Jumat, 22 Oktober 2010

Download Buku Kaidah Kausalitas Memahami Hubungan Sebab-Akibat

 

Sejak saat itu, saya bertekad untuk mencetak dan menyebarluaskan tulisan ini agar setiap Muslim dengan mudah dapat memahaminya sehingga terhindar dari kerancuan pemahaman. Sebab, kerancuan pemahaman seseorang terhadap konsep as-sababiyyah (kaidah kausalitas) ini dapat menghalangi dirinya untuk melakukan amal secara ikhlas, mendorongnya untuk menyia-nyiakan upaya dan potensinya yang melimpah, serta melelahkan dirinya dalam upaya mewujudkan kemuliaan dan keagungan umat.

 ------------------------------------------------------------

Mereka juga mengatakan bahwa sebab adalah sesuatu yang pasti mendatangkan akibat. Tidak adanya sebab, pasti tidak akan mendatangkan akibat. Keberadaan akad syar’î, misalnya, menjadi sebab kebolehan untuk mengambil manfaat atau sebab adanya peralihan kepemilikan; nishâb menjadi sebab bagi kewajiban membayar zakat; dan sebagainya. Jadi, sebab adalah segala sesuatu yang mengantarkan pada sesuatu yang lain. Makna tersebut telah digunakan oleh orang-orang Arab, al-Quran, para ulama, dan para fuqahâ.
  ------------------------------------------------------------
Manusia berbeda-beda derajat kemuliaannya, bergantung pada perbedaan jenis pemikiran yang mengatur perilaku tatkala memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Secara alami, manusia melakukan suatu aktivitas adalah untuk mewujudkan tujuan tertentu yang melatarbelakangi aktivitas tersebut. Manusia selalu berusaha untuk mendapatkan buah (hasil) dari aktivitasnya, sehingga kita sering mengatakan, “Usaha itu telah membuahkan hasil.”
  ------------------------------------------------------------
Demikianlah, ada perbedaan yang sangat jelas antara orang yang berjalan tanpa tujuan tertentu dan samar dengan orang yang memiliki tujuan tertentu, jelas, dan terfokus. Perbedaan di antara keduanya seperti orang yang berjalan dalam kegelapan dengan yang berjalan dalam keadaan terang; seperti orang yang berjalan dalam keadaan buta dengan orang yang berjalan sambil melihat; atau seperti orang yang berjalan di padang pasir tanpa arah/petunjuk yang jelas dengan orang yang berjalan di atas rel kereta api.
  ------------------------------------------------------------
Kita bisa memperhatikan bagaimana pentingnya peranan perasaan dalam menjalankan suatu aktivitas dalam kehidupan ini. Kita bisa memperhatikan bahwa orang yang tidak merasakan adanya kezaliman, misalnya, tidak akan memiliki irâdah untuk mengubah kezaliman itu. Seorang Muslim yang tidak merasakan adanya hukum kufur dan kezaliman yang diakibatkannya serta tidak menyadari segala tipudaya dan konspirasinya, juga tidak akan memiliki irâdah untuk mengubah keadaan tersebut dengan melakukan aktivitas untuk mewujudkan Khilafah.
  ------------------------------------------------------------
Sementara itu, maksud (maqâshid) dan target (ahdâf) mempunyai arti yang sama. Karena adanya maksud dan tujuanlah manusia melaksanakan aktivitas keseharian dalam jangka pendek. Ghâyah sendiri adalah tujuan jangka panjang. Usaha untuk mewujudkan target jangka pendek akan menjadi sempurna dengan adanya ghâyah. Dengan demikian, manusia dalam kehidupannya senantiasa menggunakan wasîlah, uslûb dan tharîqah untuk mencapai target jangka pendek, selanjutnya baru meraih tujuan jangka panjang.
  ------------------------------------------------------------
Mereka juga telah keliru dalam memahami masalah takdir, catatan di Lauhul Mahfudz, dan ilmu Allah; bercampur-baur dengan pemahaman tentang as-sababiyyah. Mereka pun keliru dalam memahami makna qadhâ dan qadar yang kemudian berimplikasi pada meluasnya pemahaman tentang qadriyyah ghaibiyyah sebagai turunan dari masalah qadhâ dan qadar. Semua itu mengakibatkan mereka menyepelekan aspek as-sababiyyah yang pada akhirnya memunculkan sikap fatalistis pada diri mereka.
  ------------------------------------------------------------
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa takdir tidak bisa dihubungkan dengan amal. Di samping itu, seseorang tidak dibenarkan meninggalkan sebab-akibat hanya karena alsan takdir. ‘Umar dan para shahabat, meskipun beriman kepada takdir Allah secara mutlak, mereka tidak pernah berserah diri terhadap keadaan yang telah ditakdirkan. Mereka justru mencari sebab (jalan) yang bisa menyelamatkan mereka dari keadaan. Oleh karena itu, tampak sangat jelas bahwa, berserah diri terhadap keadaan secara mutlak, yang biasa dikenal dengan qadriyah ghaibiyyah, bertentangan dengan Islam. Bahkan, kita harus berusaha untuk mengubah keadaan atau menyelamatkan diri dari kondisi seperti itu.
  ------------------------------------------------------------
Berdasarkan penjelasan di atas, tampak keharusan adanya kehendak dan kemauan yang kuat bagaikan baja. Yaitu kemampuan seorang muslim yang tidak pernah luluh, tidak dihinggapi kebosanan dan kejenuhan selamanya, walau bagaimanapun beratnya hambatan dan kesulitan yang dihadapi. Semua aktivitas yang bersifat fisik memungkinkan untuk dilakukan, selama kita mengambil sebab-sebabnya, dan sejalan dengan hukum-hukum alam yang telah ditentukan Allah SWT. Karena itu sebab kegagalan kita dalam menjalankan aktivitas apa saja, karena tidak mengetahui seluruh sebab-sebabnya, dan tidak mengkaitkan sebab tersebut dengan akibatnya.
   ------------------------------------------------------------
  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda