Jumat, 28 Januari 2011

Titik Tolak Perjalanan Dakwah Lengkap

TITIK TOLAK
PERJALANAN DAKWAH
HIZBUT TAHRIR

             Hizbut Tahrir telah berhasil melalui tahapan dakwahnya yang paling rawan dan fase awalnya yang paling sulit dengan gemilang. Hizb tengah meniti jalannya sebagai sebuah partai yang berkomitmen untuk terjun sebagai subjek di tengah masyarakat, sekaligus sebagai pembangkit revolusi pemikiran dan perasaan secara menyeluruh. Hizb juga tengah berjalan menuju titik tolak perjalanan dakwahnya (nuqthatul inthilaq). Dengan demikian, Hizb harus menyeru umat dan melakukan aktivitas di tengah-tengah masyarakat. Meskipun titik tolak tersebut akan dijumpai Hizb secara alami sesuai perjalanan dakwahnya, akan tetapi titik tolak tersebut sangatlah rawan dan sulit serta memerlukan usaha keras agar secara pasti  dapat menghantarkan tercapainya al inthilaq (bertolaknya dakwah). Usaha ini sangat memerlukan kecermatan, sebab usaha ini harus dilaksanakan dalam berbagai macam kondisi yang ada di tengah masyarakat. Keberhasilan Hizb melakukan usaha ini dengan gemilang, merupakan faktor yang akan membawa Hizb menuju tahapan nuqthatul inthilaq.
            Pada tahapan ini (nuqthatul inthilaq), Hizb akan berhadapan langsung dengan orang-orang yang banyak berbuat zhalim, para penganut tsaqafah asing, serta kelompok-kelompok yang menjadi kroni penguasa. Hizb pada dasarnya tidak ingin berhadapan dengan mereka, tidak bermaksud berkonfrontasi dengan mereka, atau tidak menganggap mereka sebagai musuh. Hizb sebenarnya hanya ingin berhadapan dengan pihak penjajah yang kafir, sebab dialah satu-satunya musuh umat.
            Pada tahapan ini, Hizb juga akan berhadapan dengan organisasi-organisasi lain dengan pelbagai bentuk keorganisasiannya. Namun Hizb tidak ingin berkonfrontasi dengan mereka, juga tidak memfokuskan perhatiannya kepada mereka. Sebab meskipun organisasi tersebut merupakan problem bagi masyarakat, namun secara alami problem itu akan bisa diselesaikan dengan adanya penetrasi dakwah di tengah-tengah umat.
            Pada tahapan ini, meskipun Hizb bersungguh-sungguh melakukan usaha untuk mengembangkan dirinya secara terus-menerus, membangun institusinya dengan hati-hati, serta menjernihkan suasana imannya dengan sejernih-jernihnya, namun Hizb harus tetap melakukan 4 (empat) aktivitas dakwahnya. Hizb harus tetap melanjutkan kegiatan berikut : 1) pembinaan intensif, 2) pembinaan umum, 3) mengadopsi kepentingan-kepentingan umat (tabanni mashalih al ummah), dan 4) membongkar strategi penjajah kepada masyarakat luas.

Agar Hizb mampu menghadapi masyarakat  dan melakukan tugas-tugas yang dipikulnya, Hizb harus menyadari keadaan masyarakat dan memahami berbagai situasi dan kondisi masyarakat secara mendalam.  Memahami masyarakat bukanlah tugas pemimpin Hizb saja, melainkan menjadi tugas Hizb secara keseluruhan. Sebab Hizb merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Bahkan lebih dari itu, Hizb merupakan satu kesatuan pemikiran dan perasaan yang telah mengalami kristalisasi pemikiran dan perasaan, dikarenakan kedalamannya dalam berpikir dan kepekaannya dalam merasakan sesuatu.  

 Ketika memasuki titik tolak perjalanan dakwah (nuqthatul inthilaq), Hizb akan menghadapi hal-hal berikut :
1. Meskipun umat Islam seluruhnya menyadari benar bahwa mereka berada dalam kondisi yang buruk dan membutuhkan kehadiran pemimpin yang ikhlas, penuh kesadaran, dan mampu merasakan keadaan mereka, namun kesadaran tersebut masih kabur dan perasaan mereka pun masih mengambang, timbul-tenggelam. Pemikiran umat masih lemah dan perasaan mereka pun tidak peka. Mereka masih didominasi oleh berbagai pemikiran dan pandangan yang campur aduk, serta dicengkeram oleh berbagai perasaan yang simpang-siur yang nyaris saling bertentangan satu sama lain. Jadi umat berada pada taraf pemikiran dan perasaan yang rendah.
2. Masyarakat di negeri-negeri Islam adalah masyarakat yang tidak Islami. Masyarakat ini telah dikendalikan oleh pemikiran Kapitalisme-Demokrasi, dikuasai oleh peradaban Barat, diterapkan di dalamnya sistem Kapitalisme-Demokrasi, serta didominasi oleh perasaan patriotisme, nasionalisme, dan perasaan spiritual pasturian (kultusisme). Manusia yang hidup di dalamnya adalah orang-orang Islam, yang memeluk Aqidah Islamiyah berdasarkan naluri (wijdan).  Dalam urusan sosialnya (hubungan pria-wanita), mereka masih cenderung mengaturnya dengan Islam. 

................................ 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda