Sabtu, 29 Januari 2011

Akidah Dicapai Harus Melalui Berpikir - Dasar Pemikiran Islam

Akidah Dicapai Harus Melalui Berpikir - Dasar Pemikiran Islam
Yang harus dijadikan asas berpikir adalah metode akliah. Metode ini menyatakan bahwa pemikiran atau pengetahuan akliah, lahir dari proses pemindahan penginderaan terhadap objek (realitas terindera) melalui pancaindera ke dalam otak, lalu dengan informasi-informasi terdahulu yang ada, ditafsirkanlah objek tersebut, sehingga otak kemudian memberikan keputusan tentang objek tersebut. Keputusan ini adalah pemikiran atau pengetahuan akliah. Inilah yang menjadi asas berpikir. Melalui metode akliah ini, diperoleh pengetahuan tentang fakta-fakta ilmiah, dengan mengadakan pengamatan, eksperimen, dan penarikan kesimpulan (inferensi). Melalui metode akliah ini pula, diperoleh pengetahuan tentang masalah-masalah dalam ilmu logika dan ilmu yang semisalnya, tentang fakta-fakta sejarah dan penilaian benar-salah dalam sejarah, serta tentang pemikiran menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta mengenai Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan, berikut hubungan kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya.
    Inilah metode akliah yang wajib dijadikan metode berpikir yang berlaku di dunia. Dunia harus menjadikannya sebagai asas berpikir.
    Sedangkan mengubah dasar pemikiran (qa`idah fikriyah) masyarakat, caranya adalah dengan mengemban qiyadah fikriyah ke seluruh dunia. Dengan kata lain, caranya adalah mengemban Aqidah Islamiyah secara akliah (harus dipahami melalui proses berpikir), sehingga dasar pemikiran yang ada pada diri masyarakat dapat berubah. Dasar pemikiran masyarakat kemungkinan berupa iman yang bersifat wijdani (melalui naluri, bukan akal) akan adanya Allah disertai pemisahan iman ini dari kehidupan, atau berupa pengingkaran terhadap eksistensi Allah. Semuanya merupakan dasar pemikiran yang tidak benar yang wajib dilenyapkan, kemudian diganti dengan dasar pemikiran Islam (Aqidah Islamiyah).
    Adapun mengubah pemikiran-pemikiran yang diemban masyarakat, ditempuh dengan menjelaskan kesalahan dalam pemikiran mereka dan menerangkan pemikiran yang sahih untuk menggantikan posisi pemikiran yang salah tersebut. Metode praktis untuk menjalankannya adalah dengan cara menghubungkan pemikiran-pemikiran yang sahih tersebut dengan tindakan (tasharruf) yang dilakukan masyarakat.
    Sebagai contoh, ketika orang menggembar-gemborkan bahwa kemuliaan itu adalah milik bangsa Arab, maka mereka diingatkan bahwa pandangan tersebut bertentangan dengan Islam. Sebab, kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya, serta orang-orang mukmin. Ketika mereka mempro-pagandakan nasionalisme Arab, mereka diingatkan akan wajibnya menyerukan Islam, di mana Islam telah menyerang fanatisme kesukuan, asal-usul, dan kebangsaan, yang semuanya merupakan fenomena nasionalisme. Dengan cara seperti itu, mereka akan mengetahui kesalahan yang mereka perbuat, karena tindakan-tindakan mereka bertentangan dengan syara’. Akhirnya mereka akan mengetahui kesalahan pemikiran-pemikirannya.
    Sedangkan menghubungkan pemikiran-pemikiran dengan dasar pemikiran Islam, dilakukan melalui dua aktivitas :
    Pertama, anggota-anggota Hizb harus menjadi teladan dalam tindakan-tindakannya dan mengaitkan segala tindakannya dengan Aqidah Islamiyah, meskipun itu menyalahi adat-istiadat dan tradisi yang berlaku, atau menyalahi bangsa dan umat lain yang telah maju secara material.
    Kedua, melibatkan diri dalam semua problem baru -untuk menjelaskan pemecahannya- dan opini-opini yang dominan -untuk menerangkan kekeliruannya- serta segera mengoreksi persepsi-persepsi yang rancu, mengubah pemikiran-pemikiran yang salah, serta membasmi reaksi emosional yang rendah, lalu mengubahnya menjadi perasaan Islam.

32. Tugas yang dilaksanakan oleh Hizb ini memerlukan adanya para pemikir. Dan kaum terpelajar adalah orang yang paling mampu memikul tugas untuk menjadi para pemikir. Mereka merupakan orang yang paling mampu untuk melakukan tugas ini. Mungkin segera terlintas dalam benak, bahwa Hizb hanya terdiri dari kalangan kaum terpelajar. Namun sebenarnya Hizb terdiri dari segala lapisan masyarakat, baik terpelajar maupun bukan. Hanya saja setelah mereka meleburkan diri dengan Hizb, mereka akan menjadi para pemikir. Sebab mereka telah dibina baik dengan tsaqafah Hizb -sebagai tsaqafah Islamiyah yang diadopsi oleh Hizb- maupun dengan tsaqafah Islamiyah secara umum. Secara alami tsaqafah ini bersifat mendalam serta mengajarkan kedalaman berpikir.
...................
Akidah Dicapai Harus Melalui Berpikir - Dasar Pemikiran Islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda