Minggu, 05 Oktober 2014

Aliansi Utara Teroris Sekutu AS Di Afghanistan



Aliansi Utara

28.     Di antara kelompok Afganistan yang bersekutu dengan Barat dalam perang terhadap “terorisme” dan Taliban ada yang sangat anti-Amerika, ada para pelanggar HAM, juga ada mantan sekutu Osama bin Laden dan mantan tentara rezim komunis. Resminya, mereka bernama United Islamic Front for the Salvation of Afghanistan (Front Islam Bersatu untuk Pembebasan Afganistan). Tidak resminya, mereka menyebut diri sebagai Aliansi Utara. Para pejabat AS menyediakan persenjataan untuk aliansi tersebut yang diperkirakan berkekuatan 15.000 pasukan, di luar bantuan non-militer yang telah diberikan Washington sejak 1998. News Media menjuluki aliansi tersebut sebagai para pejuang kebebasan Afganistan yang baru. Mike Vickers, mantan pejabat CIA yang kini menjadi direktur bidang kajian strategis Washington-based Centre for Strategic and Budgeting Assessments mengatakan, ‘Aliansi Utara mungkin tidak sempurna, tetapi mereka benar-benar memiliki anasir yang sangat bagus’.

29.     Sidney Jones, direktur eksekutif Human Rights Watch divisi Asia, berujar, ‘Amerika Serikat dan para sekutu seharusnya tidak bekerjasama dengan para komandan yang catatan kebrutalannya memicu banyak pertanyaan tentang legitimasi mereka di Afganistan’. Human Rights Watch secara khusus menekankan tidak perlunya AS bekerjasama dengan Abdul Rashid Dostum, pimpinan milisi Junbish; Haji Muhammad Muhaqqiq, komandan senior Hizb al-Wahdat; Abdul Rasul Sayyaf, pemimpin jaringan Ittihad al-Islami; dan Abdul Malik Pahlawan, mantan komandan senior Junbish. Gary Leupp, dalam CounterPunch.org pada tanggal 16 Juli 2002 mengabarkan bahwa “Mereka yang menjadi sekutu Amerika adalah para pemerkosa. Pada awal tahun 1996 dalam laporannya tentang HAM di Afganistan, Departemen Luar Negeri AS menyimpulkan bahwa pasukan yang dipimpin Ahmed Shah Massod secara sistematis telah memperkosa dan membunuh wanita-wanita suku Hazzara di Kabul pada bulan Maret 1995. Pasukan ‘Massod’ mengamuk dan kemudian secara sistematis merampok di jalan-jalan dan memperkosa para wanita.’ 'Sejak mereka kembali berkuasa, pasukan Aliansi Utara telah kembali kepada kebiasaan lama mereka…

30.     Di antara berbagai pelanggaran hukum kemanusiaan internasional yang dilakukan oleh faksi Front Bersatu adalah sebagai berikut. Akhir 1999-awal 2000. Pengusiran orang-orang yang mengungsi dari pedesaan di daerah Sangcharak dan sekitarnya dengan melakukan eksekusi kilat, pembakaran rumah-rumah, dan perampokan besar-besaran sepanjang empat bulan mereka menduduki wilayah tersebut. Menurut berita, beberapa eksekusi dilakukan di depan anggota keluarga korban sendiri. Mereka yang menjadi korban serangan pada umumnya adalah dari etnis Pashtun dan dalam beberapa kasus, ada pula etnis Tajik. Tanggal 20-21 September 1998. Serangkaian roket ditembakkan ke arah utara kota Kabul, salah satunya menghantam sebuah pasar malam yang dipadati orang. Diperkirakan jumlah orang yang tewas dalam peristiwa tersebut antara 76-180 orang. Serangan itu diyakini dilakukan oleh pasukan Massood yang bermarkas sekitar duapuluh lima mil di Utara kota Kabul. Seorang juru bicara komandan Front Bersatu Ahmad Shah Mashood menyangkal pihaknya telah menjadikan warga sipil sebagai sasaran. Dalam pernyataan pers tertanggal 23 September 1998, Palang Merah Internasional mengomentari serangan tersebut sebagai sesuatu yang paling membabi-buta dan mematikan yang pernah terjadi di kota Kabul dalam tiga tahun terakhir. Akhir Mei 1997. Sekitar 3000 orang pasukan Taliban yang ditawan telah dieksekusi dengan cepat di Mazar-i Sharif dan sekitarnya oleh pasukan Junbish atas perintah Jenderal Abdul Malik Pahlawan. Pembunuhan tersebut merupakan aksi lanjutan pengunduran diri Malik dari sebuah aliansi singkat dengan Taliban dan juga aksi penangkapan pasukan Taliban yang masih terperangkap di dalam kota. Sebagian serdadu Taliban dibawa ke padang pasir dan kemudian ditembak, sementara yang lain dilemparkan ke sumur yang lantas diledakkan dengan granat. Tanggal 5 Januari 1997. Pesawat-pesawat tempur Junbish menjatuhkan serangkaian bom di daerah pemukiman Kabul. Beberapa orang warga sipil terbunuh sementara yang lain terluka parah dalam serangan udara yang membabi-buta tersebut, yang juga menggunakan bom-bom konvensional. Bulan Maret 1995. Pasukan faksi yang beraksi di bawah Komandan Mashood, Jamiat al-Islami, bertanggung jawab atas perkosaan dan perampokan setelah mereka merebut daerah Karte She, yang didominasi etnis Hazara, di kota Kabul, dari faksi lain. Menurut Laporan Departemen Luar Negeri AS tahun 1996 tentang praktek HAM selama tahun 1995, ‘Pasukan Mashood mengamuk dan secara sistematis melakukan perampokan di jalanan serta memperkosa para wanita’. Pada malam tanggal 11 Februari 1993, pasukan Jamiat al-Islami dan faksi lainnya, Ittihad al-Islami pimpinan Abdul Rasul Sayyaf, melakukan penggerebekan di daerah Barat Kabul kemudian membunuhi dan ‘menghilangkan’ warga sipil etnis Hazara serta melakukan perkosaan di mana-mana. Diperkirakan mereka yang terbunuh sekitar tujuhpuluh hingga lebih dari seratus orang.

31.     Selain itu, pihak-pihak yang tergabung dalam Front Bersatu telah melakukan berbagai pelanggaran lain terhadap hak-hak yang diakui hukum internasional. Sebelum Taliban menguasai hampir seluruh wilayah Afganistan, faksi-faksi itu sendiri telah membagi-bagi jatah wilayah negara, sementara mereka tetap saling berebut penguasaan atas Kabul. Sepanjang tahun 1994 saja, sekitar 25 ribu orang terbunuh di Kabul; sebagian besar adalah warga sipil yang terbunuh oleh serangan roket dan artileri. Sepertiga wilayah kota hancur menjadi puing-puing sementara bangunan yang masih bertahan pun rusak berat. Secara jelas terlihat bahwa tidak ada hukum yang berlaku di daerah-daerah yang berada di bawah pengawasan faksi-faksi itu. Di Kabul, pasukan Jamiat al-Islami, Ittihad, dan Hizb al-Wahdat, semuanya terlibat dalam perkosaan, pembunuhan, penangkapan, penyiksaan, dan ‘penghilangan’. Di Bamiyan, para komandan Hizb al-Wahdat terus-menerus menyiksa tahanan dengan tujuan pemerasan. Para anggota senior aliansi, termasuk mantan Presiden Afghanistan, Burhanudin Rabbani dan penguasa Utara, Abdul Rashid Dostum, para sekutu utama Uni Soviet selama negara tersebut berupaya menduduki Afganistan, disebut oleh AS sebagai pelanggar HAM. Di lain waktu, faksi-faksi itu saling membantai satu sama lain. Pada tahun 1993, berdasarkan informasi dari organisasi non-pemerintah, Human Rights Watch, Society of Islam pimpinan Rabbani telah membunuh sekitar 70 hingga 100 orang warga etnis minoritas Hazara yang memiliki hubungan dengan rival Rabbani, yaitu Party of Islamic Unity, yang juga anggota Aliansi Utara.

32.     Dua tahun kemudian, berdasarkan laporan dari Departemen Luar Negeri AS, pasukan Rabbani –di bawah komando Ahmad Shah Massood (jurnalis Barat menjulukinya sebagai ‘Singa Panjshir’)– bertanggung jawab atas kekerasan anti-Hazara yang lain, ‘perampokan di jalan-jalan dan perkosaan secara sistematis’. Sementara itu, karir Jenderal Dostum benar-benar memuakkan. Sejak tahun 1979 hingga 1992, dia beraliansi dengan pemerintahan komunis di Kabul. Saat pemerintahan tersebut akan jatuh, Dostum berputar haluan dengan bergabung bersama ‘Pejuang Kebebasan’ Mujahidin anti-komunis. Saat berbagai faksi Mujahidin berjatuhan, mula-mula dia bergabung dengan Rabbani untuk melawan Hekmatyar. Lantas ia bergabung dengan Hekmatyar untuk melawan Rabbani. Tahun 1995, dia mendukung pasukan Taliban dalam melawan pasukan Hekmatyar sekaligus Rabbani. Tahun 1996, dia kembali beraliansi dengan Rabbani dan Hekmatyar untuk menghancurkan Taliban.

33.     Aliansi Utara mendanai perangnya dari hasil perdagangan heroin. Menurut Departemen Luar Negeri AS, seluruh ladang opium yang pada tahun ini panen sekitar 77 ton tumbuh di daerah yang mereka kuasai. Media Rusia melaporkan bahwa heroin yang diolah dari opium itu diselundupkan ke Eropa dan AS melalui negara tetangga semisal Tajikistan. Vickers, mantan agen CIA, mengakui tentang sulitnya membeking aliansi Utara yang bukan aliansi sejati itu. Dengan agak pasrah ia mengatakan bahwa AS tidak punya pilihan lain. ‘Taliban adalah target utama. Serangan udara tidak akan berpengaruh bagi mereka. Kita memerlukan pasukan darat. Namun ‘pertanyaannya adalah: pasukan darat siapa? Itulah sebabnya mengapa pihak oposisi memiliki daya tarik tersendiri… Bisa jadi mereka tidak sempurna. Namun pertanyaannya: mana yang lebih baik, menggunakan pasukan darat mereka atau pasukan darat Barat?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda