Minggu, 03 Februari 2013

Meraih Petunjuk dan Menjauhi Kesesatan

Meraih Petunjuk dan Menjauhi Kesesatan



PETUNJUK DAN KESESATAN

    Secara literal/bahasa, al-huda bermakna al-irsyad (tuntunan) dan dalaalah (penunjuk). Bila dikatakan, hadaahu li al-diin (Dia memberinya petunjuk kepada agama), maksudnya adalah, Dia memberinya petunjuk, dan hadaituhu al-thariq wa al-bait hidaayat 'arraftuhu" (Aku memberinya jalan dan tempat kembali  sebagai petunjuk, aku memberitahu kepadanya). Al-dholaalah (kesesatan) adalah lawan dari al-irsyad.

    Menurut terminologi syara', al-huda bermakna, “Petunjuk menuju Islam dan beriman kepada Islam. Al-dholal (sesat) menurut pengertian syara', bermakna, “Berpaling dari Islam” [al-inhiraaf ‘an al-Islaam].  Definisi ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW, "Umatku tidak bersepakat dalam kesesatan (dholalah)".

    Allah SWT menciptakan surga bagi muhtadin dan menyediakan neraka bagi orang-orang yang sesat. Allah memberikan pahala bagi muhtadin (orang yang mendapat petunjuk) dan mengadzab orang yang sesat. Adanya pahala dan siksa bagi muhtadin dan dhaalin menunjukkan, bahwa hidayah dan dholalah merupakan akibat langsung dari perbuatan manusia. Namun dalam hal rahasia penciptaan, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta menciptakan apa yang Dia kehendaki. Maka menurut rahasia penciptaan oleh Allah SWT yang telah diberitahukan kepada kita, petunjuk dan kesesatan itu adalah dari Allah secara langsung. Adanya pahala dan siksa bagi muhtadin dan dhoolin adalah ketentuan dari Allah SWT karena secara riil manusia itu sendirilah yang memilih dan berbuat. Ilmu Allah dan Kehendak Allah untuk menciptakan orang yang sesat dan menghukumnya tidak bisa diartikan ada kedzaliman pada Allah swt. [Karena hidayah dan dholalah adalah sesuai dengan pilihan dan perbuatan mahluk manusia itu sendiri, maka adanya siksa Allah bagi orang-orang yang sesat bukanlah tindak kedzaliman. Sebab, kenyataannya orang yang diadzab memang memilih sesat dan tidak mau menuju pada hidayah. Manusia sesat itu kenyataannya memang dzalim, fasik, atau kafir sehingga harus dihukum. Maka, Allah tidak berbuat dzalim.]

firman Allah, artinya,

    "Dan tidaklah Tuhanmu mendzolimi hambanya." (As-sajadah:41).

    " Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku". (Al-qaaf:29)

    Benar, ada beberapa ayat yang menunjukkan bahwa nisbah hidayah dan dholalah itu datangnya dari Allah SWT. Ayat-ayat semacam ini menunjukkan, bahwa hidayah dan dholalah bukan akibat langsung dari perbuatan hamba, namun datang dari Allah SWT. Sementara, ada ayat-ayat lain yang maknanya tampak berseberangan dengan makna yang ditunjukkan ayat-ayat semacam ini. Di dalam al-Quran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa nisbah hidayah dan dholalah itu datangnya dari seorang hamba.

    Lalu, bagaimana kita memahami ayat-ayat yang tampaknya bertentangan tersebut? Untuk melihat dengan jelas, dua kelompok ayat tersebut harus dipahami dengan pemahaman syar’iy.

    Ada sekelompok ayat yang menisbahkan hidayah dan dhalalah kepada Allah swt. Sekelompok ayat yang lain menisbahkan hidayah dan dhalalah kepada manusia, bukan kepada Allah swt.

    Berikut ini kami ketengahkan beberapa ayat yang menisbahkan hidayah dan dholalah kepada Allah. Ayat-ayat ini menunjukkan makna yang sangat jelas, bahwa Allah swt semata yang memberi hidayah dan dholalah. Allah swt berfirman, artinya:

     "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki dan menunjuki kepada siapa yang bertaubat." (Ar-ra'du:27).

    "Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki dan menunjuki siapa yang dikehendaki." (Al-fathir :8).

    "Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki dan menunjuki siapa yang dikehendaki." (Al-Ibrahim:4).

    "Akan tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki dan menunjuki siapa yang dikehendaki". (al-Nahl:93)

    "Barangsiapa dikehendaki Allah mendapat untuk ditunjukki maka akan dipermudah dadanya kepada Islam, dan barangsiapa dikehendaki untuk disesatkan maka Allah menjadikan dadanya sempit dan ragu , seakan akan naik ke atas langit." (Al-Nisaa':60).

    "Siapa yang dikehendaki Allah tersesat maka sesatlah ia, dan barangsiapa dikehendaki mendapat hidayah maka disediakan bagi mereka jalan yang lurus." (Al-An'am:39).

    "Allah-lah yang bisa memberi kebenaran." (Yunus :35).

    "Mereka mengucapkan, "Alhamdulillah kita telah dipimpin-Nya ke surga ini. Kalau sekiranya Tuhan tidak berkenan memberikan hidayah-Nya, tentu kita tidak akan terpimpin." (Al-A'raf :43).

    " Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." (Al-Kahfi:17).

    "Engkau tidak bisa memberi petunjuk orng yang kau senangi, tetapi Tuhanlah yang akan memberi petunjuk kepada orang yang dihekendaki-Nya." (Al-Qashash: 56).

    Manthuq (pengertian tekstual) ayat-ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa yang memberikan hidayah dan dholalah adalah Allah SWT, bukan manusia. Ayat-ayat di atas memberi makna bahwa manusia tidak memiliki andil sama sekali dalam meraih hidayah dan dholalah. Artinya, seorang hamba tidak bisa menunjuki dirinya sendiri kecuali jika mendapatkan petunjuk dari Allah. Begitu juga sebaliknya, seorang hamba tidak akan tersesat jika tidak disesatkan Allah swt. Kelompok ayat-ayat ini adalah ayat-ayat yang menjelaskan mengenai rahasia penciptaan oleh Allah Swt. Dan perbuatan Allah Swt. sama sekali tidak bisa diperkarakan. Sebab Allah adalah Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Allah tidak ditanya mengenai perbuatanNya. Sedangkan yang ditanya adalah mengenai perbuatan manusia.

    Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa nisbah hidayah dan dholalah adalah kepada Allah – yang ditunjukkan oleh kelompok ayat pertama - adalah nisbah secara langsung, bukan sekedar nisbah penciptaan hidayah dan kesesatan saja. Artinya, Allah swt semata yang menciptakan hidayah dan dholalah dan memberikannya pada siapapun yang Dia kehendaki.

Kelompok ayat-ayat yang menisbahkan hidayah dan dholalah kepada hamba adalah sebagai berikut:

Allah swt berfirman,artinya,

    "Katakanlah hai manusia, sudahkah sampai kepadamu kebenaran dari Tuhanmu? Barangsiapa berjalan menurut petunjuk dari Allah maka keuntungan hidayah itu untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa mengambil jalan sesat, maka akibatnya harus ditanggung sendiri. Sebab bukanlah aku menjadi pemelihara bagi dirimu sekalian." (Yunus :108)

    " Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu sendiri! Orang yang tersesat tidak akan dapat membahayakan dirimu bila kamu sudah mendapat hidayah dari Allah. Kelak kamu semua akan kembali kepada Allah.Kelak akan diterangkan kepada kamu segala amal perbuatanmu." (Al-Maidah: 105)

    "Siapa yang mendapatkan petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri." (al-Zumar:41)

    "..dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (al-Baqarah:157)

    "Dan orang-orang kafir berkata, "Ya Tuhan kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jin dan manusia." (Fushilat:29)

    "Katakanlah, "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri." (Saba':50)

    "Maka siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?" (al-An'am:144)

    "Ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau.." (Yunus:88)

    "Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa." (al-Syu'araa':99)

    "..dan mereka telah disesatkan oleh Samiri" (Thaha:85)

    "..Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami.." (al-A'raaf:38)

    "Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadari." (Ali Imran:69)

    "Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu.." (Nuh:27)

    "..bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke adzab neraka." (al-Hajj:4)

    "Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka (dengan penyesatan) yang sejauh-jauhnya." (al-Nisaa':60)

    Makna tekstual (manthuq) ayat-ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah subyek langsung dari hidayah dan dholalah. Manusia bisa menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain. Tidak hanya manusia, setan pun juga bisa menyesatkan manusia. Berdasarkan kelompok ayat ini, kita bisa menyimpulkan bahwa nisbah hidayah dan dhalalah disandarkan juga kepada manusia dan setan. Artinya, manusia mendapatkan petunjuk atau kesesatan karena dirinya sendiri, bukan semata-mata akibat langsung dari ‘Perbuatan’ Allah swt.

    Jika anda membandingkan kelompok ayat pertama dengan kelompok ayat kedua, kemudian memahaminya dengan pemahaman tasyri'iy , maka anda akan melihat dengan sangat jelas, adanya dua perkara berbeda yang sedang dijelaskan. Perkara pertama adalah perkara menyangkut rahasia penciptaan oleh Allah Swt. Dan perkara kedua adalah perkara menyangkut perbuatan manusia sebagai makhluk yang memiliki sunnatullah memiliki kebebasan dalam memilih dan berbuat.

    Kelompok ayat pertama menyebutkan, "Allahlah yang menunjuki kepada yang benar.." (Yunus:35), ayat yang lain menyatakan, "Barangsiapa ingin mendapat petunjuk maka dia menunjukki dirinya sendiri" (Yunus:108). Bila dipahami secara sekilas, dua ayat itu seakan-akan bertentangan. Bila kedua kelompok ayat itu dipahami, maka kedua ayat itu masing-masing menjelaskan perkara yang berbeda. Pengertian kelompok ayat yang pertama tidak bisa diartikan bahwa Allah menciptakan kecenderungan (qabiliyyah) saja untuk memperoleh hidayah dan kesesatan pada diri manusia. Namun pengertian yang benar adalah bahwa dalam penciptaan, Allah menunjuki siapa saja yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki. Allah tidak bersekutu dalam hal penciptaan. Maka kelompok ayat pertama menjelaskan perkara penciptaan oleh Yang Maha Kuasa.

Kelompok ayat kedua menunjukkan bahwa manusia bebas memilih dan berbuat sesuai petunjuk atau kesesatan. Kelompok ayat kedua ini menjelaskan perkara perbuatan dan pilihan oleh manusia. Sehingga terdapat pahala dan dosa serta balasannya dalam hal pilihan dan perbuatan manusia.

    Allah swt telah berfirman di dalam ayat yang lain, "Telah kami beri petunjuk manusia dua jalan." (al-Balad:10). Ayat ini memiliki pengertian, bahwa Allah telah menunjukkan jalan yang benar untuk dipilih oleh manusia. Dan selain jalan yang benar itu adalah jalan-jalan yang salah dan sesat sehingga manusia harus menjauhinya.

Maka adanya hisab dari Allah swt atas orang yang memilih petunjuk dan orang yang memilih kesesatan adalah ketentuan Allah. Allah swt memberi pahala kepada muhtadi (orang yang memperoleh petunjuk), dan mengadzab al-dhaal (orang yang sesat), serta menetapkan hisab atas perbuatan-perbuatan manusia. Allah swt berfirman artinya,

    ,"Barangsiapa yang mengerjakan amal yang sholeh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri, dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba(Nya)." (Fushilat:46).

    "Barangsiapa berbuat kebaikan sebesar biji dzarrah akan dibalas, dan barangsiapa berbuat kejelekan sebesar biji dzarrah akan dibalas pula". (al-Zalzalah:7-8).

    "Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang sholeh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya," (Thaha:112)

    "Allah mengancam orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya." (Taubah:68)

    Allah swt adalah subyek langsung bagi hidayah dan dholalah tanpa ada peran serta dari manusia dalam hal penciptaan, maka siksa Allah bagi orang kafir, munafiq, ma'shiyyat bukanlah tindak kedzaliman dari Allah swt. Maha Suci Allah dari hal itu. Hidayah dan dhalalah merupakan akibat langsung dari “Penciptaan oleh Allah”. Adanya siksa bagi orang sesat bukanlah merupakan kedzaliman, karena ketersesatannya adalah andil dan perbuatan dirinya sendiri. Allah Swt. tidak dipersalahkan atas apa yang Dia tetapkan dan ciptakan. Sementara, manusia yang sesat itu sendirilah yang bersalah karena dia tidak memilih dan mengikuti petunjuk yang telah Allah Swt. turunkan.

Atas dasar ini, manusia akan dihisab atas pilihannya sendiri. Bila ia memilih hidayah, dia akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, jika ia memilih dholalah, dirinya akan mendapat siksa dari Allah swt.

Tidak bisa dikatakan bahwa manusia itu dipaksa oleh Allah Swt. karena adanya kekuasaan dan kehendak Allah Swt. Tidak bisa dikatakan demikian. Allah Swt. menciptakan segala sesuatu dalam penciptaannya tanpa andil dari manusia sedikitpun. Manusia tidak tahu mengenai masa depan dan ilmu Allah Swt. Jelas, manusia adalah mahluk yang memilih dan bertindak berdasarkan pikirannya sendiri. Maka apapun perbuatan manusia akan ditimbang dan diberi balasan.

Allah Swt. berkuasa apapun dalam penciptaanNya. Allah Swt. menciptakan dan mengadakan apapun yang Dia kehendaki. Dan Allah Swt. tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia adakan. Allah tidak diminta tanggung jawab tentang siapa yang Dia beri petunjuk dan siapa yang Dia sesatkan. Inilah keadilan. Allah adalah Pencipta Segala Sesuatu dan Maha Berkehendak yang telah menentukan segala sesuatu. Manusia adalah mahluk yang memiliki sunatullah bebas memilih dan berbuat sesuai petunjuk atau kesesatan dan akan diminta tanggung jawab atas perbuatannya. Inilah keadilan.

Allah swt berfirman, artinya,

    "Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang pedih." (al-Baqarah:6-7)

    "Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.." (Al-Muthaffifin:14)

    " Dan telah diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kalian bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan." (al-Huud:36)

    Ayat-ayat ini merupakan informasi dari Allah kepada para Nabi-Nya, bahwasanya ada sekelompok khusus manusia yang tidak akan pernah beriman. Ketentuan semacam ini termasuk di dalam Ilmu Allah. Dalam Ilmu Allah dan rahasia penciptaan, Allah Swt. telah menetapkan segala sesuatu. Namun, manusia yang ada tidak tahu ilmu Allah dan apa-apa ketetapan Allah mengenai masa depan kecuali jika ada wahyu mengenai hal itu. Manusia bisa memilih dan berusaha. Sehingga manusia dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Seluruh manusia diciptakan memiliki potensi untuk beriman. Rasul, dan para pengemban dakwah, diseru untuk mendakwahkan keimanan kepada seluruh manusia. Seorang muslim tidak boleh berputus asa terhadap keimanan seseorang.  Adapun orang yang disebutkan di dalam ilmu Allah, bahwa ia  tidak akan beriman, Allah telah mengetahuinya, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Dan manusia mampu bebas memilih dan berbuat berdasarkan akalnya. Bukan berdasarkan ilmu Allah karena manusia tidak tahu ilmu Allah. Selama Allah tidak mengabarkan kepada kita apa yang Dia ketahui, maka kita tidak boleh menghakimi siapapun bahwa seseorang itu tidak akan mungkin menerima petunjuk. Para nabi pun tidak menghakimi seseorang tidak akan menerima petunjuk kecuali setelah Allah mengkabarkan kepada mereka.

Allah SWT berfirman,

    " Dan Allah tidak menunjuki kaum yang fasiq" (al-Shaff:5)

    "Allah tidak menunjuki kaum yang dzolim" (al-Shaff:7)

    "Allah tidak menunjuki kaum yang kafir". (al-Baqarah:264)

    "Jika kamu mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang disesatkanNya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong." (al-Nahl:37)

    Pada ayat-ayat ini digambarkan, bahwa orang-orang dzalim, fasiq, dan lainnya tidak pernah diberi petunjuk Allah swt. Sebab, Allah swt tidak memberi taufiq hidayah kepada orang-orang tersebut. Taufiq hidayah berasal dari Allah SWT. Orang kafir, fasiq, dzolim, sesat, dan pendusta memiliki sifat yang bertentangan, bahkan menafikan taufiq hidayah. Allah swt tidak akan memberi taufiq hidayah, kepada orang yang memiliki sifat-sifat seperti itu. Ini didasarkan pada satu kenyataan bahwa, taufiq hidayah merupakan sebab datangnya hidayah kepada manusia. Sedangan sifat-sifat fasiq, kafir, dzalim, pendusta merupakan sifat yang bisa menutup taufiq hidayah Allah swt. Barangsiapa disifati dengan sifat-sifat tersebut di atas, maka sebab hidayah tidak akan datang kepadanya.

    Ayat terakhir yang perlu kita bahas adalah ayat berikut ini;
"Tunjukilah kami ke jalan yang lurus" (al-Fatihah:6), "Tunjukkilah kami kepada jalan yang lurus." (Shaad:22)

Makna ayat ini adalah, “Berilah kami taufiq, agar kami mendapat petunjuk, atau mudahkan bagi kami sebab-sebab  menuju hidayah”. Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk selalu memohon kepada Allah swt, agar kita diberi taufiq oleh Allah swt. Sebab, taufiq itu datangnya dari Allah, sedangkan taufiq merupakan sebab datangnya hidayah dari Allah swt.

Meraih Petunjuk dan Menjauhi Kesesatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda