Senin, 17 Maret 2008

review jurnal manajemen

Metode Penelitian Bisnis

Knowledge-related Skills and Effective Career Management


Latar Belakang Masalah

Para peneliti menemukan bahwa gaya kerja kuno terhadap manajemen karier, mobilitas vertikal dan stabilitas layak telah berlalu (Allred et al., 1996; Arthur dan Rousseau, 1996). Mereka menguraikan suatu lingkungan pekerjaan baru di mana setiap individu bertanggung jawab untuk mengatur karier mereka sendiri, mobilitas menjadi lateral dan penuh dengan ketidakpastian. Kebutuhan untuk meninjau kembali kondisi karir lingkungan pekerjaan yang baru ini menjadi suatu hal yang penting ( e.g. Herriot dan Pemberton, 1996). Seiring dengan berjalannya waktu, terdapat serangkaian penulisan yang muncul membangkitkan konseptualisasi yang baik untuk menguji manajemen karir ( e.g. Arthur dan Rousseau, 1996; Bird, 1994; Greenhaus dan Callanan, 1994; Hall dan Mirvis, 1996).


Hall (1996) menulis suatu paradigma karier baru dan mendukung individu menjadi self-reliant, memiliki sense of belonging atas karier mereka dan menyadari adanya konsep karier baru, yaitu protean career. Protean career ini memerlukan penguasaan dan pemanfaatan dari serangkaian skills, yang membantu perkembangan kemampuan beradaptasi dan perubahan identitas individu di berbagai lingkungan. Perubahan individual dan kemampuan adaptasi menjadi penting karena protean career tidak dikendalikan oleh organisasi, melainkan oleh individu, dan akan tercipta kembali dari waktu ke waktu ketika seseorang dan lingkungan berubah" ( Hall, 1996, p. 8). Manajemen yang efektif terhadap karier yang baru mengharuskan penguasaan serangkaian skills yang telah diidentifikasikan oleh beberapa pengarang.


Hall (1996) befokus pada " metaskills". Ini meliputi kemampuan beradaptasi, toleransi terhadap ketidakpastian dan ambiguitas, self-awareness, dan perubahan identitas (Hall, 1986). ( Et Allred al., 1996) mengidentifikasi kemampuan self-management dan fleksibilitas.

Penelitian ini menunjukkan perubahan terbaru di dalam iklim pengembangan karier di AS di mana individu mempunyai tanggung jawab terakhir untuk mengelola karier mereka sendiri.


Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

Apakah dalam penelitian ini terdapat hubungan antara aspek " metaskills" dan manajemen karir yang efektif ?


Tujuan Penelitian

  • Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara aspek " metaskills" dan manajemen karir yang efektif.

  • Tujuan penelitian ini adalah untuk menambahkan riset empiris kepada dasar konseptual yang ada.

  • Penelitian ini memberikan kontribusi yang dibutuhkan bagi penelitian lain dengan menguji bagaimana hubungan dan pengaruh transmisi kemampuan individual dalam dunia akademis terhadap manajemen karir yang efektif.


Literatur Review dan Pengembangan Hipotesis

Career Management

Career Management didefinisikan sebagai proses dinamis dimana individu mengumpulkan informasi mengenai hal yang mereka sukai, tidak disukai, kekuatan, kelemahan, dan dunia kerja; mengembangkan tujuan karir yang realistis; mengembangkan dan mengimplementasikan strategi untuk mencapai tujuan tersebut; dan menghasilkan feedback untuk mempromosikan pengambilan keputusan mengenai karir mereka (Greenhaus dan Callanan, 1994). Studi ini berfokus pada empat indikator keefektifan career management yang diadopsi dari Greenhaus dan Callanan (1994), yaitu personal learning, goal setting, career strategies, dan career decision making.



  • Personal Learning

Personal learning merupakan pembelajaran mengenai diri sendiri, siapa sebenarnya diri kita, serta mengenai sikap dan identitas personal (Hall, 1996). Personal learning memungkinkan individu memahami dirinya, nilai yang mereka miliki, dan bagaimana mereka melakukan fungsinya di dalam organisasi.

  • Goal Setting

Goal setting sering dihubungkan dengan meningkatkan kinerja melalui peningkatan usaha, arahan, perhatian dan mempromosikan formulasi strategi (Locke et al., 1981). Penetapan career goal dapat memberikan gambaran yang jelas kepada karyawan mengenai potensi masa depan mereka dan mengarahkan langkah mereka ke arah pemuasan kebutuhan yang penting (Greenhaus et al., 1995). Telah diasumsikan bahwa career goal setting adalah bermanfaat, mungkin juga penting, bagi karyawan dan organisasi (Boulmetis, 1997).

  • Career Strategies

Career strategies meliputi sekumpulan aktivitas yang membantu perkembangan implementasi rencana karir. Contohnya beberapa aktivitas seperti menciptakan kesempatan karir, meningkatkan keterlibatan dalam pekerjaan, mempresentasikan diri secara positif, mencari petunjuk karir, mentoring, networking, mengadaptasi opini pihak lain, dan perbaikan lainnya (Gould dan Penley, 1984).

  • Career Decision Making

Career decision making meliputi pilihan karir yang harus dibuat individu “di dalam ruang kehidupan yang kompleks yang dipengaruhi oleh karakteristik individual, keadaan organisasi, dan kondisi di luar organisasi” (Hicks dan London, p.121).


Metaskills”

Hall (1996, p.11) mendefinisikan “metaskills” sebagai sekumpulan keterampilan yang disyaratkan untuk mempersiapkan individu untuk “belajar bagaimana belajar”. Keterampilan ini meliputi self-knowledge dan kemampuan adaptasi yang mempertinggi kemampuan individu untuk mengasumsikan identitas yang sesuai dengan berbagai lingkungan. Tujuan utama mempelajari keterampilan ini adalah agar individu mampu mengelola dirinya sendiri secara efektif. Dalam studi ini kata “metaskills” tidak dibatasi oleh definisi dari Hall, tapi termasuk keterampilan relevan yang telah diidentifikasi dalam literatur dan dipertimbangkan penting bagi keefektifan pengelolan karir baru. Dalam literatur yang membahas paradigma baru mengenai karir, self-knowledge, interpersonal knowledge, dan environmental knowledge diidentifikasi sebagai sekumpulan keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan career management.


Untuk mencapai kesuksesan dalam paradigma karir yang baru, telah menjadi pemikiran yang umum bahwa keterampilan tertentu perlu mendapat perhatian kritis. Atribut yang paling menonjol dalam paradigma karir yang baru ini adalah bahwa individu memiliki tanggung jawab terhadap career management-nya. Oleh karena itu, keterampilan self-management menjadi hal terpenting. Untuk merespon ketertarikan terhadap career management tersebut, lebih dari 3.000 buku self-help mengenai karir dan pengelolaan karir telah ditulis dalam dekade ini (Carson dan Carson, 1997). Kebanyakan mendorong terhadap kenaikan pemahaman terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.


Banyak sekolah bisnis telah men-set keterampilan-keterampilan tersebut menjadi suatu bagian integral di dalam kurikulum MBA (e.g. McMillen et al., 1994; Bigelow, 1995; Bigelow et al.in press). Tinjauan mengenai keterampilan tersebut mengungkapkan keterampilan yang berkaitan dengan self-knowledge, interpersonal knowledge, dan environmental knowledge (e.g. Bigelow, 1995).


Metaskills” dan career management yang efektif

Hubungan antara “metaskills” yang terdiri dari self-knowledge, interpersonal knowledge, dan environmental knowledge dan indikator dari efektif career management nampaknya cukup masuk akal.

  • Self-knowledge

Keterampilan self-knowledge berfokus pada pengembangan individu. Yang mencakup informasi mengenai individu dan pemanfaatan keterampilan yang berhubungan dengan self-management individu. Termasuk diantaranya presentasi lisan, mendengar dengan efektif, manajemen waktu dan stres, self-awareness, dan bekerja dengan lebih efektif dengan orang yang memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda.


Kesuksesan dalam menggabungkan keterampilan-keterampilan tersebut harus memberi kontribusi bagi pembelajaran individu mengenai diri mereka sendiri, juga secara luas self-knowledge harus memberi kontribusi pada pembuatan goals yang realistis (Greenhaus et al., 1995). Individu menjadi lebih peduli bahwa untuk mengelola karir mereka, goal setting menjadi alat motivasi dan petunjuk. Individu, kemudian, menggunakan career strategies untuk mencapai goals tersebut. Pengambilan keputusan karir yang efektif akan dapat terjadi ketika individu mempelajari secara mendalam (in-depth) mengenai dirinya sendiri. Hipotesis yang kemudian mengikuti adalah:

H1a: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan personal learning.

H1b: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan realistic goal setting.

H1c: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career strategies.

H1d: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career decision making.


  • Interpersonal knowledge

Keterampilan ini merupakan keterampilan yang berkaitan dengan berhubungan dengan orang lain. Interpersonal knowledge di lungkup kerja meliputi delegasi, memotivasi orang lain, asertif, manajemen konflik, mempengaruhi orang lain, dan menggunakan kekuatan dengan efektif. Sebagai individu yang memperoleh kompetensi dalam bekerja secara efektif dengan orang lain, mereka juga belajar mengenai diri sendiri.


Mereka berempati dan mencoba untuk memahami mengapa dan bagaimana orang lain berperilaku sebagaimana apa yang mereka lakukan. Memperoleh kemampuan dalam bertransaksi dengan orang mensyaratkan pendekatan sistematis dan langsung yang menguntungkan dari indikator career management seperti realistic goal setting, memanfaatkan career strategies, dan berhasil dalam pengambilan keputusan karir. Dengan demikian penulis memiliki hipotesis:

H2a: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan personal learning.

H2b: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan realistic goal setting.

H2c: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career strategies.

H2d: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career decision making.


  • Environmental knowledge

Environmental knowledge berfokus secara keseluruhan pada pemahaman terhadap lingkungan sebagai satu fungsi. Hal ini meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan dan membantu pengembangan kemampuan adaptasi dan fleksibel di dalam konteks yang berbeda. Individu perlu memonitor lingkungannya secara konstan dalam rangka untuk memahami bagaimana mengadaptasi identitas mereka terhadap perubahan lingkungan.


Oleh karena itu, memiliki pengetahuan mengenai lingkungan harus membantu perkembangan career management yang efektif. Pencarian yang luas terhadap informasi mengenai lingkungan penting untuk men-set career goals yang realistis dan tepat (Greenhaus et al., 1995). Peningkatan kesadaran terhadap lingkungan harus dimasukkan ke dalam bagian pemahaman individu terhadap dirinya sendiri, membantu perkembangan realistic goal setting, mendorong penggunaan career strategies, dan mempromosikan career decision making. Hipotesis yang kemudian mengikuti adalah:

H3a: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan personal learning.

H3b: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan realistic goal setting.

H3c: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career strategies.

H3d: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career decision making.


Model Penelitian

Metodologi

A. Prosedur

  • Mengembangkan instrument survey menggunakan input dari 4 focus groups dan literatur karir. Focus groups terdiri dari 20 mahasiswa yang dipilih secara random yang telah menyelesaikan semester kuliah management skills. Grup ini mendiskusikan pengalaman mereka ketika dan setelah kuliah tersebut.

  • Topik yang disertakan:

    • kegunaan dari kuliah yang dilakukan

    • keahlian yang paling penting dipelajari.

    • tingkat yang bisa digunakan dalam pekerjaan

    • pengaruh keahlian yang mereka peroleh dalam pekerjaan dan karir.

    • pengaruh dari penggunaan metode yang diajarkan


B. Sampel

  • Survei dilakukan dengan mengirim surat kepada 1.146 mahasiswa MBA dan alumni AACSB yang mempunyai akreditasi northeastern university yang telah menyelesaikan dua tahap berturut-turut management skills minimal enam bulan sebelum tanggal pengiriman surat.

  • Total 446 kuesioner survei lengkap yang dikembalikan , menghasilkan 39 % tingkat respon.

  • Perempuan (214), rata-rata berusia 30 tahun (standard deviasi=5,7)

  • Para responden terdiri atas 72% dari ras Kaukasia, 28% non-Kaukasia, 2% tidak menyebutkan ras mereka.


C. Pengukuran

  • Self-knowledge dan interpersonal knowledge

Untuk mengukur Skills yang berhubungan dengan self-knowledge dan interpersonal knowledge, responden ditanya untuk mengetahui” sampai tingkatan mana pendidikan MBA meningkatkan kemampuan mereka dalam memperoleh skills yang berbeda.”

1 = tidak sama sekali, 5 = tingkatan yang tinggi sekali

Reliability coefficients untuk dua skala adalah 0,92 dan 0,95


  • Environmental knowledge

Untuk mengukur Skills yang berhubungan dengan Environmental knowledge

Responden ditanya untuk mengetahui tingkat setuju atau tidak terhadap pernyataan berikut ini.”Apakah mengambil pendidikan MBA 602/602 membuat saya mengetahui dengan jelas mengenai keterbatasan dan kekurangan saya?”

  • Skala 1 = sangat tidak setuju, 5 = sangat setuju


D. Indikator-indikator dari manajemen karir yang efektif

Personal learning

  • Skala ini didesain untuk mengukur tingkat pemahaman seseorang mengenai kesukaan mereka, kemampuan, nilai, bakat, dan aptitudes.

  • Menghasilkan reability coefficient 0,92

  • 1 = tidak sama sekali, 5 = tingkatan yang sangat tinggi sekali

Goal setting

  • Faktor yang dianalisis dengan varimax rotation menghasilkan satu faktor dan analisis kelayakan/ realibility analysis yaitu koefisien alfa 0,94

  • Contoh = Mengambil pendidikan MBA 601/602 membantu saya bekerja sesuai dengan rencana , mengetahui apap yang ingin saya capai.

  • 1 = sangat setuju, 5 = sangat tidak setuju

Career Strategies

  • Responden 1 = tidak sama sekali, 5 = selalu

  • Rata-rata responden menghasilkan nilai total strategi karir dengan reliability coefficient of 0.90

  • Nilai yang lebih tinggi menunjukkan penggunaan strategi karir yang luas.


Career Decision Making

  • Responden ditanyai untuk menunjukkan tingkat setuju atau tidak dengan aktivitas yang berhubungan dengan pembuatan keputusan karir.

  • Komponen utama faktor analisis menghasilkan satu faktor .

  • Koefisien alfa 0,90 diperoleh dari analisis reliabilitas.


E. Hasil

Pengujian Hipotesis

1. Hipotesis I

  • Rangkaian pertama hipotesis (H1a, H1b, H1c, H1d) memprediksikan bahwa variabel independen (self-knowledge) mempunyai hubungan positif terhadap masing-masing variabel dependen dalam manajemen karir yang efektif (personal learning, realistic goal setting, career strategies, dan career decision making)

  • Self-knowledge secara signifikan berhubungan dengan

    • personal learning (r = 0.67, β = 0.39, p <>

    • realistic goal setting (r = 0.70, β = 0.36, p <>

    • career strategies (r = 0.62, β = 0.29,p <>

    • career decision making (r = 0.63, β = 0.21, p <>

Keterangan : r merupakan hasil analisis korelasi, sedangkan β hasil dari analisis regresi.

Variables

Means

SD

1

2

3

4

5

6

7

1. Self-knowledge

3.49

0.92

(0.92)







2. interpersonal knowledge

3.09

0.96

0.74***

(0.95)






3. Environmental knowledge

3.31

1.16

0.56***

0.51***






4. Personal Learning

3.26

0.97

0.67***

0.64***

0.46***

(0.92)




5. Goal setting

3.15

1.03

0.70***

0.63***

0.65***

0.68***

(0.94)



6. Career strategies

3.03

0.98

0.62***

0.62***

0.48***

0.68***

0.65***

(0.90)


7. Career decision making

3.10

1.04

0.63***

0.63***

0.65***

0.63***

0.84***

0.67***

(0.90)

Notes: * p <>p <>p <>

Reliability coefficients are enclosed in parentheses

Tabel 1. Means, standard deviations, intercorrelations, and reliabilities


  1. Hipotesis 2

Rangkaian kedua hipotesis (H2a, H2b, H2c, H2d) memprediksikan bahwa variabel independen (interpersonal knowlegde) mempunyai hubungan positif terhadap masing-masing variabel dependen dalam manajemen karir yang efektif (personal learning, realistic goal setting, career strategies, dan career decision making).


Interpersonal Knowledge secara signifikan berhubungan dengan

  • personal learning (r = 0.64,β = 0.31, p <>

  • realistic goal setting (r = 0.63, β = 0.19,p <>

  • career strategies (r = 0.62, β = 0.33, p <>

  • career decision making (r = 0.65, β = 0.33, p <>

Keterangan : r merupakan hasil analisis korelasi, sedangkan β hasil dari analisis regresi.

3. Hipotesis 3

Rangkaian kedua hipotesis (H3a, H3b, H3c, H3d) memprediksikan bahwa variabel independen (environmental knowlegde) mempunyai hubungan positif terhadap masing-masing variabel dependen dalam manajemen karir yang efektif (personal learning, realistic goal setting, career strategies, dan career decision making).

Environmental Knowledge secara signifikan berhubungan dengan

  • personal learning (r = 0.46, β = 0.36,p <>

  • realistic goal setting (r = 0.65, β = 0.15, p <>

  • career strategies (r = 0.48, β = 0.33, p <>

  • career decision making (r = 0.65, β = 0.33,p <>


Hasil dari Analisis Regresi Berganda

Variables

Personal Learning

Goal Setting

Career Strategies

Career Decision making

β

R2

Β

R2

β

R2

β

R2

Self-knowledge

0.39***


0.36***


0.29***


0.21***


Interpersonal Knowledge

0.31***


0.19***


0.33***


0.33***


Environmental knowledge

0.08

0.49***

0.36**

0.60***

0.15**

0.46***

0.33***

0.54***

Notes : *p <>

Temuan Penelitian

Hasil studi memberikan dukungan yang kuat dimana self-knowledge, interpersonal knowledge dan environmental knowledge berhubungan dengan manajemen karir yang efektif.


Kontribusi Penelitian

  • Walaupun keahlian tersebut telah diakui pada bermanfaat untuk manajemen karir efektif (misalnya pada Caproni and Arias, 1997) namun belum ada studi empiris yang membukti hal tersebut.

  • Penelitian ini membuktikan secara empiris hubungan serangkaian keahlian tersebut dengan manajemen karir yang efektif

  • Penelitian ini juga memperluas literatur karir yang telah ada (Misalnya, Fletcher,1996; Kram, 1996; Arthur and Rousseau,1996; Hall and Mirvis,1996)


Limitation of the study and suggestions for further research

Penelitian ini memiliki keterbatasan yang harus dicatat. Penggunaan dari self report scores limits penelitian ini terhadap persepsi responden dapat dipengaruhi oleh bias responden. Penelitian yang akan datang akan bermanfaat jika menggunakan metodologi yang beragam termasuk interview, penilaian oleh manajer, rekan kerja dan bawahan dan anggota keluarga dalam mempelajari hubungan studi yang diteliti. Pengeneralisiran penelitian ini terbatas karena sampel telah ditentukan dari alumni dan siswa suatu institusi. Sebagai sekolah bisnis terus menggabungkan keahlian manajerial dalam kurikulum mereka, penelitian yang akan datang akan mengambil manfaat dari penggunaan sample dari populasi yang beragam.


Langkah yang teliti diadaptasi dalam skala pengembangan dalam semua ukuran, tapi pekerjaan lebih lanjut akan dijamin untuk penyederhanaan yang lebih baik khususnya sejak variabel tersebut nampaknya berkorelasi secara positif. Penelitian yang akan datang harus mengembangkan sebuah skala tunggal manajemen karir yang menggabungkan lebih banyak atau semua elemen dari indikator.



Kesimpulan

Penelitian ini telah memberi sebuah kontribusi terhadap literatur karir dengan mengintegrasikan ide dan konsep yang memfasilitasi kesuksesan dalam mengelola career protean memeriksa hubungan secara empiris. Penulis telah menunjukkan bahwa akuisisi dan penggunaan dari skills yang memelihara self-management, interpersonal management dan environmental learning mungkin meningkakant career management. Temuan dari penulis menerangkan kontribusi dari institusi akademik dalam menyiapkan angkatan kerja masa depan. Penulis mendiskusikan implikasi untuk individu dan organisasi dan kami berharap penelitian ini dapat menstimulasi studi empiris yang akan datang pada area ini.


Critical Review

Secara keseluruhan, jurnal ini sudah cukup lengkap dan memenuhi standar penulisan. Namun, ada beberapa hal yang menjadi critical review antara lain penulis tidak menuliskan secara eksplisit model penelitian yang digunakan meskipun model penelitian telah tercermin dari hipotesis yang ada (secara implisit). Meskipun tidak ada keharusan untuk mencantumkan model penelitian secara eksplisit, namun akan lebih baik bila model penelitian dicantumkan juga sehingga memudahkan pembaca dalam memahami isi jurnal/penelitian.


Selain itu, dalam melakukan proses survey penulis menggunakan metode dengan mengirimkan kuesioner kepada responden. Hal ini dapat memberikan hasil yang bias diantaranya karena adanya kemungkinan diganggu orang lain, kemungkinan responden memberikan jawaban yang tidak sesuai, dan kurangnya kontrol.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda