Sabtu, 03 November 2007

PEDOMAN BUDIDAYA PISANG

TTG BUDIDAYA PERTANIAN

Hal. 1 / 13

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340

Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

PISANG

( Musa spp )

1. SEJARAH SINGKAT

Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia

Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika

(Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan

Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan gedang.

2. JENIS TANAMAN

Klasifikasi botani tanaman pisang adalah sebagai berikut:

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Keluarga : Musaceae

Genus : Musa

Spesies : Musa spp.

Jenis pisang dibagi menjadi tiga:

1) Pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak yaitu M. paradisiaca var

Sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, M. sinensis. Misalnya

pisang ambon, susu, raja, cavendish, barangan dan mas.

TTG BUDIDAYA PERTANIAN

Hal. 2 / 13

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340

Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

2) Pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak yaitu M. paradisiaca forma

typicaatau disebut juga M. paradisiaca normalis. Misalnya pisang nangka, tanduk

dan kepok.

3) Pisang berbiji yaitu M. brachycarpa yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya.

Misalnya pisang batu dan klutuk.

4) Pisang yang diambil seratnya misalnya pisang manila (abaca).

3. MANFAAT TANAMAN

Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral

dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan

tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses

fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus

berbagai macam makanan trandisional Indonesia.

Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang

yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak

ruminansia (domba, kambing) pada saat musim kemarau dimana rumput

tidak/kurang tersedia.

Secara tradisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri

dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat

sakit kencing dan penawar racun.

4. SENTRA PENANAMAN

Hampir di setiap tempat dapat dengan mudah ditemukan tanaman pisang. Pusat

produksi pisang di Jawa Barat adalah Cianjur, Sukabumi dan daerah sekitar Cirebon.

Tidak diketahui dengan pasti berapa luas perkebunan pisang di Indonesia. Walaupun

demikian Indonesia termasuk salah satu negara tropis yang memasok pisang

segar/kering ke Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Arab, Australia, Negeri

Belanda, Amerika Serikat dan Perancis. Nilai ekspor tertinggi pada tahun 1997

adalah ke Cina.

5. SYARAT TUMBUH

5.1. Iklim

1) Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun

demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air,

pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi

produksinya tidak dapat diharapkan.

TTG BUDIDAYA PERTANIAN

Hal. 3 / 13

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340

Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

2) Angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan

mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

3) Curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi

curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak

tergenang.

5.2. Media Tanam

1) Pisang dapat tumbuh di tanah yang kaya humus, mengandung kapur atau tanah

berat. Tanaman ini rakus makanan sehingga sebaiknya pisang ditanam di tanah

berhumus dengan pemupukan.

2) Air harus selalu tersedia tetapi tidak boleh menggenang karena pertanaman

pisang harus diari dengan intensif. Ketinggian air tanah di daerah basah adalah 50

- 200 cm, di daerah setengah basah 100 - 200 cm dan di daerah kering 50 - 150

cm. Tanah yang telah mengalami erosi tidak akan menghasilkan panen pisang

yang baik. Tanah harus mudah meresapkan air. Pisang tidak hidup pada tanah

yang mengandung garam 0,07%.

5.3. Ketinggian Tempat

Tanaman ini toleran akan ketinggian dan kekeringan. Di Indonesia umumnya dapat

tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Pisang ambon,

nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl


PEDOMAN BUDIDAYA PISANG

6.1. Pembibitan

Pisang diperbanyak dengan cara vegetatif berupa tunas-tunas (anakan).

1) Persyaratan Bibit

Tinggi anakan yang dijadikan bibit adalah 1-1,5 m dengan lebar potongan umbi

15-20 cm. Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat. Tinggi bibit

akan berpengaruh terhadap produksi pisang (jumlah sisir dalam tiap tandan). Bibit

anakan ada dua jenis: anakan muda dan dewasa. Anakan dewasa lebih baik

digunakan karena sudah mempunyai bakal bunga dan persediaan makanan di

dalam bonggol sudah banyak. Penggunaan bibit yang berbentuk tombak (daun

masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit) lebih diutamakan daripada

bibit dengan daun yang lebar.

2) Penyiapan Bibit

Bibit dapat dibeli dari daerah/tempat lain atau disediakan di kebun sendiri.

Tanaman untuk bibit ditanam dengan jarak tanam agak rapat sekitar 2 x 2 m. Satu pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7-9. Untuk menghindari terlalu

banyaknya jumlah tunas anakan, dilakukan pemotongan/penjarangan tunas.

3) Sanitasi Bibit Sebelum Ditanam

Untuk menghindari penyebaran hama/penyakit, sebelum ditanam bibit diberi

perlakuan sebagai berikut:

a) Setelah dipotong, bersihkan tanah yang menempel di akar.

b) Simpan bibit di tempat teduh 1-2 hari sebelum tanam agar luka pada umbi

mengering. Buang daun-daun yang lebar.

c) Rendam umbi bibit sebatas leher batang di dalam insektisida 0,5–1% selama

10 menit. Lalu bibit dikeringanginkan.

d) Jika tidak ada insektisida, rendam umbi bibit di air mengalir selama 48 jam.

e) Jika di areal tanam sudah ada hama nematoda, rendam umbi bibit di dalam air

panas beberapa menit.

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Pembukaan Lahan

Pemilihan lahan harus mempertimbangkan aspek iklim, prasarana ekonomi dan

letak pasar/industri pengolahan pisang, juga harus diperhatikan segi keamanan

sosial.

Untuk membuka lahan perkebunan pisang, dilakukan pembasmian gulma, rumput

atau semak-semak, penggemburan tanah yang masih padat; pembuatan

sengkedan dan pembuatan saluran pengeluaran air.

2) Pembentukan Sengkedan

Bagian tanah yang miring perlu disengked (dibuat teras). Lebar sengkedan

tergantung dari derajat kemiringan lahan. Lambung sengkedan ditahan dengan

rerumputan atau batu-batuan jika tersedia. Dianjurkan untuk menanam tanaman

legum seperti lamtoro di batas sengkedan yang berfungsi sebagai penahan erosi,

pemasuk unsur hara N dan juga penahan angin.

3) Pembuatan Saluran Pembuangan Air

Saluran ini harus dibuat pada lahan dengan kemiringan kecil dan tanah-tanah

datar. Di atas landasan dan sisi saluran ditanam rumput untuk menghindari erosi

dari landasan saluran itu sendiri.

6.3. Teknik Penanaman

1) Penentuan Pola Tanaman

Jarak tanam tanaman pisang cukup lebar sehingga pada tiga bulan pertama

memungkinkan dipakai pola tanam tumpang sari/tanaman lorong di antara

tanaman pisang. Tanaman tumpang sari/lorong dapat berupa sayur-sayuran atau

tanaman pangan semusim.

Di kebanyakan perkebunan pisang di wilayah Asia yang curah hujannya tinggi,

pisang ditanam bersama-sama dengan tanaman perkebunan kopi, kakao, kelapa

dan arecanuts. Di India Barat, pisang untuk ekspor ditanam secara permanen

dengan kelapa.

2) Pembuatan Lubang Tanam

Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada tanah berat dan 30 x 30 x 30 cm atau

40 x40 x 40 cm untuk tanah-tanah gembur. Jarak tanam 3 x 3 m untuk tanah

sedang dan 3,3 x 3,3 m untuk tanah berat.

3) Cara Penanaman

Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September-Oktober). Sebelum

tanam lubang diberi pupuk organik seperti pupuk kandang/kompos sebanyak 15–

20 kg. Pemupukan organik sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa buah.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penjarangan

Untuk mendapatkan hasil yang baik, satu rumpun harus terdiri atas 3-4 batang.

Pemotongan anak dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam satu rumpun

terdapat anakan yang masing-masing berbeda umur (fase pertumbuhan). Setelah

5 tahun rumpun dibongkar untuk diganti dengan tanaman yang baru.

2) Penyiangan

Rumput/gulma di sekitar pohon induk harus disiangi agar pertumbuhan anak dan

juga induk baik. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan dan

penimbunan dapuran oleh tanah agar perakaran dan tunas bertambah banyak.

Perlu diperhatikan bahwa perakaran pisang hanya rata-rata 15 cm di bawah

permukaan tanah, sehingga penyiangan jangan dilakukan terlalu dalam.

3) Perempalan

Daun-daun yang mulai mengering dipangkas agar kebersihan tanaman dan

sanitasi lingkungan terjaga. Pembuangan daun-daun ini dilakukan setiap waktu.

4) Pemupukan

Pisang sangat memerlukan kalium dalam jumlah besar. Untuk satu hektar, pisang

memerlukan 207 kg urea, 138 kg super fosfat, 608 kg KCl dan 200 kg batu kapur

sebagai sumber kalsium.

Pupuk N diberikan dua kali dalam satu tahun yang diletakkan di dalam larikan

yang mengitari rumpun tanaman. Setelah itu larikan ditutup kembali dengan tanah.

Pemupukan fosfat dan kalium dilaksanakan 6 bulan setelah tanam (dua kali dalam

setahun).

5) Pengairan dan Penyiraman

Pisang akan tumbuh subur dan berproduksi dengan baik selama pengairannya

terjaga. Tanaman diairi dengan cara disiram atau mengisi parit-parit/saluran air

yang berada di antara barisan tanaman pisang.

6) Pemberian Mulsa

Tanah di sekitar rumpun pisang diberi mulsa berupa daun kering ataupun basah.

Mulsa berguna untuk mengurangi penguapan air tanah dan menekan gulma,

tetapi pemulsaan yang terus menerus menyebabkan perakaran menjadi dangkal

sehingga pada waktu kemarau tanaman merana. Karena itu mulsa tidak boleh

dipasang terus menerus.

7) Pemeliharaan Buah

Jantung pisang yang telah berjarak 25 cm dari sisir buah terakhir harus dipotong

agar pertumbuhan buah tidak terhambat. Setelah sisir pisang mengembang

sempurna, tandan pisang dibungkus dengan kantung plastik bening. Kantung

plastik polietilen dengan ketebalan 0,5 mm diberi lubang dengan diameter 1,25

cm. Jarak tiap lubang 7,5 cm. Ukuran kantung plastik adalah sedemikian rupa

sehingga menutupi 15-45 cm di atas pangkal sisir teratas dan 25 cm di bawah

ujung buah dari sisir terbawah. Untuk menjaga agar tanaman tidak rebah akibat

beratnya tandan, batang tanaman disangga dengan bambu yang dibenamkan

sedalam 30 cm ke dalam tanah.

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

1) Ulat daun (Erienota thrax.)

Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun menggulung seperti selubun g

dan sobek hingga tulang daun. Pengendalian: dengan menggunakan insektisida

yang cocok belum ada, dapat dicoba dengan insektisida Malathion.

2) Uret kumbang (Cosmopolites sordidus)

Bagian yang diserang adalah kelopak daun, batang. Gejala: lorong-lorong ke

atas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong. Pengendalian:

sanitasi rumpun pisang, bersihkan rumpun dari sisa batang pisang, gunakan bibit

yang telah disucihamakan.

3) Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis).

Bagian yang diserang adalah akar. Gejala: tanaman kelihatan merana, terbentuk

rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak. Pengendalian: gunakan

bibit yang telah disucihamakan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan

dengan kadar lempung kecil.

4) Ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema.)

Bagian yang diserang adalah bunga dan buah. Gejala: pertumbuhan buah

abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang.

Pengendalian: dengan menggunakan insektisida.

7.2. Penyakit

1) Penyakit darah

Penyebab: Xanthomonas celebensis (bakteri). Bagian yang diserang adalah

jaringan tanaman bagian dalam. Gejala: jaringan menjadi kemerah-merahan

seperti berdarah. Pengendalian: dengan membongkar dan membakar tanaman

yang sakit.

2) Panama

Penyebab: jamur Fusarium oxysporum. Bagian yang diserang adalah daun.

Gejala: daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu daun di bagian dalam,

pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam.

Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.

3) Bintik daun

Penyebab: jamur Cercospora musae. Bagian yang diserang adalah daun dengan

gejala bintik sawo matang yang makin meluas. Pengendalian: dengan

menggunakan fungisida yang mengandung Copper oksida atau Bubur Bordeaux

(BB).

4) Layu

Penyebab: bakteri Bacillus . Bagian yang diserang adalah akar. Gejala: tanaman

layu dan mati. Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.

5) Daun pucuk

Penyebab: virus dengan perantara kutu daun Pentalonia nigronervosa. Bagian

yang diserang adalah daun pucuk. Gejala: daun pucuk tumbuh tegak lurus secara

berkelompok. Pengendalian: cara membongkar dan membakar tanaman yang

sakit.

7.3. Gulma

Tidak lama setelah tanam dan setelah kanopi dewasa terbentuk, gulma akan

menjadi persoalan yang harus segera diatasi. Penanggulangan dilakukan dengan:

1) Penggunaan herbisida seperti Paraquat, Gesapax 80 Wp, Roundup dan dalapon.

2) Menanam tanaman penutup tanah yang dapat menahan erosi, tahan naungan,

tidak mudah diserang hama-penyakit, tidak memanjat batang pisang. Misalnya

Geophila repens.

3) Menutup tanah dengan plastik polietilen.

8. PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Pada umur 1 tahun rata-rata pisang sudah berbuah. Saat panen ditentukan oleh

umur buah dan bentuk buah. Ciri khas panen adalah mengeringnya daun bendera.

Buah yang cukup umur untuk dipanen berumur 80-100 hari dengan siku-siku buah

yang masih jelas sampai hampir bulat. Penentuan umur panen harus didasarkan

pada jumlah waktu yang diperlukan untuk pengangkutan buah ke daerah penjualan

sehingga buah tidak terlalu matang saat sampai di tangan konsumen. Sedikitnya

buah pisang masih tahan disimpan 10 hari setelah diterima konsumen.

8.2. Cara Panen

Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang

diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan

bersih waktu memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik

supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah.

Dengan posisi ini buah pisang terhindar dari luka yang dapat diakibatkan oleh

pergesekan buah dengan tanah.

Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali.

Jika tersedia tenaga kerja, batang pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari

permukaan tanah. Penyisaan batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan

tunas.

8.3. Periode Panen

Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali

tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.

8.4. Perkiraan Produksi

Belum ada standard produksi pisang di Indonesia, di sentra pisang dunia produksi 28

ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga. Untuk

perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (> 30 ha), produksi yang

ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.

9. PASCAPANEN

Secara konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk

mengurangi penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan

kendaraan terbuka/tertutup. Untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan

dari tandannya kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan

dilakukan dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke

dos dengan posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Sebaiknya luka potongan di

ujung sisir buah pisang disucihamakan untuk menghindari pembusukan.


10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1 Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya pisang dengan luasan 1 ha di daerah Jawa Barat pada

tahun 1999.

1) Biaya produksi 1 ha pisang dari tahun ke-1 sampai ke-4 adalah:

1. Tahun ke-1 Rp. 5.338.000,-

2. Tahun ke-2 Rp. 4.235.000,-

3. Tahun ke-3 Rp. 4.518.000,-

4. Tahun ke-4 Rp. 4.545.300,-

TTG BUDIDAYA PERTANIAN

Hal. 10 / 13

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340

Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

2) Penerimaan tahun ke I sampai IV *)

1. Tahun ke-1: 0,8 x 1.000 tandan Rp. 6.000.000,-

2. Tahun ke-2: 0,8 x 2.000 tandan Rp. 12.000.000,-

3. Tahun ke-3: 0,8 x 2.000 tandan Rp. 12.000.000,-

4. Tahun ke-4: 0,8 x 2.000 tandan Rp. 12.000.000,-

3) Keuntungan

1. Keuntungan selama 4 tahun penanaman Rp. 23.363.700,-

2. Keuntungan/tahun Rp. 5.840.925,-

4) Parameter kelayakan usaha

1. Output/Input rasio = 2,150

Keterangan : *) perkiraan harga 1 tandan Rp. 7.500,-

10.2.Gambaran Peluang Agribisnis

Perkebunan pisang yang permanen (diusahakan terus menerus) dengan mudah

dapat ditemukan di Meksiko, Jamaika, Amerika Tengah, Panama, Kolombia,

Ekuador dan Filipina. Di negara tersebut, budidaya pisang sudah merupakan suatu

industri yang didukung oleh kultur teknis yang prima dan stasiun pengepakan yang

modern dan pengepakan yang memenuhi standard internasional. Hal tersebut

menunjukkan bahwa pisang memang komoditas perdagangan yang sangat tidak

mungkin diabaikan. Permintaan pisang dunia memang sangat besar terutama jenis

pisang Cavendish yang meliputi 80% dari permintaan total dunia.

Selain berpeluang dalam ekspor pisang utuh, saat ini ekspor pure pisang juga

memberikan peluang yang baik. Pure pisang biasanya dibuat dari pisang cavendish

dengan kadar gula 21-26 % atau dari pisang lainnya dengan kadar gula <>

Di Indonesia pisang hanya ditanam dalam skala rumah tangga atau kebun yang

sangat kecil. Standard internasional perkebunan pisang kecil adalah 10-30 ha.

Angka ini belum dicapai di Indonesia. Tanah dan iklim kita sangat mendukung

penanaman pisang, karena itu secara teknis pendirian perkebunan pisang mungkin

dilakukan.

11. STANDAR PRODUKSI

11.1.Ruang Lingkup

Standar ini meliputi: klasifikasi dan, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji,

syarat penandaan dan cara pengemasan.

TTG BUDIDAYA PERTANIAN

Hal. 11 / 13

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340

Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

11.2.Diskripsi

Standar buah pisang ini mengacu kepada SNI 01-4229-1996.

11.3.Klasifikasi dan Standar Mutu

a) Tingkat Ketuaan Buah (%): Mutu I=70-80; Mutu II <70>80

b) Keseragaman Kultivar: Mutu I=seragam; Mutu II=seragam

c) Keseragaman Ukuran: Mutu I=seragam; Mutu II=seragam

d) Kadar kotoran (% dalam bobot kotoran/bobot): Mutu I=0; Mutu II= 0

e) Tingkat kerusakan fisik/mekanis (% Bobot/bobot): Mutu I=0; Mutu II=0

f) Kemulusan Kulit (Maksimum): Mutu I=Mulus; Mutu II=Mulus

g) Serangga: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas

h) Penyakit: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas

Adapun persyaratan berdasarkan klasifikasi pisang adalah sebagai berikut:

a) Panjang Jari (cm): Kelas A 18,1-20,0; Kelas B 16,1-18,0; Kelas C 14,1-16,0

b) Berat Isi (kg): Kelas A > 3,0; Kelas B 2,5-3,0; Kelas C <>

c) Dimeter Pisang (cm): Kelas A 2,5; Kelas B > 2,5; Kelas C <>

Untuk mencapai dan mengetahui syarat mutu harus dilakukan pengujian yang

meliputi :

a) Penentuan Keseragaman Kultivar.

Cara kerja dari pengujian adalah ; Hitung jumlah dari seluruh contoh buah pisang

segar, amati satu persatu secara visual dan pisahkan buah yang tidak sesuai

dengan untuk kultivar ang besangkutan. Hitung jumlah jari buah pisang yang tidak

sesuai dengan kultivar tersebut. Hitung persentase jumlah jari buah pisang yang

dinilai mempunyai bentuk dan warna yang tidak khas untuk kultivar yang

bersangkutan terhadap jumlah jari keseluruhannya.

b) Penentuan Keseragaman Ukuran Buah.

Ukur panjang dari setiap buah contoh dan dihitung mulai dari ujung buah sampai

pangkal tangkai dari seluruh contoh uji dengan menggunakan alat pengukur yang

sesuai. Ukur pula garis tengah buah dengan menggunakan mistar geser.

Pisahkan sesuai dengan penggolongan yang dinyatakan pada label di kemasan.

c) Penentuan Tingkat Ketuaan.

Perhatikan sudut-sudut pada kulit buah pisang segar. Buah yang tidsak bersudut

lagi (hampir bulat) berati sudah tua 100%, sedangkan yang masih sangat nyata

sudutnya berarti tingkat ketuaan masih 70% atau kurang.

d) Penentuan Tingkat Kerusakan Fisik/Mekanis

Hitung jumlah jari dari seluruh contoh buah pisang. Amati satu persatu jari buah

secara visual dan pisahkan buah yang dinilai mengalami kerusakan mekanis/fisik

berupa luka atau memar. Hitung jumlah yang rusak lalu bagi dengan jumalh

keseluruhannya dan dikalikan dengan 100%.

e) Penentuan Kadar Kotoran

Timbang seluruh contoh buah yang diuji, amati secara visual kotorang yang ada,

pisahkan kotoran yang ada pada buah dan kemasannya seperti tanah, getah,

batang, potongan daun atau benda lain yang termasuk dalam istilah kotoran yang

TTG BUDIDAYA PERTANIAN

Hal. 12 / 13

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340

Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

menempel pada buah dan kemasan, lalu timbang seluruh kotorannya. Berat

kotoran per berat seluruh contoh buah yang diuji kali dengan 100%.

11.4.Pengambilan Contoh

Satu partai/lot buah pisang segar terdiri dari maksimum 1000 kemasan. Contoh

diambil secara acak sebanyak jumlah kemasan.

a) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 1–5 : contoh semua

b) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 6–100 : contoh : sekurangkurangnya

5

c) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 101–300 : contoh sekurangkurangnya

7

d) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 301–500 : contoh sekurangkurangnya

9

e) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 501–1000 : contoh sekurangkurangnya

10

11.5.Pengemasan

Untuk pisang tropis, kardus karton yang digunakan berukuran 18 kg atau 12 kg.

Kardus dapat dibagi menjadi dua ruang atau dibiarkan tanpa pembagian ruang.

Sebelum pisang dimasukkan, alasi/lapisi bagian bawah dan sisi dalam kardus

dengan lembaran plastik/kantung plastik. Setelah pisang disusun tutup pisang

dengan plastik tersebut. Dapat saja kelompok (cluster) pisang dibungkus dengan

plastik lembaran/kantung plastik sebelum dimasukkan ke dalam kardus karton.

Pada bagian luar dari kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain:

a) Produksi Indonesia

b) Nama kultivar pisang

c) Nama perusahaan/ekspotir

d) Berat bersih

e) Berat kotor

f) Identitas pembeli

g) Tanggal panen

h) Saran suhu penyimpanan/pengangkutan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda