Minggu, 12 September 2010

Campur Tangan Amerika Atas Politik Umat Islam

Campur Tangan Amerika Atas Politik Umat Islam

Bagian 1 Perang Ide-Ide : Kapitalisme Barat versus Islam

9 Amerika Ketinggalan Demokrasi dan Iran Ketinggalan Islam
"Sebagian pekerjaan yang dilakukan di dunia ini adalah untuk membuat hal-hal tampak apa yang tidak sebenarnya.” – Elias Root Beadle

Bahkan sebelum satu voting pun diberikan, Amerika telah menentukan untuk membiarkan pemilu presidensial Iran. Bush mengatakan, “Kekuatan adalah berada di tangan beberapa yang tidak dipilih yang telah meraih kekuasaan melalui proses pemilihan yang mengabaikan persyaratan dasar demokrasi.” Vii Setelah pemilihan itu, Amerika cepat mendeskripsikan proses pemilihan itu sebagai cacat dan bahwa Iran adalah tertinggal dari gerakan menuju demokrasi di daerah itu.

Meski begitu, penelaahan aksi-aksi Amerika di daerah itu dan selebihnya menunjukkan bahwa adalah Amerika yang ketinggalan dari demokrasi. Salah satu doktrin dasar demokrasi adalah bahwa pemilu harus diadakan secara fair dan bebas dari interferensi lokal atau asing.

Namun, ini tidaklah diperhatikan selama pemilu di Palestina, Irak dan Afghanistan. Pemilu-pemilu itu diselenggarakan di bawah penjajahan asing, ketidakamanan adalah parah, para pemilih terlalu takut untuk voting dan hasilnya adalah meragukan setidak-tidaknya. Meski begini, Amerika menggaungkan pemilu-pemilu itu sebagai kemenangan bagi demokrasi.

Terlebih lagi, pemilihan para pemimpin itu, formulasi konstitusinya dan penyelenggaraan pemilu-pemilu itu semuanya dilakukan di bawah bimbingan Amerika. Amerika memilih sendiri Abbas, Karzai, dan Jaffari untuk mengawasi implementasi berbagai kebijakan pro-Amerika. Dalam kasus Afghanistan dan Irak, Amerika menggunakan Loya Jirga dan Dewan Pemerintah Irak – Iraqi Governing Council untuk melindungi berbagai undang-undang yang diinspirasi oleh Amerika yang akan memastikan dominasinya atas rakyat Afghanistan dan Irak.

Tidak terganggu dan tidak malu, Amerika terus melanjutkan interferensi dalam proses elektoral banyak negeri Muslim yang terancam oleh para Islamis, Amerika telah mengambil langkah waspada menunda pemilu-pemilu parlementer di Afghanistan dan Palestina. Dalam kasus Palestina, Amerika memerintahkan Abbas untuk mengamandemen hukum pemilu, sehingga mencegah Hamas dari memenangkan mayoritas kursi di parlemen.

Dukungan sepenuhnya Amerika bagi pemilu-pemilu publik di Arab Saudi, pemilu yang akan datang di Mesir dan membisunya atas rendahnya partisipasi dalam pemilu Lebanon (hasilnya lebih tinggi selama di bawah pendudukan Syria) berbau sikap hipokrit dan sangat jauh dari standar-standar demokrasi yang diajarkan di sekolah menengah atas (SMA) Amerika.

Sebagai perbandingan, pemilu-pemilu presidensial di Iran adalah jauh lebih kredibel. Pemilihan-pemilihan dilaksanakan dalam cukup keamanan dengan 62% pemilih. Ini adalah 2% lebih tinggi daripada pemilu presiden AS 2004. Mungkin terdapat ketidakteraturan sebagaimana diungkapkan oleh Rafsanjani tapi itu adalah tidak signifikan ketika dibandingkan dengan kekuatan gerak presidensial AS 2000.

Daripada menceramahi negeri-negeri Muslim tentang kesalehan demokrasi, Amerika seharusnya memeriksa hasil pekerjaannya sendiri merendahkan demokrasi di daerah itu. Jelaslah adalah Amerika yang ketinggalan langkah dari demokrasi.

Mereka yang berargumen bahwa pemilihan Ahmadinejad akan mengarahkan ke pemerintahan fundamentalis juga sama-sama salah. Sejak revolusi Iran, Iran tidak pernah menjadi bentengnya Islam. Studi singkat konstitusi Iran yang diinspirasi oleh Ayatollah Khomeini menunjukkan bahwa ia adalah negara otokratis sekular yang membatasi peran Islam dalam sosial, pendidikan, ekonomi, dan urusan-urusan luar negeri. Segelintir hukum Islam yang diimplementasi adalah didesain untuk meredakan sentimen-sentimen Islam rakyatnya.

Ini memberi Iran sebuah penampilan Islam, mirip dengan Arab Saudi dan Pakistan yang juga berpura-pura Islami. Mengkoarkan Iran sebagai Islami, sementara menerapkan aturan-aturan non-Islam membuat rezim Iran ketinggalan dari Islam.

Islam mengharuskan bahwa kaum Muslimin harus memilih pemimpin yang akan memerintah semua aspek kehidupan mereka menurut aturan-aturan yang diambil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Ini hanya bisa dicapai dengan memilih seorang Khalifah yang menjamin representasi sah bagi Umat juga memastikan bahwa kedaulatan adalah milik Tuhan.

Juni 27, 2005

[Campur Tangan Amerika Atas Politik Umat Islam ]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda