Minggu, 28 Agustus 2011

Pengertian Kebangkitan Islam – Definisi Bangkitnya Kaum Muslim

Pengertian Kebangkitan Islam – Definisi Bangkitnya Kaum Muslim


Pengertian kebangkitan (ash-shahwah) yang langsung terlintas di dalam benak adalah kata: shaha-yashhu; yakni bangun dari tidur. Akan tetapi, tatkala kita membicarakan kebangkitan Islam (ash-shahwah al-Islamiyyah) maka maknanya benar-benar berbeda meskipun bahwa umat ini sedang dalam kondisi terlena dari agamanya. Keadaan umat ini bagaikan orang yang sedang tidur, yang terlena dari kesadarannya. Realitanya, kedua pengertian tersebut memiliki banyak kedekatan makna. Karena itu, penjelasan makna ash-shahwah (kebangkitan) secara bahasa dan istilah sangat bermanfaat dan menghantarkan untuk menjelaskan maksud dari tulisan buku ini dalam mewujudkan kebangkitan.

Dalam kamus Al-Muhith dinyatakan: ash-shahwah (kebangkitan) adalah lenyapnya mendung atau mabuk; meninggalkan masa kanak-kanak dan kebatilan. Dalam mukhtar as-Shihah dinyatakan: shaha min sukrih shahw[an] (Dia benarbenar bangkit [sadar] dari mabuknya): dan as-sukran shah[an] (orang yang mabuk telah bangkit/ telah sadar).

Ash-Shahwu juga berarti lenyapnya mendung. Ashhat as-sama maknanya mendung lenyap dari langit sehingga langit itu shahiyyah (bangkit/ jernih). Dikatakan: ashhina, yakni langit telah bangkit/ jernih bagi kita.

Dalam Lisan al-Arab dinyatakan ash-shahw[u] adalah semakin siang; sembuh dari kecintaan, tidak terdengar tentangnya kecuali sadar dari mabuk. Dikatakan: shahwan semisal dengan sukran. Dikatakan pula: Shaha qalbuhu wa shaha as-sukran min sukrih yashhu shahw[an] wa shuhuw[an] fa huwa shah[in] (akalnya telah sembuh, ia benar-benar telah sembuh dari mabuknya sehingga ia menjadi orang yang bangkit).

Ashha, artinya lenyap mabuknya. Orang Arab membandingkan mabuk dengan as-Shahwah, yakni antara berakal dan tidak berakal. Di antara contohnya: dia ingin mengambilnya antara as-sukrah dan as-shahwah. Ini misalnya seorang pelajar yang merasa bodoh, sementara ia mengetahui.

Dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah dinyatakan: shad dan ha serta huruf mu’tal yang asalnya shahih berarti menunjukkan tersingkapnya sesuatu. Dari sini berarti ash-shahw[u] (bangkit) lawan dari as-sukr (mabuk). Dikatakan: shaha yashhu as sukran fahuwa shahiyyah (langit telah bangkit maka ia jernih). Abi Hatim berkata, “Orang awam menduga bahwa shahw[u] tidak terjadi kecuali dengan lenyapnya mendung dan tidak yang demikian. Padahal tidak lain ash-shahw adalah lenyapnya kedinginan dan tercerai-berainya mendung dan yang cacat dari asal ini adalah tempat jernih (bangkit) seperti gelas untuk minum.

Di dalam Mu’jam al-Wasih I cetakan II hal 528 dinyatakan: Shaha an-Na’im Shahw[an] (orang-orang yang tidur itu benar-benar bangun dari tidurnya); shaha as-Sukran wa nahwuh (orang yang mabuk dan semisalnya itu telah sadar), artinya sembuh. Dikatakan: Shaha al-Qalbu (Hati bangkit); artinya bangun dari hawa nafsu atau kealpaan (keterlenaan); Shahat as-Sama’ artinya tersingkap awan. Bisa juga dikatakan: Shaha al-yauwm wa shaha as-syams (Hari cerah dan matahari meninggi); Ashha fulan[an] (Dia membangkitkan si fulan), artinya membangunkannya dan menjadikannya sadar dari pingsannya atau mabuknya.

Shaha dalam bahasa Arab – jika untuk menyifati manusia – juga diartikan dengan kesadaran, kesembuhan dan kebangunan. Hal itu diketahui dari lawan katanya, yaitu tidur atau mabuk. Dikatakan: Shaha min nawmih aw min sukrih (Dia bangkit dari tidurnya atau sadar dari mabuknya). Maknanya: bangkit/ sadar. Dengan kata lain, kesadarannya telah kembali yang sebelumnya lenyap dari dirinya sebagai akibat dari sesuatu yang alami, yaitu tidur, atau suatu rekayasa, yaitu mabuk.

Ash-Shahwah (kebangkitan) pada asalnya untuk menyatakan kekuatan kesadaran pada diri manusia yang diungkapkan dengan hati atau kesadaran atau akal (Dr. Yusuf al-Qardhawi, Ash-Shahwah al-Islamiyah wa Humum al Wathan al-‘Arabi wa al-Islami, hal. 11-12 cet. 1, Mu’asasah ar-Risalah, Beirut. 1409H/ 1988M). Sesuatu yang membuat limbung umat adalah sama dengan apa yang membuat limbung individu, yaitu hilangnya kesadaran baik jangka panjang maupun pendek akibat tidur dan terlenanya umat dari dalam diri umat sendiri atau dari luar akibat tidur yang dipaksakan kepadanya oleh pihak lain. Jadi ash-shahwah (kebangkitan) artinya adalah kembalinya kesadaran dan kembalinya kewaspadaan umat yang sebelumnya telah hilang.

Inilah pengertian etimologis dari kata bangkit dan kebangkitan. Adapun makna istilah kata kebangkitan (ash-shahwah) sebagaimana diketahui adalah kebangkitan dari keterpurukan dan keterlenaan serta dari ketiadaan pemahaman terhadap realita hakiki yang menjadi realita hidup umat. Hal itu akibat dari banyak faktor yang menutupi umat dari kebenaran; memalingkan umat dari memahami realita; dan kewaspadaan umat terhadap realita ini serta upaya umat untuk mengubah dan membebaskan diri darinya menuju realita yang lebih mulia.

Umat Islam sesungguhnya telah banyak memperhatikan kebangkitan, sementara realita tersebut telah gaib dan hilang dari kesadaran umat selama tahun-tahun yang panjang akibat beberapa faktor, baik internal maupun eksternal umat.

Saat ini kita tidak sedang membahas faktor-faktor tersebut. Akan tetapi, yang kita maksudkan dalam permasalahan ini adalah beberapa perkara berikut:
1.   Terwujudnya kebangkitan Islam secara riil dari ketiadaannya.
2.   Mengetahui berbagai ilmu bagi kebangkitan ini.
3.   Faktor-faktor yang mengantarkan pada kebangkitan.
4.   Hasil-hasil kebangkitan dan sejauh mana pemenuhannya sebagai harapan masa depan.

Sebagai tambahan setelah kami memaparkan bantahan atas perkara-perkara yang telah disebutkan sebelumnya, kami telah melihat pentingnya me-review beberapa harakah (gerakan) Islam yang tegak di dunia Islam pada saat ini. Hal itu untuk mengetahui berbagai tujuan dan metode pencapaiannya. Tujuannya adalah: untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya bagi terjadinya perubahan demi mewujudkan kebangkitan umat Islam; juga untuk mengetahui sejauh mana kesesuaian metode harakah tersebut dengan metode Rasul Saw. karena metode beliau merupakan hukum Allah bagi kita semua.

Hanya saja, sebelum itu, kami akan memaparkan secara singkat dakwah Islam sejak diutusnya Rasul Muhammad Saw. dan para sahabatnya. Kami akan memaparkan marhalah-marhalah (tahapan-tahapan) pendirian Daulah Islamiyah yang pertama berdasarkan penelaahan terhadap sirah Rasul Saw. Dengan itu, tergambar bagi kita perbandingan antara strategi dan tahapan yang ditempuh Rasul Saw. dengan apa yang ditempuh oleh harakah-harakah tersebut.

Selanjutnya kami menyerahkan kepada para pembaca yang mulia untuk menjustifikasi sendiri sejauh mana kesahihan perjalanan harakah-harakah yang ada dan sejauh mana keterikatan mereka pada sirah dan thariqah Rasul Saw. dalam mewujudkan Daulah. Sebab, thariqah rasul Saw. merupakan hukum syariah yang tidak boleh diselisihi dan ditinggalkan sekalipun uslub (cara) dan wasilah (sarana)-nya bisa berbeda-beda.


Dari : Seputar Gerakan Islam; Abu Za’rur

Pengertian Kebangkitan Islam – Definisi Bangkitnya Kaum Muslimin – Arti Kebangkitan Umat Islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda