Senin, 13 Oktober 2014

Penjajahan dan Kekejaman AS dan Inggris



Penjajahan dan Kekejaman

4.         Masyarakat yang bebas tidak mengintimidasi melalui penjajahan dan kekejaman’ ujar Presiden Bush dalam usahanya yang gagal membujuk PBB memberi legitimasi menyerang Irak. Gaung kata-kata itu sama arogannya dengan kata-kata Lord Rosebarry satu abad silam, ketika menggambarkan kerajaan Inggris sebagai ‘agen sekular terhebat yang pernah ada di muka bumi’ [J.A.Hobson., Imperialism’s Study]. Dalam sejarah, Presiden Bush akan bergabung dengan Lord Roseberry dalam daftar orang-orang termasyhur yang angkuh, juga bersama Adolf Hitler dan Joseph Stalin, atas kontribusi tindakan tak bermoral mereka yang luar biasa. Sejarah Irak dibentuk bukan hanya oleh kekejaman dan penjajahan melainkan juga oleh masalah-masalah di Timur Tengah yang muncul selama masa imperialisme Eropa yang berabad lamanya, dan diperparah oleh hegemoni AS. Sungguh sebuah ironi terbesar dalam sejarah, bahwa AS menjadi suatu kekuatan imperial pada saat ia berusaha membebaskan dirinya dari kolonialisme Inggris dan Eropa. Hal-hal demikian merupakan konsekuensi yang mengerikan bagi negara yang mendasarkan dirinya pada ideologi sekular seperti AS, yang meniru Kerajaan Inggris di masa lampau.

5.         The East Indian Company, sebuah percontohan korporasi Barat, menginjakkan kakinya untuk kali pertama di Mesopotamia pada tahun 1763, saat Inggris mencari rute perdagangan ke India, koloninya sendiri. Hal itu merupakan pertanda datangnya sesuatu, seperti saat Lord Palmerston memulai sebuah pencarian untuk menemukan pasar-pasar baru di Timur Tengah bagi kepentingan industri dan perdagangan Inggris di tahun 1830-an –sebuah doktrin yang menjadi bagian integral peradaban Barat– sebagaimana yang pernah juga dinyatakan oleh Anthony Lake, Penasihat Keamanan Nasional di masa Presiden Clinton, ‘perusahaan-perusahaan swasta merupakan sekutu alami dalam usaha kita memperkuat ekonomi pasar’ [Mark Curtis., The Great Deception Anglo-American Power & World Order., 1998, hal.310]. Demikian pula mantan Menteri Luar Negeri AS, Cordell Hull, yang mengatakan, ‘Tongkat kepemimpinan menuju sistem baru hubungan internasional dalam perdagangan dan masalah ekonomi lain sebagian besar akan berpindah ke Amerika Serikat… Kita harus memikul kepemimpinan ini, beserta tanggung jawab yang menyertainya, terutama demi kepentingan nasional kita semata’ [Gabriel Kolko., Politics of War., hal.251].

6.         Kepentingan nasional, bahasa eufemisme untuk ketamakan, menjadi stimulus penjajahan Eropa, ketika Inggris menduduki Aden pada tahun 1839. Di tahun 1882, Inggris menginvasi Mesir yang tengah membangun Terusan Suez dengan Perancis sejak 1869, yang oleh Perdana Menteri Gladstone dianggap sebagai ‘pencarian kepentingan Inggris terbesar’ karena pada waktu itu 13% dari seluruh perdagangan luar negeri Inggris berlangsung melalui Terusan Suez. Earl Kimberley, Duta Besar untuk India pada tahun 1885 menyatakan, ‘Apakah orang benar-benar mengira jika kita tidak menguasai Kerajaan India maka kita harus mempengaruhi Mesir? [Ronald Hyam., ‘Britain’s Imperial Century 1815 to 1914’., 1976, hal.180]. Ini merupakan sentimen yang kembali mengemuka selama Perang Teluk tahun 1991 ketika Lawrence Korb, Asisten Menteri Pertahanan di masa pemerintahan Reagan, menyatakan, ‘Kita tidak akan ambil pusing sekalipun Kuwait menghasilkan wortel’ [Paul D’Amato., ‘US Intervention in the Middle East; Blood for Oil’., International Socialist Review, Issue 15, December 2000–January 2001]. Pada tahun 1856, Inggris berupaya membuka jalan ke Persia dalam rangka mencari akses darat menuju koloninya di India dan memenuhi kewajiban-kewajiban perjanjian untuk melindungi para syeikh penguasa Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Oman untuk menjamin bahwa keempat negeri itu hanya akan diberikan kepada Inggris.

7.         Kemenangan atas Khilafah Utsmaniyah pada PD I selanjutnya mengokohkan Inggris sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Timur Tengah. Ia menguasai Mesopotamia, Persia, Teluk dan Mesir sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian yang terkenal, Sykes-Picot, di tahun 1916. Maret 1917, Inggris menduduki Baghdad dan dari sebuah telegram yang dikirimkan kepada pasukan Inggris terdapat indikasi adanya strategi baru kolonialisme Barat pada abad ke-20. War Office memberitakan, ‘Baghdad akan menjadi Negara Arab dengan penguasa atau pemerintahan lokal di bawah perlindungan Inggris dalam segala sesuatunya. Sehingga Baghdad tidak akan memiliki hubungan dengan kekuatan asing…. Baghdad akan diatur di belakang tirai Arab sejauh mungkin [P.W. Ireland, ‘Iraq; A Study in Political Development’, 1937]. Tidak sekadar memelihara rezim boneka sebagai doktrin kolonial, Inggris juga telah menemukan seni kolonisasi. Penjajahan gaya baru itu terurai dalam pernyataan Departemen Luar Negeri pada tahun 1947, ‘Kepentingan keamanan dan strategis kami di seluruh dunia akan terlindungi dengan baik dengan didirikannya ‘kantor-kantor polisi’ di titik-titik yang tepat yang akan diperlengkapi dengan kemampuan mengatasi keadaan darurat dalam radius jarak jauh. Kuwait merupakan salah satu titik untuk mengontrol Irak, Persia Selatan, Arab Saudi dan Teluk Persia’. Namun demikian, era pasca Perang Teluk menunjukkan betapa AS telah menerapkan penjajahan gaya baru itu sekaligus menggantikan posisi Inggris sebagai kekuatan dominan di Timur Tengah.

8.         Dunia melihat AS memelopori doktrin baru kolonialisme Barat, menemukan gaya baru dalam menjajah negara lain dengan menekankan pada aksi-aksi rahasia, perbudakan ekonomi dan intrik-intrik politik. Model penjajahan yang menindas masyarakat Timur Tengah melalui rezim boneka dan mendorong terjadinya penindasan, penahanan dan pembunuhan. Jesse Leaf, Kepala Analis Iran CIA, menjelaskan intimidasi AS di Timur Tengah ketika dia mengatakan, ‘Kami bentuk mereka (SAVAK), kami atur mereka, kami ajari mereka apapun yang kami tahu… teknik interogasi yang ekstrim… termasuk penyiksaan… ruang penyiksaaan dibuat dan semuanya itu dibiayai oleh Amerika Serikat’ [Salaam Al-Sahrqi, ‘Iran: Unholy Alliances, Holly Terror’, Covert Action Information Bulletin, No.37, Summer 1991]. Pengendalian penduduk Timur Tengah lebih jauh lagi diuraikan dalam memorandum pemerintah AS, ‘Kebijakan terbaru Amerika adalah membatasi penjualan senjata ke negara-negara Timur Tengah demi memenuhi jumlah layak yang dibutuhkan untuk menjaga keamanan internal’ [Statement by the United States & United Kingdom Groups, FRUS, 1947, Vol. V hal. 613] dan Dewan Keamanan Nasional AS mengatakan bahwa bantuan militer sangat penting ‘sebagai alat untuk mempertahankan keamanan internal’ [National Security Council, Statement of U.S. Policy toward Iran, 15 November 1958, FRUS, 1958-1960, Vol.XII, hal. 611-613]. Senator AS, Hubert Humphrey menjelaskan kebijakan tersebut dalam kaitannya dengan pertemuan antara pejabat AS dengan pemimpin militer Iran, ‘Tahukah Anda apa yang dikatakan pimpinan tentara Iran kepada salah satu orang kita? Dia mengatakan pasukan berada dalam kondisi yang baik, berkat bantuan AS, sekarang tentara mampu menjalin hubungan dengan penduduk sipil’ [Fred Halliday, ‘Arabia Without Sultans’].

Download Buku SENJATA PEMUSNAH MASSAL DAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI KOLONIALIS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda