Rabu, 03 Agustus 2011

Renungan Hari Kebangkitan Nasional Indonesia - Benarkah Indonesia Sudah Bangkit - Indonesia Belum Bangkit


Renungan Hari Kebangkitan Nasional Indonesia - Benarkah Indonesia Sudah Bangkit - Indonesia Belum Bangkit



SUDAH BANGKITKAH INDONESIA ?

RENUNGAN UNTUK INDONESIA DI HARI KEBANGKITAN NASIONAL YANG KE 103

Hari kebangkitan nasional

Tanggal 20 Mei tiap tahunnya dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) walau di kalender tidak menunjukkan tanggal merah. Di setiap instansi pemerintahan dan sekolah-sekolah negeri biasanya diadakan upacara bendera. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, tanggal 20 Mei 2011 pun akan diperingati sebagai momentum 103 Tahun Kebangkitan Nasional. Menurut buku sejarah yang ada, hari bersejarah ini ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908). jika dihitung dari tanggal berdirinya perkumpulan Boedi Oetomo, Maka para tokoh pendiri Boedi Oetomo seperti Ki Wahidin Sudirohusodo dan lainnya juga dianggap sebagai para pahlawan nasional.

Kenyataannya, selama ini peringatan hari kebangkitan nasional hanya menjadi seremonial tahunan tanpa ada perubahan berarti terhadap rakyat Indonesia untuk melawan keterpurukan. Meski kebangkitan nasional sudah berjalan seabad lebih, dari tahun ke tahun, negeri ini bukan makin bangkit, tetapi justru makin terpuruk di segala bidang. Kebangkitan nasional yang dibangga-banggakan tiap tahun itu semuanya cuma kamuflase. Nyaris tak ada buktinya. Sebuah negeri yang bangkit seharusnya sudah maju dari dulu, tapi fakta justru menunjukkan sebaliknya, terpuruk seperti sekarang ini. Hingga kini negeri ini tidak kunjung lepas dari kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan di segala bidang, ketidakadilan dan berbagai problem sosial seperti kriminalitas, kerusakan moral, padahal ini adalah problem-problem mendasar.

Indonesia sudah bangkit?

Pada momentum 1 abad lebih Kebangkitan Nasional ini, perlu kiranya kita memikirkan sungguh-sungguh, Benarkah Indonesia telah sungguh-sungguh bangkit?

Di bidang pendidikan. Pendidikan Indonesia selama ini belum mampu mewujudkan output generasi unggulan dan membangkitkan. Terbukti dari banyaknya siswa yang tidak lulus dalam Ujian Nasional (UN). Menurut data dari Kementerian Pendidikan Nasional, tahun 2010 sebanyak 267 sekolah tingkat SMA di seluruh Indonesia, 100% siswanya tidak lulus UN. Di tingkat SMP kondisinya lebih parah lagi, sebanyak 561 SMP/MTs di seluruh Indonesia, 100% siswanya juga dinyatakan tidak lulus UN. Dari data mahasiswa baru tahun 2008 di salah satu Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia, diperoleh hasil bahwa mahasiswa-mahasiswa tersebut tidak mandiri, tidak percaya diri, dan bahkan tidak memiliki jiwa kepemimpinan.  

Bangsa ini memiliki kualitas SDM yang rendah. Menurut sebuah penelitian, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia menempati urutan 102 dari 162 negara, setingkat lebih rendah dari Vietnam yang berada di posisi 101, padahal Vietnam adalah sebuah Negara yang tak pernah sepi dari peperangan.

Belum lagi gaji guru yang jauh dari mensejahterahkan. Seorang bapak guru bernama Pak Mahmud disiarkan sebuah stasiun TV yang cuma mendapat gaji Rp400 ribu untuk menghidupi anak dan istrinya. Padahal itu di ibukota Jakarta yang biaya hidup begitu tinggi. Jadilah beliau kerja sampingan jadi pemulung agar dapur tetap mengepul.

Lalu kita tengok fasilitas, banyak sekolah-sekolah yang roboh. Lalu ada juga tempat belajar beratap terpanjang di dunia alias di bawah jalan tol. Oleh karena itu, kondisi dunia pendidikan di negeri ini boleh dikatakan tidak bangkit.

Di bidang hukum/ peradilan merajalela mafia hukum/peradilan. Hukum bisa dinego, jaksa dan hakim bisa disuap. Berapa lama hukuman tergantung pada berapa dana yang disiapkan. Bisa disimpulkan bahwa, peradilan Indonesia tidak bangkit.

Di bidang politik/pemerintahan, kasus-kasus korupsi bukan malah berkurang, tetapi makin banyak dan beragam dengan berbagai modus. Menurut survei PERC, tahun 2009 & 2010 Indonesia masih memegang rekor sebagai negara terkorup di Asia Pasifik. Maka, sangat jelas bahwa politik/ pemerintahan Indonesia tidak bangkit.

Di bidang ekonomi. Negeri yang kaya dengan sumberdaya alam ini pun masih menyisakan sekitar 100 juta penduduk miskin menurut kategori Bank Dunia. Parahnya lagi, rakyat negeri ini harus menanggung beban utang luar negeri yang tahun 2010 saja mendekati Rp2000 triliun. Harga BBM yang melambung tinggi mengakibatkan kian terpuruknya perekonomian negeri ini. Harga-harga membubung tinggi. Beras dan minyak tanah tak terbeli. Busung lapar menjadi sebuah tren. Meski kata para pejabat yang malu daerahnya ketahuan ada busung lapar, berusaha mengganti istilahnya dengan salah pola makan. Belum lagi pengangguran yang jumlahnya tak kunjung berkurang. Lalu, bagaimana mau dikatakan bangkit jika terlilit utang dan kemiskinan?

Di bidang kesehatan. Pernah diberitakan tentang anak pemulung yang mati karena sakit dan tak mampu beli obat. Sudah begitu bapaknya tak mampu membeli tanah untuk mengubur anaknya. Sejumlah kasus gizi buruk di berbagai daerah telah terjadi, memakan nasi aking, juga mahalnya biaya kesehatan, serta kasus AIDS yang penderitanya terus meroket jumlahnya, semua itu turut memoles wajah dunia kesehatan Indonesia sehingga belum dapat dikatakan bangkit.

Di bidang sosial. Kriminalitas meningkat tajam. Perkosaan, pembunuhan, bahkan pelecehan terhadap agama. Sementara itu, di negeri ini demi sekaleng susu untuk bayinya seorang ibu terpaksa mencuri dari etalase supermarket. Ia pun langsung digiring ke satpam, dan dipermalukan di depan umum. Bandingkan dengan apa yang dilakukan terhadap koruptor negeri ini yang makan duit triliunan rupiah. Mereka bisa lenggang kangkung dengan enaknya melewati perbatasan untuk lari ke luar negeri.

Lihat pemberitaan televisi kita! Setiap harinya selalu memberitakan seputar kemunduran-kemunduran yang senada dengan gambaran diatas. Ini hanya sebagian kecil saja potret buram bangsa yang bangga dengan peringatan hari kebangkitan ini. Jika demikian keadaannya, tentu setiap orang di negeri ini layak bertanya: lalu apa makna Hari Kebangkitan Nasional yang telah melawati usia lebih dari satu abad ini jika kebangkitan yang diharapkan semakin jauh dari harapan?

Padahal, dahulunya negeri ini dikenal dengan sebutan gemah ripah loh jinawi subur makmur ditanami apa pun tumbuh subur, kini sudah tidak lagi. Jadi, jelaslah bahwa bangsa ini belum bangkit.

Dasar-dasar kebangkitan

Mengapa keadaan negeri ini masih terus didera berbagai problema mendasar yang kian hari tampak semakin buruk? Apa yang salah dari negeri ini? Memang, untuk mencapai keadaan yang lebih baik, bangsa Indonesia memang harus bangkit dan harus terus digelorakan semangat untuk bangkit. Tapi, kebangkitan seperti apa yang diperlukan oleh negeri ini untuk benar-benar bisa keluar dari berbagai krisis sehingga bisa benar-benar menjadi bangsa yang lebih baik?

Dari kajian terhadap naik turunnya peradaban bangsa-bangsa di dunia tampak jelas bahwa kebangkitan hakiki atau kebangkitan yang sesungguhnya hanya mungkin dicapai bila bangsa itu bangkit berdasarkan pada sebuah pondasi pemikiran yang menyeluruh dan mendasar. Kebangkitan tanpa dasar yang jelas hanya akan melahirkan kebangkitan semu atau bukan kebangkitan yang kokoh. Ketidakjelasan landasan kebangkitan Indonesia kiranya bisa dianggap sebagai faktor utama dari kegagalan Indonesia di berbagai bidang bila dibandingkan dengan negara-negara seperti Singapura, Cina, apalagi Jepang, Eropa dan AS.

Sementara, secara fakta di dunia ini hanya ada 3 pondasi pemikiran yang menyeluruh dan mendasar. Pondasi pemikiran pertama adalah pemikiran yang tidak mengakui Sang Maha Pencipta dan juga aturan-Nya (komunisme). Pondasi pemikiran yang kedua adalah pemikiran yang mengakui adanya Sang Pencipta namun tidak menganggap perlu mengambil aturan dari Sang Pencipta, aturan cukup dibuat oleh manusia (kapitalisme). Adapun pondasi pemikiran yang ketiga adalah pondasi pemikiran yang mengakui Sang Pencipta dan sekaligus mewajibkan manusia terikat pada aturan-Nya (Islam). Ketiga pemikiran ini adalah pondasi pemikiran, ia bersifat menyeluruh dan mendasar. Mengapa saya katakan pondasi? Karena semua pemikiran yang ada di dunia ini sesungguhnya selalu dibangun di atas salah satu dari ketiga model pemikiran ini. Tidak ada pemikiran yang terlepas dari ketiga model pemikiran ini. Mengapa saya katakan menyeluruh? Karena hanya ketiga model pemikiran ini yang mampu merangkum seluruh fakta terindera yang ada yakni manusia, alam semesta, dan kehidupan. Sesungguhnya manusia hanya mampu berfikir jika ada fakta yang terindera sebagai bahan/objek pemikirannya, sementara dalam kehidupan manusia fakta yang dapat di indera hanyalah ketiga hal tersebut. Ketiga pemikiran tadi mempunyai pandangan mengenai ketiganya. Sehingga benarlah jika dikatakan ketiga pemikiran di atas adalah pemikiran yang menyeluruh. Selain dari ketiga model pemikiran ini, tidak ada lagi model pemikiran yang mampu merangkum ketiga objek pemikiran tadi sekaligus.

Saya katakan ketiga model pemikiran tadi juga mendasar, mengapa demikian? Karena memandang hal-hal yang paling mendasar yaitu apa yang ada sebelum kehidupan, bagaimana kehidupan itu dijalani, dan bagaimana setelah kehidupan di dunia berakhir? Tidak ada lagi hal yang lebih mendasar dalam pemikiran daripada ketiga hal ini.

Dengan berangkat dari memikirkan alam semesta, kehidupan dan manusia serta hubungannya dengan apa yang ada sebelum dan sesudahnya, maka suatu bangsa mampu menentukan sikapnya dalam menjalani kehidupan. Jika suatu bangsa memilih model pemikiran yang pertama, yaitu memahami bahwa sebelum kehidupan ini tidak ada Sang Pencipta, adanya alam semesta, manusia dan kehidupan terjadi karena proses evolusi; menjalani kehidupan ini tidak perlu tuntunan Sang Pencipta (karena memang difahami tidak ada); dan setelah kematian tidak akan ada apa-apa kecuali kembali menjadi tanah; maka, tentu bangsa tersebut akan hidup dengan membuat aturan dan menentukan tujuannya berdasarkan apa yang baik menurut manusia. Dalam Negara yang dalam kehidupannya mengadopsi pemikiran tersebut, aturan dibuat oleh penguasa. Apa yang baik dan buruk menurut keinginan penguasa, sehingga rakyat tidak punya hak. Hasilnya, manusia tidak hidup sesuai dengan tujuan ia diciptakan oleh penciptanya, yakni beribadah. Karena semua geraknya ditentukan oleh penguasanya. Kita bisa melihat Uni Soviet, dengan modal dan model pemikiran itulah pernah menjadi adidaya dunia dalam kurun waktu ± 70-80 tahun.

Adapun Negara yang memilih model pemikiran kedua, yaitu memahami bahwa manusia, alam semesta, dan kehidupan ini memang diciptakan oleh Sang Pencipta; namun manusialah yang berhak mengatur hidupnya; dan setelah kematian semua akan masuk surga; maka, bangsa tersebut akan membatasi agama hanya pada ranah individu, hanya di masjid dan hanya boleh mengurusi urusan ibadah, serta tidak diperkenankan mengurusi urusan urusan-urusan publik. Adapun urusan publik dibuat lewat musyawarah yang diwakili oleh wakil-wakil rakyat dan suara terbanyak akan dijadikan hukum. Faktanya, tidak selalu kepentingan-kepentingan rakyat sejalan dengan kepentingan yang mewakilinya. Sehingga, seiring dengan waktu, kepentingan, kebutuhan, dan suara rakyat pun tenggelam tergantikan oleh kepentingan dan suara wakilnya. Ujung-ujungnya, manusia tidak hidup sesuai dengan tujuan ia diciptakan, yakni beribadah kepada penciptanya, namun sibuk berkompetisi merealisir kepentingan dan keinginannya masing-masing. Jadilah dunia ini kompetisi hidup yang keras dan mengerikan, yang kuat menindas yang lemah. Yang punya modal bisa memiliki secara pribadi hajat hidup dan kepentingan orang banyak. Contohnya tambang, sehingga orang banyak mau atau tidak, harus membayar pada si pemilik jika terpaksa harus menggunakan fasilitas yang dihasilkan dari tambang tersebut. Sehingga sangat wajar jika terjadi kesenjangan antara kaya dan miskin, Orang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, jumlahnya pun makin meningkat. Dengan modal dan model kehidupan inilah AS menjadi adidaya dunia, selama kurang lebih sudah hampir 200 tahun.

Berbeda halnya dengan model pemikiran ketiga. Jika suatu negeri memahami bahwa sebelum kehidupan ini ada yang menciptakan; dalam hidup ini sudah sewajarnya dan seharusnya untuk terikat pada aturan Sang Pencipta, karena memang secara logika tentu yang menciptakan lebih paham plus-minusnya hasil ciptaan-Nya sehingga dengan mudah dapat mengukur batas-batas kemampuan hasil ciptaan-Nya tadi. Oleh karena itu Sang Maha Pencipta tentu akan lebih faham mana yang pas dan mana yang tidak cocok untuk hasil ciptaan-Nya; kemudian memahami bahwa setelah kehidupan manusia akan kembali menghadap Sang Penciptanya untuk mempertanggungjawabkan seluruh kehidupannya, apakah selama hidupnya sejalan dengan aturan Sang Pencipta atau tidak, jika iya maka akan mendapat balasan surga, jika tidak akan mendapatkan siksa; maka, aturan yang berlaku di dalamnya adalah aturan Sang Pencipta yang sudah pasti aka mampu mensejahterakan manusia. Karena alam semesta yang menghasilkan SDA diperuntukkan untuk seluruh makhluk sehingga pembagiannya akan diatur secara adil sesuai keinginan Sang Pencipta. Adapun manusia dan kehidupannya akan diatur agar sesuai dengan tujuan ia diciptakan sehingga dapat merasakan kesejahteraan dan kemuliaan hidup serta akhiratnya mendapat kebahagiaan. Dengan modal dan model pemikiran inilah ISLAM pernah menjadi adidaya dunia selama hampir 1400 tahun, luar biasa!

Mengapa bisa bangkit, mengapa bisa mundur?

     Mengapa dulu Uni Sovyet bisa menjadi Negara adidaya? Mengapa Amerika saat ini menjadi kiblat berbagai negeri? Dan mengapa ISLAM dulu mampu memberikan warisan peradaban luar biasa yang tak ada bandingannya hingga saat ini? Jawabannya mudah, karena pada saatnya masing-masing pondasi pemikiran mereka diterima oleh mayoritas bangsa-bangsa di dunia. Jadilah dunia ada di bawah telunjuknya. Ketika memberikan petunjuk A maka bangsa-bangsa lain di dunia pun mengikutinya.

     Contoh paling nyata adalah saat ini, ketika mayoritas manusia mengakui pemikiran kapitalisme, maka pengemban kapitalismelah yang bangkit dan menguasai dunia.

     Mengapa saat ini Islam mundur? Juga kenapa Uni Sovyet tergantikan oleh AS? Tentu saja karena model pemikirannya tak lagi diambil oleh mayoritas manusia. Sehingga jika suatu negeri ingin tetap bangkit, haruslah menjaga benar agar pemikiran-pemikirannya tetap eksis dan dipakai oleh bangsa-bangsa di dunia.

Bangkit semu atau bangkit hakiki?

     Amrik boleh saja bisa bikin pesawat supersonik yang kecepatannya menyamai kecepatan suara misalnya. Mereka mampu membuat berbagai macam teknologi untuk memudahkan kehidupan manusia. Karena katanya, majunya teknologi adalah ukuran bagi kebangkitan suatu bangsa. Belum lagi perekonomian yang tinggi pertumbuhannya membuat silau negeri-negeri Dunia Ketiga.

Siapapun mengakui, saat ini Barat sedang bangkit dan menguasai negeri-negeri lain. Terbukti dengan merujuknya kebanyakan Negara-negara di dunia (tidak terkecuali Indonesia) kepada budayanya, sistem pemerintahan dan politiknya, dll. Tapi apakah dengan bangkitnya itu mampu memberikan kesejahteraan ke seluruh wilayah kekuasaannya? Ternyata tidak. Kita dapat melihat bukti-bukti kemunduran terjadi di mana-mana dan di berbagai bidang. Jika kita lebih jeli sedikit, tidak perlu banyak. Apa harga dari kebangkitan semu dengan simbol bernama teknologi dan tumbuhnya ekonomi itu? Masyarakat menjadi workaholic alias gila kerja yang kemudian diikuti dengan depresi dan stres berat. Karena tekanan yang cukup berat ini mereka lari ke bar dan pub untuk mencari hiburan. Mereka akrab dengan minuman alkohol untuk menghilangkan kepenatan.  Di bar dan pub selalu ada wanita penghibur alias pelacur untuk memberi kepuasan sesaat. Rumah tangga? Jangan ditanya. Berapa pernikahan hancur karena asas sekular dan kapitalis yang diterapkan negara kemudian mendarah daging dalam masyarakatnya. Ketika keluarga hancur, bagaimana nasib anak-anaknya? Broken home. Mereka menjadi anak yang kurang kasih sayang dan tumbuh menjadi anak-anak nakal. Bunuh diri menjadi tren tersendiri bagi anak-anak karena hal sepele. Bahkan di negeri ini kita masih belum lupa tragedi anak SD yang mencoba bunuh diri karena tak mampu membayar uang iuran sebesar 2500 rupiah. Lihatlah betapa rentan kondisi psikologis mereka.

Jadi, meniru dasar kebangkitan Eropa, Amerika Serikat dan negara-negara maju di Asia Timur seperti Jepang, Cina dan lainnya, juga bukanlah solusi yang tepat. Mengapa? Benar, negara-negara itu mungkin memang telah bangkit, tapi bila dilihat dari arah perjalanan negara-negara itu yang ditandai oleh hilangnya prinsip-prinsip tauhid dan ketaatan pada Allah SWT yang kemudian melahirkan berbagai problem ikutan yang tidak kalah mengerikan seperti seks bebas, eksploitasi manusia atas manusia yang lain, kesenjangan yang sangat lebar antara kelompok kaya dan miskin, kriminalistas, disorientasi dan sebagainya, menunjukkan bahwa itu bukanlah kebangkitan yang benar.

Berbeda dengan Islam dulu, sulit mencari orang miskin di tengah-tengah daerah yang tak punya SDA sekalipun. Oleh karena hal itu, dapat disimpulkan bahwa kebangkitan AS adalah kebangkitan semu.

Bagaimana agar bangkit hakiki?

Agar suatu negeri dapat bangkit, ia haruslah mempunyai pemikiran mendasar dan menyeluruh yang akan menjadi pondasi/ asas kebangkitannya serta mengupayakan pemikirannya itu tidak ditinggalkan oleh dunia. Hanya dengan cara itulah yang dapat mengantarkan suatu negara pada kebangkitan. Jika suatu negeri tidak mempunyai hal tersebut, maka negeri itu tidak dapat bangkit. Sehingga seiring dengan perjalanan waktu, negeri tersebut akan mengalami kemunduran, atau paling tidak akan selalu diungguli oleh negara-negara lain yang memang mempunyai pondasi pemikiran yang mendasar dan menyeluruh. Terpenuhinya syarat-syarat tersebut memang dapat mengantarkan pada kebangkitan. Namun, harus dipahami bahwa tidak semua kebangkitan merupakan kebangkitan hakiki. Kebangkitan yang benar hanya mungkin dicapai dengan dasar pemikiran mendasar yang benar; dan itu mestilah bersumber dari sesuatu Yang Maha Benar, dialah Allah SWT. Dengan kata lain, bila ingin mencapai kebangkitan yang kokoh dan benar, buat Indonesia tidak ada jalan lain kecuali semestinya kembali kepada Islam. Perlu dicatat, gagasan seperti ini sesungguhnya bukanlah hal baru. Semangat Islam telah lama menjadi dasar perjuangan kemerdekaan di masa lalu. Bila sejarah mencatat secara jujur, sesungguhnya bukanlah Boedi Oetomo yang bisa disebut sebagai cikal bakal kesadaran nasional melawan penjajah, melainkan Syarikat Islam (SI) yang merupakan pengembangan dari Syarikah Dagang Islam (SDI) yang antara lain dipimpin oleh HOS Cokroaminoto. Sebagai gerakan politik, SI ketika itu benar-benar memang bersifat nasional, ditandai dengan eksistensinya di lebih dari 18 wilayah di Indonesia, dan dengan tujuan yang sangat jelas, yakni melawan penjajah Belanda. Sebaliknya, Boedi Oetomo ketika itu sesungguhnya hanya perkumpulan kecil, sangat elitis serta tidak memiliki orientasi politik yang jelas dan tegas. Oleh karena itu, tidak ada jalan bagi Indonesia ke depan untuk bangkit secara hakiki dan benar kecuali dengan dasar Islam. Tanpa dasar Islam, kebangkitan (kembali) Indonesia akan bersifat semu dan salah arah seperti yang selama ini terjadi. Kebangkitan Indonesia dengan Islam diyakini akan membawa rahmat bagi semua. Oleh karena itu, ketakutan sementara kalangan bahwa dengan Islam akan meminggirkan non Muslim tidaklah benar, karena Islam diturunkan untuk kebaikan semua. Jalan menuju kebangkitan Indonesia dengan Islam dilakukan dengan penerapan syariah secara kaffah di segala bidang kehidupan.

Sejarah telah membuktikan: bandingkan!

Gaji guru TK dihargai sebesar 15 dinar (senilai 15 juta rupiah). Pendidikan gratis bagi semua warga negaranya mulai dari level apa pun. Perpustakaan terbuka untuk semua orang, bukan hanya akademisi saja. Ada pemandian dan kolam renang serta disediakan kantin gratis bagi yang rajin ke perpustakaan untuk menimba ilmu. Murid-murid cerdas selevel Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu Taimiyah, al-Khawarizmy pun bermunculan.

Ibnu al-Baitar yang ahli pengobatan dari Spanyol, Ibnu Hayyan Jabir yang ahli kimia modern dan telah menulis 100 buku lebih, Abu Kamil Shuja yang ahli aljabar Islam tertua. Beliau ini juga yang telah menemukan perhitungan akar kuadrat dan persamaannya pada abad 13. Beliau ini juga menulis kitab al-Faihrits yaitu katalog buku tentang matematika dan astrologi. Pada abad 10 bangsa-bangsa Eropa menterjemahkan karya ini dalam bahasanya masing-masing.

Ada juga Abu WafaĆ¢ yang mengembangkan trigonometri (ukur sudut). Beliau juga penemu rumus penting dalam ilmu segitiga. Sin (a+b) = (sin a cos b + sin b cos a) : R yang semula dikira ditemukan oleh Copernicus. Bahkan Paus Silvester II merasa bangga mengakui dirinya menjadi murid orang-orang Islam di Cordoba.

Di bidang perekonomian. BBM, listrik, tambang bumi, dan kekayaan alam lain tidak diperkenankan dimiliki individu atau perusahaan asing. Itu semua menjadi milik umum dan dikelola negara digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Di bidang sosial, kehidupan masyarakat cenderung tenang dan damai karena pancaran ketakwaan di tiap individu mulai level rakyat jelata hingga pejabat negara terlihat jelas. Tidak ada yang kelaparan karena sistem distribusi yang merata dan sifat amanah pada individu pejabat serta hukum Islam yang tegas diberlakukan. Gizi buruk dan busung lapar jauh. Tidak bakal ada yang sekarat karena tak mampu bayar obat. Tak ada juga penggusuran sewenang-wenang tanpa ridho pemilik tanah. Yahudi yang rumahnya dipindah untuk membangun masjid bisa memperoleh haknya tanpa harus menangis-nangis kepada petugas tramtibmas.

Penguasa pun rela memikul bahan makanan untuk rakyatnya, sementara sekarang saling lempar tanggungjawab dan akhirnya tanggung jawab dilempar ke rakyatnya sendiri.

Kesimpulan

Negara kita bisa bangkit jika kita tahu apa saja yang menyebabkan kebangkitan bisa tercapai. Ternyata bukan penguasaan IPTEK atau banyaknya sekolah-sekolah yang didirikan. Tapi meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat akan dirinya sendiri, manusia dan alam sekitar. Kalau ia paham bahwa ternyata ketiga hal tersebut adalah fana, maka ia akan paham bahwa ada yang MahaKekal. Setelah memahami ini, maka kita harus memahami bahwa Yang MahaKekal tidak hanya bisa menciptakan, tapi Ia juga sudah menciptakan seperangkat aturan untuk diterapkan. Karena sifat-Nya yang Maha, maka Ia tahu yang terbaik untuk manusia.

Oleh karena itu, negeri ini tidak akan pernah benar-benar bangkit selama masih mengabaikan Islam dan berbagai syariatnya. Yakin 100%. Karena hanya dengan Islam sebagai ideologi dan sistem yang benar negeri ini dan negeri-negeri lain di dunia ini bisa mencapai kebangkitan hakiki. Kebangkitan yang tanpa meninggalkan persoalan baru. Memecahkan masalah tanpa menciptakan masalah baru.

Oleh : Nur Aida
[ Penulis adalah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syamsul Ma`arif Bontang jurusan Pendidikan Agama Islam ]
Tulisan ini telah dipublikasikan di harian Bontang Post

SUDAH BANGKITKAH INDONESIA ? RENUNGAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA YANG KE 103
RENUNGAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA – BENARKAH INDONESIA SUDAH BANGKIT – INDONESIA BELUM BANGKIT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda