Jumat, 16 Januari 2015

Tanda-Tanda Fitnah Dalam Hadits



Tanda-tanda fitnah dan awal mula kemunculannya


        Setiap manusia harus berhati-hati. Seorang muslim menanamkan hal tersebut dalam jiwanya dan mempersiapkannya, bersabar terhadap kesulitan dan tidak mengeluhkan kegetiran hidup, dia memenuhi kewajiban berjuang mengubah kondisi buruk menjadi baik sesuai dengan akidah dan syariah Islam mengikuti metode mengubah masyarakat yang dituntunkan Rasul Saw. Maka tidak ada kebaikan bagi golongan manusia yang semata-mata mengeluhkan keadaan, merasa kesempitan, bersedih terhadap masa lalu dan menangisi hari-harinya. Padahal dia masih mampu menggerakkan lidahnya untuk menyeru pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Padahal dia masih mampu berusaha dan berdo’a. Dia masih mampu turut andil mengurai fitnah/kerusakan yang diakibatkan oleh kaum yang dzalim. Orang mukmin yang benar selalu bekerja untuk Allah dengan mewaspadai kondisi, situasi dan godaan-godaan yang mengelilinginya.
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha :124)
Kaum manapun yang menolak hukum-hukum Allah dan mencoba-coba hukum buatan sendiri pasti terkena fasad/kerusakan dan kesempitan hidup karena berbagai problem yang terus muncul dari hukum yang tidak tepat. Itu artinya hukum dari Allah-lah yang bisa menjadi rahmat dan kebaikan bagi umat manusia. Sementara sistem hukum buatan manusia sendiri jelas terbukti tidak bisa mengatur umat manusia termasuk mencegah banyaknya kezaliman.

Dalam kekuasaan sistem kufur yang menjadikan hawa nafsu manusia berdaulat maka kebaikan senantiasa berkurang dan kejahatan terus bertambah. Namun demikian ada satu metode perjuangan yang akan berhasil melawan kezaliman yaitu metode Rasul Saw. yang berhasil berdakwah sejak dari fase Makkah hingga terapnya sistem Islam yang mulanya hanya di Madinah.

  1. Dari Mustaurid bin Syadad r.a. dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang shalih akan pergi satu demi satu, sampai yang tersisa adalah orang-orang yang kotor seperti sisa-sisa kurma, Allah tidak memperhatikan mereka”.
(Disebutkan dalam Majma’uz Zawa`id: hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath dan perawinya tsiqat/terpercaya dan kuat).
        Jika yang tersisa adalah orang-orang jahat yang tidak bisa diharapkan kebaikan dari mereka sebagaimana orang-orang yang selalu mau berkompromi dengan kebatilan, sementara di saat yang sama mereka tidak mau mengikuti perjuangan tuntunan Rasul Saw. maka niscaya kezaliman mencengkeram kuat atas umat manusia.
        Maka menjadi keniscayaan adanya kaum yang mengubah keadaan buruk dengan dakwah tanpa komrpomi dengan sistem kufur manapun sehingga layak mendapatkan pertolongan Allah Swt.
Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?" (QS. Huud :14)

        Dengan do’a dan pemenuhan berbagai kewajiban maka manusia akan mendapatkan perlindungan dan pertolongan Allah, apabila iman telah hilang, maka manusia menjadi lebih mirip sisa-sisa kurma yang tidak ada gunanya.
        Telah terdapat petunjuk bagi semua manusia untuk memperhatikan akidah dan amalan diri mereka, menjaga hati mereka dan hubungannya dengan Allah SWT, sehingga tidak menjadi bahaya bagi ideologi Islam dan umat manusia.

Terdapat masa di mana ada imam/khalifah yang menerapkan sistem Islam, aqidah dan syariah Islam menjadi konstitusi dan undang-undang negara, ulama-ulama yang shalih menjadi panutan yang memelihara ideologi Islam, ajakan-ajakan kebaikan dan dorongan-dorongan keimanan mendominasi masyarakat.
Ada pula masa berkuasanya sistem kufur semacam demokrasi beserta para penguasa batilnya yang memelihara paham kufur sekularisme hingga umat merasakan sedikitnya dorongan-dorongan kebaikan, banyaknya fenomena kejahatan, dan panutan yang shalih suaranya terkalahkan oleh suara yang menyeru pada hukum serta budaya kufur.
Orang-orang sekarang dari umat Muhammad SAW memiliki potensi yang sama dengan orang-orang terdahulu, mereka adalah rangkaian yang bersambung, yang terikat oleh ideologi Islam, berpemikiran dan berhukum Islam, dan mereka semua memiliki tuntunan yang sama yang mampu mengalahkan kebatilan.
        Semoga Allah menjadikan kita berideologi sama dengan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dalam menerima Islam.

        Ketika orang-orang kafir dimasukkan ke dalam neraka pada hari Kiamat, mereka berkata:
"Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan...” (QS. Faathir :37)
        Allah telah memberikan hujjah bagi manusia, yaitu dengan mengutus para rasul dan memberikan kemampuan akal. Dengan dakwah tersistematis berskala massal yang dijalankan oleh kekuasaan negara khilafah Islamiyah maka manusia –dengan izin Allah- berbondong-bondong meyakini ideologi Islam. Allah SWT berfirman:
“Supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. (QS. An-Nisaa` :165)

Download Buku Membereskan Fitnah Kerusakan Umat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda