Jumat, 09 November 2007

MENGENAL “ DEMAM CIKUNGUNYA “

Akhir-akhir ini masyarakat di Yogyakarta khususnya dan seluruh Indonesia pada umumnya dikejutkan oleh adanya wabah penyakit demam yang menyerang semua pihak, baik pria maupun wanita, muda maupun tua, kaya maupun miskin, intelektual maupun buta huruf, pada pokoknya siapa saja bisa menderita demam yang menakutkan itu.

Sebenarnya demam semacam itu biasa saja terjadi, yaitu panas tinggi disertai dengan sakit nyeri seluruh persendian di tubuh, sehingga sulit menggerakkan tubuh bahkan sulit untuk berjalan maupun aktifitas sehari-hari. Orang yang menderita virus flu juga akan mengakibatkan gejala yang sama , apalagi kalau menderita flu “tulang”. Perbedaan yang terjadi adalah : pada jenis virus dan pembawa (vektor) penular penyakit dari orang satu ke orang yang lain. Apabila pada virus flu yang selama ini ramah dengan kita dapat menular secara langsung melalui udara dan kontak langsung dengan penderita flu, tetapi demam Chikungunya ditularkan hanya melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yaitu nyamuk kecil belang/berbintik hitam, yang kita kenal juga sebagai pembawa (vektor) penyakit demam Dengue , demam berdarah Dengue ( DHF = Dengue hemorrhagic fever ) maupun demam kuning (yellow fever).

Menurut WHO, demam Chikungunya termasuk penyakit menular yang disebabkan virus dan ditularkan nyamuk/serangga (Arthropods borne viral fever), dimana penyebabnya termasuk dalam virus Arbovirus Group A yaitu : Chikungunya (TH 35), Bebaru, Eastern equine, Mayaro (Uruma), Mucambo, O’nyong-nyong (Gulu), Pixuna, Ross fever, Semliki forest dan Sindbis yang kesemuanya ditularkan melalui nyamuk dan menyebabkan demam, encephalitis,demam berdarah maupun poliartritis. Demam Chikungunya telah lama menyebar di daerah beriklim panas di Afrika, Asia Tenggara dan Asia pada umumnya, sedangkan di Indonesia telah terdeteksi sejak tahun 1983 di Riau, Jambi, Pontianak, Jakarta, Yogyakarta dan lain-lain daerah yang dapat hidup nyamuk Aedes aegypti. Jadi demam ini tidak akan terjadi kalau tidak ada gigitan nyamuk Aedes aegypti sekaligus tidak ada sumber virus Chikungunya. Sehingga orang sangat mudah untuk menghindarinya dan jauh lebih mudah dari pada menghindari virus flu yang sangat mudah menular langsung lewat udara .

Bagaimana menghindari nyamuk Aedes aegypti ?

Sebenarnya mudah, jika kita kenal baik siklus hidup dan cara hidup nyamuk ini. Siklus kehidupan nyamuk terdiri dari : Telur,biasanya menempel pada dinding wadah penyimpanan air yang lembab dan agak gelap, kemudian Larva/jentik nyamuk, hidup di wadah/tempat menyimpan air yang jernih: bak mandi, tempayan, ban bekas dll, lalu Kepompong yang hidupnya sama dengan larva tetapi bentuknya membulat, dan terakhir adalah Nyamuk dewasa yang suka menempel pada gantungan baju di kamar yang agak gelap, maupun barang yang agak gelap dimana saja. Mereka menghisap darah guna memenuhi kebutuhan perkembangan telur nyamuk (betina) itu.

Jadi resepnya : kenali tempat hidup serta bentuk jentik maupun nyamuk Aedes aegypti, bersihkan/kuras bak air dan bak mandi, buanglah wadah yang tidak berguna yang dapat berisi air di halaman kita, sinarilah kamar dan bukalah jendela kita dan hindari gigitan nyamuk dengan cara apapun. Ini sekaligus juga akan menghindari penyakit demam berdarah Dengue (DHF) yang menakutkan sekaligus mengerikan karena dapat menimbulkan kematian.

Pengobatan demam Chikungunya lebih sederhana karena tidak mematikan dan tidak menyebabkan perdarahan. Penderita demam Chikungunya memerlukan vitamin (B dan C) dan gizi (protein, lemak dan karbohidrat) yang baik, istirahat penuh di rumah dan usahakan untuk mengurangi gerakan fisik, niscaya 5-7 hari akan sembuh dan sehat kembali. Semoga kita dapat mewaspadainya.



The previous CDC SARS case definition (published March 29, 2003) has been updated to clarify that CDC's definition of travel to areas of suspected or documented community transmission of SARS includes airport transit.

Suspected Case:

Respiratory illness of unknown etiology with onset since February 1, 2003, and the following criteria:

  • Measured temperature greater than 100.4° F (greater than 38° C) AND

  • One or more clinical findings of respiratory illness (e.g. cough, shortness of breath, difficulty breathing, hypoxia, or radiographic findings of either pneumonia or acute respiratory distress syndrome) AND

  • Travel within 10 days of onset of symptoms to an area with documented or suspected community transmission of SARS (see list below; excludes areas with secondary cases limited to healthcare workers or direct household contacts)
    OR
    Close contact* within 10 days of onset of symptoms with either a person with a respiratory illness who traveled to a SARS area or a person known to be a suspect SARS case.

Travel includes transit in an airport in an area with documented or suspected community transmission of SARS

* Close contact is defined as having cared for, having lived with, or having direct contact with respiratory secretions and/or body fluids of a patient known to be suspect SARS case.

Areas with documented or suspected community transmission of SARS: Peoples' Republic of China (i.e., mainland China and Hong Kong Special Administrative Region); Hanoi, Vietnam; and Singapore

Note: Suspect cases with either radiographic evidence of pneumonia or respiratory distress syndrome; or evidence of unexplained respiratory distress syndrome by autopsy are designated "probable" cases by the WHO case definition.

Nyamuk yang menularkan demam berdarah dan cikungunya berasal dari keluarga yang sama, yakni Aedes aegypti dan Aedes albophilus. Demam berdarah mematikan, sedangkan cikungunya tidak, walau gejala awalnya hampir sama," katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda