Jumat, 11 Maret 2016

Kekuasaan Khilafah di dalam Islam untuk menegakkan hukum Allah


 
Khilafah merupakan bagian dari ajaran Islam yang dalam istilah modern disebut dengan negara Islam (ad daulah al Islamiyyah) atau sistem pemerintahan Islam (nizham al hukm fi al Islam). Dalam istilah para fuqaha terdahulu, Khilafah disebut juga dengan istilah Imamah atau Darul Islam. (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 8/407)

Definisi Khilafah adalah:
اَلْخِلاَفَةُ هِيَ رِئَاسَةٌ عَامَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعاً فِي الدُّنْيَا لإِقَامَةِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ الإِسْلاَمِيِّ، وَحَمْلِ الدَّعْوَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ إِلَى الْعَالَمِ
Kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.” (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 2/13)

Pengertian ini sekaligus menjelaskan muatan dari Khilafah yakni: ukhuwah, syariah dan dakwah. Khilafah mempunyai 3 (tiga) tugas pokok yang tak dapat terlaksana secara sempurna kecuali dengan adanya Khilafah, yaitu; pertama, mempersatukan umat Islam di seluruh dunia di bawah satu pemimpin dan satu negara. Kedua, menerapkan hukum-hukum Syariah Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam segala bidang kehidupan. Ketiga, menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad pembebasan.

Khilafah adalah ide Islam. Karena itu Khilafah harus didukung oleh umat. Khilafah bersumber dari al-Quran, as-Sunnah, dan Ijmak Sahabat. Dalam Islam, Khilafah atau al-Imamah al-‘Uzhma merupakan perkara ma’lûmun min ad-dîn bi adh-dharûrah (telah dimaklumi sebagai bagian penting dari ajaran Islam).

Firman Allah SWT:

﴿فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنْ الْحَقِّ﴾
“Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. al-Maidah [5]: 48)

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ
“Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah Allah turunkan kepada kamu.” (QS. al-Maidah [5]: 49)
Ayat yang mulia ini maupun ayat-ayat lainnya menjelaskan bahwa Rasul Saw. adalah pihak yang diberi taklif (kewajiban) untuk melaksanakan hukum ini. Seruan kepada Rasul Saw. untuk memutuskan perkara (menghukumi) dengan Islam juga merupakan seruan kepada para penguasa pengganti masa Rasul Saw. Ini berdasarkan kaidah ushul yang menyatakan, bahwa seruan kepada Rasul juga merupakan seruan untuk umatnya, sebagaimana ketentuan yang berlaku.

Mafhum-nya adalah hendaknya umat Beliau mewujudkan seorang hakim setelah Rasulullah Saw. untuk memutuskan perkara di antara mereka sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Perintah dalam seruan ini bersifat tegas (jazim). Karena yang menjadi obyek seruan adalah wajib. Hakim (penguasa) yang memutuskan perkara di antara kaum muslim setelah wafatnya Rasulullah Saw. adalah Khalifah. Karena itu, sistem pemerintahan menurut aspek ini adalah sistem Khilafah. Maka mewujudkan penguasa yang menegakkan Syariat Islam itu hukumnya wajib.

Penerapan Syariah Islam secara menyeluruh (kaffah), juga merupakan kewajiban Syar’i atas umat, sesuai firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah [2]: 208)
Bahkan Islam dengan tegas melarang penerapan Syariah secara parsial, misalnya hanya menjalankan rukun Islam saja, seraya mengabaikan hukum-hukum Islam lainnya.
Sebagai pelajaran, Allah Swt. memperingatkan kaum Bani Israil dalam surat Al Baqarah ayat 85:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian (isi) Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian (isinya) yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 85)

Imam Thabariy menyatakan: “Ayat di atas merupakan perintah kepada orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk menjalankan Syari’at Islam secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satupun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam.” (Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, II/337)

Pada dasarnya, seluruh kekuasaan di dalam Islam ditujukan untuk menegakkan hukum Allah SWT dan amar makruf nahi mungkar.
Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada Kaab bin Ujrah:

«أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ» ، قَالَ: وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ؟ قَالَ: «أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي، لاَ يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي، وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي، وَلَسْتُ مِنْهُمْ، وَلاَ يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ، وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي»
“Aku meminta perlindungan kepada Allah untuk kamu dari kepemimpinan (pemimpin) yang bodoh (sufaha’).” Kaab bertanya, “Apa kepemimpinan yang bodoh itu?” Beliau bersabda, “Para pemimpin yang ada setelah aku. Mereka tidak mengikuti petunjukku dan tidak mencontoh sunnahku. Siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan menolong mereka atas kezaliman mereka, maka mereka bukan golonganku dan aku bukan golongan mereka, dan mereka tidak ikut aku di Telaga (di Akhirat). Sebaliknya, siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak menolong mereka atas kezaliman mereka maka mereka termasuk golonganku dan aku bagian dari golongan mereka dan mereka akan ikut aku di Telaga.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban dan al-Hakim)

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul." Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS. (33) al-Ahzab: 66-67)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda