Sabtu, 14 Mei 2016

Makar Gerakan Nasionalisme Misionaris


 

Kemudian pada tahun 1875 di Beirut dibentuk kelompok studi yang sangat ekslusif (rahasia). Kelompok ini memfokuskan pada gerakan pemikiran politik misionaris, lalu menghembuskan ide nasionalis Arab. Para pendirinya adalah lima pemuda yang pernah digodok dan memperoleh ilmu di kuliah (fakultas) Protestan di Beirut. Mereka semua orang Nasrani yang menguasai visi misionaris yang mengakar dalam jiwa mereka. Kemudian para pemuda ini mendirikan kelompok studi.

Setelah berjalan beberapa waktu, mereka mampu menghimpun beberapa simpatisan. Pendapat-pendapat dan selebaran-selebaran yang dilontarkannya untuk membentuk opini yang mengarah pada kebangkitan nasionalis Arab dan kemerdekaan politik Arab, khususnya di Suriah dan Libanon. Meski tujuan gerakan ini terlihat jelas dalam kiprahnya, program-program dan berita-beritanya masih dituangkan dalam keinginan-keinginan yang tersembunyi dan cita-cita yang terselubung dan terpendam dalam jiwa.

Kelompok atau organisasi (jam'iyah) ini mengajak pada paham kebangsaan/ ashobiyah, ke-Arab-an, dan ke-non-Araban ('Arubah) serta membangkitkan permusuhan terhadap Khilafah 'Utsmaniah yang oleh mereka (jam'iyah) namakan Negara Turki.

Di samping itu, mereka juga berusaha memisahkan agama dari negara dan menjadikan kebangsaan Arab sebagai asas ideologi. Selain memakaikan baju 'arubah (kebangsaan non-Arab), mereka juga banyak berpedoman pada selebaran-selebaran yang mencurigai Turki ­menurut agenda mereka­ bahwa Turki telah merampas kekhilafahan Islam dari tangan Arab, Turki juga dituduh telah melanggar syariah Islam yang indah dan melanggar batas agama.

Tuduhan-tuduhan itu membuktikan tujuan mereka yang dapat diketahui dengan jelas pada sasaran gerakan mereka, yaitu membangkitkan gerakan melawan Khilafah Islam, meragukan manusia dalam beragama Islam, dan menegakkan gerakan-gerakan politik yang berdiri di atas landasan selain Islam.

Bukti yang meyakinkan kebenaran tesis ini adalah hasil penyelidikan sejarah atas gerakan-gerakan yang menyatakan bahwa Barat telah membentuk kelompok-kelompok studi ini. Mereka mengawasi, membimbing, menaruh perhatian, dan menuliskan ketetapan-ketetapan tentangnya. Konsulat Inggris di Beirut pada tanggal 28 Juli 1880 M menulis telegran yang dikirimkan ke pemerintahannya. Teks telegramnya dalah sebagai berikut: "Selebaran-selebaran revolusiner telah bermunculan ..."

Telegram ini merupakan respon atas pengaruh aktivitas kelompok tersebut yang menyebarkan selebaran-selebarannya di jalan-jalan dan menempelkannya di tembok-tembok di Beirut. Telegram ini membangkitkan munculnya pamflet-pamflet yang dikeluarkan dari konsul-konsul Inggris di Beirut dan Damaskus. Pamflet-pamflet ini sesuai dengan teks selebaran-selebaran yang disebarkan oleh organisasi (kelompok studi). Isi pamflet-pamflet ini sama dengan keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh gerakan yang dilahirkan di Kuliah Protestan dan beroperasi di Syam. Kiprahnya yang paling menonjol adalah di Syam meski di pelosok-pelosok negara Arab lainnya juga ditemukan.

Bukti-bukti lain yang menunjukkan tragedi ini di antaranya aktivitas politik Duta Inggris di Najd. Pada tahun 1882 M Dia menulis surat kepada pemerintahannya tentang gerakan kebangsaan Arab. Dalam surat itu disebutkan: "Informasinya telah sampai kepada saya bahwa sebagian ide (nasionalisme) telah sampai di Makkah. Ide itu telah mengambil peran untuk menggerakkan paham kebebasan. Setelah menangkap melalui isyarat-isyarat, tampak jelas bagi saya bahwa di sana juga ada batasan-batasan wilayah yang sudah tersusun. Batasan-batasan itu dilontarkan untuk menyatukan Najd dengan wilayah yang terletak di antara dua sungai, yaitu Selatan Iraq. Gerakan itu juga hendak mengangkat Manshur Pasha menjadi penguasa atas wilayah itu, juga hendak menyatukan 'Asir dengan Yaman dan mengangkat Ali bin Abid menjadi penguasa atas wilayah itu."

Perhatian terhadap masalah ini tidak hanya dilakukan Inggris, bahkan Perancis juga melakukan. Perhatiannya sampai melampaui batas yang cukup jauh. Pada tahun 1882 M salah seorang politisi Perancis yang tinggal di Beirut menulis surat kepada pemerintahannya. Surat ini cukup memberi bukti atas adanya perhatian Perancis terhadap persoalan ini. Surat itu menyatakan: "Ruh kemerdekaan (pelepasan dari kesatuan Khilafah 'Utsmani) sudah tersebar meluas. Saya melihat para pemuda muslim di tengah-tengah domisili saya di Beirut sungguh-sungguh menginginkan terbentuknya organisasi-organisasi yang bekerja untuk mendirikan sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit, dan kebangkitan di negeri-negeri (daerah-daerah propinsi yang masuk wilayah Khilafah 'Utsmani). Itulah di antara hal-hal yang mengalihkan perhatian pada gerakan ini. Gerakan ini menuntut kebebasan yang berasal dari pengaruh organisasi [kebangsaan]. Organisasi ini menuntut diterimanya orang-orang Kristen untuk menjadi anggota-anggotanya dan diajak untuk saling bekerjasama mewujudkan gerakan kebangsaan."

Salah seorang Perancis dari Baghdad menulis surat: "Di setiap tempat dan dalam konteks yang sama, ada fenomena baru yang selalu menjumpai saya. Fenomena baru itu adalah rasa benci pada Turki yang sudah menjadi gejala umum. Adapun gagasan melakukan kegiatan bersama yang terencana untuk melemparkan api kebencian ini sudah berada di tahapan pembentukan. Di ufuk yang jauh, impian gerakan kebangsaan Arab yang telah lahir menjadi gerakan baru sudah tampak. Bangsa yang dikalahkan ini akan terus menegakkan urusannya (tuntutan kebangsaan) hingga sekarang ini dengan tuntutan-tuntutan yang telah mendekat dan memusat di dunia Islam, dan dengan tujuan untuk mengarahkan pengembalian dunia ini."

Operasi perang misionaris dengan atas nama agama dan ilmu tidak hanya menjadi perhatian Amerika, Inggris, dan Perancis, tetapi sudah menjadi agenda sebagian besar negara non-Islam, di antaranya Kekaisaran Rusia. Rusia mengirimkan agen-agen misionaris sebagaimana juga yang dilakukan Jerman yang telah memenuhi Syam dengan biarawati-biarawatinya. Mereka saling bekerja sama dengan agen-agen misionaris lainnya. Meski terdapat perbedaan arah pandangan politik di antara agen-agen misionaris dan para delegasi Barat dalam kaitannya dengan jalan politik dalam konteks kepentingan masing-masing negara, mereka masih tetap bersepakat dalam tujuan yang sama, yaitu: menyebarkan misi agama Kristen (kristenisasi), mengekspor tsaqafah (khazanah pemikiran) Barat di Dunia Timur, meragukan kaum muslimin dalam beragama, membawa mereka pada penderitaan yang semakin parah, merendahkan sejarah mereka, dan memuliakan Barat dan hadharah (peradaban) mereka.

Semua itu dilakukan bersamaan dengan kebencian yang teramat sangat terhadap Islam dan kaum muslimin, menghinakan mereka, dan mengkategorikan mereka sebagai kaum barbar mutakhir. Gerakan ini sudah menjadi opini setiap orang Eropa, dan mereka telah mencapai hasil-hasilnya. Itulah yang menjadi sebab pemusatan kekufuran dan penjajahan di negeri-negeri Muslim sebagaimana yang kita lihat….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda