Kamis, 27 Maret 2008

makalah pencemaran udara DIY

Lanjutan 2.........

PAPER EKONOMI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

makalah “KEMACETAN DAN PENCEMARAN UDARA

DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA”


  1. Sistem Transportasi Ramah Lingkungan

Perencanaan sistem transportasi harus disertai dengan pengadaan prasarana yang sesuai dan memenuhi persyaratan dan kriteria transportasi antara lain volume penampungan, kecepatan rata-rata, aliran puncak, keamanan pengguna jalan. Selain itu harus juga memenuhi persyaratan lingkungan yang meliputi jenis permukaan, pengamanan penghuni sepanjang jalan, kebisingan, pencemaran udara, penghijauan, dan penerangan.


Dalam mencapai sistem transportasi yang ramah lingkungan dan hemat energi, persyaratan spesifikasi dasar prasarana jalan yang digunakan sangat menentukan. Permukaan jalan halus, misalnya, akan mengurangi emisi pencemaran debu akibat gesekan ban dengan jalan. Pepohonan ditepi jalan sebagai tabir akustik atau tunggul tanah dan jalur hijau sepanjang jalan raya akan mereduksi tingkat kebisingan lingkungan pemukiman yang ada di sekitar dan sepanjang jalan, dan juga akan mengurangi emisi pencemar udara keluar batas jalan kecepatan tinggi.


Dalam konteks ini, untuk mencapai sistem transportasi darat yang ramah lingkungan, ada beberapa hal yang perlu dijalankan :

  1. Rekayasa lalu lintas.

Rekayasa lalu lintas khususnya menentukan jalannya sistem transportasi yang direncanakan. Penghematan energi dan reduksi emisi pencemar dapat dioptimalkan secara terpadu dalam perencanaan jalur, kecepatan rata-rata, jarak tempuh per kendaraan per tujuan dan seterusnya. pola berkendara pada dasarnya dapat direncanakan melalui rekayasa lalu lintas.


Data mengenai pola dan siklus berkendaraan yang tepat di Indonesia belum tersedia hingga saat ini. Dalam perencanaan, pertimbangan utama diterapkan adalah bahwa aliran lalu lintas berjalan dengan selancar mungkin, dan dengan waktu tempuh yang sekecil mungkin, seperti yang dapat di uji dengan model asal-tujuan. Dengan meminimumkan waktu tempuh dari setiap titik asal ke titik tujuannya masing-masing akan dapat dicapai efisiensi bahan bakar yang maksimum, dan reduksi pencemar udara yang lebih besar.


  1. Pengendalian Pada Sumber (mesin kendaraan).

Jenis kendaraan yang digunakan sebagai alat transportasi merupakan bagian di dalam sistem transportasi yang akan memberikan dampak bagi lingkungan fisik dan biologi akibat emisi pencemaran udara dan kebisingan.


Kedua jenis pencemaran ini sangat ditentukan oleh jenis dan kinerja mesin penggerak yang digunakan. Karena itu re-desain produksi kendaraan bermotor wajib dilakukan. Pemerintah melalui kewenangannya harus mendesak produsen kendaraan bermotor untuk menggunakan mesin yang ramah lingkungan, yang memenuhi standar emisi dan tidak bising. Sebagai contoh persyaratan pengendalian pencemaran seperti yang diterapkan Amerika Serikat (AS) telah terbukti membawa perubahan-perubahan besar dalam perencanaan mesin kendaraan bermotor yang beredar di dunia sekarang ini.


  1. Energi Transportasi.

Besarnya intensitas emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor selain ditentukan oleh jenis dan karakteristik mesin, juga sangat ditentukan oleh jenis BBM yang digunakan. Seperti halnya penggunaan LPG dan Pertamax akan memungkinkan pembakaran sempurna dan efisiensi energi yang tinggi. Selain itu dalam rangka upaya pengendalian emisi gas buang diperlukan konsistensi syarat bahan bakar khusus yang bebas timbal.


    1. Penyediaan Transportasi Masal Yang Lebih Memadai

Salah satu hal yang paling dirasakan menjadi pemicu pesatnya pertumbuhan kendaraan roda dua di DIY adalah kurang memadainya fasilitas transportasi masal. Salah satu transportasi masal yang paling banyak digunakan di DIY adalah bus. Sebagai catatan, bus-bus di DIY hanya beroperasi hingga pukul 17.00-18.00. Kalau pun ada yang beroperasi lebih dari itu, jumlahnya hanya sedikit dan hanya untuk tujuan tertentu (biasanya tujuan Malioboro - jalur 7).


Sehingga nantinya bagi mereka, akan sangat merepotkan jika mereka tidak mempunyai kendaraan pribadi yang bisa mereka gunakan untuk aktifitas di malam hari. Mereka harus mengeluarkan biaya ekstra untuk melakukan mobilisasi, seperti menggunakan taxi atau becak dan biasanya biayanya menjadi lebih mahal.


Tentu saja usulan untuk menyediakan transportasi tambahan pada malam hari ini, tidak bisa segera langsung dilaksanakan, mengingat populasi kendaraan pada malam hari biasanya bisa jauh lebih padat dari siang hari. Sehingga jika langsung menyediakan, malah akan menambah kemacetan dan tambahan tingkat polusi udara.


    1. Pengenaan Biaya Atas Penggunaan Kendaraan Bermotor Yang Berasal Dari Luar Kota Bersangkutan

Saat ini di DIY jumlah kendaraan roda dua yang berasal dari luar DIY jumlahnya sangat banyak. Motor-motor ini tiap tahunnya sangat bebas memasuki DIY dan berdomisili di sana untuk jangka waktu yang panjang. Kebanyakan penggunanya adalah mahasiswa, sehingga tidak mengherankan ketika di tiap tahun ajaran baru dimulai, selain banyak dijumpai wajah-wajah baru, juga akan diikuti dengan arus masuk motor-motor baru ber-plat non AB.


Uapaya untuk mengurangi arus masuk motor ini bisa dilakukan dengan pengenaan biaya (pajak). Karena objek pajak tidak bisa dikenai pajak ganda, maka perlu ada sebuah aturan atau mekanisme yang bisa mengkoordinasikan antara daerah asal kendaraan dengan daerah tujuan kendaraan, yang memungkinkan penerimaan pajak yang tadinya diterima daerah asal kendaran beralih ke daerah tujuan kendaraan. Karena sekarang kendaraan tersebut tidak lagi menikmati sarana yang ada di daerah asalnya, melainkan di daerah yang bukan merupakan “habitatnya”.


Upaya ini bisa dilakukan dengan syarat sudah terpenuhinya sarana transportasi masal yang memadai, sehingga ada jaminan bahwa para pendatang dari luar DIY tidak akan kesulitan dalam beraktifitas (khususnya malam hari) ketika meraka tidak memiliki kendaraan pribadi.


    1. Paru-Paru/Hutan Kota

Selain itu pentingnya paru-paru kota yang diharapkan dapat membantu menyaring dan menyerap polutan di udara harus mulai digalakkan kembali. Dari sebuah tulisan tentang hutan kota di situs Departemen Kehutanan berjudul Hutan Kota Untuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup” diperoleh informasi dua pendekatan yang dipakai dalam membangun hutan kota. Pendekatan pertama, hutan kota dibangun pada lokasi-lokasi tertentu saja.

Pada pendekatan ini hutan kota merupakan bagian dari suatu kota. Penentuan luasannya pun dapat berdasarkan:

  • Prosentase, yaitu luasan hutan kota ditentukan dengan menghitungnya dari luasan kota.

  • Perhitungan per kapita, yaitu luasan hutan kota ditentukan berdasarkan jumlah penduduknya.

  • Berdasarkan isu utama yang muncul.


Misalnya untuk menghitung luasan hutan kota pada suatu kota dapat dihitung berdasarkan tujuan pemenuhan kebutuhan akan oksigen, air dan kebutuhan lainnya.


Pendekatan kedua, semua areal yang ada di suatu kota pada dasarnya adalah areal untuk hutan kota. Pada pendekatan ini, komponen yang ada di kota seperti pemukiman, perkantoran dan industri dipandang sebagai suatu bagian yang ada dalam suatu hutan kota.


Di Indonesia, dalam membangun hutan kota menggunakan pendekatan pertama, namun tidak ada salahnya bila kita juga menerapkan pendekatan campuran. Sehingga bila diuraikan, untuk membangun paru-paru kota pemerintah bisa menggunakan pendekatan pertama sedangkan masyarakat secara luas ikut andil dengan menggunakan pendekatan kedua. Toh, tidak ada ruginya menanam tumbuhan di halaman rumah kita, atau pada tiap jengkal lahan tidur disekitar kita tinggal. Bila mana ini dilaksanakan, dalam waktu dekat jumlah tanaman pelindung ideal sebesar 10 hingga 60 persen dari jumlah penduduk bisa diwujudkan.


Pada dasarnya, umbuhan tidak akan pernah bisa membantu menurunkan emisi, melainkan ia akan membantu proses refreshing udara. Maka kita pula yang selayaknya memikul tanggung jawab untuk melakukan perbaikan atas perbuatan kita mencemari udara, serta pencegahan berupa pengendalian pencemaran nikmat udara yang sudah dititipkan gratis pada kita.


BAB III

KESIMPULAN


Semakin peliknya masalah pencemaran lingkungan ini menyebabkan kekhawatiran berbagai pihak akan akan kondisi lingkungan dimasa yang akan datang. Udara, tanah air kini sudah banyak mengandung polutan, penipisan lapisan ozon yang bisa mengganggu ekositem bumi, efek rumah kaya. Sudah saat kita mulai memperhatikan lingkungan sekitar mulai dari hal yang terkecil.


Misal di Yogyakarta ini, dahulu kala sepeda adalah alat transportasi yang terkenal, kini hanya sedikit saja yang menggunakannya. Kini sepeda motor mulai menggantikan perannya, polusi udara mulai meningkat perlahan demi perlahan. Seiring dengan bertambah pesatnya pertumbuhan pemakai sepeda motor ini. Seharusnya pemerintah mulai berani untuk mengeluarkan suatu peraturan yang mengatur tentang pencemaran udara ini (salah satunya).


Dibeberapa negara maju mulai sadar akan bahayanya pencemaran lingkungan ini. Mereka mulai menggalakan sistem transportasi yang lebih efisien dan tidak tinggi tingkat polutannya. Udara air, dan tanah merupakan anugrah yang seharusnya kita jaga kelestariannya untuk kelestarian kehidupan kita.


DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda