Senin, 18 November 2013

KEWAJIBAN DAKWAH SEBAGAI MISI UMAT ISLAM



KEWAJIBAN DAKWAH SEBAGAI MISI UMAT ISLAM

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi.” (QS. al-Ahzab:40)

Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bukti yang nyata.” (QS. Yusuf:108)

Imam Thabari berkata tentang ayat ini dengan menukil dari Ibnu Zaid: Maksudnya ini adalah urusanku dan sunnahku atau sistemku, saya dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Imam thabari berkata: Demi kebenaran dan demi Allah bagi orang yang mengikuti, agar mereka mengajak kepada apa yang diajaknya dan mengingatkan dengan alqur’an dan nasihat serta melarang terhadap maksiat. [Tafsir thabari jilid 7 hal.52]

Arti sabiilii artinya jalanku. Sabil menurut bahasa adalah thariq artinya jalan. Hal itu dinyatakan oleh Imam Razi. [Mafatihul ghaib jilid 9 hal.169] Sedangkan makna ala bashiratin adalah dengan yakin dan benar. Hal itu dinyatakan oleh Imam Qurthubi. [Tafsir Qurthubi jilid 5 hal.3609]

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" (QS. Fushshilat:33)

Ibnu Katsir mengatakan: “Dia bukanlah termasuk orang-orang yang menyuruh kebaikan sementara ia tidak melakukannya, atau melarang kemungkaran sementara dia tidak meninggalkannya. Ia bukanlah tipe orang seperti itu.
Ia menyuruh kepada kebaikan dan meninggalkan kejelekan dan menyeru makhluk untuk menuju Allah Swt… Dan ini adalah umum, berlaku bagi orang yang menyeru kepada kebaikan sedangkan dia sendiri merupakan orang yang mendapatkan petunjuk.” [Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 hal.101]

Kemudian Kami wariskan kitab kepada orang-orang yang telah kami pilih dari hamba-hamba Kami.” (QS. Faathir: 32)

Kewajiban umat Islam yang terbesar bahkan inti eksistensi mereka adalah agar memimpin manusia dengan nama Allah dengan kepemimpinan yang menjaga agar dunia ini tetap dalam petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri dan kecukupan. Umat Islam bertugas menjaga manusia dari kehancuran, kerusakan, dan bahaya. [Mohammad Al-Ghazali, Rakaaizul iman bain alaqli walqalbi hal.208]

Allah telah berkehendak sejak memunculkan umat Islam ke dunia ini agar Islam selalu menjadi rujukan bagi umat manusia secara keseluruhan. Jika umat Islam menjalankan misinya, maka akan tercipta kebaikan bagi mereka dan bagi umat manusia juga. Namun jika umat Islam berpaling dari misinya maka akan muncul rezim jahiliah, dan sistem jahiliah itu akan menguasai dan mengontrol manusia. Pada saat itulah terjadi fitnah dan kerusakan yang besar.

Di antara orang-orang yang Kami ciptakan, terdapat umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (QS. Al-A’raaf:181)

Umat yang memberi petunjuk ke arah kebaikan. Mereka adalah para penyeru kepada kebaikan dan tidak berdiam diri saja dalam hal dakwah. Mereka tidak hanya mencukupkan kebenaran bagi dirinya sendiri dan tidak terlena dengan kebenaran yang mereka ketahui sendiri dan yang mereka bawa. Namun mereka memenuhi kewajiban memberi petunjuk kebenaran kepada orang lain. Mereka menyerukan kebenaran dan menegakkan kepemimpinan Negara khilafah atas nama kebenaran.

Muslim sekarang ini tidak boleh berdiam diri dan berpangku tangan dengan meninggalkan dakwah meskipun terdapat halangan apapun. [Muhammad ahmad Arrasyid, almunthalaq hal.64]

Seorang tabiin yang bernama Amir Asy-Sya’bi meriwayatkan bahwa beberapa orang lelaki keluar dari Kufah dan turun di suatu tempat untuk beribadah. Kejadian itu diketahui oleh seorang sahabat ynag mulia yaitu Abdullah bin Mas’ud ra. Maka Abdullah mendatangi mereka. Merekapun senang dengan kedatangan Abdullah kepada mereka. Maka Abdullah bertanya kepada mereka. Apa yang membuat kalian melakukan perbuatan itu? Mereka menjawab: Kami senang untuk keluar dari keramaian manusia untuk beribadah. Maka Abdullah bin Mas’ud berkata: ”Seandainya para manusia lain melakukan seperti apa yang kalian lakukan, lantas siapakah yang berperang melawan musuh? Saya tidak akan pergi dari sini sebelum kalian meninggalkan tempat.”
Dalam kejadian itu, Ibnu Mas’ud bertindak benar. Sebab jika semua hamba Allah sibuk dengan ibadah mereka dan mengasingkan diri (uzlah) di pojok-pojok masjid dan mereka meninggalkan lapangan dakwah, lantas siapakah yang berperang melawan musuh? Dan mencukupi orang yang lemah? Dan siapakah yang mencegah orang dzalim dari perbuatan dzalimnya? Siapakah yang menyuruh kepada kebajikan dan melarang kepada kemungkaran? Dan siapakah yang menyeru kepada Allah? Siapakah yang mengantarkan umat Islam untuk menuju keutamaan dan cahaya dan siapakah yang menjelaskan jalan yang lurus bagi mereka? [disarikan dari Muhammad ahmad Arrasyid, almunthalaq hal.64]

Sejarah Islam tidak akan melupakan nama seperti Sumayyah, Bilal, Khabbab bin Art, Mush’ab bin Umair dan Khubaib bin Uday dan nama-nama lainnya yang terkadang dilupakan orang namun di sisi Allah nama mereka tercatat sebagai orang-orang yang abadi.

Sejarah Islam penuh dengan cerita tentang saudara-saudara fakih yang da’i ... Mereka itulah yang mengatakan kalimat kebenaran dan membawa obor hidayah dalam kondisi yang paling sukar. Maka akhirnya Allah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya melalui para da’i tersebut. [Mohammad Imarah: Nahwa Usluubin Amtsal lidda’wah Al-Islamiyyah hal.252]

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran:110)

Karena itulah munculnya kebaikan bukan karena iman yang dianut oleh berbagai umat beriman. Namun faktor kebaikan itu adalah keberadaan umat ini yang lebih kuat dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar dibanding umat lainnya. [Imam Fakhrurrazi Mafatihul Ghaib jilid 4 hal.395]

« Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan-perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf. » (QS. at-Taubah:67)
« Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar. » (QS. At-Taubah:71)

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj:40-41)

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan 'Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah:78-79)

Demi Dzat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, niscaya kalian akan menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran atau bisa jadi Allah akan memberikan kalian siksa kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun doa kalian tidak dikabulkan.” [HR. Imam Turmudzi jilid 4 hal.468, kitab alfitan bab hadits yang menjelaskan tentang amar makruf nahi mungkar. Turmudzi berkata: hadits ini hasan]

Hadits dari Abu Said Al-khudri ra.: Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa dari kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya, dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan hal itu merupakan iman yang paling lemah.” [HR. Imam Muslim Jilid 1 juz 2 hal.22 kitab Iman bab mencegah kemungkaran merupakan keimanan dan amar makruf nahi mungkar merupakan kewajiban]

Imam Nawawi berkata: ”Amar makruf dan nahi mungkar hukumnya fardhu kifayah. Jika beberapa orang dari kaum Muslimin telah menjalankannya, maka yang lainnya tidak diwajibkan. Akan tetapi jika semua kaum Muslimin meninggalkan amar makruf nahi mungkar, maka orang yang mampu menjalankannya mendapatkan dosa.
Kemudian hukumnya menjadi fardhu ain jika ada sebuah kemungkaran di suatu tempat yang hanya diketahui olehnya atau tidak ada yang mampu menghilangkannya kecuali dirinya. [Sahih Muslim, syarah nawawi jilid 1 juz 2 hal.23]

Amar makruf dan nahi mungkar hukumnya fardhu kifayah. Jika beberapa orang dari kaum Muslimin telah menjalankannya dan mereka telah benar-benar berhasil mewujudkan semua ma’ruf dan menghapus semua munkar; Jika mereka belum berhasil memenuhi tuntutan itu maka hukumnya fardhu ain bagi setiap Muslim.

Imam Nawawi berkata: ”Dan ketahuilah bahwa bab ini ”maksudnya amar makruf nahi mungkar” kandungannya banyak disia-siakan sejak lama. Dan tidak tersisa sampai sekarang kecuali hanya kandungan yang sangat sedikit. Padahal amar makruf nahi mungkar ini merupakan bab yang agung yang merupakan penopang dan penentu perkara. Jika keburukan menjalar, maka siksa akan banyak menimpa manusia, baik yang salih maupun yang durhaka.
Jika kaum Muslimin tidak mencegah tangan orang dzalim, maka dikuatirkan mereka akan dilanda siksa dari Allah dengan azab-Nya. Allah berfirman:
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur:63)
Maka bagi pencari akhirat dan yang berusaha mendapat kerelaan Allah, harus memperhatikan bab ini, sebab faedahnya besar. Dan hendaklah ia tahu bahwa pahala tergantung kadar kelelahan. Maka tidak akan ada hal yang sia-sia. Sebab Allah telah berfirman:
Dan niscaya Allah benar-benar akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya” (QS. Al-Hajj: 40)
Dan berfirman juga:
Dan barangsiapa yang berpegang teguh pada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101)
Dan Allah berfirman:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, maka Kami akan menunjukkan mereka jalan Kami.” (Al-Ankabut:69) [Sahih Muslim dalam syarah nawawi, jilid 1 juz 2 hal.24]

Apakah kalian menyuruh manusia kepada kebaikan, dan melupakan diri kalian.” (QS. Al-Baqarah: 44)

Dan suruhlah kepada kebaikan dan laranglah dari kemungkaran dan bersabarlah atas apa yang menimpamu.” (QS. Luqman: 17)

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS.Al-Maidah: 105)

Orang yang mendapatkan petunjuk berarti dia orang yang juga menjalankan kewajiban dakwah, amar ma’ruf nahi munkar.

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS. Al-Ghasyiyah:21)

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras. ”Agar kami mempunyai alasan (memenuhi tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertaqwa. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (QS. Al-A’raaf:164-165)

Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’:104)

Keberhasilan bagi kaum Muslimin adalah penerapan seluruh Syariat Islam dalam semua bidang serta semua aspek kehidupan individu, masyarakat, dan negara; termasuk penegakkan Syariat Islam mengenai Negara Khilafah Islamiyah.
Itu semua wajib diperjuangkan dengan mengikuti metode perjuangan Rasul Saw. dalam menegakkan Islam secara keseluruhan; yaitu metode perjuangan dalam mengganti sistem jahiliyah dengan sistem Islam komprehensif dalam kehidupan umat manusia dengan Negara Khilafah.
Metode Rasul Saw. ini bersih dari kotoran cara dan sistem kufur manapun. [Lebih lanjut lihat, ‘Dakwah Islam’ Syeikh Ahmad Mahmud]

KEWAJIBAN DAKWAH SEBAGAI MISI UMAT ISLAM

DOWNLOAD BUKU: MEMENUHI KEWAJIBAN UMAT MERAIH KEJAYAAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda