Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Kamis, 02 Oktober 2014

Negara Barat Mendukung Rezim Diktator




BAB 3
Barat dan Rezim Diktator

Dokumen pemerintah Inggris berupaya keras menjustifikasi perang dengan menjadikan rezim represif Saddam Hussein sebagai alasan. Walau demikian, sedari dulu sudah ada hubungan buruk antara negara-negara Barat yang ‘terpilih secara demokratis’ dengan ‘rezim-rezim diktator’ di dunia. Ketika manfaat menjadi aksioma dijalankannya politik Barat, maka segala macam hukum internasional, prinsip-prinsip dan kebijakan ‘etis’ luar negeri dapat disingkirkan dengan mudah. Sehingga, bukan merupakan suatu kejutan bahwa Inggris dan AS berada di garis terdepan dalam membangun aliansi dengan berbagai rezim diktator paling brutal sepanjang abad yang lalu dan yang masih berlanjut hingga kini. Banyak contoh yang memperlihatkan bagaimana mereka mendudukkan, mendukung dan menjatuhkan pemimpin sebuah negara berdasarkan kepentingan nasional mereka. Aliansi mereka dengan berbagai rezim tercipta di bawah eufimisme yang berhubungan dengan strategi, geopolitik dan semacamnya. Bab ini mencoba menapaktilasi keterkaitan Barat dengan rezim-rezim diktator dan selanjutnya membuktikan bagaimana mereka berkolusi dan mendukung aktivitas despotisme yang brutal. Anda, sidang pembaca, harus menyadari sepenuhnya bahwa AS dan Inggris senantiasa memunculkan sejumlah premis kosong untuk memberlakukan berbagai hukum dan standar terhadap seluruh negara di dunia.

Terrorists become any foreign people you don’t like
(Kini teroris adalah setiap orang asing yang tidak Anda sukai).
[Frank Furedi]

If the Nurenberg laws were applied today, then every Post-War American President would have to be hanged
(Andaikata hukum Nurenberg diberlakukan sekarang, maka setiap Presiden AS pasca perang harus digantung).
[Noam Chomsky]

1.         Daftar para diktator, di mana Barat turut membantu dan bersekongkol dengan mereka, sangatlah panjang dan terkenal. Bisa jadi kita perlu sebuah dokumen tersendiri jika ingin mengkaji semuanya secara utuh. Sekadar informasi saja, berikut ini daftar para dikatator yang kami buat.

Sani Abacha
Daniel Arap Moi
Jerry Rawlings
Yoweri Museveni
Muammar Khaddafi
Gamal Abdul Nasser
Anwar Sadat
Hosni Mubarak
Islam Karimov
Adeeb Shishkaly
Hosni As Zaim
Abdul Kareem Kassem
Hafez Al Asad
Jenderal Ayub Khan
Jenderal Yahya Khan
Jenderal Zia ul Haq
Jenderal Pervaiz Musharraf
Jenderal Suharto
Ferdinand Marcos
Pol Pot
Josef Stalin
Adolf Hitler
Jenderal Augustine Pinochet
Reza Pahlevi – Shah Iran
Mobuto Sese Seko
Laurent Kabila
Robert Mugabe
Saddam Hussein

2.         Agaknya sejarah akan menempatkan Josef Stalin dan Adolf Hitler di antara para pembunuh massal dan tirani pada zaman kita. Jumlah orang yang mereka bunuh berada pada kisaran jutaan dan itupun baru perkiraan. Bagaimanapun, pihak Baratlah yang telah memberi mereka peluang untuk tampil ke pentas dunia sekaligus membantu kejahatan yang mereka lakukan.

3.         Pernyataan George W. Bush bahwa ‘Diktator Irak adalah murid Stalin,’ merupakan sesuatu yang ironis. Hal ini mengingat Baratlah, khususnya AS, yang menjalin dan menciptakan persekutuan dengan diktator –yang secara historis tidak diragukan lagi– paling brutal sepanjang Perang Dunia II itu. Nama Josef Stalin akan selalu dikenang dalam sejarah sebagai diktator terbrutal di zaman ini. Pada tahun 1932, ia memerintahkan untuk membuat bangsa Ukraina kelaparan agar mau menjalankan program kolektivisasi dan menanggalkan nasionalisme mereka. Setidaknya 8 juta orang Ukraina dibunuh, sementara yang lain terpaksa menjalankan praktek kanibalisme. Sejak tahun 1917 hingga kematian Stalin di tahun 1953, Uni Soviet telah menembaki, menyiksa, mengusir, membekukan dan semacamnya hingga menewaskan lebih dari 40 juta orang rakyatnya. Beberapa sejarawan Rusia bahkan mengklaim bahwa jumlah yang sebenarnya adalah lebih dari itu. Akan tetapi, hal itu tidak menghentikan Barat untuk tetap menjalin persahabatan dan memberikan bantuan sepanjang Perang Dunia II atas dasar ‘greater good’ (“kemaslahatan yang lebih besar”).

4.         Fenomena tentang hubungan Presiden AS Roosevelt dengan Stalin telah dikenal luas. Dalam bukunya, ‘From Chronicles of Wasted Time: Number 2 The Infernal Grove’, penulis Inggris Malcolm Muggeridge di halaman 199 menulis: ‘Roosevelt… melakukan apapun yang dapat ia lakukan untuk memastikan bahwa, ketika Jerman kalah, Stalin dengan mudahnya menduduki dan menguasai berbagai negara bersama dengan sekutu-sekutunya…. Dan ahli spionase muda kita (semacam Kim Philby dan lain-lain) telah menunjukkan maksud yang sama dengan mengatur agar, di negara yang jauh, dia (Stalin) diberi pasukan dengan persenjataan yang lengkap, keuangan yang besar dan pasukan bawah tanah yang terorganisasi dengan baik’. AS melihat bahwa partisipasi Rusia sangat krusial untuk membentuk tatanan dunia pasca perang dan karenanya, menjalin perjanjian dengan Stalin dipandang sebagai strategi imperatif yang sangat esensial. Harry Hopkins, ajudan terdekat Roosevelt, merefleksikan pemikiran sang presiden itu dalam tulisan yang dibuatnya: ‘Kita tidak dapat mengatur dunia antara Inggris dan kita begitu saja tanpa menyertakan Rusia sebagai mitra sejajar. Untuk itu, jika urusan dengan Chiang Kai Sek berjalan dengan baik, aku pun akan menyertakan Cina’. Di antara para pembesar Inggris pun ada yang cenderung mengagumi sang pembantai hampir 20 juta orang tersebut. ‘Bila aku harus menyusun sebuah tim negosiasi, Stalin akan menjadi pilihan pertamaku,’ ucap Anthony Eden, Menteri Luar Negeri Inggris. Dalam sebuah pertemuan di Teheran pada tahun 1943, Churchil berkata, ‘Marshal Stalin berhak mengambil tempat di antara tokoh-tokoh besar dalam sejarah Rusia, dan layak disebut sebagai ‘Stalin yang Agung’’ [Edward Radzinsky, ‘Stalin’].

5.         Alvin Finkel dan Clement Leibovitz mengupas keterlibatan Inggris dengan Nazi dalam karya tentang Nazi yang baru terbit, ‘The Chamberlain-Hitler Collusion’. Sang penulis menyodorkan berbagai bukti tertulis untuk meyakinkan bahwa pada kenyataannya para penguasa Inggris tidak menemukan sesuatu yang perlu dibenci dari Nazi. Ini bertentangan dengan kepercayaan yang lazim bahwa Inggris boleh berbangga hati dengan perannya saat Perang Dunia II di mana seluruh rakyat bersatu untuk mempertahankan demokrasi dan hak-hak negara-negara kecil, dan untuk mengalahkan tirani Fasisme. Penguasa Inggris justru menyambut baik rezim Hitler (seperti yang mereka lakukan terhadap rezim Franco dan Mussolini), mendukung Jerman untuk kembali mempersenjatai diri, dan sangat berharap untuk bersekutu dengan Jerman hingga tahun 1939. Buku tersebut menghapus anggapan bahwa Chamberlain mengharapkan sebuah kesepakatan dengan Hitler karena dia sangat naif atau ingin menghindari pertumpahan darah. Sir Neville Henderson, Duta Besar Inggris untuk Jerman periode 1937-1939, pada bulan Oktober 1939 menulis, ‘ada banyak hal di dalam organisasi dan institusi sosial Nazi … yang harus kita pelajari dan terapkan terhadap bangsa kita dan demokrasi model lama’. Adapun tentang Hitler, ‘andai saja dia tahu kapan dan di mana dia harus berhenti: misalnya, setelah adanya dekrit Munich dan Nurenberg untuk Yahudi, dia akan dikenang sebagai pemimpin besar di dunia’. Bagi orang-orang Inggris, Nazi bebas melakukan apapun di Eropa Timur dan Eropa Tengah. Pemerintah Inggris dapat menerima aksi Hitler di Austria, Cekoslowakia, dan lain-lain. Dengan kata lain, Inggris dapat menerima semua tindakan Nazi sepanjang tidak mengganggu koloni dan pasar Inggris.

6.         Finkel dan Leibovitz menyoroti bagaimana pemerintah Inggris sangat mendukung dipersenjatainya kembali Jerman karena mereka melihat Nazi sebagai sekutu alami dan potensi kuat yang dapat digunakan untuk melawan komunisme. Chamberlain menulis kepada Raja, mengemukakan gagasan bahwa Jerman dan Inggris akan menjadi ‘dua pilar perdamaian Eropa dan benteng perlawanan terhadap Komunisme’. Ketika pada tahun 1936 Rhineland di-remiliterisasi, kabinet Inggris secara gencar menentang rencana Perancis yang bermaksud menghentikan hal tersebut. Laporan kabinet memperlihatkan bahwa mereka merasa apabila rencana Perancis berhasil, maka Hitler akan terguling dan itu merupakan sebuah keuntungan bagi kaum komunis di Jerman. Argumentasi ini selalu diandalkan oleh pemerintahan Chamberlain. Inggris membenarkan invasi Jerman ke Austria di bulan Februari 1938 dengan alasan bahwa kedua negara itu telah memutuskan untuk bersatu secara damai. Hitler pun diberitahu bahwa mengingat banyaknya populasi suku Sudeten Jerman di Cekoslowakia, maka Inggris tidak akan menghalangi invasi terhadap ‘tujuan Jerman berikutnya (her next goal)’. Inggris bahkan menandatangani Anglo-German Naval Accord di tahun 1935, yang memungkinkan Hitler untuk mengembangkan mesin-mesin perang, sesuatu yang secara langsung bertentangan dengan Perjanjian Versailles dan LBB. Rencana tersebut akan membuat Hitler memiliki ‘kebebasan’ di Eropa Tengah dan Timur, sementara Kerajaan Inggris tidak diusik sama sekali. Inilah makna sebenarnya dari ungkapan Chamberlain tentang ‘peace in our time’ –yaitu stabilitas bagi pemerintahan dan untuk mengusir orang-orang Yahudi, Slavia, Rumania, dan bangsa atau kaum lain yang tidak dikehendaki, terutama Komunis. Keterlibatan AS dengan apa yang disebut sebagai ancaman Nazi pun lebih tersembunyi daripada yang mereka akui. Antara tahun 1929 dan 1939, investasi perindustrian AS di Nazi-Jerman jauh lebih pesat ketimbang investasinya di negara manapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam