Jumat, 20 Mei 2016

Wilayah Negara Khilafah Dicaplok Barat Imperialis


 

Serangan Barat (bangsa-bangsa Eropa) tidak cukup sampai di sini saja, bahkan penjajahannya lebih disempurnakan dengan mencaplok wilayah-wilayah Khilafah yang masih belum terjajah. Inggris menjajah 'Adn tahun 1839 dan melebarkan pengawasannya di lembah-lembah yang luas di perbatasan Yaman Selatan hingga Timur Jazirah dan sebelumnya Inggris telah menguasai India dalam beberapa periode. Penjajahannya berhasil mencabut kepemimpinan kaum muslimin dari India dan mendudukinya dengan cara yang khas. Sebelum Inggris masuk, kaum muslimin yang memegang kekuasaan di India, lalu Inggris mencabutnya dan menjadikan mereka berperan di sektor-sektor yang lemah yang lambat-laun akan melemahkan posisi mereka secara umum.

Kemudian pada tahun 1882 Inggris mencaplok Mesir dan pada tahun 1898 menguasai Sudan. Demikian juga Belanda berhasil menjajah pulau-pulau India Timur. Afganistan dikepung di bawah tekanan Inggris dan Rusia sebagaimana Iran. Gelombang serangan bangsa-bangsa Barat di seluruh wilayah dunia Islam semakin meningkat sampai semuanya merasa jatuh di bawah kendali Barat dan merasa bahwa serangan Salib selalu diperbaruhi dengan menjaga kemenangan demi kemenangan.

Akhirnya, kaum muslimin menjadi sibuk dan bergantung pada pekerjaan-pekerjaan yang menghentikan gelombang pasukan besar Barat atau untuk meringankan beban tekanannya. Maka, timbullah gerakan-gerakan perlawanan terhadap Barat di wilayah-wilayah Islam. Di Aljazair pemberontakan meletus. Kaum muslimin di India mengamuk. Para pengikut sekte Mahdi di Sudan bangkit dan pemberontakan Sanusiah berkobar.

Semua itu menunjukkan potensi kekuatan terpendam dalam tubuh dunia Islam meski dari luar tampak diam dan lemah. Hanya saja gerakan-gerakan atau usaha-usaha ini akhirnya padam dan tidak berhasil menyelamatkan dunia Islam. Gerakan-gerakan keislaman itu tidak berhasil menghentikan pendudukan dan serangan Barat, bahkan Barat masih melanjutkan serangannya dengan dua kekuatan utama: politik dan tsaqafah (pemikiran).

Barat tidak hanya memecah-belah wilayah dunia Islam menjadi beberapa bagian, tetapi juga menikam dari dalam Khilafah 'Utsmani yang notabene Khilafah Islam. Barat membangkitkan gerakan-gerakan kebangsaan di dalam tubuh Khilafah 'Utsmani. Isu negara-negara bangsa dijadikan alat penggerak oleh Barat untuk membangkitkan bangsa-bangsa Balkan. Semenjak tahun 1804 M mereka didorong untuk mengadakan pemberontakan dan pemberontakan ini terus melebar hingga akhirnya berhenti pada tahun 1878 dengan “kemerdekaan” bangsa-bangsa Balkan.

Mereka juga menggerakkan negara-negara Yunani melakukan revolusi. Api revolusi itu dinyalakan sejak tahun 1821 hingga akhirnya berhenti dengan sebab masuknya asing yang “memerdekakan” Yunani dari Turki pada tahun 1830 M. Semua negara Balkan mengikutinya hingga naungan Khilafah 'Utsmani dengan sifat Khilafah Islam terkelupas dari negara Balkan, Kreta, Qabrus, dan sebagian besar pulau di Laut Tengah.

Bangsa-bangsa Barat dalam melakukan aksinya menggunakan berbagai macam kekejian. Kaum muslimin di Balkan dan kepulauan Laut Tengah diteror dan dihantam secara keji. Sebagian besar kaum muslimin diusir dari rumah-rumah mereka. Mereka lari dengan membawa agama mereka dari kekejaman kafir dan berlindung ke negara Arab yang disifati sebagai Negara Islam dan bagian dari Khilafah Islam. Aljarkis, Albusnaq, Asysyasyan, dan yang lainnya tidak lain adalah putra-putra pahlawan kaum muslimin yang tidak rela untuk tunduk pada pemerintahan kufur imperialis. Mereka lari dengan membawa agama Islam ke perkampungan-perkampungan Islam dan pemerintahan Islam.

Apakah Barat berhenti sampai di sini saja? Tidak! Bahkan, dengan berbagai sarana yang samar, Barat membangkitkan gerakan-gerakan pemisahan dan pemecahbelahan umat Islam dan kesatuan Khilafah dengan meniupkan perbedaan antara Turki dan Arab.

Mereka digerakkan untuk mengadakan gerakan-gerakan kebangsaan. Barat terus-menerus menggerakkan, bahkan membantu mereka untuk mendirikan partai-partai politik kebangsaan Turki dan Arab, seperti Partai Turki Muda, Partai Persatuan dan Kemajuan, Partai Kemerdekaan Arab, Partai Keamanan, dan partai-partai lainnya.

Partai-partai inilah yang menyebabkan kondisi dalam negeri Negara Islam mengalami goncangan dan kelabilan. Goncangan di balik berbagai tragedi dalam negeri oleh Barat diikuti dengan berbagai serangan dari luar sampai Perang Dunia I meledak yang memberi kesempatan terbuka bagi Barat untuk menyerang langsung dunia Islam.

Pada kesempatan ini Barat berhasil menguasai sisa-sisa wilayah Khilafah Islam, menghabisi, dan menenggelamkannya dari permukaan dunia. Khilafah 'Utsmani terseret dalam Perang Dunia I yang berakhir dengan kemenangan sekutu dan kehancuran Negara Khilafah Islam.

Pasca perang dunia I, Barat membagi-bagi seluruh dunia Islam menjadi harta rampasan mereka. Tidak ada Negara Khilafah Islam yang tersisa kecuali Turki yang telah menjadi negara kecil dengan sebutan Negara Turki.

Setelah perang berakhir pada tahun 1918 M., Turki hidup di bawah belas kasihan Barat hingga tahun 1921 M., yaitu ketika Turki mampu “memerdekakan diri” [dari penjajahan Barat] setelah memberi jaminan terlebih dulu pada sekutu dengan penghapusan Negara Khilafah Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda