Sabtu, 25 September 2010

Obama Memimpin Perang Melawan Umat Islam


Obama Memimpin Perang Melawan Umat Islam

Bagian 4 Kembalinya Khilafah

23 Obama Si Panglima Salib dan Dunia Muslim
"Biarkan saya menyatakan ini sejelas-jelasnya… Amerika Serikat tidak dan tidak akan perang dengan Islam.” –- Presiden AS Barrack Obama

Pada 9 Oktober 2009, Presiden AS Barrack Obama dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian atas pelayanan hebat atas nama perdamaian dunia. Dalam pernyataannya, Komite Nobel mengatakan dia telah “menciptakan iklim baru dalam politik internasional… Jarang seseorang setingkat Obama meraup perhatian dunia dan memberi rakyatnya harapan untuk masa depan lebih baik.” xxxiii Itu berlanjut, “Diplomasinya didirikan dalam konsep bahwa mereka yang akan memimpin dunia harus melakukannya atas dasar nilai-nilai dan sikap-sikap bersama-sama dengan mayoritas populasi dunia.” xxxiv Biasanya penghargaan diberikan pada orang ketika mereka telah menyelesaikan sesuatu yang nyata dan tidak untuk sekedar janji sumpah untuk mencapai hasil-hasil berharga. Dalam kasus Obama, dia tidak mencapai, tidak juga melakukan usaha-usaha untuk mendirikan pondasi-pondasi untuk perdamaian dunia. Sebaliknya, Obama adalah pecandu perang dan seorang panglima yang menjadi ujung tombak perang Amerika melawan Islam dan dunia Muslim.

Secepat Obama memperoleh penghargaan untuk perdamaian dia mengadakan pertemuan dewan perangnya untuk mendiskusikan bagaimana cara terbaik menjalankan perang di Afghanistan. “Presiden melakukan pembahasan lengkap tentang berbagai tantangan keamanan dan politik di Afganistan dan pilihan-pilihan untuk membangun pendekatan strategis ke depan” xxxv seorang pejabat memberitahu AFP. Salah satu usaha yang akan digunakan Obama adalah meningkatkan jumlah tentara AS yang diberdayakan di Afghanistan. Ini akan menambah jumlah dari sejumlah besar kontraktor keamanan swasta yang sudah bekerja untuk Pentagon dan bertanggung jawab untuk kebanyakan kehancuran dan pembantaian penduduk sipil Afghanistan.

Dewan perang Obama juga menetapkan pilihan-pilihan untuk memperluas perang Amerika ke Pakistan. Para pejabat Amerika secara terbuka berdebat tentang apakah akan meluncurkan serangan-serangan misil atas Quetta – kota terbesar Baluchistan. Jika anggukan diberikan, ini akan menandai fase baru dalam perang Amerika melawan Pakistan dan berarti bahwa pembentengan kedutaan AS di Islamabad – salah satu yang terbesar di dunia Muslim – akan digunakan sebagai pusat syaraf untuk merencanakan dan mendalangi pembunuhan kaum Muslimin. Selain itu, Amerika telah memberi mandat pada 2 perusahaan keamanan swasta Blackwater dan InteRisk untuk memburu dan menteror orang-orang Pakistan.

Di Irak, kebijakan Obama yang disebut kebijakan menggambar – draw down menyelubungi rencana jahat sejenis yang banyak mengandalkan para kontraktor keamanan swasta untuk memperkuat kehadiran militer Amerika di negeri itu dan untuk mengkompensasi penarikan pasukan AS. Para kontraktor keamanan swasta beroperasi dengan kebebasan sepenuhnya, menumpahkan darah Muslim dan menghina penduduk sipil Irak.

Menurut statistik baru yang diterbitkan oleh Pentagon tahun ini, terdapat kenaikan 23% dalam jumlah kontraktor swasta yang bekerja untuk Departemen Pertahanan di Irak selama perempat kedua 2009. Angka untuk periode yang sama di Afghanistan adalah naik 29%. Keseluruhan, para kontraktor (bersenjata dan tidak bersenjata) sekarang merupakan sekitar 50% dari “kekuatan total dalam Centcom AOR (Area of Responsibility).” Ini berarti ada 242.657 kontraktor bekerja di 2 perang AS di bawah kepemimpinan komandan Barack Obama. Ini melebihi jumlah pasukan saat ini yang ada di Irak dan Afghanistan yang berjumlah 132.610 dan 68.197 berurutan.

Di bawah pengawasan Obama perang sipil di Somalia sedang menjamur dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Perang itu dikobarkan oleh Washington melalui suplai senjata dan senapan AS ke pemerintahan boneka antek AS Syarif Ahmad. Bulan lalu, Obama memberi sinyal ke militernya untuk secara langsung mengintervensi di Somalia dan menjalankan serangan-serangan udara melawan para militan – sangat mirip invasi Amerika atas Somalia di 1993.

Melawan Iran, Obama tidak mengkampanyekan perdamaian, tapi mendesakkan sanksi-sanksi yang membuat cacat yang pasti akan menyakiti penduduk sipil Iran dan mengembangkan kebencian terhadap Amerika untuk puluhan tahun yang akan datang. Demikian pula, dukungan berlanjut Obama untuk para penguasa otokratis dunia Muslim telah meyakinkan banyak Umat Muslim bahwa Obama tidaklah berbeda dengan pendahulunya yaitu George Bush.

Namun, tidak ada tempat yang lebih jelas bagi kegagalan Obama memberikan perdamaian daripada di Palestina. Sebagai pendahuluan untuk penobatannya, Obama menampilkan pendirian teguh untuk tidak mengecam kebrutalan Israel di gaza. Faktanya, penolakan Obama untuk mengutuk Israel atas berbagai kejahatan perang telah menghadirkan standar baru yang memurahkan nilai nyawa, darah dan kehormatan Muslim. Di kantor, pengabaian Obama atas kekeraskepalaan negara Yahudi itu untuk menghentikan resolusi telah menjatuhkan semua usaha untuk menyerukan dialog perdamaian palsu.

Maka jelas, petualangan perdamaian Obama sama dengan mencabik-cabik negeri-negeri Muslim melalui perang dan penumpahan darah. Iklim politik yang dijalankan Obama adalah intimidasi dan tirani. Nilai-nilai yang digandeng Obama didasari atas penipuan dan ketidakadilan, komite Nobel telah menyatakan bahwa berperang melawan Umat Islam dan Islam di bawah selubung perdamaian adalah tindakan mulia. Obama mungkin telah menguasai hati komite Nobel, tapi di antara Kaum Muslimin dan banyak bagian dunia, Obama menjadi simbol imperium imperialistik yang merupakan musuh Islam.

Oktober 10, 2009

[ Obama Memimpin Perang Melawan Umat Islam ]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda