Sabtu, 18 September 2010

Perpecahan Eropa dan Persatuan Umat Islam

Perpecahan Eropa dan Persatuan Umat Islam

Bagian 4 Kembalinya Khilafah

18 Pembagian Konstitusional Eropa Mengungkap Pelajaran Penting bagi Kaum Muslimin
"Pemusnahan pembedaan ras di antara Umat Muslim adalah salah satu pencapaian luar biasa Islam, dan dalam dunia kontemporer terdapat, sebagaimana terjadi, tangisan kebutuhan bagi propaganda kesalehan Islam ini.” – Arnold Toynbee

Krisis dalam Uni Eropa (UE) atas konstitusinya dan anggaran ekonominya telah menjadi bahasan debat di antara orang-orang Eropa. Orang-orang non-Eropa juga telah tertarik pada kesulitan Uni Eropa dan telah bersemangat untuk berspekulasi mengenai masa depan Eropa. Beberapa memprediksi kematian Eropa, sementara yang lain memandang krisis saat ini sebagai kesempatan untuk modernisasi dan mentransformasi Uni Eropa menjadi kekuatan global yang mampu menantang hagemoni global Amerika.

Opini-opini para komentator Muslim jatuh pada kedua kumpulan itu. Namun, terdapat beberapa pelajaran penting yang bisa dipelajari dari krisis sekarang, yang telah lolos dari perhatian banyak komentator. Itu dapat diringkas sebagai berikut:

1.  Islamophobia – hambatan permanen antara Eropa dan Dunia Muslim
Keputusan luar biasa oleh para voter Belanda xx dan Perancis xxi untuk menolak konstitusi Uni Eropa sebagiannya disulut oleh kebencian berabad lama terhadap dunia Islam. Ini bukanlah pertama kalinya bahwa Islamophobia memunculkan kepala busuknya, tapi ini adalah pertama kalinya orang-orang umum Eropa diberi kesempatan untuk mengungkapkan ketakutan mereka terhadap Islam melalui kotak suara.

Kejadian 11 September, ledakan bom di London dan Madrid, dan keinginan Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa telah menciptakan sumber perasaan anti-Islam yang merasuki semua bagian masyarakat Eropa. Berbagai institusi media utama dan para politisi telah mengeksploitasi sentimen ini untuk menciptakan pembatas permanen antara Eropa dan dunia Islam.

Orang-orang Eropa diberi pakan diet harian Islamophobia telah mengambil setiap kesempatan untuk menolak imigrasi dari dunia Muslim dan menolak masuknya Turki ke Uni Eropa.

Bahkan Inggris dan Amerika yang setuju masuknya Turki melakukan itu juga, karena mereka percaya itu akan menyulut api Islamophobia dan mengakhiri mimpi Eropa kuat Franco-German. Singkatnya, halangan kebencian yang dibangun oleh Eropa untuk membalik laju Turki dan negara-negara Maghreb menjadi tak bisa ditaklukkan. Adalah kecerobohan bagi para elit negeri-negeri Muslim itu melanjutkan usaha-usaha untuk menjadikan negeri mereka bagian dari suatu Uni yang mencemooh Islam.

2.  Kebangkitan nasionalisme di Eropa tapi mulai menghilang di dunia Muslim

Sekali lagi Eropa diserang oleh nasionalisme antagonistik tuanya, yang selama berabad-abad telah menghasilkan kekacauan di benua itu. Nasionalisme Eropa yang ditekan selama puluhan tahun telah dibangunkan kembali oleh kekuatan globalisasi dan sekarang mengancam menghancurkan jiwa Uni Eropa sendiri.

Hari ini, orang-orang Eropa lebih perhatian pada mengamankan identitas nasional mereka sendiri daripada melaju dengan konstitusi yang memberi penekanan lebih besar pada identitas Eropa. Oleh karena itu, masalah-masalah yang dihadapi oleh Eropa, dan solusi-solusi yang ditawarkan tidak lagi dipandang dari perspektif Eropa yang bersatu, tapi melalui prisma nasionalisme. Perseteruan atas anggaran adalah contoh klasik nasionalisme Eropa yang merobek Uni Eropa.

Sebaliknya, nasionalisme yang diekspor ke dunia Islam dan digunakan untuk ‘memecah belah dan menguasai’ umat Islam sedang melangkah mundur. Hari ini konsep ‘Umat’ telah mengungguli nasionalisme dan telah menjadi kekuatan pemersatu bagi Kaum Muslimin seantero dunia. Umat Muslim dari Maroko hingga Indonesia dengan cepat menemukan bahwa mereka memiliki persamaan dalam visi Islam persaudaraan daripada identitas mereka sekarang yang didefinisikan oleh batas wilayah artifisial.

Bencana kaum Muslimin di Palestina, Chechnya, Kashmir, Irak dan Afghanistan tidak lagi dipandang sebagai masalah-masalah sempit, tapi sebagai masalah-masalah Islam yang harus mendapatkan solusi Islam.

3.  Kesatuan politik adalah mimpi bagi Eropa tapi merupakan realita bagi Kaum Muslimin

Eksperimen Uni Eropa adalah usaha kuat oleh beberapa negara Eropa untuk mengakhiri berabad-abad perpecahan dan perang. Inisiatif ini diberi momentum lebih lanjut, ketika para elit di Perancis dan Jerman menyadari bahwa supremasi Amerika tidak bisa ditantang oleh mereka sendirian. Maka konsep negara Super Eropa lahir.

Tapi setelah 40 tahun usaha untuk menciptakan suatu negara post-modern, Uni eropa telah terdisintegrasi menjadi sekumpulan negara pre-modern (negara-negara bangsa), di mana negara-negara kuat seperti Inggris, Perancis dan Jerman ada di kepala masa depan Eropa.

Ini adalah hasil yang bisa diprediksi. Benua Eropa telah terwabahi oleh perbedaan kultural, perpecahan religius dan permusuhan intensif antara negara-negara kuat. Sejarah Eropa dengan jelas mendemonstrasikan bahwa terdapat sangat sedikit yang bisa menyatukan orang-orang Eropa kecuali ancaman asing.

Dalam abad ke-17 kemajuan pasukan Ottoman ke gerbang-gerbang Vienna mendorong negara-negara Eropa secara sementara untuk mengabaikan berbagai perbedaan mereka – hanya untuk dilanjutkan di kemudian hari. Di abad ke-20, ancaman dari Uni Soviet, dan yang lebih akhir dari hagemoni global Amerika memaksa Eropa untuk melebur dalam bentuk suatu persatuan.

Lebih sering daripada tidak, bersatunya negara-negara Eropa hanyalah hubungan temporer dan digunakan oleh beberapa pihak untuk penyembuhan setelah mengalami kehancuran perang. Tapi segera setelah ancaman asing melemah, dalam kasus ini posisi Amerika di dunia, Eropa kembali ke keadaan berpisah-pisah.

Namun, penyatuan dunia Muslim menjadi satu entitas tunggal bukanlah sekedar impian tapi suatu kenyataan. Selama berabad-abad, kaum Muslimin tanpa pandang perbedaan ras, bahasa, warna dan geografi tetap menjadi entitas politik tunggal yang dikenal sebagai Khilafah.

Negara-negara bangsa di dunia Islam hari sekarang ini adalah asing bagi kaum Muslimin. Mereka tidak punya sejarah seperti itu sebelumnya dalam Islam dan tidak juga itu merupakan produk hukum Islam. Negara bangsa itu dipaksakan kepada Umat Islam oleh kekuatan-kekuatan Barat untuk mencegah pendirian-kembali Khilafah.

Maka, massa Muslim tidak pernah benar-benar mengekspresikan loyalitas mereka pada negara-negara artifisial itu dan diperintah oleh tirani. Sekarang hanyalah masalah waktu sebelum rezim-rezim teror itu didepak dan satu Khilafah global dibangun di atas reruntuhan mereka.

Para penguasa dunia Muslim tidaklah buta terhadap kenyataan-kenyataan itu; malah mereka menentangnya. Para penguasa itu terus-menerus berceramah bahwa umat Islam tidak akan pernah bisa bersatu dan bahwa pendirian Khilafah adalah dunia masa lalu.

Jika suatu ketika, mereka pernah mendorong persatuan di antara umat Islam maka itu adalah melalui berbagai institusi yang diinspirasi oleh Barat seperti OIC, Liga Arab, Dewan Kerjasama Teluk – Gulf Cooperation Council (GCC), dan semacamnya.

Secara paradoksikal berbagai institusi itu dan negara-negara bangsa yang dibuat untuk menunda persatuan politik kaum Muslimin telah menjadi kendaraan-kendaraan untuk berubah. Impotensi mereka telah menyemangati umat Islam sedunia untuk membuang Eropa dan Amerika sebagai negara-negara model, dan untuk menggandakan usaha-usaha mereka untuk mendirikan-kembali Khilafah.

Juli 9, 2005

[ Perpecahan Eropa dan Persatuan Umat Islam ]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda