Jumat, 10 Oktober 2014

Korban Diskriminasi Di Amerika Serikat



Impian Amerika

16.     Selain demokrasi, ada aspek lain dari cara hidup orang Amerika yang mereka klaim telah membuat negara-negara lain iri kepada AS. Woodrow Wilson (1919) mengatakan, ‘terkadang orang-orang menyebut saya seorang idealis, memang begitulah adanya selaku orang Amerika. Karena Amerika adalah satu-satunya negara yang idealis.’ Pasca 11 September, AS tidak juga sadar bahwa selama ini mereka tidur sambil berjalan. Akan tetapi, kini AS telah terbangun dari tidur pulas dan mimpinya. Enron, WorldCom dan realitas pertumpahan darah di ibu pertiwinya telah membuat AS menjadi negara yang mencemaskan aspirasinya menjadi rapuh. Mungkin untuk kali pertama sejak Great Depression, para orangtua berbicara secara terbuka tentang anak-anak mereka yang tumbuh di sebuah negeri (AS) yang keadaannya lebih buruk daripada negara tempat orangtua mereka dilahirkan.

17.     Impian Amerika telah berada jauh di luar jangkauan tujuh juta muslim yang tinggal di antara Los Angeles dan New York. Hampir dua pertiganya mengatakan mereka warga Muslim di AS telah menjadi korban prasangka dan diskriminasi sejak peristiwa 11 September. Ketika naik pesawat, mereka dipaksa keluar oleh para penumpang yang menaruh curiga, sebagian yang lain bahkan tidak diperbolehkan sama sekali untuk menaiki pesawat. Hak-hak sipil yang termasyhur dibuat oleh pendiri AS sebagaimana diabadikan dalam Bill of Rights ternyata tidak lebih dari slogan kosong. ‘Para pecinta kebebasan’ yang menguasai tanah kebebasan telah mengorbankan ‘kebebasan’ dengan mengatasnamakan keamanan nasional. Para tersangka ditahan tanpa diadili, para pengacara dilarang menemui kliennya. Edward Said, seorang Profesor di Columbia University– New York, menulis dalam Al Ahram (edisi mingguan) ‘Saya tidak melihat adanya seorang Arab atau Muslim Amerika yang sekarang tidak merasa bahwa ia termasuk kubu musuh dan berada di Amerika saat ini memberi kita pengalaman keterasingan yang tidak mengenakkan dan khususnya menjadi sasaran permusuhan yang begitu meluas [‘Thought about America’, 28 Februari – 6 Maret 2002].

18.     Kita kembali lagi ke suara sentimen imperialis Amerika yang sesungguhnya, The National Review. Kontributor Editor Ann Coulter menulis: ‘Sekarang bukan saatnya lagi mencari individu yang secara langsung terlibat dalam serangan teroris ini.. Tanggung jawab ini termasuk siapapun dan di manapun yang tersenyum dengan peristiwa pembinasaan para patriot seperti Barbara Olsen. Orang-orang yang menginginkan negara kita hancur tinggal di sini, bekerja untuk perusahaan penerbangan kita, dan bekerja untuk bandara yang persis sama sebagai seorang tukang kayu dari Idaho. Ini seperti meminta Wehrmacht berimigrasi ke Amerika dan bekerja untuk perusahaan penerbangan kita selama Perang Dunia II. Tetapi Wehrmacht tidak begitu haus darah. Kita harus menyerbu negara mereka, membunuh pemimpin mereka, dan memurtadkan mereka menjadi Kristen. Kita kurang cermat ketika hanya menemukan dan menghukum Hitler dan para pejabat terasnya. Kita membombardir kota-kota di Jerman, kita membunuhi warga sipil. Itulah perang. Dan ini pun adalah perang [National Review, ‘This is War’ 13 September 2001].

19.     Demikianlah yang tertulis. Bagaimana faktanya? Pada bulan Maret 2002 dilaporkan bahwa Adeel Akhtar, orang Inggris, terbang ke Amerika untuk audisi peran. Ketika pesawat yang ia tumpangi mendarat di bandara JFK New York, ia dan teman wanitanya diborgol. Dari gambarannya ia terlihat tidak seperti seorang fundamentalis. Ia dibawa ke suatu ruangan dan diinterogasi selama beberapa jam. Para petugas bertanya apakah ia memiliki teman di Timur Tengah, atau mengetahui seseorang yang berada di balik serangan 11 September.

Pengalaman diskriminasi di AS itu bukan hal yang asing bagi ratusan orang yang berasal dari Asia atau Timur Tengah. Seperti contoh seorang wanita Inggris (berusia 50 tahun) yang terbang ke JFK untuk mengunjungi saudara perempuannya yang menderita kanker. Di bandara, petugas imigrasi mendapati bahwa pada kunjungan sebelumnya, ia melebihi masa kunjungan yang tertera dalam visanya. Ia menjelaskan bahwa saat itu ia sedang menolong saudaranya yang sedang sakit parah, dan ia telah mengajukan perpanjangan. Ketika petugas memintanya untuk kembali ke Inggris, ia menerima keputusan itu tetapi sebelumnya meminta untuk berbicara kepada konsul Inggris. Mereka menolak permintaannya, malah mengatakan bahwa ia bisa menelepon konsulat Pakistan. Sang wanita menjelaskan bahwa ia orang Inggris, bukan Pakistan. Paspornya pun mengatakan ia adalah warga Inggris. Para petugas keamanan bandara mulai menginterogasinya. Ia bisa bicara dalam berapa bahasa? Sudah berapa lama ia tinggal di Inggris? Mereka membongkar-paksa tas kopornya dan mengambil sidik jarinya. Kemudian ia diborgol dan dirantai serta digiring melewati tempat duduk pemberangkatan. ‘Saya merasa seolah-olah petugas keamanan bandara memamerkan saya di depan para penumpang lain layaknya tangkapan berharga. Mengapa saya diborgol? Saya hanya seorang ibu rumah tangga berusia 50 tahun dari daerah pinggiran London. Ancaman apa yang saya lakukan yang membahayakan keselamatan penumpang lain?’

20.     Juga pada bulan Maret 2001, seorang koresponden majalah Time menemukan 30 orang laki-laki dan seorang wanita bermalam di sebuah hotel kumuh di Mogadishu, Somalia. Mereka semua orang Afrika-Amerika asal Somalia yang sudah tiba di Amerika sejak bayi dan anak-anak. Kebanyakan dari mereka adalah para profesional dengan pekerjaan yang terjamin dan kehidupan yang mapan. Pada bulan Januari, tidak lama setelah dirilisnya film Black Hawk Down (film tentang kegagalan misi militer Amerika di Somalia), mereka ditangkapi. Mereka dipukuli, diancam dengan suntikan dan tidak boleh menerima telepon dan pengacara. Kemudian dua minggu yang lalu, tanpa adanya tuntutan atau alasan, tiba-tiba mereka dideportasi ke Somalia. Sekarang mereka tanpa paspor, surat-surat, atau uang di negara yang asing (bagi mereka).

21.     Semua orang yang kami sebut di atas merupakan korban rasisme AS. Dalam waktu 6 bulan setelah peristiwa 11 September, Jaksa Agung AS memanggil 5000 orang laki-laki asal Arab untuk ditanyai oleh penyelidik federal. Selama periode itu lebih dari 1000 orang yang dilahirkan di Timur Tengah telah ditawan untuk jangka waktu yang tak terbatas dengan alasan ‘pelanggaran imigrasi’. Tidak terhitung lagi banyaknya contoh diskriminasi petugas terhadap wanita muslimah AS yang digeledah di bandara, sementara yang laki-laki diseret dari tempat tidur dengan todongan pistol di tengah malam. Ini menunjukkan bahwa bukti, yang tidak diketahui para tersangka, yang diizinkan oleh US Patriot Act, ‘telah digunakan hampir secara eksklusif terhadap Muslim dan orang Arab-Amerika’. Di AS, saat ini, kaum Muslim dan orang-orang keturunan atau berasal dari Timur Tengah semuanya menjadi tersangka teroris. Mereka dianggap bersalah sampai mereka terbukti tidak bersalah.

Download Buku SENJATA PEMUSNAH MASSAL DAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI KOLONIALIS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda