Kamis, 21 November 2013

Perpecahan umat Islam karena negara nasionalisme



2. Perpecahan dalam barisan umat Islam karena negara-negara kebangsaan nasionalisme

Perpecahan dalam barisan umat Islam adalah hambatan terbesar yang menghalangi berjayanya umat Islam. Hal itu dikarenakan, kekuatan umat Islam terkandung dalam terpenuhinya kewajiban persatuan mereka dalam Negara wajib Khilafah Islamiyah. Jika mereka bercerai berai, maka mereka akan menjadi umat yang tidak bersyariah Islam secara lengkap dan tidak mempunyai kekuatan; tidak mempunyai kekuasaan yang dipimpin seorang Khalifah.

Islam datang ketika dunia dalam kondisi perpecahan. Tidak ada yang mengikat persatuan kecuali fanatisme golongan dan ikatan fanatisme keturunan, ras, suku, termasuk juga kebangsaan/nasionalisme; itu semua adalah paham jahiliyah yaitu ashabiyah.

Islam muncul dan berhadapan dengan manusia yang mengagungkan ikatan tanah air, nasab, atau menyatu karena asas kemaslahatan dan kemanfaaatan. Maka Islam datang dan menyeru kepada semua manusia untuk meninggalkan semua ikatan yang bersifat jahiliah itu dan selanjutnya mereka bersatu dalam satu umat yang memiliki syi’ar “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah.”

Dan demikianlah, Islam menggoreskan kalimatnya yang mantap dalam perkara yang agung ini yang menggariskan hubungan antara sebagian manusia dengan sebagian lainnya. Islam menyatakan bahwa tidak ada perbedaan warna kulit, jenis, keturunan, tanah air, serta kemanfaatan. Kesemuanya itu tidak dapat mengikat dan menyatukan manusia dan tidak dapat dijadikan standar hukum perbuatan/sikap. Yang dapat dijadikan standar dan barometer adalah akidah atau keyakinan.

Pengikat sahih untuk mengumpulkan manusia adalah akidah; sebab akidah Islam adalah akidah yang sahih yang memancarkan sistem yang lengkap; demikian itulah ideologi Islam.

Dengan sendirinya Islam unggul di atas ras dan kebangsaan manusia. Islam menyerukan semua bangsa untuk menciptakan persatuan mereka dalam satu umat yang bersaudara. Di dalam Islam tidak ada keutamaan kecuali berdasarkan takwa dan amal salih.

Allah menyeru kepada kaum mukmin di segenap penjuru bumi dan dalam setiap generasi untuk bersatu dalam persatuan yang sesuai Syari’ah, yaitu persatuan dalam wadah Negara Khilafah. Negara inilah wujud nyata konsep jamaah kaum Muslimin dalam Islam. Konsep jamaah kaum Muslimin seluruh dunia bukanlah konsep jamaahnya George Washington, Benjamin Franklin, atau Hitler, Stalin, ataupun Raja Saud, Ratu Elizabeth; tapi konsep jamaah umat Islam seluruh dunia adalah taat bersatu di bawah kepemimpinan seorang Khalifah: Negara Khilafah.

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; Umat yang satu (ummatan wahidah) dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (QS. Al-anbiya:92)
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, Umat yang satu (ummatan wahidah) dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mukminun:52)

AL-QUR’AN MENETAPKAN PERSAUDARAAN IMAN

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain.” (QS. At-Taubah:71)
Orang-orang yang beriman adalah bersaudara.” (QS.Al-Hujuraat: 10)
Dan berpeganglah kamu pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS.Ali Imran: 103)

Imam Thabari berkata: “Dan berpeganglah kamu dengan agama Allah yang hal itu diperintahkan oleh Allah dan merupakan perjanjian-Nya kepada kalian dalam kitab-Nya berupa persatuan dalam kalimat kebenaran dan penyerahan kepada urusan Allah Swt.”

Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfaal:46)

Sunnah Nabi baik perbuatan dan perkataan juga telah mengakui pentingnya persatuan kepemimpinan Negara Islam di antara umat dan memperingatkan dengan keras terhadap perpecahan.

Tindakan pertama yang dilakukan Rasulullah Saw. setelah beliau membangun Negara Islam dan masjid adalah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau bersabda kepada mereka: “Bersaudaralah kalian karena Allah, dua orang, dua orang.” [Abul Qasim Abdurrahman as-Suhaili, arraudl al-anif hal.242] Rasulullah bermaksud agar mereka saling menopang satu sama lain. Dengan demikian, kekuatan umat Islam bertambah mantap dan Negara Islam disegani baik di Madinah maupun di tempat lainnya.

Maka sesama warga Daulah Islam merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Mereka mencintai Negara Islam yang ketika itu baru berkuasa atas Madinah saja. Dan mereka semuanya berada dalam suasana persaudaraan.

Dan orang-orang yang telah menempati Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu) Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr:9)

Perumpamaan kaum mukminin dalam persaudaraan, kasih sayang, dan kelembutan mereka seperti satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut tak bisa tidur malam dan merasa demam.” [HR. Imam Muslim dalam kitab sahihnya jilid 4 hal.1999, dari Nu’man bin Basyir ra.] ….BERLANJUT

Perpecahan umat Islam karena negara nasionalisme

DOWNLOAD BUKU: MEMENUHI KEWAJIBAN UMAT MERAIH KEJAYAAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda