Kamis, 17 Maret 2016

Islam tak akan tegak tanpa kekuasaan


 


Imam Ibnu Taimiyah (w. 728 H) juga berkata:
(يَجِبُ أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ وِلاَيَةَ أَمْرِ النَّاسِ مِنْ أَعْظَمِ وَاجِبَاتِ الدِّيْنِ، بَلْ لاَ قِيَامَ لِلدِّيْنِ إِلاَّ بِهَا. فَإِنَّ بَنِيْ آدَمَ لاَ تَتِمُّ مَصْلَحَتُهُمْ إِلاَّ بِالْاِجْتِمَاعِ لِحَاجَةِ بَعْضِهِمْ إِلىَ بَعْضٍ، وَلاَ بُدَّ لَهُمْ عِنْدَ اْلاِجْتِمَاعِ مِنْ رَأْسٍ حَتىَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ" رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ سَعِيْدٍ وَأَبِيْ هُرَيْرَةَ ... وَلِأَنَّ اللهَ تَعَالَى أَوْجَبَ اْلأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَلاَ يَتِمُّ ذَلِكَ إِلاَّ بِقُوَّةٍ وَإِمَارَةٍ ).
”Wajib diketahui bahwa kekuasaan atas manusia termasuk kewajiban agama terbesar. Bahkan agama tak akan tegak tanpa kekuasaan.
Karena manusia tak akan sempurna kepentingan mereka kecuali dengan berinteraksi karena adanya hajat dari sebagian mereka dengan sebagian lainnya...
...Dan tak boleh tidak pada saat berinteraksi harus ada seorang pemimpin hingga Rasulullah SAW bersabda,Jika keluar tiga orang dalam satu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat satu orang dari mereka untuk menjadi pemimpinnya.’ (HR. Abu Dawud, dari Abu Said dan Abu Hurairah)
Dan karena Allah telah mewajibkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan kewajiban ini tak akan berjalan sempurna kecuali dengan adanya kekuatan dan kepemimpinan.” (Majmu’ul Fatawa, Juz 28 hlm. 390)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin ash ra., bahwa dia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

وَمَنْ بَايَعَ إمَاماً، فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ، فَلْيُطِعْهُ إنِ اسْتَطَاعَ. فَإنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَرِ
“Dan siapa saja yang membaiat seorang Imam (Khalifah), lalu memberikan kepadanya genggaman tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah dia mentaatinya dengan sekuat kemampuannya. Maka jika datang orang lain yang hendak mencabut kekuasaan Imam itu, maka penggallah leher orang lain itu.” (HR. Muslim no. 1844)

Imam an-Nawawi menjelaskan, “Maknanya, tolaklah yang kedua, sebab ia telah keluar menentang Imam/Khalifah. Jika tidak bisa ditolak kecuali dengan perang maka perangi dia. Jika perang itu menuntut untuk membunuh dia maka boleh membunuh dia dan tidak ada tanggungan di dalamnya. Sebab, ia zalim dan melampaui batas di dalam perangnya.”

Perintah untuk mentaati seorang Imam merupakan perintah untuk mengangkatnya. Perintah memerangi orang yang hendak merebut kekuasaannya merupakan qarinah (indikasi) yang tegas tentang wajibnya menjaga keberlangsungan Khalifah yang satu.

Sabda Rasulullah SAW:
إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُواْ الآخِرَ مِنْهُمَا
Jika dibai’at dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Muslim no.1853, Ahmad dan Abu ‘Awanah)
Makna hadits ini menjelaskan keharaman adanya dua orang khalifah. Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, “Hadits ini dibawa pengertiannya: jika tidak tercegah kecuali dengan membunuhnya. Di sini tidak boleh diakadkan baiat untuk dua orang Khalifah. Telah dijelaskan adanya ijmak tentangnya.”

Ibn al-Jawzi di dalam Kasyf al-Musykal ‘an Hadits Shahihayn menjelaskan, “Jika telah tetap perkara Khalifah dan terakadkan ijmak atas dia, lalu dibaiat yang lain dengan suatu jenis penakwilan, maka ia membangkang dan para pendukungnya adalah bughat; mereka diperangi dengan perang terhadap bughat. Sabda Nabi Saw. maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya,” maksudnya bukan dikedepankan lalu membunuhnya, tetapi maksudnya: perangilah dia dan jika perkaranya mengantarkan sampai membunuhnya maka boleh.”
Imam as-Suyuthi dalam Ad-Dibâj ‘alâ Muslim menjelaskan, “Ini juga merupakan perintah untuk memeranginya meski mengantarkan pada pembunuhannya.”

Hadits ini menegaskan wajibnya kesatuan Khilafah dan haram berbilangnya Daulah Islamiyah di seluruh dunia. Di dalam Mawsû’ah Fiqhiyah al-Kuwaytiyah pada pembahasan, “Ta’adud ad-Dawlah al-Islâmiyah” dinyatakan bahwa jumhur fukaha berpendapat bahwa tidak boleh ada dua orang Imam (Khalifah) di seluruh dunia pada satu waktu; tidak boleh ada kecuali hanya seorang Imam/Khalifah. Dalilnya adalah sabda Rasul di atas. Selain itu, berbilangnya Daulah Islamiyah menyebabkan perselisihan dan perpecahan.

Khutbah Umar ra. dalam pembaiatan Abu Bakar:
فَمَنْ بَايَعَ رَجُلاً عَنْ غَيْرِ مَشُورَةٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّهُ لاَ بَيْعَةَ لَهُ هُوَ وَلاَ الَّذِي بَايعَهُ تَغِرَّةً أَنْ يَقْتُلاَ
“Siapa saja yang membaiat seseorang tanpa musyawarah di antara kaum Muslim, maka tidak ada baiat bagi dirinya dan bagi yang membaiat dirinya, sebaliknya kedua orang tersebut layak untuk dibunuh.” (Ibnu Hisyam, Sîrah Ibnu Hisyâm, IV/226)
Hal ini didengar oleh para Sahabat dan tidak seorangpun dari mereka yang mengingkarinya.

Sabda Rasulullah SAW:
مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ

“Siapa saja yang datang kepada kalian −sedangkan urusan kalian seluruhnya ada pada satu orang laki-laki (Khalifah)− [orang yang datang itu] hendak memecah-belah kesatuan kalian dan mencerai-beraikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia.” (HR. Muslim no.1852)

Hadits Nabi Saw., Beliau pernah bersabda:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ
“Dahulu Bani Israel, (urusan) mereka dipelihara dan diurusi oleh para nabi, setiap kali seorang nabi meninggal digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahku. Sementara yang akan ada adalah para Khalifah, yang jumlah mereka banyak. Mereka (para sahabat) berkata: ‘Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Rasulullah Saw. bersabda: “Penuhilah baiat yang pertama. Yang pertama saja. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada mereka mengenai urusan rakyat yang diamanahkan kepada mereka.” (HR. Bukhari, Muslim no.1842, Ahmad, dan Ibn Majah)
Hadits ini juga diriwayatkan di dalam Shahîh Ibn HibbânMusnad Abi ‘AwanahSunan al-Kubrâ al-BayhaqîMushannaf Ibn Abi SyaybahMusnad Ishhaq Ibn RahawayhMusnad Abi Ya’la al-MûshiliMusnad li al-Khalâl oleh Abu Bakar al-Khalal; dan di dalam as-Sunah li Ibn Abi ‘Ashim.

Imam an-Nawawi menjelaskan,
إذا بويع الخليفة بعد خليفة، فبيعة الأول صحيحة يجب الوفاء بها و بيعة الثاني باطلة يحرم الوفاء بها…
“Makna hadits ini, jika dibaiat seseorang sebagai Khalifah padahal sebelumnya Khalifah telah dibaiat maka baiat pertama adalah sah, wajib dipenuhi; sedangkan baiat kedua adalah batil, haram dipenuhi.
Ia (yang dibaiat kedua) haram menuntut, baik mereka yang mengakadkan kepada yang kedua itu mengetahui akad baiat yang pertama ataupun tidak; baik itu di dua atau satu negeri, atau yang satu di negeri imam yang terpisah dan yang lain di negeri lainnya.

وهذا هو الصواب الذي عليه…جماهير العلماء
Inilah pendapat yang benar yang menjadi pendapat jumhur ulama.” (Imam Nawawi, Syarah Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, Juz XII hlm. 231)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda