Sabtu, 07 Mei 2016

Islam Makna Hakiki Kehidupan



Islam menjadikan kehidupan memiliki makna yang hakiki dalam pandangan mereka. Memperoleh lapar yang dikenyangkan dan jasad yang diberi makan, kebahagiaan hakiki yang harus mereka peroleh adalah ridha Allah. Kebahagiaan adalah ketentraman abadi yang dimiliki manusia. Kebagiaan yang demikian tidak akan diperoleh dengan kelezatan-kelezatan dan syahwat-syahwat, tetapi hanya dengan memperoleh ridha Tuhan semesta alam.

Seperti demikianlah keadaannya. Dalam mengarahkan pandangan bangsa-bangsa yang memeluk Islam untuk kehidupan dan untuk diamalkan, Islam memberi pengaruh kuat. Mereka diharuskan mengamalkan Islam dalam kehidupan. Islam mengubah tingkatan-tingkatan tatanan nilai, lalu meninggikan yang satu dan merendahkan yang lain. Setelah nafsu menjadi tingkatan tata nilai yang tertinggi bagi manusia dan ideologi Islam adalah tingkatan yang paling sedikit (rendah), maka Islam membalik tingkatan-tingkatan ini, lalu menjadikan mabda' (ideologi) Islam di tingkatan yang pertama (tertinggi) dan nafsu di tingkatan yang paling sedikit (rendah). Dengan demikian, Islam mampu mengubah pemeluknya menjadi orang yang rela mendermakan hidupnya di jalan Islam karena tingkatan tata nilai Islam (mabda' Islam) lebih mahal atau lebih tinggi daripada kehidupan itu sendiri. Ini sangat berpengaruh dalam mendorong pemeluknya untuk lebih berani menanggung beban-beban berat dan kesulitan-kesulitan di jalan Islam.

Dengan demikian, segala sesuatu dalam kehidupan diletakkan di tingkatan-tingkatan yang sesuai dengan hal-hal itu. Dampaknya, kehidupan menjadi luhur. Orang Islam bisa merasakan ketenangan yang abadi dalam kehidupan. Di seluruh alam hanya ada satu rumusan teladan (nilai) yang ideal, tetap, baku, dan tidak berubah, yaitu keridhaan Allah. Ini menyebabkan keteladanan yang tertinggi di sisi manusia berubah. Setelah bangsa-bangsa memiliki nilai keteladanan yang bermacam-macam, mereka akhirnya hanya memiliki satu-satunya keteladanan yang tertinggi, baku, dan kokoh. Akibat perubahan nilai keteladanan yang tertinggi yang dimiliki bangsa-bangsa dan umat-umat, maka makna segala sesuatu di mata mereka menjadi berubah dan pemahaman mereka tentang keutamaan-keutamaan sesuatu itu juga berubah.

Keberanian, kesatriaan, membela, bangga terhadap harta dan jumlahnya, kemuliaan hingga ke batas yang berlebih-lebihan, loyalitas, keras dalam permusuhan, menuntut balas, dan apa-apa yang sejenis dengannya dianggap pokok-pokok keutamaan. Lalu Islam datang dan tidak menjadikan nilai-nilai itu sebagai pokok-pokok keutamaan dan tidak membiarkannya sebagaimana adanya. Akan tetapi, Islam mengubahnya menjadikan sifat-sifat yang menghiasi manusia dengan perintah-perintah Allah yang perintah-perintah itu dipenuhi semata-mata karena perintah-Nya, bukan kerena esensi keutamaan-keutamaan itu, juga bukan karena di dalamnya terkandung manfaat-manfaat, serta bukan karena sesuatu yang diseret oleh kebanggaan, juga bukan karena kebiasaan-kebiasaan, adat-adat, dan warisan-warisan yang harus dipelihara. Karena itu, wajib menundukkan manfaat-manfaat individu, kesukuan, kebangsaan, dan umat untuk perintah-perintah Islam semata.

Seperti demikianlah yang dikerjakan Islam. Islam melakukan transformasi akal dan jiwa bangsa-bangsa yang memeluk Islam. Setelah memeluk Islam, mereka mengubah pribadi dan konsep-konsep mereka pra-Islam tentang alam, manusia, dan kehidupan, serta standar-standar mereka tentang segala hal dalam kehidupan. Mereka menjadi paham bahwa kehidupan memiliki makna khusus, yaitu keluhuran dan kesempurnaan.

Mereka menjadi manusia baru yang memiliki nilai ideal yang tertinggi dan baku, yaitu ridha Allah. Memperoleh nilai tertinggi yakni keridhaan Allah, bagi mereka adalah kebahagiaan yang dirindukan. Dengan demikian, mereka menjadi makhluk lain yang berbeda dengan kemakhlukan mereka sebelumnya.

Dengan empat hal ini, semua bangsa yang tunduk pada Negara Islam melepaskan diri dari keadaannya yang semula. Pemikiran-pemikiran dan semua arah pandangannya menyatu dalam kehidupan sehingga menjadi satu. Penyelesaian problem-problem menyatu dengan penyelesaian yang satu. Maslahah-maslahahnya juga menyatu, lalu menjadi satu maslahah (kepentingan), yaitu maslahah Islam. Tujuan-tujuan mereka dalam kehidupan menyatu, lalu menjadi satu tujuan, yaitu meninggikan kalimat Allah. Sudah pasti, semua bangsa ini melebur ke dalam Islam karena sesuai dengan fitrahnya, lalu mereka menjadi umat yang satu, yaitu umat Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda