Selasa, 02 April 2013

Sejarah Syaikh Taqiyuddin An Nabhani

Sejarah Syaikh Taqiyuddin An Nabhani

 
{{LANJUTAN DARI ARTIKELSEBELUMNYA}}

Bidang-bidang Aktivitas Syekh Taqiyudin an-Nabhani

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani kembali ke Palestina untuk kemudian bekerja di Kementerian Pendidikan di Palestina sebagai seorang guru di sebuah sekolah menengah atas negeri di Haifa. Di samping itu beliau juga mengajar di sebuah Madrasah Islamiyah di Haifa. Beliau sering berpindah-pindah lebih dari satu kota dan sekolah semenjak tahun 1932 sampai tahun 1938, ketika beliau mengajukan permohonan untuk bekerja di Mahkamah Syari'ah. Beliau ternyata lebih mengutamakan bekerja di bidang peradilan (qadha') karena beliau menyaksikan pengaruh imperialis Barat dalam bidang pendidikan, yang ternyata lebih besar daripada bidang peradilan, terutama peradilan syar'iy. Dalam kaitan ini beliau berkata : "Adapun golongan terpelajar, maka para penjajah di sekolah-sekolah missionaris mereka sebelum adanya pendudukan, dan di seluruh sekolah setelah pendudukan, telah menetapkan sendiri kurikulum-kurikulum pendidikan dan tsaqafah berdasar filsafat, hadharah (peradaban) dan pemahaman kehidupan mereka yang khas. Kemudian tokoh-tokoh Barat dijadikan sumber tsaqafah (kebudayaan) sebagaimana sejarah dan kebangkitan Barat dijadikan sumber asal bagi apa yang mengacaukan cara berpikir kita."

Oleh karenanya, Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani lalu menjauhi bidang pengajaran dalam Kementerian Pendidikan, dan mulai mencari pekerjaan lain dengan pengaruh peradaban Barat yang relatif lebih sedikit. Beliau tak mendapatkan pekerjaan yang lebih afdol selain pekerjaan di Mahkamah Syar'iyah yang dipandangnya merupakan lembaga yang menerapkan hukum-hukum syara'. Dalam hal ini beliau berkata, "Adapun An Nizhamul Ijtima'iy, yang mengatur hubungan pria dan wanita, dan segala hal yang merupakan konsekuensinya (yakni Al Ahwalu Asy Syakhshiyyah), tetap menerapkan syari'at Islam sampai sekarang, meskipun telah berlangsung penjajahan dan penerapan hukum-hukum kufur. Tidak diterapkan sama sekali selain Syari'at Islam di bidang itu sampai saat ini..." Maka dari itu, Syaikh Taqiyyuddin sangat berkeinginan untuk bekerja di Mahkamah Syar'iyah. Dan ternyata banyak kawan beliau -yang pernah sama-sama belajar di Al Azhar- bekerja di sana. Dengan bantuan mereka, Syaikh Taqiyyuddin akhirnya dapat diangkat sebagai sekretaris di Mahkamah Syar'iyah Beisan, lalu dipindah ke Thabriya.

Namun demikian, karena beliau mempunyai cita-cita dan pengetahuan dalam masalah peradilan, maka beliau terdorong untuk mengajukan permohonan kepada Al Majelis Al Islamy Al A'la, agar mengabulkan permohonannya untuk mendapatkan hak menangani peradilan. Dalam hal ini beliau menganggap bahwa dirinya mempunyai kecakapan untuk menangani masalah peradilan. Setelah para pejabat peradilan menerima permohonannya, mereka lalu memerintahkan beliau ke Haifa sebagai Kepala Sekretaris (Basy Katib) di Mahkamah Syar'iyah Haifa.

Kemudian pada tahun 1940, beliau diangkat sebagai Musyawir (Asisten Qadly) dan beliau terus memegang kedudukan ini hingga tahun 1945, yakni saat beliau dipindah ke Ramallah untuk menjadi qadly di Mahkamah Ramallah sampai tahun 1948.

Setelah itu, beliau keluar dari Ramallah menuju Syam sebagai akibat jatuhnya Palestina ke tangan Yahudi. Pada tahun 1948 itu pula, sahabatnya Al Ustadz Anwar Al Khatib mengirim surat kepada beliau, yang isinya meminta beliau agar kembali ke Palestina untuk diangkat sebagai qadhy di Mahkamah Syar'iyah Al Quds. Syaikh Taqiyyuddin mengabulkan permintaan itu dan kemudian beliau diangkat sebagai qadly di Mahkamah Syar'iyah Al Quds pada tahun 1948.

Kemudian, oleh Kepala Mahkamah Syar'iyah dan Kepala Mahkamah Isti'naf saat itu -yakni Al Ustadz Abdul Hamid As Sa'ih- beliau lalu diangkat sebagai anggota Mahkamah Isti'naf, dan beliau tetap memegang kedudukan itu sampai tahun 1950.

Pada tahun 1950 inilah, beliau lalu mengajukan permohonan mengundurkan diri, karena beliau mencalonan diri untuk menjadi anggota Majelis Niyabi (Majelis Perwakilan).

Pada tahun 1951, Syaikh An Nabhani mendatangi kota Amman untuk menyampaikan ceramah-ceramahnya kepada para pelajar Madrasah Tsanawiyah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah. Hal ini terus berlangsung sampai awal tahun 1953, ketika beliau mulai sibuk dalam Hizbut Tahrir, yang telah beliau rintis antara tahun 1949 hingga 1953.

{{BERLANJUT KE ARTIKEL LANJUTAN}}
Sejarah Syaikh Taqiyuddin An Nabhani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda