Kamis, 21 November 2013

CIRI KEPEMIMPINAN YANG ADIL



CIRI KEPEMIMPINAN KHILAFAH YANG ADIL

”Umat yang bahagia adalah umat yang diberikan anugerah Allah Swt. berupa pemimpin-pemimpin yang beriman dan jujur. Pemimpin itu mengetahui dengan persis terhadap perintah Tuhan. Mereka takut kepada Allah ketika menangani urusan rakyat sehingga mereka tidak berbuat dzalim terhadap masyarakat dan tidak melanggar hak-hak manusia. Para pemimpin itu juga menjalankan hukum-hukum had Allah dan tidak mengerjakan apa yang diharamkan Allah bagi mereka.
Seorang dari mereka bergadang karena membahagiakan rakyat dan mencari keridhaan Tuhannya. Mereka taat dan patuh kepada Allah. Hal itu terpancar dalam penanganannya yang baik terhadap urusan masyarakat.
Pemimpin itu bahagia dan membahagiakan masyarakat. Pemimpin dan rakyat semuanya hidup dengan aman dan sejahtera dengan kemakmuran hidup yang baik. Pemimpin itu mencintai masyarakat dan masyarakatpun mencintainya. Pemimpin itu berdoa untuk masyarakat dan masyarakat juga mendoakannya.
Mereka itulah para pemimpin yang paling baik dan paling mulia di sisi Allah dan di hadapan manusia sebagaimana telah dijelaskan Rasulullah Saw. dalam sabda beliau:
Pemimpin-pemimpin paling baik adalah mereka yang kalian cintai, dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Sedangkan pemimpin-pemimpin yang buruk adalah mereka yang kalian benci dan membenci kalian, dan kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” [Muhammad mahmud ashshawwaf, muqaddimatun hal.8-9. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim ra dalam bukunya jilid 3 hal.1481 kitab kepemimpinan bab pemimpin yang paling baik dan paling buruk, dari Auf bin Malik ra.]

Seorang ulama pengikut Syafi’i yang bernama Imam Mawardi berkata: ”Termasuk sifat pemimpin yang paling penting adalah mempunyai ilmu, memiliki sikap santun, zuhud, wara’, takut kepada Allah, makrifat, dan simpati terhadap rakyat. Kemudian bergadang demi kepentingan umat Islam, sibuk dengan urusan umat Islam , berpikir terus-menerus dan membela kepentingan umat dan meninggikan bendera mereka. Lalu memajukan negeri rakyat, dan berbuat agar Islam dapat meluaskan sayapnya di muka bumi supaya tidak terjadi fitnah dan agama menjadi milik Allah.” [ahmad Muhammad Jamal, muhimmat alhaakim alMuslim, hal.40]

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah, beliau menulis pesan kepada Hasan Bashri ra. agar Hasan menuliskan baginya sifat Imam yang adil. Maka Hasan Bashri menulisnya dan memberikannya kepadanya. Isi tulisan Hasan Bashri sebagai berikut: ”Ketahuilah wahai amirul mukminin, bahwa Allah Swt. menjadikan Imam yang adil sebagai penegak setiap yang condong dan pemberi peringatan kepada orang dzalim.
Imam yang adil juga memperbaiki setiap orang yang rusak, memberi pengayoman bagi orang lemah, menolong setiap orang yang didzalimi dan penghibur setiap orang yang terkena musibah…
Wahai amirul mukminin, Imam yang adil seperti hati dalam jajaran anggota tubuh lainnya. Anggota tubuh itu akan baik jika hati baik dan rusak jika hati rusak.
Wahai amirul mukminin, Imam yang adil berdiri di hadapan Allah dan hamba-hamba-Nya. Ia mendengarkan firman Allah dan memperdengarkannya kepada rakyatnya, melihat kepada Allah dan memperlihatkan Allah kepada mereka. Ia mengarahkan dirinya kepada Allah dan mengarahkan rakyat kepada Allah…
Dan ketahuilah wahai amirul mukminin bahwa Allah menurunkan hukuman had agar menjadikannya sebagai peringatan dari perbuatan keji dan buruk. Maka bagaimanakah jika orang yang menangani had itu justru melakukan perbuatan buruk itu? Allah telah menurunkan qishash sebagai kehidupan bagi para hamba-Nya. Maka bagaimanakah jika orang-orang yang bertugas qishash ternyata justru membunuh para hamba itu?” [Ali Mahfudz, Hidaayatul mursyidin hal.383]

Adalah Umar bin Abdul Aziz ra., yang suatu saat ditemui oleh pembantunya Muzahim. Muzahim melihat Umar merasa sedih karena urusan Khilafah dan terlalu serius memperhatikan perkara pemerintahan. Maka muzahim bertanya kepada Umar: ”Apakah engkau sedang serius memperhatikan sesuatu wahai amirul mukminin? Maka Umar menjawab: Urusan seperti ini yang membuat aku memperhatikannya dengan serius. Tidak ada seorangpun dari umat Muhammad di timur dan barat kecuali mendapatkan haknya di hadapanku yang harus saya tunaikan, meskipun ia tidak menuliskan haknya dan tidak memintanya kepadaku.” [Ahmad Muhammad jamal, muhimmat alhakim alMuslim hal.18]

Istri Umar bin Abdul Aziz menghampiri Umar. Namun Umar menangis sehingga membuat istrinya bertanya-tanya tentang sebab ia menangis. Maka Umar menjawabnya: Perlu engkau ketahui wahai Fathimah, saya menangani perkara umat ini dan saya berpikir tentang kondisi orang fakir yang kelaparan, orang sakit yang tidak terawat, orang tidak berpakaian yang menderita, anak yatim yang terlantar, orang yang didzalimi yang dipaksa, orang perantauan, tawanan, lanjut usia, janda yang sendirian, keluarga yang mempunyai banyak anak sedangkan rezekinya sedikit, dan orang-orang yang seperti mereka yang tersebar di segenap penjuru bumi.
Saya mengetahui bahwa Tuhan akan menanyakan saya tentang mereka pada hari kiamat nanti, dan Muhammad Saw. akan membela mereka. Maka saya kuatir tidak dapat memberikan jawaban, karena itulah saya menangis ». [Jalaluddin as-Suyuthi, tarikhul khulafa’ hal.270]

Umat Islam wajib mempunyai kepemimpinan yang beriman kepada Allah dan Islam sebagai ideologinya, itulah Negara Khilafah; kepemimpinan yang mewakili Islam dan menerapkan ajarannya secara baik untuk urusan dalam negeri maupun luar negeri; kepemimpinan yang melewati waktu pagi dan sore dengan berkonsentrasi terhadap Islam dan umatnya.

Ketika Kepemimpinan sah dan adil -sesuai Syariah- terpenuhi, maka berbagai hambatan baik internal dan eksternal akan lenyap. Beragam ketertindasan yang menjangkiti umat selama bertahun-tahun akan hilang. Dengan demikian, umat Islam akan mampu mendapatkan kejayaan dari Allah. Dan ketika itulah orang-orang yang beriman merasa gembira dengan pertolongan Allah.

CIRI KEPEMIMPINAN YANG ADIL

DOWNLOAD BUKU: MEMENUHI KEWAJIBAN UMAT MERAIH KEJAYAAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda