Senin, 16 Mei 2016

Serangan Kebudayaan Barat



Orang-orang propagandis di Eropa dan sekolah-sekolah asing telah melompat jauh hingga berhasil menembus barisan para pengemban khazanah keilmuan Islam. Penjajah Barat yang menyerang mereka dengan menikam Islam telah menakutkan mereka. Mereka mencoba menangkis tikaman ini. Dalam penolakan ini, mereka rela menjadikan Islam dalam keadaan tertuduh atau menakwili nash-nash sesuai dengan pemahaman-pemahaman Barat. Ini justru akan lebih banyak membantu serangan misionaris daripada menolaknya.

Yang lebih tragis dan menambah kehancuran Islam adalah hadharah (kebudayaan) Barat yang jelas-jelas bertentangan dengan hadharah (kebudayaan) Islam justru dijadikan bagian dari pemahaman-pemahaman mereka. Kebanyakan mereka mengatakan bahwa Barat mengambil hadharah (kebudayaan) dari Islam dan kaum muslimin. Karena itu, mereka menakwili hukum-hukum Islam sesuai dengan hadharah (kebudayaan) ini bersamaan masih adanya pertentangan secara mutlak antara Islam dan hadharah (peradaban) Barat.

Dengan demikian, mereka menerima hadharah (kebudayaan) Barat dengan penerimaan yang sempurna dan penuh kerelaan ketika memperlihatkan bahwa akidah dan hadharah (kebudayaan) mereka sesuai dengan hadharah (keudayaan) Barat. Artinya, mereka menerima hadharah (kebudayaan) Barat dan melepaskannya dari hadharah (kebudayaan) mereka yang seharusnya Islami. Inilah yang menjadi sasaran penjajahan Barat ketika berhasil memusatkan menjadi satu antara misi para misionaris dan penjajahan.

Dengan adanya orang-orang yang berpemikiran asing dan pemahaman yang jelek terhadap tsaqafah (keilmuan) Islam, maka di samping kaum muslimin ditemukan pemahaman-pemahaman Barat tentang kehidupan, seperti dalam rumah-rumah mereka yang dipraktekkan hadharah (kebudayaan) Barat yang materialistik.

Akibatnya, kehidupan dalam masyarakat menjadi tunduk pada hadharah (kebudayaan) dan pemahaman Barat. Kaum muslimin pada umumnya tidak mengetahui bahwa sistem demokrasi dalam pemerintahan dan sistem kapitalisme dalam ekonomi kedua-duanya dari sistem aturan kufur. Mereka tidak terpengaruh jika di antara mereka diputuskan suatu keputusan yang didasarkan pada selain yang diturunkan Allah.

Mereka tidak tahu bahwa Allah telah berfirman: "Barangsiapa yang tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir" (TQS. Al-Maaidah: 44).
Semua itu disebabkan oleh hadharah (kebudayaan) Barat yang dibangun di atas dasar pemisahan agama dari negara. Hadharah (kebudayaan) ini telah menguasai masyarakat mereka. Pemahaman-pemahaman Barat yang materialis juga menguasai angkasa mereka. Mereka terkadang merasa perlu melaksanakan kewajiban-kewajiban agama dan menjaga shalat jika meyakini Allah meski di waktu yang sama dalam mengatur urusan dunia, mereka menyesuaikan dengan pandangan dan keinginan sendiri semata karena mereka terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman Barat yang mengatakan: "Apa yang untuk kaisar berikan kepada kaisar dan apa yang untuk Allah adalah untuk Allah."

Mereka tidak terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman Islam yang menjadikan pemimpin dan apa-apa yang menjadi milik pemimpin adalah hanya milik Allah, menjadikan shalat, jual-beli, pengupahan, pemindahan hutang, pemerintahan, dan pendidikan semuanya berjalan sesuai dengan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah.

Benar, mereka tidak terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman ini meski mereka membaca firman Allah:
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah" (TQS. Al-Maaidah: 49)

dan ayat
"Jika kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya" (TQS. Al-Baqarah: 282)

dan ayat
"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa berbuat kesesatan yang dilakukannya itu dan Kamu masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali" (TQS. Al-Nisaa': 115)

dan ayat
"Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin pergi semuanya [ke medan perang]. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika telah kembali supaya mereka dapat menjaga diri" (TQS. Al-Taubah: 122).

Benar, mereka tidak terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman ini dalam ayat-ayat Al-Qur'an meski mereka membacanya karena mereka tidak membacanya sebagai ayat-ayat Al-Qur'an sebagaimana kewajiban seorang muslim membaca ayat sebagai kehidupan yang mengalir (berdenyut) untuk dipraktekkan dalam kancah kehidupan.

Mereka hanya membacanya dalam kondisi pemahaman-pemahaman Barat yang telah menguasai mereka, maka mereka hanya terpengaruh dengan ruh ayat-ayat ini dan meletakkan penghalang di antara benak dan pemahaman serta madlul (makna yang ditunjukkan) ayat.

Semua itu karena hadharah (kebudayaan) Barat bertindak sesuka hati pada mereka dan pemahaman-pemahaman Barat menguasai mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda