Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Jumat, 19 Agustus 2011

Perjuangan Para Shahabat Nabi Muhammad Saw. Membela Menegakkan Islam Meraih Surga


Pengorbanan Abdullah bin Rawwahah, Ja’far bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah Para Sahabat Rasulullah Saw. – Perjuangan Para Shahabat Nabi Muhammad Saw. Membela Menegakkan Islam Meraih Surga

 
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saudaraku yang mulia:

Ingatlah, ketika Allah SWT berfirman:

Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Siapa saja yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan kami berikan kepadanya pahala yang besar. (Terjemah Makna Quran Surat [4] an-Nisa’: 74)

Allah mendahulukan kematian, sebenarnya untuk menggambarkan perasaan orang Mukmin yang tidak ingin berlama-lama hidup di dunia, dan tidak terlalu cinta kehidupan dunia. Yang mereka inginkan hanyalah kejayaan Islam, atau mati syahid, karena membela agamanya. Bila mereka berangkat berjihad, terbayang di benak mereka salah satu di antara dua kebaikan; kemenangan atau mati syahid, sebab pada hakikatnya mereka tidak ingin berlama-lama hidup di dunia.

Dua pilihan itu selalu diingat dan dipegang oleh generasi terbaik umat ini; hidup mulia dengan kemenangan Islam, atau mati syahid dengan membawa kemuliaan. Adalah Ja’far bin Abi Thalib, saudara sepupu Rasulullah Saw. dengan bait syairnya menyeruak dalam ingatan kita akan kepahlawanan seorang pemuda:

Duhai, betapa dekatnya surga itu;
Sungguh enak, dan sejuk minumannya;
Orang-orang Romawi sudah dekat adzabnya;
Orang-orang Kafir, yang jauh nasabnya.
Jika aku bertemu mereka, kelak akan kuhabisi mereka..

Itulah ucapan Abdullah bin Rawwahah, sahabat agung Rasulullah Saw. yang disampaikan kepada para sahabat, menjelang Perang Mu’tah Ketika tentara yang dikirim Rasulullah ke Mu’tah, yang hanya berjumlah 3000, itu gentar menghadapi 100,000 tentara Romawi:

«ياَ قَوْمُ، وَاللهِ إِنَّ الَّتِيْ تَكْرَهُوْنَ لَلَّتِي خَرَجْتُمْ تَطْلُبُوْنَ الشَّهَادَةَ وَمَا نُقَاتِلُ النَّاسَ بِعَدَدٍ وَلاَ قُوَّةٍ وَلاَ كَثْرَةٍ مَانُقَاتِلُهُمْ إِلاَّ بِهَذَا الدِّيْنِ الَّذِيْ أَكْرَمَنَا بِهِ الله فَانْطَلِقُوْا فَإِنَّماَ هِيَ إحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ: إِمَّا ظُهُوْرٌ وَإِمَّا شَهَادَةٌ» 
Wahai kaumku,
Demi Allah, apa yang kalian benci, yang membuat kalian berangkat, adalah mencari mati syahid. Kita tidak memerangi orang karena jumlah, kekuatan dan banyaknya pasukan. Kita hanya memerangi mereka karena demi agama ini, yang karenanya Allah telah memuliakan kita. Majulah, sesungguhnya di sana ada salah satu di antara dua kebaikan: Kemenangan, atau mati syahid. (Ibn Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah, juz IV, hal. 22)  

Dan lihatlah, apa yang kemudian dilakukan oleh Ja’far bin Abi Thalib, ketika mengambil tampuk kepemimpinan yang ditinggalkan oleh Zaid bin Haritsah, yang terbunuh di medan Perang Mu’tah. kemudian Ja’far bertempur habis-habisan hingga terbunuh. Dia rebut bendera dari tangan Zaid bin Haritsah. Ketika bendera itu dipegang dengan tangan kanannya, tangannya ditebas oleh tentara Romawi hingga putus, maka segera tangan kirinya menyambar bendera itu. Ketika bendera itu dipegang dengan tangan kirinya, tangan kirinya pun tertebas hingga putus, maka segera bendera itu didekap dengan sisa kedua lengannya. Hingga akhirnya, seorang tentara Romawi membelah tubuhnya.

Setelah Ja’far syahid, giliran Abdullah bin Rawwahah mengambil tampuk kepemimpinan Perang Mu’tah itu. Dia pun sempat menghardik dirinya. Dan, cukuplah hardikan itu menjadi peringatan bagi kita:

Wahai jiwaku, aku bersumpah, engkau harus terjun ke medan perang;
Engkau harus terjun ke kancah perang, atau aku harus memaksamu terjun;
Manusia telah berkumpul, dan mengeraskan teriakan,
Namun, mengapa kulihat engkau membenci surga?
Sudah terlalu lama engkau damai di sini,
Padahal, asalmu adalah setetes mani di tempat air..
Wahai jiwaku, jika engkau tidak terbunuh, engkau akan tetap mati;
Inilah kendali kematian yang telah mengenaimu,
Apa yang engkau dambakan telah diberikan kepadamu,
Jika engkau mengerjakan perbuatan dua orang (Zaid bin Haritsah dan Ja’far),
engkau akan dapatkan petunjuk..

Akhirnya, Allah pun memberikan kemuliaan kepadanya, dengan syahadah di medan Perang Mu’tah. Allahu akbar!

Saudaraku yang mulia:

Ketiga sahabat itu pun digambarkan dalam mimpi Rasulullah Saw. mendapatkan surga Allah, dengan singgasana yang terbuat dari emas. “Aku lihat singgasana Abdullah bin Rawwahah miring, dibanding kedua singgasana sahabatnya.” demikian jelas Nabi. Para sahabat pun bertanya keheranan, “Mengapa, singgasana Abdullah bin Rawwahah miring ya Rasulullah?” “Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abu Thalib bertempur tanpa ragu, sedangkan Abdullah bin Rawwahah agak ragu-ragu, kemudian dia pun bertempur.” Begitu kata Nabi. Padahal, sebelum berangkat, saat Abdullah berpamitan dengan Nabi, Abdullah sempat menangis. Ketika ditanya, “Mengapa engkau menangis, wahai Ibn Rawwahah?” dengan terbata-bata, dia menjawab, “Demi Allah, aku menangis bukan karena cinta dunia, atau merindukan kalian. Namun, aku pernah mendengar Rasulullah Saw. menyatakan:

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. (Terjemah Makna Quran Surat [19] Maryam: 71)

Aku tidak tahu, bagaimana nasibku setelah kematian.” Ketika orang-orang Mukmin mendoakannya kembali dengan selamat, justru Abdullah berdoa:
                 
Aku memohon ampunan ar-Rahman,
Semoga (aku) terkena pukulan dahsyat, memuncratkan darah;
Atau tikaman oleh orang-orang yang haus darah,
Dengan tombak, hingga menembus usus dan ulu hati;
Hingga saat orang-orang melawat makamku, mereka pun berkata,
Semoga Allah memberikan petunjuk kepada tentara, dan sungguh ia telah mendapatkannya..
  
SubhanaLlah, itulah gambaran jerih-payah manusia, dan bagaimana balasannya kelak di sisi Allah. Sekalipun sama-sama mendapatkan surga, ternyata satu sama lain, kondisinya berbeda, tergantung tekad, kesungguhan dan amalnya saat di dunia. Lalu bagaimana dengan kita?

Saudaraku yang mulia:

Nabi pun tak kuasa menahan tetesan air mata, saat bertemu isteri dan anak-anak Ja’far ---RadhiyaLlahu ‘anhum. “Bawa ke mari anak-anak Ja’far.” pinta Nabi. “Aku pun membawa anak-anakku ke hadapan Nabi. Beliau mencium mereka satu per satu, dengan air mata berlinang.” tutur isteri Ja’far. “Ya Rasulullah, ayah-ibuku telah menjadi tebusanmu. Mengapa engkau menangis? Apakah engkau telah mendapat informasi tentang Ja’far dan para sahabat-sahabatnya?” tanya isteri Ja’far. Nabi pun menjawab, “Hari ini, mereka telah gugur.” Setelah itu, Nabi pun menyampaikan kepada para sahabat, “Kalian jangan lupa memasak makanan untuk keluarga Ja’far, sebab mereka sedih karena kematian Ja’far.” Itulah bentuk perhatian seorang pemimpin agung kepada para sahabat dan keluarga mereka.

Maka, pantas jika mereka pun sanggup mengorbankan apa saja yang mereka miliki demi menjaga dan melindungi pemimpin mereka, yang lahir dari mahabbah. Lihatlah, apa yang telah dilakukan oleh Abu Dujanah saat Perang Uhud. Dia menjadi tameng hidup Rasulullah, sekalipun punggungnya menjadi sasaran anak panah. Abu Dujanah pun bahagia, selama anak panah itu tidak mengenai tubuh suci Rasul yang agung itu. Dalam ungkapannya, Abu Dujanah menyatakan:

« نَفْسِيْ دُوْنَ نَفْسِكَ فِدَاءً يَا رَسُوْلَ اللهِ»

“Diriku tidak sama dengan dirimu. Aku telah jadikan diriku tebusan untukmu, ya Rasulullah!”   

Dengan begitu mereka akan sanggup memberikan pengorbanan apa saja yang diminta oleh pemimpinnya demi membela agama mereka. Dengan perlengkapan seadanya, mereka sanggup mengerjakan parit panjang ketika Perang Khandak. SubahaLlah.

Saudaraku:

Masihkah tersisa orang-orang seperti Zaid bin Haritsah, Ja’far, Abdullah bin Rawwahah, dan Abu Dujanah di tengah-tengah kita? Inilah saatnya kita meraih kemuliaan itu, dengan memberikan pengorbanan tertinggi yang kita miliki demi ‘izzi al-Islam wa al-Muslimin.

Wassalam

Saudaramu,
8 Dzulhijjah 1427 H
28/12/2006 M

Pengorbanan Abdullah bin Rawwahah, Ja’far bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah Para Sahabat Rasulullah Saw. – Perjuangan Para Shahabat Nabi Muhammad Saw. Membela Menegakkan Islam Meraih Surga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam