Rabu, 08 Oktober 2014

AS pura-pura menjadi kekuatan kebaikan dunia




AS pura-pura menjadi kekuatan demi kebaikan di dunia


5.         Anggapan keliru tentang irinya dunia kepada AS adalah sesuatu yang digembar-gemborkan media dan politisi AS secara terus-menerus. Sejarawan militer, Victor Davis Hanson menulis dalam City Journal (25 Februari 2002), ‘mereka membenci kita karena kultur mereka terbelakang dan korup’ dan karena ‘mereka iri dengan kekuatan dan prestise kita’. Pemeo tentang ‘dunia cemburu pada kita’ ini jelas sekali hanya berlaku untuk tingkat domestik. Jenis propaganda seperti ini membantu terciptanya iklim kepuasan yang statis. Lagipula, tidak ada satu orangpun di luar orang AS yang cukup bodoh untuk mempercayai hal itu.

6.         Setelah peristiwa 11 September 2001, hanya ada sedikit tulisan yang berbeda melawan arus para pejabat Amerika. Siapapun yang tidak mengekspresikan rasa hormat secara utuh terhadap sikap mereka, ia akan menjadi orang yang terancam. The Guardian (17 Januari 2002) menyimpulkannya dengan tepat, ‘Dalam hari-hari berkabung di New York dan Washington, tampaknya, siapapun yang pernah bersikap kritis secara terangan-terangan kepada Amerika tiba-tiba mendapati diri mereka dituduh terlibat dengan Osama bin Laden –atau lebih buruk lagi. Di kalangan pers Inggris, mereka digambarkan sebagai ‘pecundang dan tidak patriotis’, ‘nihilis dan masokistis’, dan ‘Stalinis dan fasis’; sebagai ‘gerombolan Baader Meinhof’, ‘tangan kanan Osama’, dan ‘pembantu para diktator’; sebagai ‘si pincang’, ‘mudah goyah’, ‘tidak punya hati dan tolol’; dan ‘cacing yang termakan propaganda Soviet’; sebagai yang penuh dengan ‘omong kosong’, ‘pengkhayal’ dan ‘dekadensi intelektual’; sebagai kumpulan ‘idiot-idiot berguna’, ‘zombi yang buta’; dan ‘manusia yang membenci manusia’.’

7.         Kembali ke gaya pembedaan media AS, ada ribuan contoh yang bisa dikutip untuk menggambarkan bagaimana AS menyamarkan dirinya sebagai kekuatan demi kebaikan di dunia padahal ia sebenarnya adalah kekuatan jahat yang mendatangkan kematian dan kehancuran. Ada satu contoh khusus dari omong kosong jingoistis yang benar-benar menyuarakan tabiat pemerintah, rakyat dan media AS. Rich Lowry menulis artikel di situs National Review Online —‘situs utama kaum konservatif Amerika’— dengan judul Lots of sentiment for nuking Mecca’. Di dalamnya ia menulis: ‘Ini hal yang berat, saya tidak tahu betul apa yang harus saya pikirkan. Mekah terlihat ekstrim, tentu saja, tetapi kemudian beberapa orang akan mati dan akan menjadi suatu pertanda. Agama sebelumnya telah mengalami kemerosotan yang merupakan bencana besar … Dan, sebagai masalah umum, sekaranglah waktunya untuk serius, bukan setelah jatuh korban orang Amerika yang jumlahnya ribuan lebih—termasuk memikirkan apa yang akan kita lakukan untuk membalas dendam, jadi mungkin sentimen memiliki efek yang kecil terhadap pencegahan’ [R. Lowry, ‘Lots of sentiment for nuking Mecca’, National Review Online, www.nationalreview.com/thecorner].

8.         Apakah itu sebuah ancaman? Apakah itu sebuah janji? Ataukah hanya mulut besar belaka? Apapun itu, kita harus diam sesaat dan merenungkan kesesuaian pernyataan tersebut dengan pembahasan kita tentang senjata pemusnah massal. Harus diingat bahwa AS memiliki senjata itu, dan suara sayap kanan AS telah terdengar. Mulut besar atau bukan, bahasa emotif seperti itu seharusnya menjadi seruan kebangkitan bagi penduduk dunia ini, Muslim dan non-Muslim. Barangkali itu bukan sekadar pandangan orang jalanan. Rata-rata orang Amerika lebih tertarik pada olahraga serta film dan tidak berminat membaca halaman situs yang berisi bualan sayap kanan. Ketika Hollywood mengeluarkan film berjudul Rules of Engagement, banyak kelompok Arab-Amerika mengutuknya. Salah satu kelompok mengomentarinya sebagai ‘mungkin inilah film rasis anti-Arab paling keji yang pernah dibuat oleh studio besar Hollywood. Dalam ulasan yang muncul dalam film.com, Peter Brunette mengatakan, ‘para penonton yang bersama saya menonton film ini terlihat gembira ketika marinir membantai warga sipil’ [‘Down Right Offensive’, film.com]. Robert Bowman, seorang veteran Vietnam dan sekarang menjabat uskup United Catholic Church di Melbourne Beach, Florida mengatakan, ‘Kita tidak dibenci karena mempraktekkan demokrasi, menjunjung kebebasan, atau menegakkan hak-hak asasi manusia. Kita dibenci karena pemerintah kita menyangkal hal ini pada masyarakat negara–negara dunia ketiga yang sumber-sumber alamnya diincar perusahaan-perusahaan multinasional kita. Kebencian yang kita taburkan telah kembali membayangi kita dalam bentuk terorisme dan di masa yang akan datang, akan menjadi terorisme nuklir’ [The National Catholic Reporter, 2 Oktober 1998].

‘Kita membutuhkan musuh bersama untuk mempersatukan kita’ –Condoleeza Rice, Maret 2000

9.         AS membutuhkan cara untuk menangani permasalahan internal AS yang begitu banyak. Ternyata cara yang dipilih untuk menyelesaikan setumpuk permasalahan itu bukanlah dengan menghadapinya, melainkan dengan mengalihkan perhatian dari masalah tersebut. Hal itu terlihat pada kasus-kasus seperti kematian bayi, usia pengharapan hidup pria kulit hitam dan kondisi pemukiman di wilayah tertentu masyarakat AS. Tiga puluh enam juta penduduk AS mengalami kekurangan pangan dan jumlah itu kian bertambah. Hampir setengah dari mereka harus antri di dapur umum memiliki satu atau lebih anggota keluarga yang bekerja. Begitu miskinnya mereka sampai makanan pun tak terbeli. Golongan kaya (the have’s) tidak mengakui golongan miskin (the have-not’s) dengan mengatakan, ‘Why don’t you get a job’. Hanya sedikit yang menyadari, bahwa hanya kurang dari 1,1% orang-orang yang dihapus dari daftar nama sejahtera, menurut reformasi kesejahteraan tahun 1996, yang mampu mendapatkan pekerjaan dengan upah yang mencukupi biaya hidup mereka. Dengan upah minimum US$ 5,15/jam mereka tidak bisa memenuhi biaya sewa rumah dan menghidupi keluarga yang tinggal di kota utama manapun di AS, walaupun bekerja sampai 50 jam seminggu. Belum termasuk masalah sandang dan kebutuhan yang lain. Ini baru masalah kemiskinan. Masalah lain seperti kriminal, ketergantungan obat dan alkohol, hancurnya tatanan keluarga serta semua masalah sosial lain semakin menjauhkan masyarakat AS dari sistem Thomas Jefferson yang berdasarkan pursuit of happiness (upaya mengejar kebahagiaan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda