Sabtu, 06 April 2013

Menghindari Sikap Sombong

Menghindari Sikap Sombong

ruu ormas sombong terhadap syariah Islam

{{LANJUTAN DARI ARTIKEL SEBELUMNYA}}

Sombong: Bertentangan Dengan Hukum Allah SWT

    Abu hurairah ra, menyatakan bahwa Rasulullah Saw., bersabda dalam hadits qudsi, Allah Yang Maha Mulia Lagi Maha Agung Berfirman:
“Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan kebesaran adalah seledang-Ku, maka barangsiapa yang menyaingi Aku dalam salah satunya maka Aku pasti akan menyiksanya.” [HR. Muslim]

    Begit pula, sabda Nabi Saw.:
“Suatu ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan memakai perhiasan dan bersisir rambutnya, ia mengherani (ta’jub) dirinya sendiri dengan penuh kesombongan di dalam perjalanannya itu, Kemudian, tiba-tiba Allah Swt. menyiksanya: ia selalu timbul tenggelam di permukaan bumi sampai hari kiamat.” [HR. Bukhori dan Imam Muslim]

    Dalam kedua hadits ini tegas sekali Allah Swt., akan menyiksa siapa saja orang sombong. Artinya, Allah Swt. mengharamkan sikap sombong (merasa diri lebih dari orang lain, menganggap yang lain lebih rendah, dan menampakkannya), ataupun ujub/angkuh (bangga terhadap diri sendiri tanpa memperlihatkannya). Kesombongan hanyalah Milik-Nya. Hanya Dia yang berhak untuk ‘sombong’. Tidak layak siapapun angkuh dan sombong, sebab memang tidak ada yang dapat disombongkan.

    Bahkan Nabi Saw., menekankan persoalan ini dengan bertanya kepada para sahabat:
“maukah kalian aku beri tahu ahli neraka?” Baliau pun menjelaskan “Yaitu, setiap orang yang kejam, rakus dan sombong” [HR. Bukhori dan Muslim]

    Jelas bahwa balasan mereka yang sombong adalah neraka.
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun sebesar dzaroh (biji terkecil)
Lantas ada seseorang yang berkomentar: “Sesungguhnya seseorang itu suka memakai pakaian yang bagus dan sepatu bagus”
Menanggapi hal ini Rasulullah saw, menyatakan:
“Sesungguhnya Allah itu indah, suka pada keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia[HR. Imam Muslim]

    Satu hal yang penting dicamkan bahwa menghindari kesombongan bukan berarti menghindari punya kelebihan, melainkan menghindari adanya perasaan ataupun ungkapan mengagung-agungkan diri sendiri serta mengangap orang lain lebih rendah darinya. Orang mengenakan pakaian bagus, bukan berarti sombong atau angkuh. Orang berpegang teguh kepada kebenaran Islam dan menentang mentah-mentah pemikiran dan idiologi kufur, tidak mengindikasikan adanya kesombongan. Sebaliknya, saat seseorang mengenakan pakaian bagus, misalnya, disertai dengan sikap merasa bahwa dia lebih tinggi dan orang lain di bawah dia, saat itulah kesombongan muncul. Saat seseorang tidak setuju dengan adanya perjuangan penegakan Syariah Islam, berarti dia sombong terhadap kebenaran, dia wajib bertobat.

    Begitu juga, orang yang berpakaian serba jelek bila hati yang tertanam rasa bahwa ia lebih zuhud daripada orang lain, ketika itu kesombongan nampak. Sama dengan itu, seseorang yang menyampaikan Islam dengan progresif, semangat yang berkobar serta menentang keras kebatilan disertai dengan argumentasi mematikan, sementara di hatinya tidak terbetik sedikitpun rasa bangga akan diri sendiri atau sikap memandang rendah orang lain, maka kesombongan tidak melekat dalam dirinya. Jadi persoalannya terletak dalam sikap memandang rendah orang lain, pada saat ia memandang tinggi diri sendiri. Sikap menolak kebenaran ajaran Islam (al-Qur’an dan as-Sunnah) mengenai apapun, sekecil apapun penolakannya di dalam hati, berarti itu sombong terhadap kebenaran dan pelakunya tidak akan masuk Surga jika tidak bertaubat.

    Selain itu, orang seperti –orang yang  sombong—ini akan sulit menerima kebenaran yang disampaikan oleh orang lain. Mengapa? Sebab, sudah merasa dirinya lebih dan orang lain serba rendah sehingga –dalam pandanganya—mana mungkin orang ‘tinggi’ menerima sesuatu dari orang ‘rendah’.

Menghindari Sikap Angkuh Dan Sombong

    Sikap angkuh dan sombong dapat menimpa siapa saja: saya, anda, kita, dia dan mereka. Sekali lagi, dapat menimpa siapa saja. Ungkapan seperti ‘kalau bukan saya, mana mungkin bisa!’, ‘Untung saja ada saya kalau tidak wah bahaya..’, ‘saya ini orang terkenal lho!’ dan ‘ah, dia kan ngajinya juga baru kemaren sore, sedangkan saya lulusan perguruan tinggi agama’ dan sejumlah uangkapan yang lain, merupakan indikasi sikap kesombongan. Untuk menjinakkannya, perlu menempuh beberapa hal. Antara lain sebagai berikut:
1.   Senantiasa mengingat dan menanamkan keyakinan bahwa sombong dan ujub itu dosa. Bukan orang lain yang akan merasakan balasan buruknya dari Allah Swt. melainkan diri sendiri.

2.   Yakinlah, kesombongan tidak akan menambah apapun selain kerugian. Tidak ada orang yang suka siapapun yang angkuh dan sombong. Sama seperti anda dan saya.

3.   Sering-seringlah mengingat kelemahan diri sendiri. Pada berbagai kesempatan –santai, saat istirahat, bengong di kendaraan, sejenak menjelang tidur, atau kapan saja— cobalah memikirkan kelemahan kita dibandingkan dengan orang lain. Dengan mengetahui kelemahan, insyaAllah akan muncul sikap rendah hati (tawadlu’). Sebaliknya, tanpa mengetahui kelemahan, seseorang akan merasa dirinyalah yang paling segala-galanya. Hal ini tidak berarti jangan mengetahui kelebihan diri sendiri. Tidak seperti itu! memahami potensi dan keunggulan diri sendiri amatlah penting. Namun mangetahui keunggulan diri sendiri tersebut jangan sampai melahirkan sikap menganggap rendah orang lain.

4.   Seperti telah disebutkan, memelihara sifat sombong berarti membangun benteng penghalang datangnya kebenaran ajaran Islam pada dirinya. Dengan adanya sombong, seseorang cenderung menolak kebenaran sekalipun telah jelas di depan mata. Padahal, menolak kebenaran berarti mengunci gerbang perubahan ke arah kebaikan yang bermuara kepada kebahagiaan. Konsekuensinya, kebahagiaan dunia dan akhirat, bila demikian, hanyalah sebuah angan-angan hampa.

5.   Bila Anda sering melayat orang yang meninggal dunia, jangan hentikan kebiasaan itu! Selain sebagai pemenuhan atas perintah Allah Swt., melayat itu juga dapat Anda gunakan sebagai perenungan. Padahal, teman atau tetangga Anda yang telah meninggal itu mungkin saja seorang jutawan, atau barangkali kyai terkenal, boleh jadi dia itu orang yang popularitasnya luar biasa. Semuanya serba kecil di hadapan Allah Rabbul ‘alamin. Bila seperti ini realitasnya, apa lagi alasan untuk bersombong diri?!

6.   Setiap kali muncul keinginan untuk sombong atau membanggakan diri, segeralah mohon ampunan kepada Allah Dzat Pemutar balik Hati. Berlindunglah dari kesombongan, dan berdo’alah kepada Allah! Mudah-mudahan Allah Swt. mengabulkan.

Akhirnya, mulai detik ini benih-benih kesombongan tidak boleh ada dalam diri kita, apalagi sebagai pengemban dakwah. Kesombongan dan keangkuhan merupakan indikasi kelemahan diri sendiri. Kesombongan dan keangkuhan merupakan perbuatan yang jauh dari simpatik. Akibatnya, orang yang di dakwahi justru menyingkir dari kita. Sangat berbahaya bila ada sedikit saja keengganan dalam hati untuk menghadapi dan menerima kebenaran setiap ajaran Islam; akidah, syariah, maupun khilafah. Dahulu, iblis enggan tunduk kepada satu perintah Allah Swt. karena kesombongannya. Jadi sombong atau ujub? No way!
   
Diolah dari artikel: MENJINAKKAN KESOMBONGAN DIRI

Menghindari Sikap Sombong

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda