Senin, 22 Oktober 2012

Ancaman Islam Terhadap Imperialisme

Ancaman Islam Terhadap Imperialisme







Download Buku Seruan Perjuangan Umat Islam Untuk Memimpin Dunia

Organisasi kami (hizbut tahrir) telah tumbuh dalam kekuatan jumlah dan pengaruh selama 60 tahun, dengan tujuan jelas, tidak pernah menyimpang dari metode intelektual dan politik. Ide-ide Islam yang kami adopsi telah semakin detail dan terbangun selama puluhan tahun. Selama 12 bulan terakhir saja, Hizbut Tahrir telah menyebarkan berbagai tulisan, buku, seminar dan konferensi mengenai Krisis Finansial Global dan model ekonomi alternatif Islam; Hizbut Tahrir di Denmark, mempublikasikan makalah mengenai Copenhagen Summit tentang perubahan iklim - yang didistribusikan di konferensi itu (Hizbut Tahrir tidak dilarang di Denmark, telaah di Juni 2008 menyimpulkan untuk kedua kalinya dalam 4 tahun tidak terdapat dasar untuk pelarangan); Hizbut Tahrir di Indonesia mengadakan konferensi 6000 ulama Islam internasional di Indonesia setelah konferensi 2007 oleh Hizbut Tahrir Indonesia dengan peserta lebih dari 100.000.

Selama puluhan tahun, dunia Muslim telah berpindah dari pandangan skeptis mengenai tujuan kami (membangkitkan Islam sebagai dasar kehidupan politik dan mendirikan kembali Khilafah) ke pandangan positif yang didukung lebih dari 70% populasi menurut beberapa polling.

Tidak ada 'ancaman' dari Hizbut Tahrir terhadap kehidupan ataupun anggota badan. Para pemerintah kolonial Barat tahu hal ini dengan baik. Tapi dilema yang mereka hadapi adalah 'ancaman' bagi kelangsungan politik rezim-rezim antek di dunia Muslim yang mendahulukan kepentingan kolonial dan korporat Barat daripada kepentingan Islam dan umat Islam. Jika misi Hizbut Tahrir untuk memenangkan opini publik dan dukungan para tokoh di negeri-negeri Muslim berhasil, para "kacung otoriter" itu akan tergusur digantikan dengan sistem Islam, yang sepenuhnya akuntabel dan di mana kekuasaan adalah milik rakyat.

Ancaman lain yang mereka pikirkan adalah bahwa Hizbut Tahrir memperlihatkan dampak-dampak kerusakan jalan hidup sekular kapitalis dan membeberkan kebijakan kolonial yang melukai Islam dan kaum Muslim. Hal ini bisa merugikan kepentingan para pemerintah, tapi saya berargumen bahwa hal ini seperti menghilangkan ego dengan cermin yang merefeksikan gambaran yang buruk, tapi nyata.

Model yang kami gali dari ajaran Islam menawarkan kestabilan yang sangat dibutuhkan dunia Muslim; sementara kebijakan Inggris, Amerika dan para sekutunya adalah penyebab dan terus menggulirkan kekacauan dan keguncangan. Perjanjian Sykes-Picot, penghapusan Khilafah dan pencaplokan Palestina menusuk hati dan pusat dunia Muslim. Maka, perkara-perkara menjadi rusak dan 'anarki merajalela di dunia' karena dunia Muslim tidak lagi memiliki 'pusatnya'. Adalah 'pusat' ini yang kita berusaha dirikan kembali, karena Islam mewajibkan dan ini adalah prioritas terbesar seluruh umat Islam; dan ini memang 'mengancam' kolonialisme.

Ketika umat Islam berjuang untuk tujuan ini, para pemerintah dan pemikir Barat dengan sangat mudah melabeli kita sebagai 'ekstrimis' atau menghubungkan dengan 'terorisme' secara bohong. Namun, adalah ironi bahwa suatu ketika George Washington pernah dilabeli teroris oleh penguasa Inggris, karena dia berjuang untuk membebaskan orang-orang Amerika dari kekuasaan kolonial Inggris berdasarkan keyakinannya dalam Declaration of Independence. Dan ketika ingat bahwa seorang Inggris bernama Thomas Paine menginspirasi para pendiri Amerika, dengan pamflet provokatif yang disebut 'Common Sense' di 1776, mereka saat ini tidak mendeskripsikan dia sebagai perantara untuk memproduksi teroris, tidak juga ide-ide yang memotivasi mereka itu disebut 'ekstrim'!

Hizbut Tahrir dipengaruhi oleh Islam semata; senjata kami tidak lain adalah ide dan kata-kata; tujuan kami adalah pembebasan dunia Muslim dari kolonialisme dan penegakkan kembali Khilafah sehingga masyarakat bisa hidup dalam keamanan dan keadilan Islam dan kami sejujurnya yakin bahwa dukungan bagi sasaran ini akan tumbuh semakin kuat.

... Seharusnya tidak dibingungkan dengan yang tampaknya kontradiksi mengenai dukungan mayoritas untuk Khilafah maupun untuk sistem politik "demokratis". Hal ini karena kebanyakan umat Islam memandang istilah "demokrasi" sebagai istilah generik untuk kewajiban rakyat memilih dan meminta tanggung jawab pemerintah mereka - sesuatu yang Islam telah gariskan sekitar satu milenium sebelum negara sekular modern mengadopsi hal ini. Maka itu seharusnya tidak dianggap sebagai suatu bentuk dukungan terhadap demokrasi liberal yang dipraktekkan di Eropa Barat atau Amerika Utara karena sistem Islam berbeda secara mendasar dengan demokrasi dalam hal bahwa Syariah adalah sumber legislasinya. Hal ini, tentu, berbeda dengan ideal demokrasi, yang menyatakan bahwa pemerintah harus oleh 'rakyat' (saya katakan ideal karena kenyataannya sistem demokrasi adalah oligarki di mana hanya segelintir kaum kaya dan berkuasa yang sebenarnya mempengaruhi legislasi).

Hal ini ditemui dalam polling yang lain yang dilakukan di Pakistan tahun 2008 yang mengilustrasikan dukungan terhadap peran Islam yang lebih besar dalam kehidupan politik maupun terhadap 'demokrasi'. Dalam polling ini pertanyaan 'demokrasi' yang ditanyakan menunjuk khususnya pada "diperintah oleh para wakil yang dipilih oleh rakyat".

Sistem Islam adalah sistem di mana rakyat memilih pemimpinnya dan bisa menyingkirkan pemimpin itu jika dia melanggar kontrak bai'at. Selain itu, akuntabilitas oleh rakyat tidak hanya merupakan hak tapi juga sebuah kewajiban warga. Hal ini bisa dilakukan oleh individu, kelompok atau partai politik, atau melalui banyak cara lain - Masjid, media, atau tuntutan hukum. Selain itu, kami merancang adanya kembali sebuah institusi Islam (Mahkamah Mazalim), yang merupakan cabang dari Peradilan, yang peran satu-satunya adalah mengawasi pemimpin dan menjembatani keluhan oleh warga terhadap pemimpin.

Selain itu, dalam Negara Islam para warga non-Muslim diberi ruang dan penghormatan untuk mempraktekkan agama mereka sendiri. Jadi pernyataan dalam polling oleh Maryland University bahwa 'orang agama apapun harus bebas beribadah menurut agamanya sendiri' sepenuhnya sesuai dengan sistem yang diusung Hizbut Tahrir.

Namun, adalah lelucon bahwa (orang Barat) berbicara (pada Umat Islam) mengenai pemilihan bebas atau kedaulatan ketika hal seperti itu tidak ada di dunia Muslim sejak penghancuran Khilafah Utsmani. Tidak ada 'kedaulatan' yang hilang (karena tidak pernah ada sejak Khilafah tiada)! Sejumlah besar pasukan langsung menduduki Afghanistan, Iraq, Kuwait, Qatar, dsb. Di Pakistan, Amerika Serikat telah mengebom target-target di negeri itu dan jaringan keamanan Amerika memiliki kekuasaan bebas berkebalikan dengan keinginan populasi Pakistan.

Pemilu utamanya adalah usaha manipulatif untuk melegitimasi para diktator seperti Mubarak dan Karimov; atau diadakan dengan kerangka rancangan di mana daftar kandidat telah disetujui sebelumnya, seperti di iraq; atau campuran keduanya seperti dalam sirkus paling baru di Afghanistan.

Hizbut Tahrir tidak pernah mengklaim bahwa ia adalah satu-satunya wakil Umat Muslim. Tapi adalah fakta bahwa kami mewakili tren besar dalam Umat Islam mengenai aspirasi kesatuan Dunia Muslim, pembebasan tanah Muslim yang terjajah, penerapan Syariah dan penegakkan Khilafah.

... Waktunya telah tiba bagi para pemerintah Barat untuk menerima bahwa orang lain ingin hidup sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip mereka sendiri, dan mengakhiri campur tangan mereka yang telah menyebabkan kekacauan dan kesengsaraan tak terkira.

Kami tidak malu untuk mengguncang sistem yang ada ketika mendiskusikan konflik ideologi. Kritik kami sepenuhnya berlegitimasi dengan puluhan tahun menyaksikan usaha gagal (Barat) untuk menimpakan sistem demokrasi di dunia Muslim, melalui kekuatan langsung maupun campur tangan kolonial.

Abdul Wahid
Chairman, UK Executive Committee
Hizbut Tahrir

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda