Kamis, 07 Juli 2011

Sikap dan Pola Pikir Arab Baru adalah Peringatan Berbahaya bagi Barat

Sikap dan Pola Pikir Arab Baru adalah Peringatan Berbahaya bagi Barat


Seiring debat-debat dunia tentang berbagai sisi demonstrasi di Arab – baik revolusi itu akan menghasilkan tatanan politik baru atau tidak – sangat sedikit hal yang telah dibicarakan tentang sikap dan pola pikir Arab.

Ya, orang Arab telah tumbuh menjadi tidak takut melawan rezim-rezim tiran, tapi ini bukanlah deskripsi akurat tentang kondisi psikologis mereka, bukanlah pola pikir mereka. Proses berpikir orang Arab telah mengalami perubahan transformatif massif dan sedang dengan cepat mencapai tingkat kematangan intelektual yang cenderung menghasilkan efek meningkat.

Pertimbangkan tentang kegairahan yang disambut dengan pengenyahan Ben Ali dari Tunisia, atau pengepungan Hosni Mubarak di Mesir. Awalnya, orang Arab menyimpulkan bahwa ini akhirnya menghasilkan perubahan permanen; yang berbeda dari sistem-sistem otokratik dan hukum-hukum drakonian hari ini.

Malah, dalam beberapa bulan, orang-orang Mesir belajar bahwa rezim itu tidak hanya bertahan hidup, tapi malah diberi tambahan nyawa melalui kudeta militer. Perjanjian damai dengan entitas yahudi – yang ditolak mayoritas rakyat Mesir – tetap terpasang kuat. Pihak militer – yang tadinya adalah kekuatan revolusi, berubah dari pahlawan menjadi pengkhianat dalam semalam.

Penyiksaan, pemenjaraan tanpa persidangan, penculikan oleh pasukan keamanan, pembunuhan lintas negara, dan konflik sektarian – yang banyak terjadi di bawah Mubarak – kembali menghantui rakyat Mesir dengan gairah baru. Para didikan Barat yang subur di sisi lain dan ditawarkan sebagai alternatif terhadap status quo dengan cepat ditolak oleh massa. Para Islamis (di parlemen), yang tadinya didorong oleh keikhlasan iman sekarang dicerca karena menjadi lebih sekular daripada para sekularis! Bahkan antusiasme publik untuk reformasi konstitusional dan pemilihan presidensial telah buyar.

Pengalaman di Tunisia juga mirip. Dengan memperhatikan itu semua, hal yang sama juga bisa dikatakan untuk Maroko, Algeria, Libya, Jordan, Syria dan beberapa negara GCC. Kisah sebelum dan sesudah demonstrasi, tetap tidak berubah bagi orang-orang Arab. Bagi mereka, dunia Arab dikuasai oleh para elit pro-Barat yang lebih tertarik melanggengkan berbagai kepentingan kolonial Barat daripada pembebasan massa Arab dari tirani.

Sekarang ini, tampaknya usaha Barat apapun untuk mendalangi perubahan di negeri-negeri Arab dengan seketika ditolak dan dibuang. Pikiran Arab yang sebelumnya tidaklah bangun, sekarang sedang dengan cepat memproduksi hasil-hasil yang berkebalikan dengan ketahanan Barat dan keprimitifan Timur Tengah.

Kurva pembelajaran, yang terdiri dari penginderaan realitas, pemikiran dan penyimpulan, tidak lagi terlalu curam bagi massa Arab untuk didaki. Jadi bagaimana pikiran Arab telah berubah?

Bisa dinyatakan bahwa selama 80 tahun aneh yang lalu, luas dan kedalaman masalah yang dihadapi orang Arab telah tumbuh dalam kekuatannya dan cakupannya: penghancuran Khilafah di 1924, penjajahan Barat terhadap tanah-tanah Muslim, pendirian entitas yahudi di 1948, Perang Teluk berkelanjutan, perang melawan teror dan penjajahan kembali secara fisik tanah-tanah Arab, semua telah mewariskan kesan tak terlupakan di pikiran Arab. Perasaan mendalam penghinaan, pelecehan dan pelanggaran nilai-nilai Islam mendorong banyak orang Arab untuk berpikir serius tentang perasaan itu. Namun, Barat melalui para antek Arab dan kacungnya di dunia Arab menyuapi massa dengan pakan rusak pemikiran Barat untuk membingungkan dan menjaga orang-orang Arab dari mendapatkan kesimpulan yang tepat tentang peristiwa yang mereka alami. 

Akhirnya, proses berpikirnya atau siklus berpikirnya – perasaan tentang masalah-masalahnya, yang kemudian membutuhkan penghubungan dan pemahaman, yang lalu diikuti dengan penyimpulan – dipatahkan, atau dibengkokkan, ke arah interpretasi yang diinginkan Barat. Bagi banyak orang Arab, ini menghasilkan kelumpuhan intelektual dan stagnasi masyarakat Arab. Terpisahkan dari perasaan alami mereka, orang-orang Arab tidak mampu memproduksi solusi-solusi buatan sendiri untuk berbagai masalah yang mereka hadapi, dan dipaksa untuk mengimpor bermacam solusi dan ide. Maka proses berpikirnya secara temporer terganggu. Apa yang mengkomplikasi situasinya lebih lanjut, adalah pengadopsian solusi-solusi Barat. Bermacam solusi semacam itu jarang memecahkan masalah tapi lebih dalam mengkomplikasi dan kadang memperpanjangnya, seiring itu semua sering di-’copy and paste’ tanpa pemahaman sesungguhnya mengenai asal-usulnya dan motif-motifnya. Ini membuat orang-orang Arab yang tak berdaya lebih bergantung kepada Barat untuk mengatasi kumpulan bermacam masalah yang terus meningkat.

Dengan cara ini, Barat mampu menjaga benteng intelektualnya atas orang Arab dan dunia Muslim lebih luas selama bertahun-tahun. Hanya sedikit Muslim yang berusaha menghancurkan dominasi intelektual Barat dan mengekspos kesalahan ideologinya Barat. Namun, mayoritas orang tetap statis, dan ditenggelamkan ke dalam jurang kesuraman dan keputusasaan.

Hari ini, tidak lagi tampak seperti itu lagi situasinya. Proses berpikir Arab tidak lagi terfragmentasi dan terputus dari lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, itu sekarang terang, menyentuh lingkungannya, dan merasa lega dengan mengambil solusi dari warisan Islami-nya yang kaya. Waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar memahami berbagai peristiwa tampak lebih pendek dan kesimpulan-kesimpulannya lebih sering diakarkan dari pemikiran-pemikiran Islam. Berbagai pemikiran dan pandangan Barat sekarang secara rutin dibuang. Di tempatnya itu saat ini menjadi konstelasi baru konsep-konsep dan nilai-nilai Islam. Konsep Khilafah (Caliphate), jihad, politik Islam, persatuan, Syari’ah dan seorang Khalifah (pemimpin tunggal Arab dan dunia Muslim) sangatlah kentara sekarang, sehingga adalah umum untuk melihat istilah-istilah itu dimasukkan ke dalam kamus Barat untuk menginterpretasi kejadian-kejadian di dunia Muslim.

Ringkasnya, pola pikir orang Arab sekarang merupakan inspirasi untuk peningkatan intelektual Umat Muslim keseluruhan. Hanyalah masalah waktu sebelum kebangkitan intelektual Umat menghasilkan kesimpulan politik (Khilafah) yang mengakhiri dominasi Barat atas tanah-tanah Muslim.
21 Juni 2011
Abid Mustafa

Sikap dan pola pikir Arab yang Baru adalah Peringatan Berbahaya bagi Barat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda