tinggi menunjukkan variasi jangka-pendek palsu selama periode Standar Emas dan merupakan pengukur yang tidak cocok dan tidak layak terhadap variasi statistikal.

Jauh dari membuat pasar menjadi tidak stabil, gejolak harga jangka pendek di sekitar rata-rata yang rendah sesungguhnya menunjukkan bahwa pasar memberi sinyal efektif bagi produsen dan konsumen untuk secara aktif terlibat dalam aktivitas ekonomi selama periode Standar Emas.

Sungguh peningkatan dalam output industri, pertanian dan perdagangan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya selama Revolusi Industri menunjukkan penerapan Standar Emas tidak punya dampak negatif jangka-panjang pada perekonomian. Ini ditunjukkan oleh pertumbuhan 0,5% per tahun di GDP Inggris antara 1750 dan 1850 [4] – selama penerapan Standar Emas – memungkinkan kenaikan dalam populasi dan inflasi.

Pertumbuhan konstan namun tidak spektakular menunjukkan bahwa Standar Emas pada dasarnya tidak punya dampak negatif pada aktivitas ekonomi. Aktivitas ekonomi yang naik dengan inflasi dan pertumbuhan populasi meningkatkan penghasilan ‘rata-rata’, meski masih terdapat kesenjangan dalam pendapatan dan kekayaan yang diciptakan oleh kapitalisme.

Melihat pengalaman Inggris, periode ini antara 1750 dan 1914 penerapan Standar Emas bisa dibandingkan secara kontras dengan puluhan tahun setelahnya ketika Standar Emas terkadang atau secara parsial diterapkan.

Standar Emas ditinggalkan antara 1915-1925 dan 1932-1945 dengan inflasi di Inggris meningkat 5,4% dan 3,8% secara berurutan. 1946 hingga 1971 dilakukan penerapan parsial Standar Emas melalui sistem Bretton Woods dan inflasi naik sedikit di atas 4% per tahun. Sejak musnahnya sistem Bretton Woods, inflasi Inggris telah sangat menggejolak melampaui 8% per tahun antara 1972 dan 1993 dengan mata uang Fiat yang beroperasi.

Standar Emas mendasarkan mata uang pada dasar moneter tetap yang menjamin inflasi rendah, dengan kemungkinan periode deflasi rendah. Sebaliknya, mata uang Fiat punya kecenderungan untuk menghasilkan inflasi, sering terjadi di saat tingkat pertumbuhan tinggi.

Mata Uang Emas Dan Perak Mengatasi Ketidakstabilan Harga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda