Minggu, 15 Mei 2016

Barat Menciptakan Keraguan Kaum Muslimin Dalam Beragama



Prof. Leopold Weiss dalam bukunya, al-Islam 'ala Muftariqin, berkata:
"Kebangkitan atau menghidupkan ilmu-ilmu dan sastra-sastra Eropa dengan pengambilan luas dari sumber-sumber Islam dan khususnya Arab dapat mengokohkan sebagian besar hubungan meteri antara Timur dan Barat. Eropa mengambil manfaat lebih banyak daripada yang diambil Dunia Islam, akan tetapi Eropa tidak mengetahui keindahan itu.
Demikian itu bukan karena Eropa mengurangi kebenciannya terhadap Islam, bahkan kebalikannya. Kemurkaan telah tersebar luas seiring dengan kemajuan zaman, kemudian kebencian berubah menjadi kebiasaan. Kebencian ini akhirnya menggenangi perasaan kebangsaan setiap kali disebutkan kata Islam. Kebencian itu juga telah merasuk ke dalam pepatah-pepatah yang berlaku di tengah kehidupan mereka sehingga meresap ke dalam hati setiap orang Eropa, baik laki-laki maupun wanita.
Lebih jauh dari semua ini, kebencian menjadi kehidupan setelah terjadi semua putaran penggantian tsaqafah (khazanah pemikiran). Kemudian datang masa perbaikan hubungan keagamaan ketika Eropa terpecah menjadi kelompok-kelompok, dan setiap kelompok berdiri bersenjata dengan senjatanya masing-masing dalam menghadapi kelompok yang lain.
Akan tetapi, permusuhan terhadap Islam telah merata ke seluruh kelompok. Setelah itu datang masa yang menjadikan perasaan (sentimen) keagamaan mereda, akan tetapi permusuhan terhadap Islam masih terus berlanjut. Di antara bukti nyata dari tesis ini adalah pikiran yang dilontarkan oleh seorang filosof sekaligus penyair Perancis abad ke-18, Voltaire. Dia adalah orang Kristen yang paling sengit memusuhi ajaran kristiani dan gereja. Namun, di waktu yang sama, dia jauh lebih membenci terhadap Islam dan Rasul Islam.
Setelah beberapa perjanjian, datang zaman yang menjadikan para ilmuwan Barat mempelajari tsaqafah-tsaqafah asing (non-Barat) dan menghadapinya dengan simpati. Akan tetapi, terhadap tsaqafah-tsaqafah yang berkaitan dengan Islam, maka stereotip dan kebiasaan (taklid) menghina menyusup ke dalam problem samar kelompok yang tidak rasional untuk diarahkan pada bahasan-bahasan ilmiah mereka. Jarak yang digali oleh sejarah antara Eropa dan dunia Islam, di atasnya dibiarkan tanpa dipautkan dengan jembatan, kemudian penghinaan terhadap Islam telah menjadi bagian yang mendasar dalam pemikiran Eropa."

Atas dasar ini, organisasi-organisasi misionaris, sebagaimana yang telah kami sebutkan, didirikan. Organisasi-organisasi ini diarahkan pada proyek-proyek kristenisasi, untuk menciptakan keraguan kaum muslimin dalam beragama, merendahkan Islam dalam jiwa mereka, membawanya sebagai beban kelemahan mereka, dan menyodok aspek-aspek politik Islam.

Oleh karena itu, akibat-akibat yang dihasilkannya sangat keji, baik di sektor politik ataupun keraguan yang diciptakannya, sehingga mengantarkan pada akibat yang lebih parah daripada apa yang mereka timpakan. Gerakan misionaris ini dibentuk atas dasar tujuan penghapusan Islam dengan tikaman dari dalam dan mengobarkan problem-problem dan kesamaran-kesamaran di seputar Islam dan hukum-hukumnya dengan tujuan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah dan menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka. Di belakang gerakan-gerakan misionaris terdapat gerakan-gerakan orientalis dan kaum orientalis yang melemparkan nilai filosofis tujuan mereka dan menjadikan jiwa bengkok.

Seluruh upaya di Eropa disatukan dalam rangkaian Perang Salib. Pertama-tama dituangkan melalui jalur tsaqafah (khazanah pemikiran) dengan cara meracuni akal dengan sesuatu yang memburukkan hukum-hukum Islam dan keteladanannya yang tinggi, dan dengan racun keterasingan yang mencekoki akal putra-putra kaum muslimin dengan statemen-statemen Barat tentang Islam dan sejarah kaum muslimin yang diatasnamakan kajian ilmiah dan kesucian ilmu. Tidak lain ini adalah racun tsaqafah (khazanah pemikiran) yang merupakan senjata Perang Salib yang paling membahayakan.

Sebagaimana juga para penyeru misionaris yang bekerja dengan racun ini yang diatasnamakan ilmu dan kemanusiaan, maka demikian pula para orientalis yang bekerja dengan atas nama kajian ketimuran.
Prof. Leopold Weiss berkata,
"Pada kenyataannya, kaum orientalis di awal-awal masa modern adalah kaum misionaris yang bekerja untuk mengkristenkan Negara Islam. Gambaran yang menakutkan yang mereka buat dari ajaran-ajaran Islam dan sejarahnya diatur dan disusun atas suatu konsep yang mengandung pengaruh penempatan posisi orang-orang Eropa di tengah kaum berhala (maksudnya kaum muslimin). Bersamaan kesimpangsiuran akal ini masih terus berlangsung, ilmu-ilmu orientalis justru telah terbebas dari pengaruh misionaris, sementara ilmu-ilmu orientalis masih tetap tidak memiliki alasan yang positif. Alasannya justru lahir dari semangat keagamaan yang bodoh yang memperburuk arahnya. Adapun semangat keagamaan yang membawa kaum orientalis memusuhi Islam telah menjadi watak yang diwariskan, khususnya tabiat yang berpijak pada pengaruh-pengaruh yang diciptakan oleh Perang Salib."

Permusuhan yang diwariskan selalu menyalakan api dendam dalam jiwa orang-orang Barat terhadap kaum muslimin. Barat menggambarkan Islam hingga menyangkut negara Khilafah dan umatnya, termasuk selain umat Islam, bahwa Islam adalah hantu kemanusiaan atau pendurhaka yang menakutkan yang akan melenyapkan kemajuan kemanusiaan.

Dengan gambaran itu, mereka berusaha menutupi ketakutan mereka yang sebenarnya. Karena jika gambaran yang telah menancap dalam jiwa itu hilang, maka hagemoni kafir penjajah akan lenyap dari dunia Islam dan Negara Khilafah Islam akan kembali mengemban dakwahnya ke seluruh dunia ­dan demikian itu pasti akan kembali dengan izin Allah. Kembalinya Negara Khilafah Islam ada dalam kebaikan kemanusiaan.

Sementara gerakan kaum misionaris dan selain mereka akan hilang dan mendatangkan kerugiaan pada diri mereka.
"Sesungguhnya orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalang-halangi [orang] dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi kesesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan" (TQS. Al-Anfaal: 36).

Permusuhan yang terwariskan (abadi) itu memperkuat setiap gerakan yang menentang Islam dan kaum muslimin. Anda pasti menemukan Barat selalu mengkaji paham Majusi, Hindu, dan komunisme, dan Anda tidak menemukan dalam bahasannya yang mengandung unsur fanatis atau kebencian. Akan tetapi, di waktu dan kasus yang sama, ketika Barat membahas Islam, tentu Anda menemukan tanda-tanda kemurkaan, dendam, marah, dan kebencian di dalam bahasannya.

Dalam kondisi demikian, kaum muslimin diserang Barat dengan serangan yang sangat keji. Kafir penjajah mengalahkan mereka. Akan tetapi, para gerejawan Barat ­di belakang mereka adalah penjajah­ selalu menampakkan kontra aktivitas yang menentang Islam. Mereka tidak mengendurkan tikaman terhadap Islam dan kaum muslimin, selalu mencaci-maki Muhammad (SAW.) dan para sahabatnya, dan melekatkan aib pada sejarah Islam dan kaum muslimin. Semua itu merupakan siksaan dari mereka terhadap kaum muslimin dan untuk mengokohkan laju penjajahan dan kaum penjajah…..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda