Sabtu, 01 November 2014

Mitos Martabat Perempuan Barat

Mitos Martabat Perempuan Barat



BAB IV
MEMPERCANTIK DIRI; MENINGKATKAN MARTABAT PEREMPUAN DI MASYARAKAT?

Pemahaman yang sering dijadikan pegangan oleh para perempuan yang tinggal di luar masyarakat Barat dan bercita-cita memiliki citra seperti perempuan Barat, adalah bahwa perempuan Barat memiliki martabat yang tinggi dan dihormati oleh masyarakat di mana mereka tinggal. Bayangan semacam itu memang diciptakan oleh mass-media Barat dan industri hiburan yang diekspor ke negeri-negeri lain. Mereka yang tinggal di Barat, yang hidup di bawah sistem kapitalis sekuler, akan memahami bahwa pernyataan itu hanya sebuah fantasi belaka.

Kalau kita cermati lebih jauh masalah yang timbul akibat perhatian perempuan Barat yang berlebihan pada aspek kecantikan dan penampilan pada saat mereka menilai dirinya sendiri, maka kita akan melihat bahwa meskipun banyak yang menilai diri mereka dari segi kapasitas kecerdasan dan kemampuannya, namun sesungguhnya banyak di antara mereka yang merasa tidak lengkap bila tidak mengukurnya dari sisi kecantikan dan penampilan menurut standar yang ada di masyarakat Barat. Germaine Greer, seorang feminis dan penulis Barat, mengatakan dalam bukunya, “The Whole Woman”, “Setiap perempuan tahu bahwa sekalipun mereka memperoleh berbagai prestasi, tetapi bila tidak cantik berarti mereka telah melakukan suatu kekeliruan.”

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, dalam sebuah penelitian yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Cincinnati, 33.000 perempuan AS mengatakan kepada para peneliti bahwa mereka lebih memilih turun berat badannya 10 – 15 pon daripada memperoleh prestasi lain. Penelitian “Bread for Life” menemukan fakta bahwa dari 900 perempuan berusia 18 – 24 tahun yang disurvei, 55% di antaranya menilai penampilan sebagai hal yang paling menarik dari seorang perempuan, dan hanya 1% yang menilai perempuan dari tingkat kecerdasannya. Dengan demikian, jelas banyak perempuan yang menjadikan konsep-konsep Barat sebagai jati dirinya beranggapan bahwa penampilannya lebih berharga daripada pemikiran, kecerdasan, kemampuan, serta kepribadiannya, meskipun boleh jadi mereka berusaha menutup-nutupi hal ini dari diri mereka.

Lantas, bagaimana masyarakat Barat menilai seorang perempuan? Seorang penulis Barat, Camille Paglia, menulis dalam sebuah artikel ilmiah berjudul ‘Sexual Harassment: Confrontation and Decisions’, “Budaya Barat memiliki mata yang liar. Mata laki-laki suka ‘berburu’ dan ‘mengamati’; anak laki-laki suka ‘ngeceng’ dan ‘bersuit-suit’ dari mobil-mobil mereka, beraksi seperti berandalan terhadap gadis-gadis yang sedang berjalan-jalan mencuci mata; laki-laki juga sering ‘melolong seperti serigala’ dan ‘berkotek seperti ayam’. Di mana pun berada, perempuan yang cantik selalu dipelototi dan dilecehkan. Dia menjadi simbol utama syahwat manusia.”

Bagi orang-orang yang mampu melihat masyarakat Barat lebih dalam, mereka akan mengetahui bahwa perempuan Barat lebih banyak dinilai dari tingkat kecantikannya daripada dari sisi kecerdasannya. Ini terjadi di semua tingkatan masyarakat. Kebanyakan laki-laki yang memiliki mentalitas sekuler Barat dan terpengaruh dengan mitos kecantikan juga lebih sering menjalin hubungan dengan perempuan berdasarkan pertimbangan penampilan mereka, bukan atas dasar pertimbangan kecerdasan mereka. Mereka selalu mencari perempuan yang berkulit terang, tinggi, dan ramping, sebagai ‘piala’ yang akan menemani mereka berjalan-jalan, sekedar untuk memperlihatkan ‘hasil tangkapan’ atau ‘hadiah’ yang berhasil mereka dapatkan kepada teman-teman dan keluarga mereka. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila perempuan Barat selalu merasa gelisah dengan penampilannya. Mereka merasa bahwa penampilannya adalah kunci untuk menuju pernikahan atau satu-satunya perkara yang dapat mencegah suami atau teman-teman dekatnya berselingkuh dengan perempuan lain yang lebih cantik, lebih ramping, lebih tinggi, dan lebih putih kulitnya.

Kenyataan ini dapat dijelaskan secara sederhana. Konsep kebebasan yang dianut oleh perempuan-perempuan dengan jati diri sekuler Barat –yang merasa bahwa mereka berhak berbusana dan berpenampilan sebagaimana yang mereka inginkan– juga mengendap di dalam benak kaum laki-laki yang mengadopsi jati diri sekuler Barat. Kaum laki-laki sekuler itu menganggap bahwa mereka bebas untuk melihat dan memperlakukan seorang perempuan sekehendak hatinya, karena mereka menjadikan akal dan nafsu mereka sebagai standar perilaku dalam kehidupan. Inilah esensi konsep kebebasan yang menjadi landasan jati diri masyarakat Barat.

Ketika sampai pada permasalahan bagaimana kaum perempuan dipekerjakan dan dipromosikan, kita bisa melihat bahwa penampilan dan kecantikan merupakan perkara yang semakin penting dalam semua bidang pekerjaan, bukan saja dalam bidang industri periklanan, kecantikan, dan hiburan. Cuplikan kasus yang terjadi di dunia Barat berikut ini sebenarnya bisa menjadi bukti yang cukup kuat bahwa konsep ini –yaitu penampilan dan kecantikan merupakan faktor yang penting dalam dunia pekerjaan– merupakan konsep yang dianut baik oleh majikan laki-laki maupun perempuan di semua sektor, dari dunia bisnis sampai dunia politik, dari profesi medis hingga dunia hukum.

Di AS, pada tahun 1975, Catherine McDermott pernah menuntut Xerox Corporation karena tidak memberikan kesempatan kerja kepadanya atas dasar alasan berat badannya. Pada dasawarsa yang sama, National Airlines memecat pramugarinya, Ingrid Fee, karena ia ‘terlalu gemuk’, yaitu memiliki berat badan 4 pon lebih berat daripada batas yang ditentukan. Pada tahun 1983, di AS juga, seorang karyawan TV, Christine Craft, menuntut bekas perusahaannya, Metromedia Inc. karena telah memecatnya atas dasar alasan –menurut atasannya– ‘terlalu tua, sangat tidak menarik, dan tidak menghargai laki-laki’. Keputusan pengadilan terhadap kasus-kasus tersebut ternyata memberikan kemenangan kepada pihak perusahaan. Atas kejadian itu, seorang jurnalis pernah mengatakan, “Ada ribuan Christine Craft lain yang mengalami nasib serupa … Namun kita diam saja. Siapa yang dapat mempertahankan daftar hitam ini?” Maskapai penerbangan Dan Air pada tahun 1987 pernah ditentang karena dianggap hanya mempekerjakan perempuan muda yang cantik sebagai kru penerbangan. Namun maskapai tersebut mempertahankan pendiriannya dengan alasan bahwa hal itu merupakan pilihan pelanggan. Dengan kata lain, pelanggan memang menghendaki kru perempuan yang masih muda dan berpenampilan cantik. Seorang perempuan berusia 54 tahun pernah mengatakan di lembaga The Sexuality of Organization, bahwa atasannya memberhentikan dia tanpa peringatan, “Atasannya mengatakan bahwa ia ‘ingin melihat seorang perempuan yang lebih muda’ agar ‘semangatnya bangkit’.

Bagaimana masyarakat Barat menilai berbagai karakteristik seorang perempuan juga dapat dilihat manakala kita mengetahui bahwa satu-satunya bidang ‘pekerjaan’ di mana seorang perempuan selalu memperoleh penghargaan yang lebih tinggi dari seorang laki-laki adalah dunia modeling dan prostitusi. Seorang supermodel dapat memperoleh bayaran sampai 10.000 poundsterling dalam sehari. Jumlah yang sama baru dapat diperoleh seorang dokter pemula atau seorang guru setelah bekerja 6 bulan.

Perempuan-perempuan yang berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan atau memperoleh promosi karir seringkali dihadapkan dengan berbagai macam bentuk pelecehan seksual, karena kaum laki-laki tidak menganggap ia dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik, tetapi tetap memandangnya semata-mata sebagai suatu objek yang dapat dipermainkan sesuai dengan keinginan laki-laki. Sebuah penelitian yang diadakan pada tahun 1993 oleh sebuah masyarakat industri mendapatkan bahwa 54% perempuan di Inggris telah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja. Dalam sebuah survei, The Claremont College Working Papers (2001) menemukan bahwa 70% perempuan yang bertugas di kesatuan angkatan darat Inggris mengaku telah mengalami sejumlah pelecehan seksual ketika mereka tengah menjalani masa pendidikan selama 12 bulan. Para responden yang disurvei oleh Equal Opportunity Commission mengatakan bahwa kebiasaan itu tidak hanya terjadi pada sektor-sektor tertentu saja, tetapi setiap lapisan masyarakat, baik di lingkungan para manajer, kesatuan polisi, profesi medis dan hukum, maupun dunia politik. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh The American Association of University Women pada tahun 1993, ditemukan bahwa 85% mahasiswa perempuan telah mengalami pelecehan seksual; 25% di antaranya dilakukan oleh karyawan universitas.

Dengan demikian, telah jelas bahwa kaum perempuan di Barat –pada banyak kasus dan pada sebagian besar lapisan masyarakat– lebih dinilai berdasarkan penampilannya, bukan pada tingkat kemampuan dan kecerdasannya. Perempuan di tengah-tengah masyarakat dianggap oleh banyak kalangan laki-laki hanya sebagai sebuah komoditas untuk memenuhi nafsu syahwatnya, bukan sebagai pihak yang turut memberikan kontribusi bagi masyarakat. Bukti yang paling nyata atas pernyataan ini adalah tingginya wabah pemerkosaan di negara-negara Barat. 1 dari 20 perempuan di Inggris dan Wales pernah diperkosa. 167 perempuan diperkosa setiap harinya di Inggris dan Wales (data dari British Home Office). Sedangkan di Amerika Serikat terjadi lebih dari satu kali tindak pemerkosaan terhadap perempuan dalam setiap menitnya. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Ms Magazine pada tahun 1988 terhadap 114 mahasiswa di AS, diperoleh fakta yang mengejutkan, bahwa 85% laki-laki memberikan jawaban “ya” atas pernyataan bahwa “Sejumlah perempuan memang berpenampilan dan bertingkah laku seolah-olah mereka berharap untuk diperkosa.” Kecenderungan yang berbahaya seperti ini dimiliki oleh kaum laki-laki yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang menganut konsep kebebasan, yaitu bahwa mereka bebas untuk melihat seorang perempuan sekehendak hatinya. Pikiran ini pula yang berkembang dalam benak para remaja. Pada sebuah penelitian yang dilakukan UCLA terhadap remaja usia 14 – 18 tahun, diperoleh hasil bahwa lebih dari 50% remaja laki-laki beranggapan “oke-oke saja” jika seorang laki-laki memperkosa seorang perempuan yang telanjur membangkitkan nafsu syahwatnya. Dalam sebuah survei Ms Magazine terhadap para mahasiswa di AS pada tahun 1988, diperoleh laporan bahwa 1 dari 12 responden pernah memperkosa atau berusaha memperkosa seorang perempuan sejak berumur 14 tahun. Di Inggris, remaja-remaja yang sedikitnya berumur 13 tahun telah dimasukkan dalam daftar pelaku tindak kekerasan seksual setelah melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh terhadap anak-anak perempuan. Tidak ada istilah lain untuk menggambarkan masa depan masyarakat seperti itu kecuali kata “mengerikan”.

Demikianlah kenyataannya, bahwa pada masyarakat Barat, kecantikan tidak menjadikan seorang perempuan dihormati atau meningkat martabatnya, sehingga membuat kecantikan menjadi sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini. Konsep itu hanya mitos belaka. Kaum perempuan Barat hanya menjadi objek yang dinilai sebatas kulitnya saja, bukan pada pemikiran dan kecerdasannya. Allah Swt secara sempurna menggambarkan kenyataan ini dalam ayat-Nya:
]وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا[
Dan bagi orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. (TQS. an-Nur [24]: 39)

Download Buku MITOS KECANTIKAN BARAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda